LOGINAlena bermimpi, dan di dalam mimpinya ia lagi-lagi berada di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya. Ia berusaha mencari jalan keluar, tapi sejauh apa pun ia pergi, pintu itu tidak pernah ia temukan. Saat langkah kaki terdengar, Alena justru merasa semakin ketakutan. Ia tahu, langkah kaki itu bukan datang untuk menyelamatkannya. Sekuat tenaga, ia berlari menjauh. Napasnya sesak, jantungnya berdebar cepat. Ia ingin berteriak meminta tolong agar seseorang membukakan pintu untuknya keluar. Lalu, suara itu pun terdengar, “Alena.” Alena mengenali suara itu. Itu bukan suara Axel atau pun Rosalin. Bukan juga suara Aaron. “Alena, buka matamu.” Alena terkesiap. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal. Di hadapannya, wajah Damian tampak cemas. Alena dengan cepat mengendalikan diri. Ia memaksakan senyum manis di wajahnya. “Damian, kita sudah sampai?” tanyanya berusaha terlihat baik-baik saja. Damian tidak langsung menjawab. Ia menatap mata Alena yang masih sedikit bergetar.
Setelah tujuh menit, Alena kembali ke meja mereka. Damian memperhatikan wajah istrinya. Wajah itu masih tersenyum seperti biasa, tapi sorot matanya seperti permukaan air yang tenang yang menyembunyikan sesuatu di dasarnya. “Siapa yang meneleponmu?” tanya Damian. Alena lagi-lagi tersenyum. “Cuma teman. Kamu sudah selesai makan?” Damian yakin Alena menyembunyikan sesuatu. Wanita itu sengaja mengalihkan perhatiannya agar ia tidak bertanya lagi. Damian memutuskan untuk tidak mendesak. Ia mengangguk singkat. “Sudah.” “Kalau begitu, aku akan pulang. Kembalilah ke kantormu.” “Kau mau pulang?” Damian memastikan. “Mm. Aku tidak punya janji dengan orang lain.” Damian menatap Alena lama. Lalu mengangguk singkat. “Satu jam lagi aku ada pertemuan penting. Aku tidak bisa mengantarmu.” “Tidak masalah. Tadi aku diantar sopir.” Mereka keluar setelah sopir keluarga Van Houten mengabarkan mobil sudah siap di depan restoran. Namun, begitu Alena hendak naik ke mobil, Damian berubah
Alena keluar dari ruangan CEO tanpa terburu-buru. Hari itu, ia mengenakan gaun putih yang dipadukan dengan blazer biru tua. Rambut panjangnya tergerai rapi, sementara sepatu hak tingginya menimbulkan suara pelan setiap kali kaki wanita itu melangkah. Penampilannya terlihat modis dan anggun. Ia berjalan dengan tenang melewati lorong kantor. Sekretaris administrasi tampak heran melihatnya. “Bu Alena, Anda sudah mau pergi?” Alena tersenyum tipis. “Ya, aku ada urusan lain.” Setelah mengatakan itu, ia langsung berjalan menuju lift. Tidak lama kemudian, Damian menyusul. Kayla baru saja kembali dari toilet setelah mengalami sakit perut parah. Ia melihat bosnya tampak terburu-buru mengejar seseorang. Karena penasaran, Kayla menghampiri meja rekannya. “Cassy, kenapa Pak Damian terburu-buru begitu?” Cassy menjelaskan, “Tadi ada wanita menanyakan ruangan Pak Damian, jadi aku memberitahunya. Katanya keluarga.” “Namanya? Kamu tanya namanya tidak?” Cassy mengangguk. “Namanya Ale
Belakangan ini, kehidupan Alena terasa sangat tenang. Hubungannya dengan Damian bisa dibilang “membara” dan cukup harmonis. Christian juga mulai memperlakukannya selayaknya kakak ipar, meskipun pria itu masih sering menunjukkan sikap ketusnya. Bahkan, Julian juga sesekali mengajaknya bicara di meja makan. Semua perubahan itu bagaikan mimpi indah yang tidak ingin ia sudahi. Elsa yang melihat menantunya menyiapkan bekal sambil tersenyum ikut bahagia. Ia mendekat untuk menggodanya. “Damian memintamu menyiapkan bekal?” Alena spontan menoleh. Ia tersenyum malu. “Tidak, Ibu. Aku berinisiatif ingin mengantarkan makan siang untuknya.” “Itu bagus. Damian pasti akan sangat senang.” Di kantor, Damian baru saja selesai rapat dengan para kepala departemen. Setelah hampir dua jam membahas perkembangan proyek hotel baru dan laporan keuangan perusahaan, akhirnya ia bisa kembali ke ruangannya. Leon berjalan mengikuti Damian sambil membawa beberapa dokumen. “Pak, ini lapora
Christian mengambilnya nyaris seperti menyambar. “Dari mana kau mendapatkan jam tanganku?” Ia langsung mengenali Royal Oak pemberian Annalise, bahkan tanpa memeriksanya lebih dulu. Alena mengamati wajah bahagia adik iparnya. Mata pria itu berbinar. Sepertinya benar jam tangan itu memang berharga baginya. Alena tersenyum tipis. “Bukannya kamu harus bilang sesuatu dulu sebelum bertanya seperti itu?” Christian yang masih memandangi jam tangan itu seketika menatap Alena, lalu berdecih. “Terima kasih.” “Jadi, dari mana kau dapat ini?” Alena menghala napas pelan. “Yovie mengambilnya. Sepertinya dia menyimpan itu untuk menjebakmu juga. Di sana tadinya ada darah kering yang sudah kubersihkan.” Mendengar itu, dada Christian langsung dipenuhi emosi. “Sialan! Mereka benar-benar niat ingin menghancurkan hidupku. Lihat saja, akan kubalas perbuatan mereka berkali-kali lipat!” Alena menenangkan Adik iparnya. “Chris, kamu pantas marah, tapi tunda dulu kemarahanmu sampai kamu wisuda
“Enak?” Damian mengunyah kue keju buatan istrinya. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengambil satu potong lagi dan menggigitnya dengan tenang. Alena yang duduk di hadapannya menunggu jawaban. “Aku bertanya, enak atau tidak?” “Lumayan.” Senyum di wajah Alena langsung memudar. “Hanya lumayan?” Damian meliriknya sekilas. “Kau ingin aku berbohong?” Alena mendengus pelan. Ia sudah menduga pria itu akan memberikan jawaban seperti itu. Bahkan setelah hubungan mereka membaik, Damian tetaplah Damian yang sulit memuji orang lain—kecuali soal tubuhnya. “Kalau begitu, lain kali aku tidak akan membuatkannya untukmu.” Damian menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap kue di piring, lalu kembali menatap Alena. “Siapa bilang aku tidak mau?” Alena mengerjapkan mata. “Kamu baru saja bilang kueku hanya lumayan.” “Aku tidak bilang rasanya buruk.” “Tapi kamu juga tidak bilang enak.” Damian menghela napas, “Aku hanya tidak terlalu suka kue, Alena. Dari pada kue, aku lebih suka ha







