LOGIN
“Tuan Damian, aku sudah siap melayanimu.”
Damian yang tengah berdiri menghadap jendela kamarnya, berbalik dengan aura yang begitu kuat untuk mengintimidasi lawan. Tubuhnya yang besar dan tinggi meninggalkan bayangan hitam di lantai marmer. Ia menatap Alena, wanita yang beberapa jam lalu baru saja sah menjadi istrinya, dengan sorot dingin. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun selain matanya yang menusuk tubuh mungil Alena di depan pintu. Damian mengamati gaun tidur yang dikenakan Alena. Tipis dan begitu menerawang, nyaris memperlihatkan lekukan tubuhnya yang ringkih namun juga penuh pada bagian-bagian yang pas. Seolah wanita itu sengaja berdandan sedemikian rupa agar terlihat menggoda di matanya. Angin yang bertiup dari jendela yang terbuka menyibakkan gaun tidur tipis itu hingga kulit pahanya yang seputih salju terpampang lebih jelas, dan rambut panjangnya yang terurai menari mengikuti embusan angin. Dengan wajah cantik dan penampilan itu, seorang pria normal pasti akan segera melahapnya. Namun bagi Damian, Alena tidak lebih dari seekor ular licik yang penuh bisa. Alena adalah anak haram Axel Teresha sekaligus satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu. Menurut rumor yang beredar, Alena sangat dimanjakan keluarganya. Ia bahkan dikenal gemar menghabiskan banyak uang untuk merawat dan mempercantik diri. Tak hanya itu, Alena juga kerap bergonta-ganti pasangan, membuat namanya semakin sering menjadi bahan pembicaraan. Wanita seperti itu tentu bukan tipe Damian. Kesalahan Christianlah yang membuat dirinya harus menikahi wanita itu. Melihat Damian yang hanya berdiri diam, Alena memutuskan untuk mendekat lebih dulu. Kaki telanjangnya menapaki lantai kamar yang dingin hingga langkahnya berhenti tepat di hadapan pria itu. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Alena bisa mencium aroma maskulin dari tubuh suaminya. Alena kemudian mengangkat tangannya dan menyentuh dada Damian yang bidang dan keras. Jemarinya yang lentik perlahan menyusuri kulit dingin pria itu. Namun, Damian tetap bergeming. Tidak ada perubahan pada ekspresinya, seakan sentuhan Alena belum cukup untuk menggoyahkan ketenangannya. “Apa yang kau lakukan, Alena Teresha?” Suara Damian yang dingin menghentikan pergerakan tangan Alena. “Apakah Axel yang menyuruhmu untuk menggodaku?” Damian kembali bertanya. Axel adalah mertuanya, pria licik yang telah menjebaknya dalam pernikahan konyol ini. Alena tahu Damian tidak mungkin tertarik padanya. Alih-alih tertarik, yang dirasakan pria itu saat ini pastilah hanya sebuah kebencian dan rasa muak. Namun Alena tidak bisa menyerah hanya karena pria itu tidak menyukainya. Alena tidak ingin dikurung di rumah Teresha lagi. Dan satu-satunya cara untuk tidak kembali ke rumah itu adalah dengan menjadi istri Damian secara utuh. Jika ia tidak berhasil mengambil hati pria ini, ia mungkin akan dikembalikan pada keluarganya. Dan Aaron, kakak tirinya, akan semakin buruk memperlakukannya. Alena lalu mendongak, menatap mata tajam Damian. “Tuan Damian, gaun ini membuatku kedinginan,” rayunya sembari membuka sedikit jubah tipisnya hingga bahunya yang indah terekspos. Tentu Damian mengerti. Sudah terlalu banyak wanita yang melemparkan diri ke atas ranjangnya untuk digagahi. Tapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil menarik perhatian Damian hingga saat ini. Damian tersenyum mengejek Alena. “Rupanya Teresha sudah membesarkan seorang pelacur di rumah mereka.” Alena tersenyum tipis menanggapi hinaan itu. “Bibir Tuan Damian sangat tajam.” Jemari Alena kembali menyusuri dada Damian. Hinaan pria itu patut ia terima karena perilakunya memang sangat memalukan. Meski begitu, Damian tidak mendorongnya sehingga Alena mengambil kesempatan yang lebih berani. Ia berjinjit untuk menyejajarkan wajah mereka lalu melumat bibir dingin pria itu dengan lembut. Damian adalah pria yang jauh dari kata ramah. Semenjak dikhianati tunangannya, ia menjadi sosok yang semakin dingin dan tidak mudah dibuat senang. Tapi malam ini, sentuhan Alena telah membangkitkan gairahnya. Damian membiarkan Alena menunjukkan kemampuannya. Ia ingin tahu sejauh apa pengalaman wanita itu. Sementara dirinya hanya diam layaknya patung. Alena telah melakukan semua yang ia ketahui. Mengecup, menyesap, bahkan menggigit bibir pria itu. Namun melihat reaksi Damian, ia sadar rayuannya telah gagal. Alena akhirnya berhenti dengan rasa malu yang menjalar merah ke pipinya. “Hanya itu kemampuanmu, hm? Kau tidak berpikir hal seperti itu bisa memancing gairahku, kan?” sindir Damian. Keberanian yang Alena tunjukkan seketika menyusut saat tatapan Damian semakin menggelap. Sempat terbesit di kepalanya untuk menyerah, tapi tiba-tiba saja Damian menarik pinggangnya dengan satu tangan. Alena tersentak ke depan. Tubuhnya membentur tubuh keras Damian yang besar. Tatapan pria itu terasa lebih dingin dari sebelumnya, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti bara api yang mampu membakarnya. “Biar kutunjukkan bagaimana cara membangunkan singa yang sedang tertidur, Alena Teresha.”“Jadi, karena takut aku menceraikan putrimu, kau memintaku menandatangani perjanjian di atas materai?” Damian menyimpulkan maksud pertemuan mereka hari ini. Axel Teresha, yang datang jauh-jauh bersama putrinya ke perusahaan di tengah jam kerja, mengangguk mantap. “Perjanjian itu hanya berlaku sampai kalian memiliki seorang anak. Setelah itu, kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan.” Damian duduk tenang di hadapan calon istrinya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa. Axel benar-benar licik. Pria itu sudah memikirkan semuanya dengan matang dan berusaha menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Mungkin Axel berpikir Damian akan menceraikan Alena setelah beberapa bulan menikah. Karena itu, ia sengaja menyiapkan perjanjian tertulis sebagai jaminan. “Dan kalian akan memanfaatkan anak itu sebagai alasan untuk terus berhubungan dengan keluarga kami. Begitu?” Tatapan Damian beralih lurus kepada Alena. Wanita itu tampak tenang dan licik seperti ayahnya. Ju
Di meja makan itu, hanya Axel dan Rosalin yang terlihat antusias membicarakan pernikahan antara Alena dan Damian. “Kita harus segera menentukan tanggalnya,” ujar Rosalin bersemangat. “Bagaimana kalau bulan depan? Waktu persiapannya masih cukup.” “Bulan depan terlalu cepat,” sela Elsa. “Setidaknya beri mereka waktu untuk saling mengenal.” Rosalin tertawa kecil. “Mereka bisa saling mengenal setelah menikah. Bukankah yang terpenting adalah keluarga kita sudah menyetujuinya?” Elsa terdiam. Ia tidak menyukai cara wanita itu berbicara seolah pernikahan tersebut hanyalah kesepakatan semata. “Kalau begitu, bagaimana dengan dua bulan lagi?” Axel ikut menyela. “Saya akan memastikan semuanya dipersiapkan dengan baik.” Julian tidak langsung menanggapi. Ia melirik Damian yang sejak tadi hanya diam. Putranya itu bahkan belum menyentuh gelas di hadapannya. “Damian,” panggil Julian. “Kau tidak keberatan?” Semua mata langsung tertuju kepadanya. Damian meletakkan pisau dan garpu yang
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Teresha.” Rosalin langsung tersenyum lebar mendengar sambutan tersebut. Ia tampak begitu senang mendapat sambutan hangat dari calon besannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri Elsa lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam, Nyonya Van Houten. Suatu kehormatan bagi kami bisa berkunjung ke kediaman keluarga sebesar ini.” Elsa hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum anggun yang biasa diperlihatkan seorang nyonya dari keluarga terpandang. Di belakang Elsa, Julian dan kedua putranya turut menyambut keluarga Teresha. Namun, berbeda dengan Elsa, raut wajah mereka terlihat kaku dan kurang bersahabat. Terutama pria yang mengenakan tuxedo abu-abu. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat Alena sedikit gugup. Axel kemudian memperkenalkan keluarganya. “Tuan dan Nyonya Van Houten, izinkan saya memperkenalkan putra kami, Aaron Teresha. Dan ini putri kami, Alena T
Plak!Tamparan keras mendarat di pipi putra bungsu keluarga Van Houten. Suara yang menggema di seluruh ruangan itu membuat Elsa ikut tersentak.Christian memegangi pipi kirinya yang terasa perih dan panas. Matanya berkaca-kaca saat menatap sang ayah.“Aku tidak membunuh orang itu, Ayah! Percayalah padaku!”“Kau boleh menyangkal semua tuduhan itu, tetapi bukti yang ada mengarah padamu, Christian!” hardik Julian dengan nada penuh amarah.“Ibu, percayalah padaku. Aku tidak membunuh siapa pun.” Christian beralih meminta dukungan kepada ibunya.Elsa percaya pada putra bungsunya. Namun, di hadapan bukti-bukti yang ada, ia tidak tahu bagaimana membela Christian.“Kak Damian...” Christian menatap kakaknya dengan tatapan penuh harap. “Apa Kakak juga tidak percaya padaku?”Damian terdiam. Ia menatap wajah adiknya yang kini dipenuhi keputusasaan.Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang benar-benar ingin percaya bahwa Christian adalah pembunuh. Mereka semua mengenal sifatnya. Christian Van Hout
Aaron merangkak naik ke atas ranjang mendekati Alena. Matanya yang bulat dipenuhi kabut gairah yang selalu muncul setiap kali melihat tubuh Alena yang indah. “Kau sangat beruntung adikku, kau akan menjadi menantu dari keluarga terkaya di kota ini.”Jemarinya menggerayangi pelipis Alena dengan penuh nafsu. Aaron benar-benar sudah tergila-gila pada adik tirinya itu. “Tapi membayangkan dirimu disetubuhi pria lain membuatku sedikit kesal.”Saat Aaron hendak mencium bibir Alena, gadis itu membuang wajah ke samping. Hal itu membuat Aaron berdecih. “Berhentilah bersikap keras kepala, adikku.” Pria itu meremas payudara Alena hingga gadis itu merintih kesakitan. “Bukankah harusnya kau bersyukur? Sial, ini sangat tidak adil. Padahal aku yang sudah merawatmu dengan kedua tanganku sampai sebesar ini, tapi bisa-bisanya justru pria lain yang akan merasakan keperawananmu.”Alena sungguh muak dengan perilaku kakak tirinya. Ia muak dijadikan budak nafsu oleh pria itu sampai berkali-kali mencoba u
Dua bulan lalu, perusahaan Van Houten kembali memenangkan sebuah proyek besar dengan nilai fantastis. Keberhasilan itu bahkan mendapat apresiasi langsung dari gubernur yang mengundang keluarga Van Houten untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman pribadinya. Namun, di tengah kebahagiaan itu Julian justru mendapat kabar buruk soal putra bungsunya. Saat makan malam berlangsung, ponsel Julian berdering. Nama Axel Teresha, kepala kepolisian kota, muncul di layar. Julian segera mengangkatnya.“Tuan Julian, Putra kedua Anda, Christian Van Houten ditemukan di sebuah lokasi yang sedang kami gerebek malam ini. Di tempat itu ditemukan narkoba dalam jumlah besar dan ada seorang pria yang ditemukan tewas di lokasi tersebut.”Kabar itu bagaikan petir di tengah langit cerah. Namun, Julian berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia masih berada di kediaman gubernur dan tidak ingin membuat siapa pun curiga.“Ada apa, Julian?” tanya Elsa pelan. Ia mengenal suaminya dengan baik. Melihat rahang Ju







