Share

Bab 97

Author: QueenShe
last update Last Updated: 2025-11-06 13:21:26

Raya menatap layar ponselnya. Ada pesan dari Anita yang mengirimkan lokasi terkini mereka, sebuah mall mewah di kawasan Senayan.

Ia tersenyum kecil. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu bersama ibu dan adiknya. Dan kesempatan ini, berkat Ares, terasa seperti hadiah.

Setelah membereskan mejanya dengan cepat, Raya mengambil tas dan bergegas keluar dari kantor. Ia sengaja tidak melirik ke arah meja Sari yang kini kosong, entah kemana wanita itu pergi.

***

Begitu sampai di Grand Indonesia Mall
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 460

    ​Raya yang duduk di tengah-tengah dua kutub itu merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mengusap perutnya pelan, lalu meraih tangan ibunya dan tangan Ares secara bersamaan, memaksa keduanya untuk menatapnya. ​"Ibu... tolong, jangan tegang begini," pinta Raya lembut. Suaranya yang tenang seketika meredam suasana panas di ruangan itu. "Gak tegang, ibu cuma wanti-wanti aja." "Sayang, sini duduk disini." Raya menepuk kursi yang kosong di sampingnya. Ares pun duduk disana. "Sayang, aku tahu kamu melakukan ini karena kamu sayang banget sama aku dan si Kecil. Apalagi setelah kamu merasakan sendiri betapa hebatnya perjuangan 'mabuk' kemarin, kamu ingin memastikan segalanya sempurna." ​Ares menatap Raya, wajahnya sedikit melunak. "Aku hanya tidak ingin ada risiko sekecil apa pun, Raya." ​"Aku tahu," Raya tersenyum manis, lalu menoleh ke ibunya yang kini tengah menatap lurus ke tv, dengan wajah yang masih menegang. "Aku juga tahu Ibu bicara begini karena Ibu sangat mencintai cucunya

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 459

    Lima hari berlalu, suasana di kediaman Mahardika berangsur-angsur kembali ceria. Ares, meski masih sedikit pucat dan harus membawa tiang infus portabel ke mana-mana, sudah mulai bisa duduk tegak dan memeriksa dokumen yang dibawa David. Hari ini suasana jauh lebih hidup karena Raya sudah diperbolehkan keluar kamar. ​Raya duduk di sofa ruang tengah, memperhatikan Kelana yang asyik menyusun balok kayu dibantu oleh Dio yang tak henti-hentinya melucu. Ibu Ratih duduk di samping Raya, menyesap teh hangat sambil sesekali membetulkan posisi duduk putri kesayangannya itu. ​"Nah, begini kan enak. Rumah jadi tidak terasa seperti rumah sakit lagi," ujar Ibu Ratih lega. ​Tiba-tiba, suara bel pintu depan berbunyi. Tak lama kemudian, Anita masuk diikuti oleh tiga orang pria dan dua wanita yang membawa koper besar, gulungan kertas denah, serta berbagai sampel material bangunan. ​"Selamat siang, Nyonya Raya, Ibu Ratih," sapa Anita dengan sopan. ​Raya mengernyit bingung. "Siang, Anita. Ada apa ya?

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 458

    Drama roti canai lintas negara semalam ternyata harus dibayar mahal pagi ini. Ares yang biasanya sudah rapi dengan setelan kerjanya, kini justru masih bergelung di bawah selimut. ​Raya terbangun karena merasakan guncangan di sisi tempat tidur. Ia mengucek matanya, mendapati Ares sedang berusaha bangkit dengan wajah yang jauh lebih pucat daripada kemarin sore. ​"Kamu gak berangkat kantor?" tanya Raya dengan suara khas bangun tidur. ​Ares tidak menjawab. Ia hanya menutup mulutnya rapat-rapat, matanya terpejam kuat, dan sedetik kemudian ia berlari gontai menuju kamar mandi. ​HOEKK! HOEKK! ​Raya tersentak. Rasa khawatir seketika menguap sisa-sisa kantuknya. Melupakan perintah Ares untuk tidak banyak bergerak, Raya segera bangkit dan menghampiri ke kamar mandi. Ia menemukan Ares sedang bertumpu pada wastafel, napasnya memburu, dan peluh dingin sebesar biji jagung membanjiri dahinya. ​"Astaga... badanmu hangat sekali," ucap Raya saat tangannya menyentuh tengkuk Ares. Badannya memang t

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 457

    Waktu seolah merayap lambat bagi Ares yang kini duduk bersandar di kepala ranjang dengan mata terjaga, sementara Raya sudah beberapa kali nyaris terlelap kembali di bahunya.Melihat Raya yang berusaha keras menahan kantuk demi menemaninya, Ares merasa didera rasa bersalah. Ia mengelus pipi istrinya lembut. "Sayang, tidur saja ya? Aku sadar ini konyol, aku tidak seharusnya merengek padamu jam begini," bisik Ares penuh sesal.​Raya menggumam pelan, "Tidak apa-apa, Mas... aku temani..." Namun, kalimatnya tidak selesai karena rasa kantuk yang luar biasa akhirnya menang. Kepala Raya terkulai lembut, bersandar di bahu kokoh Ares.​Ares tersenyum tipis. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia merapikan posisi tidur Raya. Ia merebahkan tubuh istrinya ke bantal sutra, menyelimutinya hingga sebatas dada, lalu memberikan kecupan lama di kening dan di perut Raya yang masih rata.​"Tidurlah, Mami. Biar Daddy yang berjuang mencari roti itu," gumamnya pelan.​Ares kemudian melangkah keluar kamar d

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 456

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Raya sudah tertidur lelap setelah seharian penuh dengan emosi yang menguras tenaga. Di sampingnya, Ares sedang mengalami gejolak yang jauh lebih dahsyat daripada krisis saham mana pun. ​Ares terjaga dengan mata melotot menatap langit-langit kamar. Perutnya tidak lagi mual seperti tadi sore, tapi kini ada rasa kosong yang aneh. Bukan sekadar lapar, melainkan sebuah tuntutan spesifik dari dalam dirinya yang terasa sangat mendesak. Ia menelan ludah berkali-kali. Bayangan sebuah makanan tiba-tiba menari-nari di pelupuk matanya. ​"Tidak mungkin," bisik Ares pada dirinya sendiri. "Ini konyol. Aku Ares Mahardika. Aku tidak boleh termakan sugesti ngidam seperti kata Ibu Ratih." ​Ia mencoba memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan selembar roti pipih yang garing, dicelupkan ke dalam kuah kari dhal yang kental, diikuti aroma teh tarik yang berbuih sempurna. ​"Roti Canai Transfer Road..." gumamnya lirih. Bukan sembarang roti canai, tapi roti canai sp

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 455

    Raya sedang asyik menyuap nasi dengan sayur rawon kesukaannya—nafsu makannya benar-benar kembali setelah sampai di rumah. Ares, yang biasanya makan dengan elegan dan penuh wibawa, kini hanya mengaduk-aduk nasinya. Wajah tegasnya perlahan berubah menjadi merah padam, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. ​Ibu Ratih yang duduk di seberang mereka berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya, menatap menantunya dengan dahi berkerut. ​"Pak Ares? Pak Ares kenapa? Wajahnya merah sekali," tanya Ibu Ratih khawatir. "Apa makanannya terlalu pedas? Atau Pak Ares sedang tidak enak badan karena kurang tidur di rumah sakit?" ​Ares tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, ia tampak berusaha sekuat tenaga menelan sesuatu yang terasa mendesak di pangkal tenggorokannya. Matanya sayu dan berair. Ia menoleh sekilas ke arah Raya yang sedang menatapnya bingung dengan mulut yang masih penuh makanan. ​"Ares, Kamu sakit?" bisik Raya cemas, ia hendak meletakkan tangannya di dahi Ares.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status