Share

61. Konfrontasi

Author: Black Aurora
last update Last Updated: 2025-09-09 19:12:29
Ruang kerja Dylan yang biasanya dingin kini berubah menjadi panggung yang dipenuhi ketegangan.

Udara terasa berat, dan tatapan saling menantang antara Dylan Asher dan Knox Bennet membuat suasana seperti bom waktu yang siap meledak.

Knox berdiri tegak di ambang pintu dengan rahang mengeras serta kedua tangan mengepal kuat.

Sedangkan Calla yang masih berada di pangkuan Dylan sontak menegakkan tubuhnya, terlihat panik sekaligus canggung.

“Lepaskan dia, Dylan!” seru Knox dengan suara serak menahan amarah.

Alih-alih menurut, Dylan justru semakin mempererat lengannya di pinggang Calla, menahan gadis itu agar tetap berada di tempatnya.

Ia lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi, dan tatapan dinginnya yang menelusuri wajah Knox tanpa gentar.

“Lucu sekali. Kamu datang ke rumahku, menuntutku, dan mengira aku akan melepaskannya hanya karena kamu mengatakannya begitu?” Dylan menyeringai dingin. “Sangat terburu-buru dan penuh emosi.”

“Dia tidak butuh dikontrol olehmu!” S
Black Aurora

kira-kira besok Calla di unboxing sama Dylan ga? yg mau adegan 21++ teriak di komen ya, kalo ga ya bakal ator skip aja wkwkwk

| 23
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
mampubertahann
iya gaskeun ... mau ajah...
goodnovel comment avatar
Asep Kurnia
mauuu yg banyak up nya thor
goodnovel comment avatar
Ching
Mau dong wkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-9

    Sekitar tiga jam kemudian, Lumi akhirnya menyeret dirinya kembali ke kamar. Begitu pintu tertutup, ia bahkan tidak sempat melepas sweater atau menyingkirkan bantal. Tubuhnya langsung dijatuhkan begitu saja ke atas kasur seperti karung yang kehabisan tenaga. “Dasar Knox Bennet brengsek,” gumannya lirih sambil merintih. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Kaki kirinya berdenyut, pergelangan kakinya terasa kaku, dan otot-otot betisnya seperti diremas kuat tanpa ampun. Setiap senti tubuhnya seolah menjadi pengingat pada apa yang terjadi selama tiga jam terakhir. Jatuh, bangun, jatuh lagi, berdiri dengan kaki gemetar, lalu dipaksa mengulang dari awal sambil memakai heels terkutuk itu. Lumi menatap langit-langit kamarnya sambil mendesah frustrasi. Ia benar-benar tidak yakin apakah besok masih bisa berjalan normal. Bahkan sekadar berdiri pun sekarang terasa seperti beban yang sangat berat. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mulai mengetik dengan penuh emosi. Kalima

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-8

    Lumi memasuki ruang latihan dengan langkah ragu. Ruangan itu panjang dan luas, dengan dinding penuh cermin dari atas lantai hingga langit-langit. Cahaya pagi masuk dari jendela tinggi di salah satu sisi, memantul pada lantai kayu yang licin dan membuat bayangannya terlihat berlipat ganda. Ia masih mengenakan sweater kebesaran berwarna krem yang menutupi sebagian hot pants-nya. Pakaian yang nyaman, aman dan jauh dari kata glamor. Sementara itu, Knox sudah menunggunya di sana. Pria itu berdiri dengan tangan terlipat di dada, mengenakan jaket kulit dan celana gelap. Rambut pirangnya ditata dengan gaya sedikit berantakan dan ekspresinya datar dan agak bosan, seolah kehadiran Lumi hanyalah bagian dari rutinitas jenuh yang harus ia selesaikan. Tanpa menyapa, Knox hanya sedikit mengangkat dagunya untuk menunjuk ke arah sudut di dekat pintu. Di sana tergeletak sepasang heels hitam dengan tumit tinggi, ramping, runcing dan tajam. Terlihat kejam dan sama sekali tidak ramah,

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-7

    Pintu apartemen Knox kembali terbuka tak berapa lama kemudian. “Pagi,” sapa suara ceria itu, disusul oleh sosok Trey yang masuk sambil membawa paper bag cokelat dan satu kotak kecil transparan. Seketika Lumi langsung menoleh. Wajahnya yang sejak tadi terlihat tegang, seketika berubah menjadi cerah. “Trey!” Trey lalu mendekat dan meletakkan bawaannya di atas meja. “Aku cuma mampir sebentar. Kamu belum sarapan, kan?” Pria itu lalu dengan cekatan mengeluarkan isinya, yaitu onigiri hitam isi tuna pedas dengan taburan wijen dan saus madu asin, dipasangkan dengan susu hangat rasa jahe dan vanila. Knox menatap semua makanan dan minuman itu seperti sedang melihat sebuah eksperimen gagal. “Dia makan benda itu?” bisiknya rendah pada Adrian. “Sepertinya iya,” jawab Adrian singkat, masih menatap layar laptopnya. Lumi sudah duduk, membuka bungkus onigiri dengan mata berbinar, lalu menggigitnya dengan lahap dan puas. “Ini yang paling enak,” katanya sambil mengunyah, lalu tersen

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-6

    Lumi membeku mendengar kalimat itu.((Itu adalah keputusanku sendiri)) Dadanya terasa sesak. Dan ada sesuatu yang bergetar di dalam perutnya yang terasa asing dan mengganggu.Seolah ciuman barusan meninggalkan jejak yang tidak seharusnya ada, apalagi dalam hubungan palsu yang bahkan belum ada sehari umurnya. Knox sekarang sudah meluruskan tubuhnya. Tangannya telah terlepas dari pinggang Lumi, gesturnya kembali dingin dan profesional, seakan apa pun yang baru saja terjadi hanyalah adegan yang harus diselesaikan dengan rapi.“Ayo masuk,” ucapnya singkat dengan nada perintah, bukan ajakan. Lumi menurut dan mengangguk. Ia lebih dulu membenarkan bath robe-nya dengan tangan usedikit gemetar, lalu melangkah kembali ke dalam apartemen. Begitu pintu balkon tertutup, suara tombol kamera di luar langsung teredam, meninggalkan keheningan yang aneh dan berat.Knox berjalan lebih dulu seolah ingin menciptakan jarak, sementara Lumi berhenti di tengah ruang tamu. Ia membuka masker dan kacamata

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-5

    Pagi itu, Lumi akhirnya keluar dari kamarnya dengan langkah ragu. Ia mengenakan bath robe putih yang diikat longgar di pinggang dengan panjangnya menjuntai sampai lutut. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda rendah dan sederhana. Wajahnya bersih dari riasan, karena toh akan tersembunyi juga di balik masker dan kacamata hitam. Knox dan Trey sudah menunggunya di ruang santai, dan keduanya menoleh hampir bersamaan saat melihat Lumi. Knox mengamati cara Lumi berdiri dengan kaku dan canggung seperti seseorang yang siap dieksekusi, bukan hendak berjemur di balkon apartemen mewah dan menjadi pusat perhatian. Trey-lah yang lebih dulu berdiri dan tersenyum hangat padanya. “Pagi, Lumi. Sudah siap?” Lumi hanya meringis kecil. “Siap atau tidak, sepertinya aku tidak punya pilihan,” gumannya jujur. “Aku… masih malu, Trey. Aku tidak pernah pakai bikini dan difoto.” Trey mengangguk paham. Ia semakin mendekat, lalu dengan gerakan lembut merapikan helai rambut Lumi yang keluar dari ika

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-4

    Begitu pintu kamarnya tertutup, Knox langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja samping ranjangnya. Ia melihat tiga missed called yang tertera di layar dan menampilkan nama yang familiar. Adrian. Knox menekan tombol panggil, lalu meletakkan ponsel di telinganya. “Dia sudah sampai?” suara Adrian terdengar nyaris bersamaan dengan nada sambung terakhir. “Sudah,” jawab Knox pendek. “Dan?” Knox menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan dengusan kesal. “Gadis itu benar-benar parah.” “Parah bagaimana?” “Berjalan lurus saja tidak bisa,” gerutunya. “Selalu saja tersandung kakinya sendiri atau hampir menabrak meja. Bahunya naik turun seperti orang sedang asma.” Di seberang sana, Adrian tertawa kecil. Bukan karena mengejek, tapi lebih seperti seseorang yang sudah menduga hasilnya. “Knox,” katanya santai, “maaf, tapi apa kamu sadar siapa dirimu?” “Apa hubungannya?” sergah Knox. “KAMU adalah Knox Bennet,” lanjut Adrian. “Supermodel dunia. Pria yang membuat orang menjadi gugup hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status