Beranda / Rumah Tangga / Menghancurkan Suamiku / 4. Teori Perselingkuhan

Share

4. Teori Perselingkuhan

Penulis: Zenareth-Gdnvl
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-11 17:45:58

Matahari sore memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan bayangan panjang di taman kompleks perumahan elite itu. Marianna duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, tangannya terampil menyuapi Adrian yang sibuk memainkan mobil-mobilan di atas meja piknik kecilnya.

Sekelompok ibu-ibu berkumpul tak jauh dari sana, masing-masing dengan anak-anak mereka yang tengah bermain di ayunan atau perosotan. Suara tawa bocah-bocah bercampur dengan obrolan ringan para ibu, sebagian besar tentang resep masakan, sekolah anak, dan... kehidupan rumah tangga.

“Ah, kalau lihat Bu Marianna ini rasanya iri ya,” suara seorang ibu, yang dikenal sebagai Bu Rina, melengking dengan nada kagum.

“Cantik, elegan, anaknya pintar, suaminya sukses. Hidupnya benar-benar seperti di dongeng.”

Beberapa ibu lainnya mengangguk setuju.

"Iya, iya! Kalau lihat Bu Marianna, kayaknya nggak ada beban hidup sama sekali. Kayaknya suaminya juga setia banget ya, Mbak?" celetuk yang lain sambil melirik Marianna yang hanya tersenyum sopan.

Namun, seorang ibu yang lebih tua, Bu Lestari, menyeringai kecil sebelum berdeham.

“Ah, ibu-ibu. Kalau lihat dari luar, memang semua rumah tangga tampak sempurna. Tapi hati-hati loh, kadang yang kelihatan paling harmonis, justru menyimpan banyak rahasia.”

Sejenak, obrolan mereka terhenti.

"Memangnya kenapa, Bu?" tanya seseorang dengan penasaran.

Bu Lestari mengangkat bahu santai, lalu berkata dengan nada menggoda,

"Coba deh perhatikan. Kalau suami tiba-tiba jadi lebih perhatian dari biasanya, sering pulang larut dengan alasan kerja, atau malah sering matiin HP pas di rumah, hmm... itu patut dicurigai!"

Marianna yang awalnya hanya mendengar sepintas, tiba-tiba merasa tubuhnya menegang. Tangan yang memegang sendok terhenti di udara.

"Terus, kalau tiba-tiba sering rapi dan wangi, lebih sering keluar rumah tanpa ngajak istri, atau... mulai akrab dengan seorang perempuan tertentu yang katanya cuma teman," Bu Lestari melanjutkan dengan nada mencurigakan.

"Wah, itu sudah lampu merah besar, Bu! Jangan sampai kita dibutakan sama cinta, lalu baru sadar setelah semuanya terlambat."

Tawa kecil terdengar di antara ibu-ibu, sebagian dari mereka tampak menganggap ini sekadar obrolan iseng. Tapi bagi Marianna, kata-kata itu seperti palu yang mengetuk sesuatu dalam pikirannya.

Terlalu perhatian?

Sering pulang larut?

Sering keluar tanpa mengajaknya?

Marianna meremas sendok di tangannya. Tiba-tiba, rasa manis kehidupan rumah tangganya terasa getir di lidahnya sendiri.

Marianna menarik napas pelan, berusaha menghalau sensasi aneh yang mulai menggelitik pikirannya. Namun, rasa penasaran itu lebih kuat dari logikanya yang mencoba menyangkal. Ia menoleh ke arah ibu-ibu itu, memasang ekspresi santai, lalu menyisipkan suaranya di antara percakapan mereka.

"Jadi menurut Ibu Lestari, tanda-tanda suami selingkuh itu selalu sejelas itu, ya?" tanyanya, mencoba terdengar ringan meskipun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Bu Lestari langsung menatapnya dengan sorot penuh arti.

"Hmm... Tidak selalu jelas, Bu Marianna. Ada juga suami yang pintar banget nutupin jejak. Tapi biasanya, kalau kita cukup peka, pasti ada sesuatu yang terasa... janggal."

Ibu-ibu lain mulai ikut memperhatikan. Seolah ini topik yang terlalu menarik untuk dilewatkan.

“Janggal seperti apa, Bu?” Marianna melanjutkan, suaranya tetap terdengar wajar, meski ada sedikit ketegangan di ujungnya.

Bu Lestari menyeringai tipis, tampak senang ada yang tertarik dengan pembahasannya.

“Misalnya, tiba-tiba dia lebih sering kerja lembur, padahal sebelumnya nggak begitu. Atau, mulai sering jaga penampilan, padahal dulu nggak terlalu peduli. Terus, kalau ditanya soal teman perempuannya, reaksinya defensif atau malah terlalu santai.”

Marianna mengangguk-angguk, berpura-pura sekadar ikut nimbrung.

"Kalau mereka memang dekat dengan teman perempuan, tapi bilang hanya sebatas teman, apa itu masih patut dicurigai?"

"Ah, kalau sudah ada kata cuma teman, justru itu yang bahaya," sahut Bu Rina tiba-tiba, ikut menimpali dengan gelak tawa kecil.

"Lelaki yang selingkuh nggak mungkin bilang iya, aku selingkuh kok. Mereka pasti berdalih itu cuma teman. Tapi coba perhatikan, kalau temannya itu lebih sering muncul dalam obrolannya, sering ada dalam aktivitasnya, wah, bisa jadi lebih dari sekadar teman."

Marianna terdiam sejenak. Suaminya juga bilang begitu. Bahwa Kasandra cuma teman.

Ah, tapi itu kan benar. Kasandra memang hanya temannya, bukan?

Atau...

"Ibu Marianna kok jadi serius banget? Apa suaminya masuk kategori ini?" goda salah satu ibu sambil tertawa ringan.

Marianna langsung tersadar dan buru-buru tersenyum kecil. "Oh, tentu saja tidak. Abimanyu bukan tipe seperti itu," ucapnya dengan nada riang yang sudah ia latih dengan baik.

Para ibu tertawa, suasana kembali menghangat. Namun, di dalam hati Marianna, sesuatu mulai terasa retak.

Dan Marianna merasakannya saat momen itu tiba. Makan malam yang terasa berbeda.

Cahaya lampu gantung berpendar lembut, menciptakan suasana hangat di ruang makan keluarga. Aroma sup ayam yang masih mengepul menguar di udara, bercampur dengan keharuman nasi hangat yang baru saja disajikan. Marianna duduk berhadapan dengan Abimanyu, tersenyum kecil saat meletakkan semangkuk sup di hadapannya.

“Hmm, kelihatannya enak,” ujar Abimanyu santai sebelum mengambil sendok dan mulai menyuap.

Marianna mengamati suaminya beberapa saat, memastikan ia tampak nyaman dan tidak curiga sebelum akhirnya bersandar sedikit di kursinya. Ia harus memainkan ini dengan baik. Dengan lembut, ia mulai,

“Tadi siang, aku ngobrol sama ibu-ibu di taman. Topiknya seru.”

Abimanyu hanya bergumam sebagai respons, lebih fokus pada makanannya.

“Mereka membahas soal... suami-suami yang suka selingkuh,” lanjut Marianna ringan, menyuap sedikit sup ke dalam mulutnya, seolah topik ini tidak lebih dari sekadar obrolan ringan.

“Ternyata ada banyak tanda-tandanya, lho.”

Abimanyu akhirnya mengangkat wajah, mengernyit sedikit, tapi masih berusaha tampak santai.

“Oh ya?”

Marianna tersenyum, pura-pura tertawa kecil.

“Iya. Katanya, kalau suami mulai sering bilang ‘cuma teman’ tentang perempuan lain, itu justru tanda bahaya. Kamu percaya nggak?”

Sendok di tangan Abimanyu sempat terhenti di tengah udara, sebelum ia dengan cepat melanjutkan makannya lagi.

“Hah? Itu sih lebay, Mari. Nggak semua pertemanan cowok-cewek berarti ada sesuatu.”

“Tentu saja,” Marianna mengangguk, tetap tersenyum.

“Tapi... kalau teman itu sering ikut dalam aktivitas suami, sering muncul dalam obrolannya, sering pergi berdua, apa masih cuma teman?”

Abimanyu tertawa kecil, menggeleng sambil mengunyah.

“Ibu-ibu di taman itu suka banget bikin teori konspirasi, ya?”

Marianna ikut tertawa, meski matanya tajam mengamati ekspresi suaminya.

“Mungkin. Tapi menarik juga, kan? Bagaimana kalau benar?”

Abimanyu meletakkan sendoknya, menatap Marianna dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Maksud kamu benar bagaimana?”

Marianna mengangkat bahu.

“Nggak tahu. Aku hanya penasaran, seberapa sering seorang pria berselingkuh tanpa istrinya tahu.”

Tatapan Abimanyu menajam, tapi ia tetap tersenyum, meski kini lebih kaku.

“Kamu mulai terdengar seperti istri yang curigaan.”

Marianna tertawa lagi, kali ini lebih pelan.

“Aku? Nggak, dong. Aku percaya sama kamu.”

Sebuah kalimat yang terasa lebih seperti ujian daripada pernyataan.

Abimanyu tidak langsung merespons. Ia hanya mengamati Marianna beberapa detik sebelum akhirnya kembali mengambil sendok dan melanjutkan makannya. Namun, Marianna tidak melewatkan detail kecil, cara suaminya sedikit lebih kaku, bagaimana ia sesekali menghindari kontak mata, bagaimana ia tampak sedikit lebih defensif dari biasanya.

Mungkin ibu-ibu di taman benar.

Mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan lebih dalam.

Cahaya lampu gantung masih memancarkan kehangatan, suara sendok beradu dengan piring sesekali memenuhi keheningan di meja makan keluarga Efmeros. Adrian duduk di kursinya dengan kaki kecil yang masih menggantung, tangannya sibuk mengaduk-aduk nasi dan sup di mangkuknya. Marianna menatapnya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan ke Abimanyu yang terlihat masih menikmati makanannya, atau pura-pura menikmati.

“Tapi ibu-ibu seperti mereka itu seperti senior buat aku. Veteran kalau urusan rumah tangga. Jadi aku pikir, gak ada salahnya belajar dari pengalaman orang lain, iya kan?” Marianna melanjutkan pembicaraan dengan nada ringan, sembari menyendok supnya.

Abimanyu hanya bergumam kecil, seakan tak begitu tertarik.

“Dan topiknya menarik sekali... suami-suami yang suka selingkuh. Soalnya suamiku sendiri mustahil melakukan itu, makanya seperti informasi langka. Aku benar, kan?”

Abimanyu hanya terkekeh.

Adrian, yang sedari tadi sibuk dengan makanannya, tiba-tiba menoleh dengan mata membulat penasaran. “Selingkuh itu apa, Ma?”

Marianna tersenyum kecil dan mengusap kepala putranya.

“Selingkuh itu... kalau seseorang punya pasangan, tapi diam-diam dekat dengan orang lain secara rahasia.”

Adrian mengerutkan kening, seperti sedang mencerna informasi itu dalam otaknya yang polos.

“Oh... kayak Papa sama Tante Kasandra?”

Sendok di tangan Abimanyu langsung berhenti di tengah udara.

Jantung Marianna mencelos, tapi wajahnya tetap tenang. Ia menoleh perlahan ke putranya, sementara dari sudut matanya, ia bisa melihat bagaimana Abimanyu menegang sesaat.

“Apa maksudnya, Sayang?” Marianna bertanya dengan nada selembut mungkin, meskipun jari-jarinya mengepal erat di bawah meja.

Adrian mengangkat bahu kecilnya tanpa rasa bersalah.

“Iya, kan Tante Kasandra sering ikut kalau Papa jemput aku. Terus Tante suka nempel-nempel sama Papa. Cipika-cipiki gitu, Ma.”

Abimanyu akhirnya tersadar dari keterkejutannya dan cepat-cepat menyeringai.

“Aduh, Ian. Kamu salah paham. Tante Kasandra itu teman Papa, sayang. Orang dewasa kalau bertemu ya biasa cipika-cipiki.”

Adrian mengernyit.

“Tapi tadi siang Tante Reni bilang kalau perempuan yang suka nempel-nempel sama suami orang itu nakal.”

Abimanyu tertawa kecil, meski terdengar sedikit canggung.

“Kamu jangan percaya omongan orang sembarangan, Ian.”

Marianna tetap diam, membiarkan percakapan ini mengalir, mengamati ekspresi Abimanyu dengan seksama.

Adrian masih tampak bingung, tapi lalu kembali menyendok nasinya.

“Terus Tante Kasandra bilang sesuatu yang aneh.”

Abimanyu terlihat semakin gelisah.

“Apa?”

Adrian menirukan gaya bicara seseorang dengan nada centil. Tangan mungilnya ia ayunkan dengan manja di udara.

Ian mau nggak Tante jadi Mama barumu?

Sendok di tangan Marianna jatuh ke piring dengan suara berdenting kecil.

Abimanyu menegang, wajahnya berubah sedikit pucat. Ia tertawa, tapi terdengar semakin canggung

“Aduh, Ian. Tante Kasandra pasti bercanda.”

Marianna menoleh ke suaminya, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ia tersenyum. Tapi itu bukan senyuman hangat seperti biasanya. Itu senyum yang tidak terbaca, samar, seperti kabut sebelum badai.

Adrian kembali makan dengan riang, tidak menyadari bagaimana meja makan yang awalnya hangat kini berubah menjadi ranjau yang siap meledak kapan saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menghancurkan Suamiku   6. Kegamangan

    Malam itu, Marianna duduk di meja makan, menunggu Abimanyu pulang.Di hadapannya, hidangan sudah tertata rapi, tetapi ia tidak merasa lapar. Yang lebih memenuhi kepalanya adalah kata-kata Adrian di sekolah tadi."Tante Kasandra bilang aku akan punya dua Mama."Napasnya terasa berat.Saat akhirnya pintu terbuka dan Abimanyu masuk, ekspresinya seperti biasa: lelah, tetapi tetap menyunggingkan senyum tipis.“Aku pulang.”Marianna membalas senyum itu dengan datar.“Kau pulang larut lagi.”Abimanyu melepas jasnya, lalu mengecup puncak kepalanya. “Biasa, Sayang. Meeting di luar kota, revisi proposal, klien rewel.” Ia mengambil gelas berisi es teh di meja dan menyesapnya santai.Marianna memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.“Aku bertemu Adrian di sekolah tadi.”Abimanyu mengangkat alis.“Lalu?”“Dia bilang sesuatu yang menarik.”“Oh, ya?” Suaminya tertawa kecil, mencubit dagu Marianna seolah menganggapnya menggemaskan.“Anak lima tahun memang suka bicara an

  • Menghancurkan Suamiku   5. Harga Sebuah Martabat

    Berapa harga minyak goreng dan gas hari ini?Sebuah pertanyaan sepele yang jawabannya mungkin akan mengejutkan setiap suami. Tak mengira, betapa sulitnya para istri harus mengelola uang, memutar otak agar uang itu cukup, dan memikirkan menu makanan yang berbeda-beda setiap hari. Cukup di modal, tidak membosankan, namun tetap bergizi.Dan terkadang, martabat juga dipertaruhkan dalam hal yang sering dianggap sepele ini.Marianna berdiri di depan meja kasir dengan jari-jari yang menggenggam erat dompetnya. Ia menelan ludah, menatap angka yang tertera di layar mesin kasir, Rp780.000.Ia membuka dompet dengan gerakan hati-hati. Selembar lima puluh ribuan, beberapa lembar dua puluh ribuan, beberapa receh seribuan. Total uangnya hanya Rp500.000.Napasnya tercekat.Tidak.Ini tidak mungkin.Istri seorang Abimanyu Efmeros, perempuan yang selama ini hidup dalam kemewahan, yang setiap harinya mengenakan pakaian dari butik eksklusif dan menghadiri pesta sosialita… sekarang berdiri di sini, di pas

  • Menghancurkan Suamiku   4. Teori Perselingkuhan

    Matahari sore memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan bayangan panjang di taman kompleks perumahan elite itu. Marianna duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, tangannya terampil menyuapi Adrian yang sibuk memainkan mobil-mobilan di atas meja piknik kecilnya.Sekelompok ibu-ibu berkumpul tak jauh dari sana, masing-masing dengan anak-anak mereka yang tengah bermain di ayunan atau perosotan. Suara tawa bocah-bocah bercampur dengan obrolan ringan para ibu, sebagian besar tentang resep masakan, sekolah anak, dan... kehidupan rumah tangga.“Ah, kalau lihat Bu Marianna ini rasanya iri ya,” suara seorang ibu, yang dikenal sebagai Bu Rina, melengking dengan nada kagum.“Cantik, elegan, anaknya pintar, suaminya sukses. Hidupnya benar-benar seperti di dongeng.”Beberapa ibu lainnya mengangguk setuju."Iya, iya! Kalau lihat Bu Marianna, kayaknya nggak ada beban hidup sama sekali. Kayaknya suaminya juga setia banget ya, Mbak?" celetuk yang lain sambil melirik Marianna yang hanya terseny

  • Menghancurkan Suamiku   3. Demi Anakku

    Apa alasan seorang wanita bertahan dalam pernikahan bermahligai lingkaran api?Anak.Marianna duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh kecil yang terlelap di sampingnya. Adrian, putranya yang baru berusia lima tahun, menggenggam jemari ibunya bahkan dalam tidurnya, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa di dunia ini. Wajah mungilnya terlihat damai, meskipun hanya beberapa jam lalu ia menangis karena teriakan Abimanyu memenuhi rumah, menghantam dinding seperti badai yang tak kunjung reda.Di luar kamar, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Marianna menahan napas. Ia mengenali irama langkah itu. Sedikit gontai, tanda bahwa pemiliknya baru saja menghabiskan malam dengan alkohol dan, kemungkinan besar, wanita lain. Ia memejamkan mata sesaat, berdoa agar Abimanyu langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.Namun harapannya sia-sia.Pintu kamar terbuka perlahan, dan Abimanyu berdiri di ambangnya. Matanya yang gelap menelusuri ruangan, berh

  • Menghancurkan Suamiku   2. Duka Terbungkus Kemewahan

    Dari luar, kehidupan Marianna tampak sempurna. Ia memiliki rumah mewah, pakaian mahal, dan status sosial yang diidamkan banyak wanita. Namun, di balik dinding berlapis marmer itu, kehidupan pernikahannya dengan Abimanyu adalah neraka yang terselubung kemewahan. Tidak ada cinta di sana, hanya kepemilikan. Tidak ada rasa aman, hanya ketakutan yang terus menghantui setiap jejak langkahnya.Pada suatu malam, saat bulan purnama menggantung di langit yang luas. Setiap keluarga bercengkerama di rumah masing-masing, menikmati malam hangat penuh canda tawa dan percakapan tentang hari yang telah mereka lewati. Itu adalah sebuah kemewahan, sesuatu yang tak Marianna miliki. Kemewahan yang ada padanya hanyalah sutra yang membalut tubuh indahnya, serta status sebagai istri Abimanyu Efmeros. Pria yang diidam-idamkan banyak wanita di luar sana.Mereka hanya tak mengetahui corak asli Abimanyu.Marianna berkutat dengan alat-alat dapur. Bergerak cekatan, menyiapkan makan malam seorang diri. Ia sudah mem

  • Menghancurkan Suamiku   1. Sekedar Gundik

    Marianna selalu memahami bahwa keindahan bukan sekadar anugerah, melainkan alat yang, jika digunakan dengan presisi, dapat membuka pintu menuju segala kemungkinan. Sejak dulu, ia mengasah pesona dan ketenangannya menjadi perisai yang sempurna. Memproyeksikan gambaran seorang istri yang paripurna. Namun, di balik tirai kemewahan yang membungkus pernikahannya, ia mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar istri atau sekadar properti yang dikagumi, disentuh, tetapi tidak pernah benar-benar dihargai.Malam itu, ia duduk di hadapan meja rias, matanya menelusuri pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas. Gaun tidurnya yang berbahan satin jatuh dengan anggun di pundaknya, menampilkan keindahan yang selama ini selalu dipuja suaminya. Namun, ada sesuatu yang asing di dalam tatapan itu. Sebuah kehampaan yang semakin hari semakin sulit ia sembunyikan. Mata indahnya seolah mati, netra hazel berpendar dengan cahaya suram.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan."Kenapa duduk sendirian di si

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status