LOGIN"K-Kay, kayaknya aku nggak bisa—" Belum sempat Amelia menolak, Kayden tiba-tiba memutar tubuhnya hingga ia tertelungkup di atas kasur, wajahnya terbenam di bantal."Nggak ada penolakan, sayang. Kamu harus terima konsekuensi karena berbohong dan buat aku marah," desis Kayden, tepat di telinga Amelia. Napasnya terasa berat, bercampur dengan nada mengancam yang membuat bulu kuduk Amelia berdiri.Kayden menegakkan tubuhnya. Lalu menarik pinggang Amelia mendekat padanya, dan kini pintu masuk Amelia berada di depan miliknya yang sudah berdiri kokoh. Tanpa membuang waktu, Kayden mulai menusuk dan menerobos masuk dalam gua kenikmatan itu. Perlahan tapi pasti, mengisi setiap ruang yang tersedia."Aahk!" teriak Amelia terkejut. Kedua tangannya yang terikat mencengkeram seprei dengan kencang, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Benda tumpul itu mendesak masuk.Kayden langsung masuk dengan sempurna. Dan tak memberi Amelia jeda, dia langsung bergerak keluar masuk dengan ritme yang cukup c
‘Kay, kumohon lepasin!’ teriak Amelia dalam hati, namun tak bisa mengutarakannya. Kepala Amelia berdenyut pening, membuatnya tak kuasa melawan lagi. Kedua tangannya terkekang di atas kepala, terikat erat oleh belitan dasi Kayden yang kuat. Napasnya tersengal-sengal, dada naik turun cepat dalam ketakutan.Seolah menyadari kondisi Amelia yang mulai limbung, Kayden perlahan melepaskan ciumannya. Di sudut mulut Kayden yang basah ternoda bercak merah darahnya sendiri, bekas gigitan dalam pertarungan lidah yang tak seimbang.Amelia terengah-engah, berusaha menyerap banyak oksigen meski dunia masih berputar-putar di matanya. Selama ini Kayden tak pernah menciumnya dengan begitu liar. Namun ini barulah permulaan.Kayden masih belum puas. Bibirnya kini beralih menjelajahi leher Amelia, menjilat dan mengisapnya. Sesekali pria itu menggigit lembut kulit jenjangnya hingga meninggalkan jejak merah di beberapa tempat."K-Kay. Udah, lepasin aku," pinta Amelia dengan suara lirih, berusaha menahan er
"A-apa, sih? Benaran, kok," sahut Amelia, sedikit terbata-bata."Jangan mengelak, Amelia. Keluar sekarang," desis Kayden dengan nada penuh emosi sebelum panggilan itu diputuskannya begitu saja.Amelia terdiam sejenak, terpaku, sampai Alvin yang berada di sampingnya menegur. Raut wajahnya terlihat khawatir. "Ada apa, Amel? Kamu dimarahi, ya?" Amelia segera menoleh dan menyunggingkan senyuman kecil yang dipaksakan. "Nggak, bukan apa-apa. Saya duluan ya, Pak. Makasih sudah nganter," jawabnya cepat, lalu membuka pintu dan turun dari mobil.Alvin memperhatikannya sejenak. Tapi karena Amelia tampak enggan memberitahu, jadi lebih baik diam saja. Alvin pun mulai melajukan kendaraannya kembali.Amelia masih berdiri di depan rumahnya, memastikan mobil Alvin benar-benar telah pergi. Matanya celingukan, menyapu sekeliling, namun tidak ada tanda-tanda Kayden di sana. Entah dari mana pria itu tahu dirinya berbohong."Dia cenayang kali, ya?" gumamnya asal. Sambil menarik napas pelan, Amelia berbal
"Ya iyalah. Nanti pasti diomelin lagi kalau ke pesta nggak izin kayak itu," sahut Karina santai, seperti menyatakan hal yang sudah jelas.Diam-diam, Amelia menghela napas pelan. Ternyata, dia hanya terlalu overthinking. "Aku udah ngasih tau kamu. Kamu aja yang bilang ke dia," ujarnya, mencoba melempar tanggung jawab."Duh, ribet. Papa pulang malem. Aku mau langsung tidur," gerutu Karina sambil mengibaskan tangannya. Kemudian, ia melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.Amelia mendengus pelan. Sekarang ia ragu untuk menghubungi Kayden setelah kejadian pagi tadi. Pria itu mungkin saja masih dalam kondisi marah.‘Mending nggak usah kasih tahu, deh,’ pikirnya, memilih jalan yang tampak lebih aman.Setelah bersiap dengan gaun sederhana namun terlihat manis, Amelia segera berangkat menuju alamat yang Alvin kirimkan. Langit di luar sudah gelap. Tak lama, taksi online yang dipesannya berhenti di depan tujuan. Sebuah rumah yang cukup besar, bergaya modern minimalis. Pesta ternyata dilangsung
"Em, Pak Alvin," panggil Amelia dengan suara pelan, mencoba memecah keheningan."Ya?" Alvin menoleh dengan santai, ekspresinya seperti biasa. Seolah perkataan yang baru dia lontarkan bukan apa-apa.Amelia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua keberanian. Kemudian menatap Alvin dengan sorot mata serius."Maaf sebelumnya. Saya nggak bisa nerima perasaan Pak Alvin. Saya udah punya pacar, Pak," ucapnya menolak dengan halus agar tak menyinggungnya. Amelia tak ingin hubungan mereka menjadi canggung karena hal ini. Apa lagi dia masih membutuhkan Alvin untuk tugas akhirnya.Alvin terdiam sejenak. Wajahnya tak menunjukkan kekecewaan. Akhirnya, ia tersenyum tipis yang sedikit berbeda dari biasanya. "Iya, nggak apa-apa. Tapi menyukai seseorang itu hak saya, kan?""Iya, sih. Tapi—" Amelia mencoba melanjutkan. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tapi Alvin tiba-tiba menyela."Ya udah, kalau begitu. Silahkan kamu fokus sama pacar kamu, saya nggak bakal ganggu. Tapi tolong jangan lara
“Kok kamu ngomong gitu sih, Kay?” balas Melisa. “Aku cuma mau tau kabar Karina aja. Tadi aku sempet ke rumah, tapi nggak ada siapa-siapa.”Kayden menatapnya dengan sinis. “Kalau emang kamu berniat nemuin Karina, bukan ke sini. Harusnya kamu tau dia sekarang udah kerja di rumah sakit, kan?”“A-aku nggak tau rumah sakit yang mana. Jadi aku ke sini buat nanya ke kamu,” bantah Melisa. “Emang salah mau berusaha berhubungan baik sama anakku—” Belum selesai bicara, Kayden langsung menyela, tak memberinya ruang sedikit pun.“Nggak perlu. Karina nggak butuh ibu gagal macam kamu. Disaat dia sakit, nangis seharian, kamu malah pergi sama laki-laki lain. Malah sahabatnya, Amelia, yang jagain dia dulu. Empati kamu bahkan lebih rendah dari anak kecil,” geramnya meledak dalam kalimat-kalimat tajam. Kayden melempar dua paper bag pemberian Melisa. Isinya sedikit berserakan di tanah.Melisa yang awalnya datang dengan penuh percaya diri, lengkap dengan niat yang dibungkus manis dan barang mahal, kini te







