FAZER LOGIN“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Teresha.”
Rosalin langsung tersenyum lebar mendengar sambutan tersebut. Ia tampak begitu senang mendapat sambutan hangat dari calon besannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri Elsa lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam, Nyonya Van Houten. Suatu kehormatan bagi kami bisa berkunjung ke kediaman keluarga sebesar ini.” Elsa hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum anggun yang biasa diperlihatkan seorang nyonya dari keluarga terpandang. Di belakang Elsa, Julian dan kedua putranya turut menyambut keluarga Teresha. Namun, berbeda dengan Elsa, raut wajah mereka terlihat kaku dan kurang bersahabat. Terutama pria yang mengenakan tuxedo abu-abu. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat Alena sedikit gugup. Axel kemudian memperkenalkan keluarganya. “Tuan dan Nyonya Van Houten, izinkan saya memperkenalkan putra kami, Aaron Teresha. Dan ini putri kami, Alena Teresha.” Aaron dan Alena mengangguk sopan sambil tersenyum. Keduanya tampak seperti anak kesayangan keluarga Teresha. “Kami sudah banyak mendengar tentang putra Anda. Kabarnya, dia seorang pengacara yang cukup populer,” ujar Elsa. Pujian itu membuat Axel dan Rosalin terlihat senang. Namun, Alena sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. “Putra dan putri kami memang cukup populer di kalangan anak muda,” jawab Axel dengan nada jumawa. “Sebagai orang tua, saya sampai kewalahan menghadapi banyaknya permintaan perjodohan dari keluarga lain.” Elsa tersenyum lalu mengalihkan pandangan kepada Alena. Rumor tentang gadis itu yang sering bergonta-ganti pasangan bahkan sudah sampai ke telinganya. “Ah, tentu saja. Putri Anda memang memiliki wajah yang cantik. Tidak heran jika banyak pria tertarik kepadanya.” “Hoho, mungkin memang gen keluarga kami sudah seperti itu dari generasi ke generasi,” balas Axel bangga. Elsa hanya tersenyum tipis. Sejak tadi hanya dirinya yang berbicara sedangkan suaminya diam saja. “Kalau begitu, mari. Silakan masuk.” Keluarga Teresha mengikuti Elsa memasuki kediaman Van Houten. Interior rumah itu tampak megah dan elegan. Lantai marmer mengilap membentang luas, sementara lampu kristal berukuran besar menggantung di tengah langit-langit yang tinggi. Beberapa lukisan bernilai tinggi menghiasi dinding, berpadu dengan perabotan mewah yang tertata sempurna. Mereka kemudian tiba di ruang makan. Sebuah meja panjang dari kayu mahoni telah disiapkan di tengah ruangan. Berbagai hidangan tersaji rapi di atas meja, lengkap dengan peralatan makan berlapis warna keemasan dan gelas-gelas kristal yang berkilauan di bawah cahaya lampu. “Silakan duduk,” ujar Elsa. Julian mengambil tempat di salah satu ujung meja, sementara Elsa duduk di kursi di sisi kanan meja bersama kedua putra mereka. Di seberang mereka, keluarga Teresha mengambil tempat masing-masing. “Baiklah. Mari kita mulai makan malam,” ujar Julian. Kedua keluarga itu mulai menyantap hidangan dalam suasana yang tenang. Begitupun Alena yang tampak menikmati makanannya tanpa banyak bicara. Sejak kecil, ia sudah terbiasa menjaga sikap di hadapan orang lain. Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus diam, dan bagaimana menyembunyikan perasaan di balik wajahnya yang tenang. Namun, suasana makan malam yang semula berjalan tenang mulai berubah ketika hidangan terakhir selesai disajikan. Axel meletakkan sendoknya, lalu menyeka sudut bibir dengan serbet sebelum menatap Julian dan Elsa. “Sepertinya keluarga kita akan menjadi besan yang sempurna,” ujarnya santai. Elsa hampir tersedak mendengar ucapan itu. Julian yang duduk di sampingnya segera menggenggam tangan istrinya, seolah memintanya untuk tetap tenang. “Besan?” ulang Elsa, memastikan dirinya tidak salah dengar. Rosalin mengangguk penuh semangat. “Nyonya Van Houten, putri kesayangan kami sudah memasuki usia yang matang untuk menikah. Bukankah putra Anda juga demikian?” Elsa menatap suaminya dengan cemas. Sejak awal, mereka sudah memperkirakan imbalan yang diinginkan Axel Teresha tidak akan kecil. Namun, mereka tidak pernah menyangka pria itu akan meminta hubungan keluarga sebagai gantinya. “Tuan Axel, di zaman sekarang, anak-anak biasanya memilih pasangan mereka sendiri,” ujar Elsa hati-hati. “Kami tidak ingin memaksakan keputusan sebesar ini kepada mereka.” Axel tidak menyukai penolakan, meskipun disampaikan dengan halus. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. “Nyonya Van Houten, terkadang anak-anak harus mengikuti keputusan orang tua demi kebaikan keluarga. Mereka tidak bisa hanya memikirkan keinginan sendiri jika ingin hidup dengan tenang.” “Tapi—” Genggaman Julian pada tangan Elsa sedikit mengerat. Ia memberi isyarat agar istrinya berhenti. Axel kemudian mengalihkan pandangan kepada Julian. “Saya akan merasa kecewa jika niat baik kami ditolak. Tuan Julian, bukankah sudah saya katakan sebelumnya? Saya akan menjadi kekuatan yang melindungi keluarga Anda.” Julian terdiam. Ia tahu Axel Teresha adalah pria yang licik. Ia hanya tidak menyangka jika kelicikannya akan melebihi seekor rubah. Namun, dalam situasi seperti ini Julian tidak memiliki banyak pilihan. Kasus yang menjerat putra bungsunya terlalu serius. Jika tidak ada bantuan dari Axel, putranya bisa menghadapi hukuman penjara atas tuduhan kepemilikan narkoba dan pembunuhan. Julian menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil keputusan. “Baiklah. Kami akan menikahkan putra sulung kami dengan putri Anda.” Keheningan seketika memenuhi ruang makan. Elsa menatap suaminya dengan tidak percaya. Ia ingin membantah. Ia tidak rela putranya dijadikan bagian dari kesepakatan keluarga Teresha. Namun, tatapan Julian seolah meminta dirinya untuk percaya. Damian, pria yang harus dikorbankan demi melindungi adiknya, sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Wajahnya tetap tenang di saat ibu dan adiknya mengkhawatirkan dirinya. Tatapannya yang dingin kini tertuju pada wanita dengan pakaian terbuka di hadapannya. Sejak tadi wanita itu terus saja meliriknya seperti seorang pencuri. Alena yang menyadari itu membalas tatapan Damian dengan senyum manis. Namun, tatapan pria itu justru malah semakin dingin sampai membuat tengkuknya merinding. Di tengah ketegangan itu, Axel kembali bicara. “Hoho, ya ampun, akhirnya percakapan kita bisa berlanjutnya ke tahap berikutnya.”“Jadi, karena takut aku menceraikan putrimu, kau memintaku menandatangani perjanjian di atas materai?” Damian menyimpulkan maksud pertemuan mereka hari ini. Axel Teresha, yang datang jauh-jauh bersama putrinya ke perusahaan di tengah jam kerja, mengangguk mantap. “Perjanjian itu hanya berlaku sampai kalian memiliki seorang anak. Setelah itu, kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan.” Damian duduk tenang di hadapan calon istrinya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa. Axel benar-benar licik. Pria itu sudah memikirkan semuanya dengan matang dan berusaha menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Mungkin Axel berpikir Damian akan menceraikan Alena setelah beberapa bulan menikah. Karena itu, ia sengaja menyiapkan perjanjian tertulis sebagai jaminan. “Dan kalian akan memanfaatkan anak itu sebagai alasan untuk terus berhubungan dengan keluarga kami. Begitu?” Tatapan Damian beralih lurus kepada Alena. Wanita itu tampak tenang dan licik seperti ayahnya. Ju
Di meja makan itu, hanya Axel dan Rosalin yang terlihat antusias membicarakan pernikahan antara Alena dan Damian. “Kita harus segera menentukan tanggalnya,” ujar Rosalin bersemangat. “Bagaimana kalau bulan depan? Waktu persiapannya masih cukup.” “Bulan depan terlalu cepat,” sela Elsa. “Setidaknya beri mereka waktu untuk saling mengenal.” Rosalin tertawa kecil. “Mereka bisa saling mengenal setelah menikah. Bukankah yang terpenting adalah keluarga kita sudah menyetujuinya?” Elsa terdiam. Ia tidak menyukai cara wanita itu berbicara seolah pernikahan tersebut hanyalah kesepakatan semata. “Kalau begitu, bagaimana dengan dua bulan lagi?” Axel ikut menyela. “Saya akan memastikan semuanya dipersiapkan dengan baik.” Julian tidak langsung menanggapi. Ia melirik Damian yang sejak tadi hanya diam. Putranya itu bahkan belum menyentuh gelas di hadapannya. “Damian,” panggil Julian. “Kau tidak keberatan?” Semua mata langsung tertuju kepadanya. Damian meletakkan pisau dan garpu yang
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Teresha.” Rosalin langsung tersenyum lebar mendengar sambutan tersebut. Ia tampak begitu senang mendapat sambutan hangat dari calon besannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri Elsa lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam, Nyonya Van Houten. Suatu kehormatan bagi kami bisa berkunjung ke kediaman keluarga sebesar ini.” Elsa hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum anggun yang biasa diperlihatkan seorang nyonya dari keluarga terpandang. Di belakang Elsa, Julian dan kedua putranya turut menyambut keluarga Teresha. Namun, berbeda dengan Elsa, raut wajah mereka terlihat kaku dan kurang bersahabat. Terutama pria yang mengenakan tuxedo abu-abu. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat Alena sedikit gugup. Axel kemudian memperkenalkan keluarganya. “Tuan dan Nyonya Van Houten, izinkan saya memperkenalkan putra kami, Aaron Teresha. Dan ini putri kami, Alena T
Plak!Tamparan keras mendarat di pipi putra bungsu keluarga Van Houten. Suara yang menggema di seluruh ruangan itu membuat Elsa ikut tersentak.Christian memegangi pipi kirinya yang terasa perih dan panas. Matanya berkaca-kaca saat menatap sang ayah.“Aku tidak membunuh orang itu, Ayah! Percayalah padaku!”“Kau boleh menyangkal semua tuduhan itu, tetapi bukti yang ada mengarah padamu, Christian!” hardik Julian dengan nada penuh amarah.“Ibu, percayalah padaku. Aku tidak membunuh siapa pun.” Christian beralih meminta dukungan kepada ibunya.Elsa percaya pada putra bungsunya. Namun, di hadapan bukti-bukti yang ada, ia tidak tahu bagaimana membela Christian.“Kak Damian...” Christian menatap kakaknya dengan tatapan penuh harap. “Apa Kakak juga tidak percaya padaku?”Damian terdiam. Ia menatap wajah adiknya yang kini dipenuhi keputusasaan.Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang benar-benar ingin percaya bahwa Christian adalah pembunuh. Mereka semua mengenal sifatnya. Christian Van Hout
Aaron merangkak naik ke atas ranjang mendekati Alena. Matanya yang bulat dipenuhi kabut gairah yang selalu muncul setiap kali melihat tubuh Alena yang indah. “Kau sangat beruntung adikku, kau akan menjadi menantu dari keluarga terkaya di kota ini.”Jemarinya menggerayangi pelipis Alena dengan penuh nafsu. Aaron benar-benar sudah tergila-gila pada adik tirinya itu. “Tapi membayangkan dirimu disetubuhi pria lain membuatku sedikit kesal.”Saat Aaron hendak mencium bibir Alena, gadis itu membuang wajah ke samping. Hal itu membuat Aaron berdecih. “Berhentilah bersikap keras kepala, adikku.” Pria itu meremas payudara Alena hingga gadis itu merintih kesakitan. “Bukankah harusnya kau bersyukur? Sial, ini sangat tidak adil. Padahal aku yang sudah merawatmu dengan kedua tanganku sampai sebesar ini, tapi bisa-bisanya justru pria lain yang akan merasakan keperawananmu.”Alena sungguh muak dengan perilaku kakak tirinya. Ia muak dijadikan budak nafsu oleh pria itu sampai berkali-kali mencoba u
Dua bulan lalu, perusahaan Van Houten kembali memenangkan sebuah proyek besar dengan nilai fantastis. Keberhasilan itu bahkan mendapat apresiasi langsung dari gubernur yang mengundang keluarga Van Houten untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman pribadinya. Namun, di tengah kebahagiaan itu Julian justru mendapat kabar buruk soal putra bungsunya. Saat makan malam berlangsung, ponsel Julian berdering. Nama Axel Teresha, kepala kepolisian kota, muncul di layar. Julian segera mengangkatnya.“Tuan Julian, Putra kedua Anda, Christian Van Houten ditemukan di sebuah lokasi yang sedang kami gerebek malam ini. Di tempat itu ditemukan narkoba dalam jumlah besar dan ada seorang pria yang ditemukan tewas di lokasi tersebut.”Kabar itu bagaikan petir di tengah langit cerah. Namun, Julian berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia masih berada di kediaman gubernur dan tidak ingin membuat siapa pun curiga.“Ada apa, Julian?” tanya Elsa pelan. Ia mengenal suaminya dengan baik. Melihat rahang Ju







