分享

Bagian 6

作者: Wideliaama
last update publish date: 2026-09-22 13:31:55

Di meja makan itu, hanya Axel dan Rosalin yang terlihat antusias membicarakan pernikahan antara Alena dan Damian.

“Kita harus segera menentukan tanggalnya,” ujar Rosalin bersemangat. “Bagaimana kalau bulan depan? Waktu persiapannya masih cukup.”

“Bulan depan terlalu cepat,” sela Elsa. “Setidaknya beri mereka waktu untuk saling mengenal.”

Rosalin tertawa kecil. “Mereka bisa saling mengenal setelah menikah. Bukankah yang terpenting adalah keluarga kita sudah menyetujuinya?”

Elsa terdiam. Ia tidak menyukai cara wanita itu berbicara seolah pernikahan tersebut hanyalah kesepakatan semata.

“Kalau begitu, bagaimana dengan dua bulan lagi?” Axel ikut menyela. “Saya akan memastikan semuanya dipersiapkan dengan baik.”

Julian tidak langsung menanggapi. Ia melirik Damian yang sejak tadi hanya diam. Putranya itu bahkan belum menyentuh gelas di hadapannya.

“Damian,” panggil Julian. “Kau tidak keberatan?”

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Damian meletakkan pisau dan garpu yang sejak tadi berada di tangannya. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun tanda keberatan.

“Bukankah keputusan sudah dibuat?”

Jawaban singkat itu membuat hati Elsa mencelos. Ia tahu putranya sedang menyembunyikan perasaan.

Namun tentu berbeda dengan Rosalin yang justru tersenyum lega. “Lihat? Damian tidak keberatan.”

Alena tidak berharap banyak dari pernikahan ini. Ia tahu, meluluhkan hati pria seperti Damian bukanlah perkara mudah. Tapi memang hanya ini satu-satunya cara untuk keluar dari rumah Teresha dan untuk mewujudkannya, Alena membutuhkan Damian.

“Alena,” panggil Axel.

Gadis itu tersentak kecil. “Ya, Ayah?”

“Kau juga tidak keberatan, bukan?”

Alena mengulas senyum manis di bibir merahnya. Jika ia membuat satu saja kesalahan, ayahnya akan mengurungnya di gudang dan tidak memberinya makan seharian.

“Tidak, Ayah.”

Melihat senyum Alena, rahang Damian tiba-tiba mengeras. Ia tidak suka melihat wanita itu tersenyum setelah melakukan sesuatu yang licik pada keluarganya.

Satu bulan berlalu sejak makan malam itu. Namun tetap saja tidak ada yang berubah pada hari-hari Alena. Aaron masih sering kali datang ke kamarnya untuk memuaskan hasrat atau sekedar mengganggunya. Sementara calon suaminya sendiri tidak pernah memiliki waktu untuk menemuinya.

Pagi itu, Rosalin tiba-tiba masuk setelah Aaron keluar dari kamarnya.

“Cepat bersiap. Sopir akan mengantarmu ke salon.”

Alena menatap ibu tirinya dengan mata berkaca-kaca. Ia yakin ibu tirinya mengetahui semua perbuatan Aaron tapi wanita itu hanya diam seolah-olah apa yang putranya lakukan bukan sesuatu yang salah.

“Kenapa melihatku seperti itu? Cepat rapikan penampilanmu! Sore ini Damian akan mengajakmu makan malam, jadi cepat pergi ke salon sekarang!”

Alena tidak peduli. Ia turun dari tempat tidur, lalu tanpa bicara sepatah kata pun, ia membuka blusnya memperlihatkan beberapa memar kebiruan dan bekas gigitan seseorang.

Rosalin yang tahu betul siapa pelakunya hanya berdecih. “Apa yang kau lakukan, Alena?!”

“Ibu, kalau kak Aaron terus melakukan ini, Damian akan tahu. Apa Ibu mau aku diceraikan di malam pertama kami?”

Rosalin menatap nyalang pada Alena. “Itu semua salahmu, Alena! Kau yang merayu putraku sampai dia kehilangan akal!”

“Ayah akan marah kalau aku diceraikan nanti. Apa Ibu bisa menanggung kemarahan Ayah?”

“Diamlah anak jalang! Cepat bersihkan tubuhmu dan turun ke bawah! Berhentilah bersikap menyedihkan!” Setelah berkata demikian, Rosalin keluar dan membanting pintu kamar.

Alena berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower selama beberapa menit. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana ia bisa menemui calon suaminya?

Setelah berganti pakaian, Alena turun ke bawah. Di sana Rosalin sudah menunggunya dengan wajah kesal.

“Aku sudah memberi tahu Damian kalau kau sedang tidak enak badan. Tapi kau harus tetap pergi ke salon untuk memperbaiki tubuhmu!”

Alena tidak menjawab. Ia pergi ke depan rumah di mana sopir keluarga sudah menunggunya.

“Silakan masuk, Nona Alena.”

“Terima kasih.”

Melihat tingkah anak itu, Rosalin menjadi semakin kesal. Ia naik ke lantai atas untuk bicara serius dengan Aaron.

Sementara itu, Alena masuk ke mobil dan duduk diam di kursi belakang. Sepanjang perjalanan, ia hanya memandangi pemandangan di luar jendela.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah salon kecantikan yang sudah lama menjadi langganan keluarga Teresha.

Mia, pemilik salon, langsung menyambutnya dengan ramah. “Silakan duduk, Nona Alena, tapi mohon maaf, bisakah Nona menunggu sebentar? Hari ini kebetulan sekali pelanggan VIP kami juga datang.”

“Tidak masalah, Mia. Aku akan menunggu sambil membaca majalah.”

Alena sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Meski Mia selalu bersikap ramah kepadanya, Alena tahu dirinya bukan pelanggan yang paling diutamakan. Setiap kali ada pelanggan VIP, ia sering diminta menunggu dengan berbagai alasan.

Alena sudah terbiasa dan ia tidak akan mengambil pusing perlakuan seperti itu.

Saat ia sedang membaca majalah, seseorang tiba-tiba menghampirinya. “Alena.”

Alena menoleh. Itu adalah Kailin, pria yang pernah ia rayu demi menghilangkan bukti pembunuhan di rumah sakit. Saat itu, ia melakukannya atas perintah ayahnya. Sekarang urusan mereka sudah selesai. Tidak ada ada alasan bagi mereka untuk tetap berhubungan. Jadi Alena mengabaikannya.

“Kau jadi lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu,” puji Kailin.

Alena tidak peduli. Ia kembali membaca majalah dan mengabaikan pria itu sepenuhnya.

Merasa diabaikan, Kailin ikut duduk di samping Alena dan menurunkan majalah yang sedang dibacanya. “Ayolah, Alena. Apa kau akan berpura-pura tidak mengenalku?”

Merasa terganggu, akhirnya Alena menoleh pada pria itu. Jarak wajah mereka sangat dekat karena Kailin mencondongkan tubuh.

“Aku tidak tertarik lagi padamu, Kailin. Berhentilah menggangguku.” Ucap Alena tenang.

Kailin terkekeh. “Kau sangat lucu, Alena. Dulu kau yang mendekatiku tapi sekarang kau berkata tidak tertarik lagi padaku. Apa perasaanmu memang berubah secepat itu?”

“Aku akan menikah dengan keluarga Van Houten. Jadi menyingkirlah kalau kau tidak mau masuk penjara.”

Kailin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Van Houten adalah keluarga terkaya di kota itu dan sangat disegani. Walaupun Alena memiliki wajah yang cantik dan tubuh menggoda, tapi status sosial mereka sangat jauh berbeda. Bagaimana bisa Alena menikah dengan orang seperti mereka.

Namun belum sempat Kailin bertanya, staf salon sudah memanggil Alena untuk segera masuk ke ruang spa.

Di sebuah restoran yang berada tepat di seberang salon, Damian sedang menghadiri pertemuan dengan seorang investor. Ia tidak sengaja melihat Alena dengan seorang pria dari jendela.

Tatapan Damian berubah dingin. Wanita itu tidak bisa menemuinya karena alasan sakit, tapi rupanya ia justru malah bertemu dengan pria lain.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Menggoda Suami Dinginku   Bagian 7

    “Jadi, karena takut aku menceraikan putrimu, kau memintaku menandatangani perjanjian di atas materai?” Damian menyimpulkan maksud pertemuan mereka hari ini. Axel Teresha, yang datang jauh-jauh bersama putrinya ke perusahaan di tengah jam kerja, mengangguk mantap. “Perjanjian itu hanya berlaku sampai kalian memiliki seorang anak. Setelah itu, kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan.” Damian duduk tenang di hadapan calon istrinya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa. Axel benar-benar licik. Pria itu sudah memikirkan semuanya dengan matang dan berusaha menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Mungkin Axel berpikir Damian akan menceraikan Alena setelah beberapa bulan menikah. Karena itu, ia sengaja menyiapkan perjanjian tertulis sebagai jaminan. “Dan kalian akan memanfaatkan anak itu sebagai alasan untuk terus berhubungan dengan keluarga kami. Begitu?” Tatapan Damian beralih lurus kepada Alena. Wanita itu tampak tenang dan licik seperti ayahnya. Ju

  • Menggoda Suami Dinginku   Bagian 6

    Di meja makan itu, hanya Axel dan Rosalin yang terlihat antusias membicarakan pernikahan antara Alena dan Damian. “Kita harus segera menentukan tanggalnya,” ujar Rosalin bersemangat. “Bagaimana kalau bulan depan? Waktu persiapannya masih cukup.” “Bulan depan terlalu cepat,” sela Elsa. “Setidaknya beri mereka waktu untuk saling mengenal.” Rosalin tertawa kecil. “Mereka bisa saling mengenal setelah menikah. Bukankah yang terpenting adalah keluarga kita sudah menyetujuinya?” Elsa terdiam. Ia tidak menyukai cara wanita itu berbicara seolah pernikahan tersebut hanyalah kesepakatan semata. “Kalau begitu, bagaimana dengan dua bulan lagi?” Axel ikut menyela. “Saya akan memastikan semuanya dipersiapkan dengan baik.” Julian tidak langsung menanggapi. Ia melirik Damian yang sejak tadi hanya diam. Putranya itu bahkan belum menyentuh gelas di hadapannya. “Damian,” panggil Julian. “Kau tidak keberatan?” Semua mata langsung tertuju kepadanya. Damian meletakkan pisau dan garpu yang

  • Menggoda Suami Dinginku   Bagian 5

    “Selamat datang, Tuan dan Nyonya Teresha.” Rosalin langsung tersenyum lebar mendengar sambutan tersebut. Ia tampak begitu senang mendapat sambutan hangat dari calon besannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri Elsa lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam, Nyonya Van Houten. Suatu kehormatan bagi kami bisa berkunjung ke kediaman keluarga sebesar ini.” Elsa hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum anggun yang biasa diperlihatkan seorang nyonya dari keluarga terpandang. Di belakang Elsa, Julian dan kedua putranya turut menyambut keluarga Teresha. Namun, berbeda dengan Elsa, raut wajah mereka terlihat kaku dan kurang bersahabat. Terutama pria yang mengenakan tuxedo abu-abu. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat Alena sedikit gugup. Axel kemudian memperkenalkan keluarganya. “Tuan dan Nyonya Van Houten, izinkan saya memperkenalkan putra kami, Aaron Teresha. Dan ini putri kami, Alena T

  • Menggoda Suami Dinginku   Bagian 4

    Plak!Tamparan keras mendarat di pipi putra bungsu keluarga Van Houten. Suara yang menggema di seluruh ruangan itu membuat Elsa ikut tersentak.Christian memegangi pipi kirinya yang terasa perih dan panas. Matanya berkaca-kaca saat menatap sang ayah.“Aku tidak membunuh orang itu, Ayah! Percayalah padaku!”“Kau boleh menyangkal semua tuduhan itu, tetapi bukti yang ada mengarah padamu, Christian!” hardik Julian dengan nada penuh amarah.“Ibu, percayalah padaku. Aku tidak membunuh siapa pun.” Christian beralih meminta dukungan kepada ibunya.Elsa percaya pada putra bungsunya. Namun, di hadapan bukti-bukti yang ada, ia tidak tahu bagaimana membela Christian.“Kak Damian...” Christian menatap kakaknya dengan tatapan penuh harap. “Apa Kakak juga tidak percaya padaku?”Damian terdiam. Ia menatap wajah adiknya yang kini dipenuhi keputusasaan.Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang benar-benar ingin percaya bahwa Christian adalah pembunuh. Mereka semua mengenal sifatnya. Christian Van Hout

  • Menggoda Suami Dinginku   Bagian 3

    Aaron merangkak naik ke atas ranjang mendekati Alena. Matanya yang bulat dipenuhi kabut gairah yang selalu muncul setiap kali melihat tubuh Alena yang indah. “Kau sangat beruntung adikku, kau akan menjadi menantu dari keluarga terkaya di kota ini.”Jemarinya menggerayangi pelipis Alena dengan penuh nafsu. Aaron benar-benar sudah tergila-gila pada adik tirinya itu. “Tapi membayangkan dirimu disetubuhi pria lain membuatku sedikit kesal.”Saat Aaron hendak mencium bibir Alena, gadis itu membuang wajah ke samping. Hal itu membuat Aaron berdecih. “Berhentilah bersikap keras kepala, adikku.” Pria itu meremas payudara Alena hingga gadis itu merintih kesakitan. “Bukankah harusnya kau bersyukur? Sial, ini sangat tidak adil. Padahal aku yang sudah merawatmu dengan kedua tanganku sampai sebesar ini, tapi bisa-bisanya justru pria lain yang akan merasakan keperawananmu.”Alena sungguh muak dengan perilaku kakak tirinya. Ia muak dijadikan budak nafsu oleh pria itu sampai berkali-kali mencoba u

  • Menggoda Suami Dinginku   Bagian 2

    Dua bulan lalu, perusahaan Van Houten kembali memenangkan sebuah proyek besar dengan nilai fantastis. Keberhasilan itu bahkan mendapat apresiasi langsung dari gubernur yang mengundang keluarga Van Houten untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman pribadinya. Namun, di tengah kebahagiaan itu Julian justru mendapat kabar buruk soal putra bungsunya. Saat makan malam berlangsung, ponsel Julian berdering. Nama Axel Teresha, kepala kepolisian kota, muncul di layar. Julian segera mengangkatnya.“Tuan Julian, Putra kedua Anda, Christian Van Houten ditemukan di sebuah lokasi yang sedang kami gerebek malam ini. Di tempat itu ditemukan narkoba dalam jumlah besar dan ada seorang pria yang ditemukan tewas di lokasi tersebut.”Kabar itu bagaikan petir di tengah langit cerah. Namun, Julian berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia masih berada di kediaman gubernur dan tidak ingin membuat siapa pun curiga.“Ada apa, Julian?” tanya Elsa pelan. Ia mengenal suaminya dengan baik. Melihat rahang Ju

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status