Share

Bab 2

Author: Emma
"Tante, tadi Tante bilang di sana sangat kering dan sakit saat melakukannya. Apa itu terjadi tiba-tiba, atau memang selalu begitu?"

Baru saja aku selesai bertanya, detak jantung Tante Adelina tiba-tiba menjadi kencang. "Buah persik" di dadanya pun ikut naik turun dengan hebat.

Diam-diam, aku menggeser stetoskop turun satu sentimeter. Saat jariku terjepit di antara belahan dadanya yang kenyal, aku hampir saja mengerang.

Terasa sangat lembut, kenyal, dan membal. Jariku saja bisa terjepit seerat ini, apalagi jika ....

Pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Rasa sesak yang berdenyut di bawah sana menarikku kembali dari khayalan erotis itu.

Aku menelan ludah, menarik tanganku, lalu diam-diam membetulkan posisi celana sebelum mendesak Tante Adelina untuk menjawab pertanyaanku.

Tante Adelina memalingkan wajahnya ke arah lain dan berbisik, "Dulu nggak pernah begini, baru ... baru belakangan ini tiba-tiba jadi begini."

Aku bertanya lagi, apakah orang yang melakukannya dulu dan belakangan ini adalah orang yang sama?

Memanfaatkan momen saat Tante Adelina sedang melamun, tanganku menyelinap masuk ke dalam kerah bajunya sedikit lagi.

Sentuhan hangat merambat dari punggung tanganku ke seluruh tubuh. Darah dalam diriku seketika mendidih.

Aku menelan ludah berkali-kali untuk membasahi tenggorokan yang kering, tapi itu tidak cukup.

Kudengar "buah persik" yang besar itu paling ampuh untuk menghilangkan gatal dan meredakan panas dalam tubuh.

Sadar bahwa aku memiliki dorongan untuk menanggalkan pakaian Tante Adelina, aku segera menggigit bibir agar tetap sadar dan tidak dikuasai oleh nafsu.

"Tante, cepat katakan, apa orangnya sama?"

Tante Adelina tiba-tiba menoleh menatapku dan bertanya dengan heran, "Andre, suaramu ... kenapa tiba-tiba jadi serak?"

Aku pun menjawab dengan agak terburu-buru, "Tante jangan pedulikan itu, jawab saja pertanyaanku dulu."

Tante Adelina menggeleng dan berkata bukan orang yang sama. Aku bertanya lagi, apakah masalah ini muncul saat pertama kali mereka melakukannya?

"Ya, justru karena itu kali pertama, jadi ...."

Aku lalu bertanya dengan nada menyelidik, "Apa karena ukurannya terlalu besar? Atau karena pemanasannya kurang lama?"

Tiba-tiba terpancar rasa kesal di wajah Tante Adelina. Dia berkata dengan suara teredam, "Nggak ... nggak bisa dibilang besar ... bahkan ... nggak lebih besar atau lebih panjang dari jari tengahmu."

Aku tiba-tiba mengacungkan jari tengahku ke arahnya, lalu menyunggingkan senyum nakal. "Tante, bilang saja, Tante suka ukuran yang seperti ini?"

Tante Adelina dengan panik berkata bahwa bukan itu maksudnya, dia hanya memberi perumpamaan.

Aku pun tertawa dalam hati dan lanjut bertanya, "Oh ... Tante, coba beri tahu aku, Tante suka ukuran yang seberapa besar?"

Tanpa berpikir panjang, Tante Adelina menjawab, "Sebenarnya ukuran itu nggak penting, yang utama adalah kekerasan dan daya tahannya ...."

"Eh, kenapa aku malah bicara begini pada anak kecil sepertimu? Andre, cepat periksa saja tubuh Tante."

Melihat Tante Adelina yang memalingkan wajahnya lagi, entah setan apa yang merasukiku. Aku memanggilnya, "Tante, coba lihat punyaku ...."

Begitu Tante Adelina menoleh, aku langsung menurunkan resleting celanaku dan mengeluarkan "milikku" yang sudah tegang sempurna, lalu memamerkannya.

Tante Adelina seketika menarik napas dalam-dalam. Dia menatap tidak percaya ke arah selangkanganku.

Butuh waktu lama baginya untuk tersadar. Dia menjilat bibirnya. Dengan mata yang berkaca-kaca, dia berkata pelan, "Nggak kusangka Andre masih muda, tapi ... itu, itu sungguh luar biasa!"

Setelah itu, dia bergumam lirih, "Aku benar-benar iri pada pacarmu, bisa menikmati ukuran kelas atas seperti ini ...."

Mendengar pujian Tante Adelina, hatiku merasa sangat bangga, namun wajahku sengaja kupasang ekspresi sedih.

Aku pun bercerita bahwa aku pernah punya pacar, tapi saat akan melakukannya, dia malah kabur karena ketakutan melihat ukuranku.

Mendengar hal itu, dahi Tante Adelina langsung berkerut. Dia berkata dengan nada tidak puas bahwa gadis itu tidak tahu barang bagus.

Aku lalu bergumam pelan, "Andai saja aku bisa bertemu wanita yang tahu barang bagus seperti Tante ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 8

    Tante Adelina sangat ketakutan. Dengan tangan gemetar, dia mengirim pesan putus dan langsung memblokir serta menghapus nomor pria itu di depanku. Setelah merasa puas, barulah aku membiarkannya pergi.Beberapa hari kemudian, aku kembali mencoba mengorek informasi tentang Tante Adelina dari ibuku secara tidak langsung. Aku ingin memastikan apakah dia benar-benar putus dengan Gilbert, dan ibuku memberikan jawaban yang pasti. Di akhir pembicaraan, ibuku bergumam bahwa dia curiga Tante Adelina pasti punya pacar baru belakangan ini. Sebab, wajahnya terlihat sangat segar dan berseri-seri, seperti baru saja "dimanjakan".Aku hampir saja ingin berteriak pada ibuku, "Tebakan Ibu benar! Dia memang punya pacar baru, dan orang itu adalah aku!" Namun, kata-kata itu kutelan kembali. Bukan karena aku tidak mau mengatakannya, hanya saja ini terlalu mendadak dan aku takut ibuku akan terkejut. Lagi pula, Tante Adelina juga melarangku. Dia memperingatkan aku dengan sangat serius bahwa jika aku membe

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 7

    Saat masuk, sensasi nikmat yang menggelitik itu seketika merambat dari bawah ke seluruh tubuh. Rasanya sungguh luar biasa, sampai-sampai kulit kepalaku terasa kesemutan. Setelah bergumul sejenak, aku tidak tahan untuk berbisik, "Tante, aku menyukaimu ....""Nngh, apa Tante juga menyukaiku?"Jawaban yang kuterima hanyalah deru napas yang terengah-engah dan erangan yang tak putus. Melihat Tante Adelina yang tampak sangat bergairah di bawahku, aku merasa darahku mendidih dan tubuhku seolah memiliki tenaga yang tak ada habisnya.Entah sudah berapa lama kami melakukannya. Tante Adelina bahkan sempat pingsan beberapa kali karena permainanku. Aku terlalu bersemangat, rasanya seperti remku blong begitu sudah mulai. Yah, salahkan Tante Adelina yang terlalu menggoda. Selain tubuhnya yang empuk dan lentur, dia juga sangat pintar memicu gairah pria. Pemuda sepertiku benar-benar tidak bisa mengendalikan nafsu untuk terus menaklukkannya.Setelah Tante Adelina pingsan sekali lagi, aku menahan r

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 6

    Setelah menyelesaikan semua itu, ibuku juga kebetulan selesai berkemas. Dengan rajin aku membantunya membawakan koper dan mengantarnya sampai ke gerbang kompleks perumahan. Begitu mobil yang dia tumpangi menghilang di tikungan, aku bergegas kembali ke rumah, membiarkan pintu sedikit terbuka, dan mulai menunggu kedatangan Tante Adelina.Lima belas menit kemudian, Tante Adelina datang dengan terburu-buru. Aku bersembunyi di balik pintu. Begitu dia melangkah masuk, aku segera mengunci pintu rapat-rapat, lalu memeluknya dari belakang.Tubuh Tante Adelina menegang karena terkejut. Dengan leher kaku, dia bertanya siapa itu. Aku mendekatkan bibir ke telinganya dan berbisik pelan, "Ini aku ...."Tante Adelina seketika menghela napas lega, namun dia segera tersadar. Sambil meronta, dia menyuruhku melepaskannya. Aku menjilat cuping telinganya, merasakan tubuhnya yang sedikit bergetar, lalu berkata dengan suara serak yang menggoda, "Mmm, Tante, aku sangat merindukanmu. Apa Tante merindukanku?

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 5

    Heh, cukup baik? Gemar bermain wanita dibilang cukup baik? Hampir menghamili salah satu teman sekelasku saat SMA dibilang cukup baik? Saat itu, jika dia tidak membayar ganti rugi sebesar 1,6 miliar, dia pasti sudah membusuk di penjara!Tante Adelina tertawa canggung. "Itu ... itu pasti salah paham. Gilbert ... nggak terlihat seperti orang yang seperti itu."Aku mencibir dan berkata, "Tante baru mengenalnya berapa lama? Mana mungkin Tante benar-benar tahu sifat aslinya."Melihatku terus menjelek-jelekkan Gilbert, Tante Adelina merasa tidak senang. Setelah merapikan pakaiannya, tanpa menyapa lagi, dia langsung membuka pintu dan pergi. Aku ingin memanggilnya untuk meminta nomor teleponnya, tapi saat aku mengejar ke luar, dia sudah menghilang tanpa jejak.Kembali ke dalam ruangan, aku mengenang kembali pengalaman tadi. Semakin aku memikirkannya, semakin bergejolak perasaanku. Hal semacam ini, jika belum pernah mencoba mungkin tidak apa-apa, tapi sekali merasakannya, rasanya sulit untuk

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 4

    "Ngh! Mmh, jangan ... jangan lebih dalam lagi ... ah!" Aku mengatur napas yang memburu, lalu bertanya dengan suara rendah, "Bagaimana, Tante? Apa rasanya nikmat?""Nik-nik ... mmh ... mat ...."Seketika aku menarik tanganku. Dengan gerakan cepat, aku menanggalkan jas dokter serta celanaku, lalu naik ke atas tubuh Tante Adelina."Tante sudah merasa nikmat, sekarang biar aku juga merasakannya. Aku sudah hampir mati menahannya ...."Tanpa menunggu jawabannya, aku mengangkat kedua kakinya ke bahuku. Sambil memegang milikku yang sudah mengeras seperti baja, aku pun melakukan dorongan kuat ke depan dalam satu gerakan."Ssh ... ngh ... ohh .... ahhh ...!"Awalnya Tante Adelina menggigit bibir rapat-rapat, enggan mengeluarkan suara. Namun, setelah aku memberikan beberapa kali hentakan bertenaga, dia mulai mengerang dan mendesah keras. Beberapa kali dia bahkan mengeluh karena gerakanku terlalu lambat. Padahal tadinya aku ingin melakukannya perlahan. Tapi melihat reaksinya yang begitu liar, ak

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 3

    "Aku bahkan belum pernah merasakan rasanya 'begitu' sampai sekarang ...."Tante Adelina menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Andre, kamu ... kamu nggak mungkin masih perjaka sampai sekarang, ‘kan?"Aku menghela napas, mengangguk pasrah, dan membenarkannya. Tante Adelina seketika terdiam. Melihatnya terbungkam cukup lama, pikiranku mendadak panas. Entah setan apa yang merasukiku, aku berkata secara spontan, "Tante, aku benar-benar mau mencoba rasanya 'itu'. Apa Tante bisa membantuku?"Tante Adelina menatapku dengan wajah penuh keheranan. "Andre, kamu ... apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"Aku mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Bukannya Tante sendiri yang bilang punyaku ini ukurannya kelas atas? Apa Tante nggak mau mencobanya?" Aku mengerucutkan bibir, lalu berkata dengan nada sedih yang dibuat-buat, "Atau jangan-jangan, Tante tadi cuma mau menghiburku dan berbasa-basi saja padaku?"Tante Adelina pun bergegas menjelaskan bahwa semua yang dikatakannya benar, dia ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status