Startseite / Romansa / Menggoda Ayah Sahabatku / Bab 102 — Orang-orang Menyebalkan

Teilen

Bab 102 — Orang-orang Menyebalkan

last update Zuletzt aktualisiert: 02.01.2026 09:05:07

'Angkat dong, Kay.’ pikir Amelia sedikit menggerutu. Sudah beberapa kali dia mencoba menelepon pria itu sejak tadi, namun masih tak ada tanggapan sama sekali.

Akhirnya, dengan napas berat, Amelia menyerah untuk menghubunginya. Mungkin lebih baik membiarkannya mendinginkan kepala untuk sejenak. Dia memutuskan untuk bersiap pergi ke kampus. Namun, saat hendak berbalik menuju kamar mandi, ponselnya kembali bergetar.

Dengan terburu-buru, Amelia meraihnya. Jantungnya berdebar kencang. Namun, begitu melihat layar, ekspresinya berubah dari harap menjadi kebingungan.

“Siapa, nih?” gumamnya heran. Merasa penasaran, Amelia tetap menerima panggilan itu. “Halo?”

“H-halo, Amel? Apa kabar?” terdengar sapaan gugup dari seorang pria dengan suara yang langsung membuat wajah Amelia terdiam. Ekspresinya berubah datar. Itu adalah Ayahnya, Alan.

“Ini siapa, ya?” tanya Amelia, pura-pura tak kenal. Di dalam dadanya, rasa sesak dan pahit yang ditinggalkan oleh perkataan dan sikap Ayahnya.

“Masa nggak kenal s
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 111 — Tanggung Jawab

    "Maksud kamu apa? Kok ngomong gitu ke orang tua sendiri? Aku itu mama kamu!" suara Melisa mulai meninggi. "Aku cuma nanya aja. Kenapa mama marah?" sahut Karina santai. Karina sama sekali tak berkedip. Dia menatap langsung Ibunya yang mulai melotot.Melisa menggeram kesal. Tangannya terkepal erat berusaha menahan kekesalan dalam dada. "Apa papa kamu yang ngajarin kamu ngomong begini?" "Apa, sih? Nggak ada hubungannya sama papa. Aku udah dewasa, tau mana yang benar dan mana yang salah," balas Karina tak habis pikir dengan tuduhan ibunya.Melisa tertawa hambar, emosinya sudah tak terbendung. "Oh? Jadi maksud kamu mama salah?"Karina langsung menepuk jidat. "Astaga. Aku nggak nyalahin—" Tapi belum selesai Karina bicara, Melisa langsung menyela dengan suara yang tak lagi ramah."Tetep aja, perkataan kamu itu nggak pantes ke orang tua kamu. Sebenarnya gimana Kayden mendidik kamu, sih?! Nggak tau sopan santun!" bentaknya meluapkan kekesalan yang tertahan sejak tadi.Karina terdiam sejena

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 110 — Tujuan Mama?

    "Mel, kamu lihat Papa aku nggak?" tanya Karina to the point, suaranya terdengar penuh kekhawatiran."Om Kayden, ya. Nggak tau. Kok tanya aku?" jawab Amelia.Dengan mulusnya Amelia pandai berkelit, meski jantungnya berdebar kencang. Dia berusaha membuat suaranya terdengar natural."Papa cari kamu semalem, emang nggak ketemu?" Lagi Karina bertanya.Amelia terdiam sejenak, memutar otaknya mencari alibi yang masuk akal. "Ketemu sih nggak, dia sempet nelpon nanyain kabar. Abis itu aku pulang ke rumah."Hening sesaat di antara mereka. Dan akhirnya terdengar dengusan pelan dari seberang telepon. "Gitu, ya. Oke deh, kalau lihat Papa kasih tau aku.""Iya, Rin," sahut Amelia cepat. Panggilan mereka pun berakhir. Amelia menghela napas lega, sepertinya Karina tak mencurigainya.Di sisi lain, pria yang dibicarakan dua gadis itu kini baru saja tiba di rumahnya. Kayden langsung menuju arah tangga. Matanya terlihat sedikit berkantung karena tak bisa tidur semalaman.Karina selesai menelepon sahabat

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 109 — Suami Idaman?

    'Mau sok perhatian, huh? Keparat sialan,' batin Kayden mengumpat dalam hati. Rahang Kayden mengeras. Namun dia masih berusaha menahan amarah dalam dadanya. Dengan sikap tenang yang dipaksakan, Kayden mencoba membalas pesan itu. Kalimatnya meniru gaya penulisan Amelia."Nggak kok, Pak. Aku nggak apa-apa."Tak lama setelah Kayden mengirim pesan itu, Alvin membalas dengan cepat, seolah sudah menunggu di depan ponselnya."Beneran, ya? Saya cuma khawatir aja.”Kayden hendak menutup kembali obrolan itu. Tetapi, muncul pesan lain dari Alvin.“Maaf baru ngasih tahu. Pagi ini saya harus berangkat ke luar negeri. Jadi untuk sementara bimbingan skripsi libur dulu. Cuma beberapa hari, kok. Nanti saya pulang."Begitulah pesan panjang perpisahan dari Alvin. Namun kata-katanya sedikit ambigu, terdengar seolah Alvin adalah sosok yang spesial bagi Amelia.Kayden menggerutu pelan. "Nggak perlu balik aja sekalian."Kayden benar-benar geram membaca pesan yang berlebihan itu. Pandangannya beralih pada

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 108 — Nggak Mau Direbut

    "K-Kay, kayaknya aku nggak bisa—" Belum sempat Amelia menolak, Kayden tiba-tiba memutar tubuhnya hingga ia tertelungkup di atas kasur, wajahnya terbenam di bantal."Nggak ada penolakan, sayang. Kamu harus terima konsekuensi karena berbohong dan buat aku marah," desis Kayden, tepat di telinga Amelia. Napasnya terasa berat, bercampur dengan nada mengancam yang membuat bulu kuduk Amelia berdiri.Kayden menegakkan tubuhnya. Lalu menarik pinggang Amelia mendekat padanya, dan kini pintu masuk Amelia berada di depan miliknya yang sudah berdiri kokoh. Tanpa membuang waktu, Kayden mulai menusuk dan menerobos masuk dalam gua kenikmatan itu. Perlahan tapi pasti, mengisi setiap ruang yang tersedia."Aahk!" teriak Amelia terkejut. Kedua tangannya yang terikat mencengkeram seprei dengan kencang, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Benda tumpul itu mendesak masuk.Kayden langsung masuk dengan sempurna. Dan tak memberi Amelia jeda, dia langsung bergerak keluar masuk dengan ritme yang cukup c

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 107 — Udah Gila

    ‘Kay, kumohon lepasin!’ teriak Amelia dalam hati, namun tak bisa mengutarakannya. Kepala Amelia berdenyut pening, membuatnya tak kuasa melawan lagi. Kedua tangannya terkekang di atas kepala, terikat erat oleh belitan dasi Kayden yang kuat. Napasnya tersengal-sengal, dada naik turun cepat dalam ketakutan.Seolah menyadari kondisi Amelia yang mulai limbung, Kayden perlahan melepaskan ciumannya. Di sudut mulut Kayden yang basah ternoda bercak merah darahnya sendiri, bekas gigitan dalam pertarungan lidah yang tak seimbang.Amelia terengah-engah, berusaha menyerap banyak oksigen meski dunia masih berputar-putar di matanya. Selama ini Kayden tak pernah menciumnya dengan begitu liar. Namun ini barulah permulaan.Kayden masih belum puas. Bibirnya kini beralih menjelajahi leher Amelia, menjilat dan mengisapnya. Sesekali pria itu menggigit lembut kulit jenjangnya hingga meninggalkan jejak merah di beberapa tempat."K-Kay. Udah, lepasin aku," pinta Amelia dengan suara lirih, berusaha menahan er

  • Menggoda Ayah Sahabatku    Bab 106 — Marah

    "A-apa, sih? Benaran, kok," sahut Amelia, sedikit terbata-bata."Jangan mengelak, Amelia. Keluar sekarang," desis Kayden dengan nada penuh emosi sebelum panggilan itu diputuskannya begitu saja.Amelia terdiam sejenak, terpaku, sampai Alvin yang berada di sampingnya menegur. Raut wajahnya terlihat khawatir. "Ada apa, Amel? Kamu dimarahi, ya?" Amelia segera menoleh dan menyunggingkan senyuman kecil yang dipaksakan. "Nggak, bukan apa-apa. Saya duluan ya, Pak. Makasih sudah nganter," jawabnya cepat, lalu membuka pintu dan turun dari mobil.Alvin memperhatikannya sejenak. Tapi karena Amelia tampak enggan memberitahu, jadi lebih baik diam saja. Alvin pun mulai melajukan kendaraannya kembali.Amelia masih berdiri di depan rumahnya, memastikan mobil Alvin benar-benar telah pergi. Matanya celingukan, menyapu sekeliling, namun tidak ada tanda-tanda Kayden di sana. Entah dari mana pria itu tahu dirinya berbohong."Dia cenayang kali, ya?" gumamnya asal. Sambil menarik napas pelan, Amelia berbal

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status