LOGIN"Hah? Kok tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Kayden dengan raut keheranan. Suaranya terdengar bingung sekaligus waspada.Karina menyeka sudut matanya. Dia sudah sedikit lebih tenang. "Biar Papa cepet nikah, jadi Mama nggak bakal dateng gangguin lagi."Alis Kayden mengernyit. Dia langsung menyadari maksud ucapan Karina saat ini. Wajahnya berubah menjadi dingin. "Jadi tadi ketemu Mama kamu? Dia bilang apa aja sampai bikin kamu nangis?"Pertanyaan itu tepat sasaran. Karina tak menjawab, hanya mengalihkan pandangan. Namun diamnya, itu sudah cukup memberi Kayden jawaban.'Melisa sialan! Beraninya dia manfaatin Karina,' batin Kayden mengumpat. Tapi dia berusaha menahan amarahnya di depan Karina."Ekhem!" Kayden berdehem pelan, mencoba menetralkan emosinya. "Oke kalau kamu nggak mau bilang. Tapi nggak segampang itu melamar orang lain. Apalagi dia masih muda."Karina mengerjap pelan, semakin penasaran. "Emang umurnya berapa? Kapan mau Papa kenalin?"Kayden menarik napas panjang. Lalu menyungging
"Maaf tante. Saya nggak mau. Itu bukan urusan saya. Ayah juga udah lama kabur, saya nggak berhubungan lagi sama dia," balas Amelia dengan tegas.Melisa melotot kesal. Matanya menatap Amelia dengan pandangan merendahkan. Satu tangannya menunjuk tepat ke arah Amelia."Mana saya peduli! Kalau nggak bayar, saya bakal lapor polisi. Dan kamu yang pertama saya tuntut!""Nggak bisa gitu dong, tan—" Belum selesai Amelia membantah, Melisa langsung menyela dengan suara tinggi."Halah, saya nggak mau tahu. Kamu harus lunasi hutang itu!" Melisa kemudian mengeluarkan sebuah catatan kecil dari tas mahalnya. Dia menulis sesuatu di atasnya."Ini nominal hutang dan nomor rekening saya. Kalau kamu belum lunasi sampai akhir bulan ini, saya bakal datang ke sini lagi. Ngerti?!" lanjut Melisa sedikit membentak, sambil melempar kertas itu ke wajah Amelia.Amelia terbelalak dengan wajah menegang. Tangannya terkepal, mencoba menahan amarah sekaligus rasa hina yang Melisa lakukan padanya. Kertas di wajah Ame
"Maksud kamu apa? Kok ngomong gitu ke orang tua sendiri? Aku itu mama kamu!" suara Melisa mulai meninggi. "Aku cuma nanya aja. Kenapa mama marah?" sahut Karina santai. Karina sama sekali tak berkedip. Dia menatap langsung Ibunya yang mulai melotot.Melisa menggeram kesal. Tangannya terkepal erat berusaha menahan kekesalan dalam dada. "Apa papa kamu yang ngajarin kamu ngomong begini?" "Apa, sih? Nggak ada hubungannya sama papa. Aku udah dewasa, tau mana yang benar dan mana yang salah," balas Karina tak habis pikir dengan tuduhan ibunya.Melisa tertawa hambar, emosinya sudah tak terbendung. "Oh? Jadi maksud kamu mama salah?"Karina langsung menepuk jidat. "Astaga. Aku nggak nyalahin—" Tapi belum selesai Karina bicara, Melisa langsung menyela dengan suara yang tak lagi ramah."Tetep aja, perkataan kamu itu nggak pantes ke orang tua kamu. Sebenarnya gimana Kayden mendidik kamu, sih?! Nggak tau sopan santun!" bentaknya meluapkan kekesalan yang tertahan sejak tadi.Karina terdiam sejena
"Mel, kamu lihat Papa aku nggak?" tanya Karina to the point, suaranya terdengar penuh kekhawatiran."Om Kayden, ya. Nggak tau. Kok tanya aku?" jawab Amelia.Dengan mulusnya Amelia pandai berkelit, meski jantungnya berdebar kencang. Dia berusaha membuat suaranya terdengar natural."Papa cari kamu semalem, emang nggak ketemu?" Lagi Karina bertanya.Amelia terdiam sejenak, memutar otaknya mencari alibi yang masuk akal. "Ketemu sih nggak, dia sempet nelpon nanyain kabar. Abis itu aku pulang ke rumah."Hening sesaat di antara mereka. Dan akhirnya terdengar dengusan pelan dari seberang telepon. "Gitu, ya. Oke deh, kalau lihat Papa kasih tau aku.""Iya, Rin," sahut Amelia cepat. Panggilan mereka pun berakhir. Amelia menghela napas lega, sepertinya Karina tak mencurigainya.Di sisi lain, pria yang dibicarakan dua gadis itu kini baru saja tiba di rumahnya. Kayden langsung menuju arah tangga. Matanya terlihat sedikit berkantung karena tak bisa tidur semalaman.Karina selesai menelepon sahabat
'Mau sok perhatian, huh? Keparat sialan,' batin Kayden mengumpat dalam hati. Rahang Kayden mengeras. Namun dia masih berusaha menahan amarah dalam dadanya. Dengan sikap tenang yang dipaksakan, Kayden mencoba membalas pesan itu. Kalimatnya meniru gaya penulisan Amelia."Nggak kok, Pak. Aku nggak apa-apa."Tak lama setelah Kayden mengirim pesan itu, Alvin membalas dengan cepat, seolah sudah menunggu di depan ponselnya."Beneran, ya? Saya cuma khawatir aja.”Kayden hendak menutup kembali obrolan itu. Tetapi, muncul pesan lain dari Alvin.“Maaf baru ngasih tahu. Pagi ini saya harus berangkat ke luar negeri. Jadi untuk sementara bimbingan skripsi libur dulu. Cuma beberapa hari, kok. Nanti saya pulang."Begitulah pesan panjang perpisahan dari Alvin. Namun kata-katanya sedikit ambigu, terdengar seolah Alvin adalah sosok yang spesial bagi Amelia.Kayden menggerutu pelan. "Nggak perlu balik aja sekalian."Kayden benar-benar geram membaca pesan yang berlebihan itu. Pandangannya beralih pada
"K-Kay, kayaknya aku nggak bisa—" Belum sempat Amelia menolak, Kayden tiba-tiba memutar tubuhnya hingga ia tertelungkup di atas kasur, wajahnya terbenam di bantal."Nggak ada penolakan, sayang. Kamu harus terima konsekuensi karena berbohong dan buat aku marah," desis Kayden, tepat di telinga Amelia. Napasnya terasa berat, bercampur dengan nada mengancam yang membuat bulu kuduk Amelia berdiri.Kayden menegakkan tubuhnya. Lalu menarik pinggang Amelia mendekat padanya, dan kini pintu masuk Amelia berada di depan miliknya yang sudah berdiri kokoh. Tanpa membuang waktu, Kayden mulai menusuk dan menerobos masuk dalam gua kenikmatan itu. Perlahan tapi pasti, mengisi setiap ruang yang tersedia."Aahk!" teriak Amelia terkejut. Kedua tangannya yang terikat mencengkeram seprei dengan kencang, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Benda tumpul itu mendesak masuk.Kayden langsung masuk dengan sempurna. Dan tak memberi Amelia jeda, dia langsung bergerak keluar masuk dengan ritme yang cukup c







