Share

Bab 81

Author: QueenShe
last update Last Updated: 2025-11-03 12:07:06

Raya terbangun. Ia menggeliat pelan, lalu menatap Ares dengan mata yang masih setengah terpejam dan senyum malas.

“Pagi…” gumamnya lembut.

Ares menatap wajahnya sejenak, kilatan cemas sesaat muncul di matanya sebelum ia berhasil mengendalikannya, lalu membalas, “Pagi, sayang.”

Suaranya berat, nyaris serak, mencium bibir Raya dengan lembut. Sebuah ciuman yang terasa seperti mencari sebuah kepastian.

Raya mengangkat kepala, melihat ekspresi Ares yang berbeda. “Kenapa? Kamu gak tidur?"

Wajah Ares terlihat lelah dengan lingkaran hitam samar dibawah mata.

Ares menarik napas pelan. “Tidur. Mungkin masih kurang, atau gara-gara ada murid nakal yang membuatku kelelahan,” jawabnya sedikit bercanda untuk mengalihkan perhatian.

"Kemarin aku bukan murid, aku nurse." Raya tertawa kecil, sambil mencium bibir Ares yang ikut terkekeh. "Aku harus segera mandi terus membeli pil dulu, Ares." Raya segera bangkit menyadari hari sudah siang.

"Aku sudah memanggil Anita, dia sedang dalam perjalanan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 310

    Mobil Alphard itu akhirnya berhenti di depan rumah Ares dan Raya di kawasan perumahan elit Jakarta. Gerbang besar terbuka otomatis, menyambut kepulangan sang tuan rumah. Ares turun lebih dulu sambil menggendong Kelana yang sudah sedikit lebih tenang namun masih tampak murung. Langkah mereka masuk ke dalam rumah disambut dengan keheningan yang mewah. Ares segera menuntun mereka menuju lantai dua, ke arah kamar yang letaknya di samping kamar utama. "Ayo, Daddy tunjukkan kamar barumu," ucap Ares lembut, mencoba mencairkan suasana. Saat Ares membuka pintu kamar tersebut, Kelana yang tadinya lesu langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang sembab melebar seketika. Kamar itu telah disulap menjadi surga bagi anak laki-laki. Balon-balon berwarna biru dan perak memenuhi langit-langit, ada spanduk besar bertuliskan "Welcome Home, Kelana!", dan tumpukan kado dengan berbagai ukuran tertata rapi di atas karpet bulu yang empuk. "Kado!" seru Kelana girang. Ia segera merosot dari gendongan Ares

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 309

    Bandara internasional Soekarno-Hatta tampak sibuk seperti biasa. Lalu lalang orang tak pernah usai, dan di antara kerumunan orang ada yang tengah menunggu dengan hati gelisah. Raya berdiri dengan kegelisahan yang tampak jelas. Sudah dua jam ia berdiri di sana bersama Anita di sampingnya. Matanya tak lepas dari pintu kedatangan internasional. Sesekali Raya meremas jemarinya sendiri, mencoba mengusir rasa gugup yang menjalar. Lima belas menit yang lalu, jadwal di layar besar menunjukkan bahwa pesawat yang dinaiki Ares sudahmendarat. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rindu yang membuncah dan ketakutan akan bagaimana kehidupan mereka setelah ini. Tiba-tiba, pintu otomatis terbuka. Sosok pria jangkung dengan aura dominan muncul di sana. Ares. Pria itu tampak maskulin dengan jaket gelap, langkahnya tegas. Di belakangnya, David berjalan mengikuti sambil menggendong seorang bocah laki-laki kecil yang tampak mengantuk namun tetap terjaga. Mata Ares menyapu ruangan. Saat ia mene

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 308

    "Tania." Suara Ares memecah keheningan, rendah namun sarat dengan otoritas yang mematikan. "Hentikan." Tania langsung membeku. Tinggal terpaut beberapa sentimeter sebelum bibir Tania menyentuh milik Ares. Napasnya tertahan di udara. Perlahan, Tania menarik diri, menjauh. Tubuh yang gemetar halus, tangannya saling bertautan di atas pangkuannya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, wajahnya memerah karena campuran rasa malu yang membakar dan kekecewaan yang mendalam. Ia menunduk, tak lagi sanggup membalas tatapan tajam pria di hadapannya. Ares menarik napas dalam, sebelum berbicara dengan suara yang lebih lembut, tapi tetap tegas. Seperti garis batas yang tak boleh dilalui. "Tania, dengarkan aku." "Aku menyayangimu seperti adikku sendiri. Dan aku menghormatimu sebagai ibu dari anakku. Jadi aku minta kamu bisa menghargai status itu. Tidak lebih." Tania masih bergeming, jemarinya yang pucat sibuk memilin ujung baju rumah sakitnya. Tanda sebuah kecemasan yang akut. "Dan satu hal lagi," l

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 307

    Kaki Ares melangkah memasuki rumah sakit jiwa. Auranya sangat berbeda dari kunjungan sebelumnya. Tidak ada lagi kelembutan di wajahnya—hanya dominasi murni yang menguar dari setiap langkahnya. Rahangnya keras, tatapannya dingin, dan auranya begitu intimidatif sampai beberapa perawat yang berpapasan dengannya refleks menunduk hormat. David berjalan setengah langkah di belakang, membawa tablet dan beberapa dokumen. Wajahnya serius, siap mencatat apa pun yang diperlukan. Tepat di depan ruang dokter, Dr. Helen sudah menunggu. "Mr. Mahardika," sapa Dr. Helen sambil berdiri. "Terima kasih sudah datang kembali." Ares hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum, ataupunnbasa-basi. "Bagaimana kondisinya setelah kemarin?" Dr. Helen menarik napas panjang, membuka clipboard di tangannya. "Setelah Anda pergi kemarin, Tania menangis semalaman. Perawat mencoba menenangkannya, tapi dia terus memanggil nama Anda. Pagi harinya, dia berhenti menangis… tapi kondisinya justru lebih mengkhawatirkan." A

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 306

    Tetap berusaha santai, dan tak terpengaruh. Raya menampilkan cengiran lebar yang sangat tidak meyakinkan. Ia langsung meraih bathrobe putih di kursi santai dan memakainya tergesa. "Hehehe… aku lupa," ucapnya dengan nada polos yang dibuat-buat. "Tapi masa iya aku harus berenang pakai piyama?" Ares di seberang sana mengeraskan rahangnya. Tatapannya tajam, menembus layar ponsel dengan dominasi dan rasa posesif yang tak terbendung. "Sebelum aku datang, kamu tidak boleh berenang lagi. Titik. Aku tidak mau ada mata lain yang sengaja atau tak sengaja melihat apa yang hanya boleh menjadi milikku." ​Raya mengerucutkan bibirnya, sengaja bersikap manja. "Tapi aku bosan di rumah sendirian..." ​"Cari kegiatan lain," potong Ares tegas, meski suaranya mulai melunak melihat wajah menggemaskan istrinya. "Spa, baca buku, atau minta Anita mengantarmu jalan-jalan. Apapun, asalkan bukan berenang." ​Raya menghela napas panjang, berpura-pura pasrah. "Iya deh, Boss. Maaf ya." ​Hati Raya menghangat. Ia

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 305

    Raya terbangun karena suara dering ponsel yang bergetar di meja samping tempat tidur. Matanya masih setengah terpejam, rambutnya berantakan, tapi tangannya refleks angsung meraih ponsel. Layar menampilkan nama "Cintaku" dengan panggilan video call. Raya langsung menggeser tombol hijau, dan layar menyala—menampilkan wajah Ares— bukan Ares yang sebenarnya, tapi Ares versi kecil. Wajah anak itu memenuhi layar—mata bulat yang membelalak, pipi chubby yang memerah, rambut hitam lurus yang sedikit berantakan, dan di sekitar mulutnya terlihat banyak sisa makanan menempel—sepertinya cokelat atau selai. Raya tertegun. Jantungnya langsung berdegup kencang—terlalu kencang sampai ia merasa dadanya sesak. Dia Kelana. Anak Ares. Entah kenapa, perasaan gugup yang luar biasa tiba-tiba menguasainya. Ada perasaan asing yang membuatnya bingung untuk berkata-kata. Ia takut ditolak oleh Kelana. Takut anak ini tak menyukainya. Takut ia tak bisa menjadi ibu yang baik. Tapi di sisi lain, ia juga ingin ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status