Share

7. Takut Jatuh Cinta

Penulis: pramudining
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-11 08:08:07

Happy Reading

*****

Harsa diam, dia juga tidak taahu mengapa hatinya begitu mudah luluh pada pembantu barunya itu. Setiap melihat sorot mata Ardha, lelaki berambut lurus dengan rahang tegas tersebut merasakan jantungnya berdebar keras.

"Sa, kamu sudah berusaha sejauh ini bahkan kamu mendapatkan semua harta ini dengan susah payah. Begitu mudahnya kamu memberikan harta itu pada orang lain yang kemungkinan besar punya niat buruk mendekatimu," nasihat sang pengacara dengan pemilik nama Yandra

"Aku juga tidak tahu mengapa, Yan. Yang jelas, aku melihat ketulusan di matanya saat membantuku menangani Jenni."

Yandra mendengkus. "Sadar, Sa. Dulu, kamu juga pernah mengatakan jika Jenni adalah orang paling tulus padamu, tapi kenyataannya. Dia tidak lebih baik dari baik dari Zika. Terkadang, aku merasa kamu salah menilai Zika."

"Apa maksudmu? Zika itu cuma memanfaatkan aku saja karena kemiskinan. Semua keluarganya keluarganya menjadikanku sapi perah. Bangsat!" umpat Harsa dengan mata merah dan melotot.

"Tidak perlu kamu ingat lagi, semua kejadian itu sudah berlalu. Sekarang kamulah pemilik perusahaan dan aset Catradananta. Jadi, berhati-hatilah dalam menilai perempuan. Jangan sampai kamu dipermainkan oleh kecantikan dan kepura-puraan yang sengaja ditampilkan," peringat sang pengacara.

"Terima kasih nasihatnya, Yan. Kali ini, aku tidak salah menilai pembantuku itu. Dia memang tulus membantuku," kata Harsa.

Yandra berdiri dan menepuk pundak sahabat sekaligus kliennya. Mereka berdua adalah orang miskin yang mencari peruntungan di kota. Sama-sama mengadu nasib demi perbaikan ekonomi keluarga. Sayangnya, Harsa tidak seberuntung Yandra yang bisa bertemu dengan perempuan baik dan mendukung semua kariernya.

"Aku akan mengubah surat wasiat itu, satu bulan kemudian. Aku mau kamu berpikir jernih."

"Yan, kelamaan kalau satu bulan. Jenni pasti sudah bertindak jauh dengan surat yang sudah aku bubuhkan cap jempol. Aku tidak bisa menemukan keberadaan kertas itu." Wajah Harsa menegang.

Bukannya dia tidak berusaha merebut surat itu, tetapi kertas tersebut tidak bisa ditemukan. Entah di mana Jenni menyembunyikan kertas yang sudah dibubuhi cap jempol tersebut. Harsa terlalu meremehkan istrinya itu.

Yandra terdiam, tetapi bola matanya bergerak dengan tatapan menerawang jauh. "Aku punya ide," ucapnya beberapa menit kemudian.

"Apa?"

"Kamu bisa meminta pembantumu untuk mendapatkan kertas itu. Sekalian, kamu bisa menguji ketulusannya. Apakah benar-benar berpihak padamu atau dia memang punya tujuan lain membantumu."

Harsa manggut-manggut. Ucapan sahabat dan pengacaranya itu, ada benarnya. "Baiklah, aku akan mencoba saran dan nasihatmu. Tapi, kamu harus tetap mengubah surat wasiatku itu. Kamu, kan, tahu jika aku sudah tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Jadi, aku ingin harta itu juga bisa bermanfaat untuk orang lain."

"Kamu tenang saja. Aku pasti melaksanakan permintaanmu itu." Yandra, sekali lagi menepuk pundak sahabatnya. "Jalani hidupmu dengan baik. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bisa membuat kesehatanmu memburuk. Ingat, racun yang ada di tubuhmu belum sepenuhnya hilang."

Kembali, Harsa mengangguk, membenarkan semua ucapan Yandra. 

"Terima kasih untuk semua nasihatmu," ucap Harsa. Dia berdiri, menjulurkan tangannya untuk berjabat. Yandra menerima uluran tangan sahabatnya, lalu mereka berpelukan.

"Aku antar kamu keluar," kata sang pengacara.

"Boleh, sekalian aku kenalakan kamu sama Ardha."

Kening Yandra berkerut.

"Dia pembantu baru yang aku ceritakan tadi," jelas Harsa yang mengerti arti kerutan di kening sang pengacara.

"Oo." Yandra menarik garis bibirnya ke atas. "Ayo, aku penasaran juga. Dia perempuan seperti apa sebenarnya hingga membuatmu dengan mudah membelokkan keinginanmu." Keduanya pun tertawa. 

"Ardha," panggil Harsa ketika pintu ruangan Yandra sudah terbuka. Perempuan dengan rambut lurus melebihi bahu tersebut menoleh pada majikannya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ardha ketika posisinya sudah dekat dengan Harsa dan  Yandra.

"Kenalkan, ini pengacaraku, Yandra," ucap Harsa.

Yandra mengulurkan tangan kananya ke arah Ardha, tetapi perempuan berkulit putih itu malah diam dan termenung. Tidak segera merespon uluran tangan sang pengacara padanya. 

"Sa, dia kenapa?" bisik Yandra pada sahabatnya. Harsa cuma menggelengkan kepalanya.

"Ardha, kamu kenapa?" tanya Harsa disertai sentuhan pada lengan sang pembantu.

"Maaf, Pak," ucap Ardha. Kesadarannya kembali dan segera menerima uluran tangan Yandra. Keduanya pun berjabat erat.

Kali ini, Yandra yang terdiam. Matanya menyorot tajam ke arah perempuan yang baru dikenalkan Harsa. Sang pengacara merasa familiar dengan tatapan perempuan itu, tetapi tidak mengingat di mana mereka pernah bertemu.

"Maaf, Pak," cicit Ardha ketika sang pengacara belum melepaskan jabat tangan mereka.

"Eh," sahut Yandra. Dia segera melepas tangannya. "Tolong jaga dan bantu Harsa."

Ardha mengerutkan kening. "Kenapa saya harus menjaga Bapak? Bukankah sudah ada Bu Jenni yang akan selalu menjaga beliau?"

"See, kamu lihat dan dengar itu, Yan?" kata Harsa seolah dia ingin menunjukkan bahwa apa yang disampaikannya tadi tentang Ardha tidak salah.

"Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan." Yandra menepuk pundak sahabatnya. "Kita pantau dalam satu bulan ini."

"Bapak dan Pak pengacara ngomongin saya?" Ardha berlagak seperti orang bodoh.

Kedua pria matang itu tertawa membuat Ardha semakin salah tingkah.

"Sudahlah, ayo pulang sebelum Jenni pulang juga." Harsa menoleh ke arah sahabatnya dan menggandeng tangan sang pembantu meninggalkan kantor sang pengacara.

Dalam perjalanan ke rumah, Harsa menghentikan kendaraannya di sebuah restoran yang terbilang mewah di kota tersebut. Restoan itu adalah tempat favoritnya makan bersama orang yang dulu sangat dicintainya.

"Pak, kenapa berhenti di sini?" tanya Ardha.

"Saya lapar. Jadi, kita makan di sini saja."

"Pulang saja, Pak. Saya bisa membuatkan masakan yang jauh lebih lezat di rumah." Wajah sang pembantu tiba-tiba berubah pucat.

"Tidak perlu. Kamu pasti capek jika sampai rumah harus memasak untukku," kata Harsa. Entah mengapa tangannya malah bergerak mengelus puncak kepala sang pembantu. Reflek Ardha berusaha menghindar.

"Pak," panggil Ardha yang hatinya tengah berperang saat ini.

"Kenapa?" Tatapan Harsa begitu tajam.

"Jangan seperti ini." Ardha meraih pergelangan sang majikan dan menjauhkan dari tubuhnya.

"Bukankah kamu sudah berusaha cukup keras untuk merayuku? Kenapa sekarang sok jual mahal?"

"Maafkan perbuatan saya sebelumnya. Saya memiliki pemikiran lain terhadap Bapak, padahal hal itu nggak seharusnya ada."

Harsa mengerutkan keningnya. "Apa mungkin dia mendengar percakapanku dengan Yandra? Kenapa sikapnya berubah drastis? Tapi, bukankah tadi jarak duduknya sangat jauh dari ruangan Yandra," katanya dalam hati.

"Kenapa? Apa kamu sudah tidak tertarik padaku lagi?"

"Bukan ... bukan begitu. Pak Harsa selalu membuat saya tertarik. Ketampanan dan kemapanan Bapak, cewek manapun pasti tertarik."

"Jadi, kenapa kamu menghindariku?"

"Saya takut," cicit Ardha.

"Takut kenapa?"

"Saya takut akan jatuh cinta beneran pada Bapak padahal jelas-jelas tujuan saya merayu Bapak cuma untuk kemewahan semata."

Saat itu juga, Harsa menarik wajah sang pembantu. Sedikit tergesa, Harsa meraup bibir Ardha, ganas. Keduanya pun saling memagut hingga terdengar ketukan di kaca mobil.

"Permisi," ucap seseorang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menggoda Suami Majikanku   178. Kenangan Indah

    Happy Reading*****"Hei, kok kamu ngaku-ngaku gitu, sih?" ucap Elang yang juga membulatkan mata saat mendengar kalimat Yandra.Sang pengacara menggaruk kepala yang tak gatal. "Kan kita sudah sepakat, Lang. Zanitha juga anakku. Jadi, kamu nggak boleh nyakitin dia."Yandra dengan cepat mengambil alih gadis kecil yang berada di genggaman Elang bahkan sang pengacara menggendongnya, melindungi diri dari amukan lelaki yang sampai saat ini belum bisa menemukan istri baruna.Suasana kembali mencair, semua orang bahkan tamu yang tadi sempat berwajah tegang kembali semringah karena ucapan klarifikasi Yandra. "Sayang, kok, kamu nggak mihak Papi?" ucap Elang masih dengan wajah memelas supaya si kecil tergerak hatinya untuk memberitahukan keberadaan Ardha. "Aku nggak mau mihak Papi, nanti malah kena marah Mami," sahut Zanitha cepat.""Sekarang, katakan di mana mamimu?" tanya Elang dengan suara yang jauh lebih rendah. Zanitha dengan cepat mengangkat kedua bahunya. Tak lama berselang, sebuah sua

  • Menggoda Suami Majikanku   177. Hilang

    Happy Reading ***** "Sayang, kamu di mana?" panggil Elang yang tak melihat siapa pun di ruangan tersebut, padahal dia sudah sangat ingin berjumpa dengan perempuan yang baru beberapa menit lalu sah menjadi istrinya. Sunyi, tak ada seorang pun di ruangan tersebut padahal jelas-jelas Elang menyiapkan kamar tersebut khusus untuk Ardha. Elang pun berbalik arah, hendak kembali ke tempat dia mengucapkan akad nikah. Namun, baru saja akan melangkahkan kakinya, suara seseorang terdengar memanggil. "Papi," panggil si kecil dari arah samping kanan tempat Elang berisi sekarang. Elang menoleh, mengerutkan kening karena melihat Zanitha yang berisi sendirian tanpa didampingi oleh siapa pun. "Za sendirian? Mami mana, Sayang?" tanya sedikit panik serta khawatir. "Coba Papi tebak. Kira-kira, Mami ada di mana?" Elang terdiam, tetapi pikirannya mengembara, begitupun dengan bola matanya, bergerak-gerak berusaha mencari keberadaan sang istri. Namun, sampai beberapa menit kemudian, Ardha tak ju

  • Menggoda Suami Majikanku   176. Sah

    Happy Reading*****"Apa, Dek?" sahut Harjuna lembut supaya emosi si adik tidak meningkat. Menatap tajam pada saudara kandung satu-satu yang dia punya. "Kakak ini. kenapa Adek selalu merasa Kak Juna nggak suka sama Mas Awan. Perkataannya selalu memojokkan."Elang cuma bisa tersenyum ketika Ardha membelanya seperti sekarang. Hal itu jelas membuktikan bahwa cinta yang dimiliki sang pujaan sama besar dengan cintanya. "Dengar itu, Jun. Kamu ini," ucap Elang, menegaskan perkataan Ardha."Hmm." Wajah Harjuna seketika berubah sedih. Kepalanya mulai menunduk, tak mau menatap lawan bicaranya lagi."Mas Awan juga salah. Ngapain coba pengen tidur di kamarku. Nunggu beberapa puluh tahun saja sanggup, masak nunggu di hari saja nggak sanggup," lanjut Ardha memarahi sang kekasih. Elang kembali menggaruk kepalanya. "Syukurin," ucap Harjuna tanpa suara, hanya gerakan bibir saja."Ya, kan cuma pengen, Dek. Biar tambah tenang aja di pikiran kalau tidur di kamarmu," alibi Elang supaya mendapat simp

  • Menggoda Suami Majikanku   175. Tidur bareng

    Happy Reading *****Siapa pun yang mendengar perkataan Ardha tadi, pasti akan tertawa. Demikian juga dengan seluruh anggota keluarga dan juga Danu. Semua orang menertawakan si bungsu."Hmm. Kalian ini, nggak ada yang percaya sama aku. Lihat saja beberapa berita yang viral sekarang. Sudah nggak jaman, perempuan ngejar laki-laki. Sekarang, kebanyakan laki-laki yang ngejar cewek tajir. Mas Awan nggak takut?" tanya Ardha. Wajahnya begitu serius."Mas yakin, Dek. Kamu nggak akan pernah melakukan hal itu apalagi sampai mengkhianati, Mas. Jadi, nggak ada alasan atau keraguan lagi," ucap Elang, kembali meyakinkan kekasihnya. "Hmm. Terserah Mas sajalah."Tak lama kemudian, Danu pamit karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bahas. Sudah lewat tengah malam, tetapi Ardha belum juga bisa memejamkan mata. Pikirannya terus dibayangi dengan Elang. Tentang segala pemikiran lelaki itu yang membuatnya semakin jatuh cinta sekaligus takut jika dia tidak bisa membalas semua cinta yang dibe

  • Menggoda Suami Majikanku   174. Godaan Harta

    Happy Reading *****Elang terpaksa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum salah tingkah. "Mas, ditanya kok malah senyum-senyum sendiri gitu, sih?" kata Ardha yang juga penasaran dengan jawaban lelaki yang dicintainya itu. Mana mungkin seorang lelaki seperti Elang merasa terancam, ketakutan dan tidak bisa mengatasi permasalahannya. Namun, ucapannya tadi seolah dia benar-benar merasakan rasa tidak menyenangkan itu. "Ehmm, gimana ngejelasinnya, ya," kata Elang masih dengan gerakan menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. "Mas takut kamu cemburu, Dek. "Ya, udah ngomong aja, sih, Mas. Aku nggak bakalan cemburu, kok. Apa yang disarankan Ayah dan keluargaku ada benarnya juga. Kegagalan pernikahanku dengan Harsa nggak boleh terjadi lagi.""Duh, amit-amit. Mas nggak akan pernah melakukan itu, Dek. Kamu harus yakin," sambar Elang, menghentikan ucapan buruk yang mungkin muncul di kepala sang kekasih."Kalau gitu, cepat katakan kenapa," sahut Harjuna, keras.Elang diam seben

  • Menggoda Suami Majikanku   173. Perjanjian

    Happy Reading****Harjuna dan Wisnu saling pandang. Melati bahkan menatap aneh pasangan yang akan segera meresmikan hubungan mereka. "Kalian berdua ini ngomong apa, sih?" tanya Harjuna, sepertinya juga mewakili isi hati Wisnu dan Melati."Ayah nyuruh aku pulang cepet pasti karena Za, kan?" tanya Ardha masih dengan wajah panik dan penuh tanda tanya.Terdengar gelak tawa Wisnu dan Melati secara bersamaan. Entah apa yang lucu dari perkataan putrinya. "Kok, Ayah tertawa?" Raut Ardha seketika berubah, dari panik menjadi curiga. "Benar yang dikatakan Ardha, Om. Kalau Za baik-baik saja, nggak mungkin kami disuruh pulang cepat, kan?" tambah Elang membenarkan ucapan sang kekasih. "Kalian berdua ini, terlalu parno," sahut Melati."Benar kata mamamu, Dek," tambah Wisnu, "Ayah nyuruh kamu pulang cepat bukan karena Za, dia sudah tidur pulas setelah minum obat.""Terus kenapa Om minta kami pulang cepat?" Elang mulai tak sabar. Tanpa diperintah, lelaki itu sudah duduk di sebelah Harjuna, sedan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status