LOGIN“Boleh.” Alena tersenyum lebar. Ia ingin memiringkan tubuh, tapi pinggangnya benar-benar terasa sakit. Rintihannya membuat Damian menoleh. “Sakit?” Alena mengangguk. “Sepertinya aku butuh dipijat.” Damian tidak banyak bicara. Ia bangkit, lalu membalik tubuh Alena dengan hati-hati. “Kamu mau apa—emh, iya di situ.” Alena merasakan pijatan di pinggangnya. Dengan posisi wajah di atas bantal, matanya tanpa sadar terpejam karena tubuhnya menjadi lebih rileks. Damian tersenyum tipis melihat Alena menikmati pijatannya. “Damian,” gumam Alena tanpa membuka mata. “Hm.” “Aku pikir kamu membenci Dimitri.” Damian tidak langsung menjawab. Tangannya memijat di titik-titik tertentu yang membuat Alena mendesah. “Nikmat?” “Iya. Ternyata kamu juga pintar memijat ya?” “Ini pengalaman pertamaku memijat orang lain. Kau harus merasa terhormat, Alena.” Alena membuka matanya, melirik Damian dengan mata menyipit. “Jangan mengalihkan pembicaraan.” Damian menghela napa
Menjelang sore, percakapan mereka masih berlanjut. Kali ini, pembahasan beralih pada kuliah Christian yang sebentar lagi memasuki wisuda. Valerie mendadak gelisah. Ia segera menoleh pada Alena, memberi isyarat agar wanita itu mengikutinya ke luar. Alena mengangguk. Ia hendak berdiri, tapi Damian langsung bertanya, “Ke mana?” “Valerie ingin bicara denganku sebentar,” jawab Alena. Damian melirik Valerie yang sudah menunggu di pintu, lalu ia mengangguk singkat. “Hm, pergilah.” Setelah mendapat izin, Alena pergi menyusul Valerie. Dia-diam semua orang memerhatikan Damian dan serempak membatin, ‘dia posesif sekali'. Begitu Alena mendekat, Valerie langsung berbisik, “Alena, punya pembalut? Sepertinya aku datang bulan.” “Ada. Ayo ke kamarku.” Keduanya pergi ke kamar Alena. Wanita itu membuka laci untuk mengambil pembalut. Saat itu, Valerie yang berdiri tidak jauh darinya, iseng mengintip ke dalam laci. Dahinya berkerut melihat sesuatu yang tidak asing di sana. “In
Di ruang makan kediaman Van Houten, makan siang baru saja selesai. Elsa menatap wajah-wajah familier yang berkumpul di sekeliling meja. Suasana makan siang kali ini terasa lebih ramai dari biasanya. Kehadiran Heinry, Valerie, dan Leon membuat wanita paruh baya itu terlihat begitu senang. “Sudah lama sekali kita tidak makan bersama seperti ini. Tante senang akhirnya kalian punya waktu untuk berkumpul lagi,” ujar Elsa sambil tersenyum. “Benar, Tante. Belakangan ini semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing,” sahut Heinry. Pria itu kemudian melirik Valerie yang duduk di sampingnya dengan wajah sedih. “Bahkan untuk makan malam romantis dengan istriku sendiri pun rasanya sulit. Hah... kehidupan macam apa ini?” Valerie yang sedang menyandarkan punggung ke kursi langsung melemparkan tatapan tajam. “Kamu sendiri juga sering pulang larut malam. Tidak sadar diri ya, Dokter Heinry?” “Itu berbeda, Sayang. Aku pulang larut malam karena bekerja, sedangkan kamu pergi meninggalka
“Hng...” Alena terbangun karena sensasi geli di dadanya. Ketika matanya terbuka, ia melihat Damian sedang memeluknya sambil bermain-main di area payudaranya. “Sudah bangun?” tanya pria itu mendongak. Alena mengangguk. “Kenapa kamu—ah!” Alena nyaris menjerit saat Damian menggigit kecil putingnya. Damian menyeringai. “Kenapa apanya?” “Damian, uh... Kamu tidak berangkat kerja?” Damian menggeser tubuhnya naik, menyejajarkan wajah di atas bantal. “Aku kerja dari rumah saja.” “Kenapa?” “Malas.” Dahi Alena mengernyit tipis. Biasanya, Damian paling tidak suka menunda pekerjaan. Pria itu seperti mesin yang tidak mengenal lelah, bahkan di hari liburnya pun, ia tetap bekerja. Sekarang, tiba-tiba saja ia malas? Mencurigakan. Kecurigaan Alena terjawab ketika Damian terus merangsangnya. Alena tidak tahan dan dalam sekejap rasa kantuknya hilang berganti gairah yang memabukkan. “Damian... Uh... Sudah siang...” Damian menekuk lutut Alena ke atas. Satu kaki wanita itu ia sam
Alena menatap langit malam dari balik jendela tinggi kamarnya. Setelah Axel ditangkap, perasaannya tidak serta merta menjadi lebih baik. Alena tahu, dengan kemampuan Aaron, Axel mungkin bisa dibebaskan lebih cepat dari yang ia harapkan. Tapi setidaknya, pria itu sudah kehilangan martabatnya sebagai kepala polisi yang dulu memiliki kekuasaan. Saat Alena masih berdiri diam, Damian keluar dari kamar mandi dan melihatnya sedang melamun. “Belum tidur?” Alena menoleh. Seketika senyum manis langsung tercetak di wajahnya. “Kalau aku tidur sekarang, apa besok sikapmu akan kembali lagi seperti dulu?” Alis Damian terangkat tipis. Kemudian ia berjalan mendekati Alena. Damian menyentuh wajah Alena dan menatapnya lekat. “Tidak akan.” Alena memiringkan wajahnya, menikmati dinginnya telapak tangan Damian. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap dalam diam. Mencoba membaca isi kepala masing-masing, berusaha untuk saling memahami. Damian pada awalnya ingin menahan diri. Ia kh
Elsa tampak sangat senang melihat Damian dan Alena akan pergi makan malam di luar. Pasangan muda itu terlihat begitu manis di matanya. Alena mengenakan gaun selutut berwarna krem dengan potongan sederhana yang menonjolkan sosok anggunnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik. Damian sendiri mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing atas yang dibiarkan terbuka. Penampilannya tetap terlihat elegan dan dingin seperti biasa, tapi ketika berdiri di samping Alena, aura dingin pria itu seolah sedikit melunak. “Wah, kalian terlihat serasi sekali!” puji Elsa sambil tersenyum lebar. Alena langsung tersipu malu, sedangkan Damian hanya berdehem. “Kami pergi, Bu,” pamit Damian. Elsa mengangguk senang. “Bersenang-senanglah, Sayang. Kalian jarang sekali meluangkan waktu untuk pergi berdua seperti ini.” “Aku akan menikmati kebersamaan kami, Ibu,” balas Alena sambil tersenyum lembut. Elsa ter







