ログイン"K-Kay. Ada nenek, gimana dong?" bisik Amelia terdengar panik.Belum sempat Kayden menjawab, kini suara Rania semakin mendekat seolah dia sudah masuk ke dalam kamar itu."Amel. Kamu lagi mandi, ya?"Amelia menelan ludah. Dengan sangat terpaksa dia menjawab. "I-iya, nek."Kayden di depannya malah terlihat santai, karena dia tahu pintu kamar mandi sudah dia kunci. Namun, wajah panik Amelia terlihat lucu baginya. Dengan jahil, dia mulai menggerakkan pinggulnya agar kembali bergerak."Ahh—hmph!" Amelia sempat mendesah kaget, namun dengan cepat dia menutup mulutnya."Kenapa, Amelia?" tanya Rania di luar sana dengan nada khawatir.Kayden masih menggerakkan tubuh Amelia, hingga membuat Amelia kesal. Tapi dia harus menahan agar tidak membuat suara yang mencurigakan."I-iya. Nggak apa-apa, nek. Aku cuma kepeleset. Ada apa?" sahut Amelia, dengan suara tersengal berusaha sebiasa mungkin."Nenek lupa ngasih kamu baju ganti buat tidur. Nenek taruh di kasur, ya," jawab Rania.Amelia mencoba menarik
"Janji? Janji apa?" tanya Amelia heran.Kayden merengus sebal. "Masa kamu lupa? Kamu bilang nanti aja setelah bimbingan, sekarang udah beres, kan?"Amelia mengangguk baru teringat. Namun ia tetap menolak. "Ya itu kan kalau di rumah, Kay. Kalau di sini rumah orang tua kamu.""Nggak ada bedanya. Untung di kamar ini ada kamar mandi dalamnya. Udah lama kita nggak mandi bareng, kan?" sahut Kayden dengan santai. Kedua tangannya perlahan mulai menanggalkan pakaiannya.Wajah Amelia merona. Langsung memalingkan pandangan."Untung apanya? Pakai lagi baju kamu!"Kayden tak mendengarkan, dan benar-benar sudah telanjang bulat sekarang. Dia menarik Amelia yang tak mau menatapnya."Janji tetap janji, Amel," ucapnya bersikeras, dengan cepat menariknya ke dalam bathtub yang sudah terisi air."Kyaa!" teriak Amelia kaget. Kakinya sedikit terpeleset dan akhirnya jatuh di atas tubuh Kayden.Kedua tangan Kayden memeluk Amelia dengan erat dari belakang."Kay! Handuk aku jadi ikut basah, ih!" gerutu Amelia s
"Pacarnya Om Kayden, ya? Em, kayaknya belum pernah lihat, nek," jawab Amelia dengan senyuman tipis terdengar meyakinkan.Rania menghela napas panjang sembari menggerutu. "Haish. Gitu, ya. Emang nyebelin si Kayden itu. Kalau gitu kalian nginep aja di sini, ya."Kayden langsung mengernyit. "Nggak. Besok aku harus kerja.""Kan bisa berangkat dari sini. Ibu udah ditinggal suami, masa anak juga? Mana nggak nurut lagi padahal cuma minta dikenalin calon mantu," balas Rania dengan sedikit dramatis.Kayden mendengus sembari memutar bola matanya ke atas."Iya, iya! Kita nginep di sini," jawabnya menurut agar Rania tak mengomel lagi."Gitu dong." Rania mengangguk puas. Hingga akhirnya sebuah pemikiran liar muncul di kepalanya. "Tapi kenapa sih kamu nggak mau ngenalin? Jangan-jangan pacar kamu itu cowok ya, Kay?"Mendengar hal itu, Kayden hampir tersedak. "Apa sih, Bu? Kok nuduh gitu?!""Ya, lagian kamu tiap dijodohin nolak mulu. Sekarang punya pacar nggak mau dikenalin. Berarti pacar kamu—"Belu
"Iya, nanti kuajak. Kalau dia mau," jawab Kayden dengan nada datar, matanya masih tertuju pada jalan di depan."Kok kalau, sih? Harus mau, dong!" ujar Rania sedikit memaksa.Kayden menghela napas pelan. "Ibu tahu kan pacarku pemalu."Kalimat itu langsung membuat Amelia tersentak, merasa dirinya terpanggil. Refleks dia mengalihkan pandangannya ke samping, pipinya mulai memanas. Tapi setelah beberapa percakapan singkat lagi, Kayden langsung memutus panggilan."Siapa?" tanya Amelia dengan tatapan penuh rasa penasaran.Kayden menoleh sekilas. "Ibu. Dia minta bawa pacarku ke rumahnya.""N-nggak," tolak Amelia langsung, kepalanya menggeleng cepat. "Aku pulang sendiri kalau kamu mau ketemu Nenek Rania."Amelia hendak merapikan tasnya, seolah bersiap untuk turun di persimpangan berikutnya. Namun tangan Kayden dengan cepat menghentikannya."Nggak usah. Kamu ikut aja," ujarnya dengan tegas."Nanti Nenek Rania curiga dong kalau aku yang ikut," sahut Amelia masih terlihat sedikit gelisah.Kayden
"N-nggak, Pak. Itu bukan saya. Saya bahkan nggak tau ada pesan itu," jawab Amelia langsung, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat di layar ponsel Alvin.Alvin langsung menarik napas panjang. "Jadi benar kan, kamu tidur sama laki-laki itu?"Amelia menelan ludah. Tangannya yang terkepal masih terus gemetar, namun dia berusaha tetap tenang, menjaga napas tetap teratur. "Pak, begini sebenarnya. Saya—"Namun belum sempat Amelia menjelaskan, Alvin tiba-tiba menyela dengan suara yang lebih lembut. "Amelia, tolong jujur. Kamu diancam, kan?"Amelia mengerjap pelan, matanya membelalak. "Hah?""Apa ada sesuatu yang buat kamu terpaksa berhubungan sama dia? Ini nggak wajar soalnya. Usia kalian terpaut sangat jauh. Apalagi laki-laki itu ayah sahabat kamu," lanjut Alvin mendesaknya.Namun nada suara Alvin terdengar khawatir, bukan menghakimi.Amelia buru-buru menggelengkan kepala. "Nggak. Bukan gitu, Pak.""Jangan bohong, Amel," bantah Alvin bersikeras. "Kita bisa terus terang, saya bisa bant
"M-maksudnya apa ya, Pak Alvin? Saya nggak ngerti," ucap Amelia masih menyangkal, meski jantung berdebar panik saat ini."Jangan pura-pura bodoh, Amelia. Saya ada buktinya. Sekarang jawab bener atau nggak pertanyaan saya?" sahut Alvin mendesaknya.Amelia terdiam sejenak. Hatinya tak tenang, penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. "Pak Alvin tau dari mana?" tanyanya dengan suara pelan, sedikit berhati-hati.Terdengar helaan napas pelan dari seberang telepon, seolah Alvin sedang menahan sesuatu. "Soal itu bisa kita ketemu sebentar? Cuma berdua aja, nggak nyaman ngobrol di telepon gini. Saya udah pulang dari luar negeri."Amelia terdiam lagi, hatinya ragu. Perlahan menoleh ke arah Kayden yang masih mengobrol dengan Karina di depan stasiun. Pria itu pasti tak akan mengizinkannya bertemu Alvin tanpa alasan yang jelas."Kalau gitu agak sore di kampus aja, Pak. Saya lagi di luar soalnya," jawab Amelia."Oke. Saya tunggu," ucap Alvin lalu memutus panggilan.Amelia menatap ponselnya sambil







