공유

Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu
Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu
작가: Emma

Bab 1

작가: Emma
Namaku Andre Hirman, seorang dokter ginekologi di rumah sakit ternama. Hari itu, aku sedang bertugas di ruang praktik.

Tiba-tiba, Tante Adelina, sahabat karib ibuku, datang menemuiku. Dia curiga dirinya mengalami menopause dini dan memintaku meresepkan obat.

Menopause dini? Tante Adelina?

Aku melirik ke arah dada Tante Adelina, sepasang "buah persik" yang bulat dan padat. Ukurannya pasti setidaknya 38F.

Di usianya yang hampir menginjak empat puluh tahun, payudaranya masih bisa sekencang dan seberisi itu. Aku yakin dia pasti sering "dimanjakan" oleh pria.

Melihat penampilannya yang genit dan seksi ini, mana mungkin dia mengalami menopause dini?

Aku membetulkan posisi kacamata di pangkal hidung, lalu bertanya apa saja gejala yang dia rasakan.

Tante Adelina menjawab dengan samar. Katanya, dia sudah mencari di google dan gejalanya persis seperti menopause dini. Dia menyuruhku tidak banyak tanya dan langsung memberikan obat saja.

Mendengar ucapan Tante Adelina, seketika muncul istilah "badan montok otak kosong" di kepalaku.

Aku benar-benar curiga, apakah otaknya pindah ke dadanya? Bisa-bisanya dia percaya begitu saja pada informasi simpang siur di internet.

Aku tersenyum dan menjelaskan bahwa sebagai dokter, kami tidak boleh sembarangan meresepkan obat tanpa memahami kondisi spesifik pasien.

"Tante Adelina, ceritakan padaku gejalanya seperti apa. Biar aku bantu analisis apa itu benaran menopause dini atau bukan."

Aku menundukkan pandangan ke arahnya. Saat mata kami bertemu, tatapannya tampak panik dan wajah cantiknya merona merah.

"... Andre, Tante ... Tante ...."

Melihatnya terbata-bata dan tidak berani bicara, aku pun merasa penasaran. Aku memberinya dorongan lewat tatapan mata agar dia melanjutkan.

Wajah Tante Adelina semakin merah padam. Dia tidak berani menatapku, menunduk sejenak dengan ragu, lalu berkata dengan suara lirih, ".... Anu, di situ sangat kering. Rasanya perih dan sakit saat melakukannya, bahkan airnya saja nggak keluar-keluar ...."

Aku tertegun sejenak, belum sempat mencerna maksudnya, lalu bertanya di mana bagian yang kering itu.

Tante Adelina tiba-tiba mendongak menatapku. Melihatku yang seolah benar-benar tidak paham, dia mendadak panik.

Dengan wajah memerah, dia memekik "Aduh!" sambil mengentakkan kaki, lalu berkata bahwa maksudnya "bagian itu".

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk tersadar. Aku bergumam, "Oh ...."

Alasan mengapa reaksiku terlambat adalah karena perhatianku teralihkan oleh sepasang "buah persik" yang bulat sempurna di dadanya.

Saat dia mengentakkan kaki tadi, entah karena gerakannya terlalu besar atau garis leher bajunya yang terlalu rendah, sepasang buah yang sebagian besar terbuka itu hampir saja melompat keluar.

Saat aku melihat sekilas warna merah muda yang menggoda, aku begitu tegang hingga lupa bernapas.

Untung saja saat ini aku memakai jas putih dokter yang longgar. Jika tidak, akan sangat memalukan jika Tante Adelina melihat "tenda" besar yang berdiri di selangkanganku.

Aku menjilat bibir, menatap Tante Adelina dengan tatapan dalam, lalu berkata sambil tersenyum, "Tante Adelina, penjelasanmu terlalu samar. Aku nggak bisa menentukan apa ini menopause dini atau bukan cuma dari itu ...."

"Begini saja, Tante masuk ke balik tirai itu. Aku akan menggunakan alat untuk memeriksa apa sebenarnya masalahnya."

"Oh ya, ingat, celananya harus dilepas semua."

Mendengar harus melepas celana, wajah Tante Adelina memerah dan bertanya dengan canggung, "... Andre, harus ... benaran harus lepas celana?"

Aku memasang ekspresi serius. "Tante Adelina, jangan merasa sungkan. Aku adalah dokter profesional. Di mataku, pasien nggak dibedakan berdasarkan jenis kelamin atau kecantikan."

Melihat Tante Adelina masih ragu, aku takut jika terlalu mendesak malah akan membuatnya kabur. Aku melembutkan nada suaraku dan berkata perlahan, "Begini saja, kalau Tante belum siap, aku akan memeriksa detak jantung dan denyut nadi Tante dulu."

Mendengar dia tidak perlu melepas celana untuk saat ini, Tante Adelina seketika menghela napas lega.

Aku mengambil stetoskop lalu berjalan ke sampingnya. Tante Adelina bertanya apakah dia harus berbaring.

"Ya, boleh."

Aku menarik pandanganku dari balik kerah bajunya. Setelah dia berbaring, aku pura-pura menempelkan stetoskop ke dadanya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 8

    Tante Adelina sangat ketakutan. Dengan tangan gemetar, dia mengirim pesan putus dan langsung memblokir serta menghapus nomor pria itu di depanku. Setelah merasa puas, barulah aku membiarkannya pergi.Beberapa hari kemudian, aku kembali mencoba mengorek informasi tentang Tante Adelina dari ibuku secara tidak langsung. Aku ingin memastikan apakah dia benar-benar putus dengan Gilbert, dan ibuku memberikan jawaban yang pasti. Di akhir pembicaraan, ibuku bergumam bahwa dia curiga Tante Adelina pasti punya pacar baru belakangan ini. Sebab, wajahnya terlihat sangat segar dan berseri-seri, seperti baru saja "dimanjakan".Aku hampir saja ingin berteriak pada ibuku, "Tebakan Ibu benar! Dia memang punya pacar baru, dan orang itu adalah aku!" Namun, kata-kata itu kutelan kembali. Bukan karena aku tidak mau mengatakannya, hanya saja ini terlalu mendadak dan aku takut ibuku akan terkejut. Lagi pula, Tante Adelina juga melarangku. Dia memperingatkan aku dengan sangat serius bahwa jika aku membe

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 7

    Saat masuk, sensasi nikmat yang menggelitik itu seketika merambat dari bawah ke seluruh tubuh. Rasanya sungguh luar biasa, sampai-sampai kulit kepalaku terasa kesemutan. Setelah bergumul sejenak, aku tidak tahan untuk berbisik, "Tante, aku menyukaimu ....""Nngh, apa Tante juga menyukaiku?"Jawaban yang kuterima hanyalah deru napas yang terengah-engah dan erangan yang tak putus. Melihat Tante Adelina yang tampak sangat bergairah di bawahku, aku merasa darahku mendidih dan tubuhku seolah memiliki tenaga yang tak ada habisnya.Entah sudah berapa lama kami melakukannya. Tante Adelina bahkan sempat pingsan beberapa kali karena permainanku. Aku terlalu bersemangat, rasanya seperti remku blong begitu sudah mulai. Yah, salahkan Tante Adelina yang terlalu menggoda. Selain tubuhnya yang empuk dan lentur, dia juga sangat pintar memicu gairah pria. Pemuda sepertiku benar-benar tidak bisa mengendalikan nafsu untuk terus menaklukkannya.Setelah Tante Adelina pingsan sekali lagi, aku menahan r

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 6

    Setelah menyelesaikan semua itu, ibuku juga kebetulan selesai berkemas. Dengan rajin aku membantunya membawakan koper dan mengantarnya sampai ke gerbang kompleks perumahan. Begitu mobil yang dia tumpangi menghilang di tikungan, aku bergegas kembali ke rumah, membiarkan pintu sedikit terbuka, dan mulai menunggu kedatangan Tante Adelina.Lima belas menit kemudian, Tante Adelina datang dengan terburu-buru. Aku bersembunyi di balik pintu. Begitu dia melangkah masuk, aku segera mengunci pintu rapat-rapat, lalu memeluknya dari belakang.Tubuh Tante Adelina menegang karena terkejut. Dengan leher kaku, dia bertanya siapa itu. Aku mendekatkan bibir ke telinganya dan berbisik pelan, "Ini aku ...."Tante Adelina seketika menghela napas lega, namun dia segera tersadar. Sambil meronta, dia menyuruhku melepaskannya. Aku menjilat cuping telinganya, merasakan tubuhnya yang sedikit bergetar, lalu berkata dengan suara serak yang menggoda, "Mmm, Tante, aku sangat merindukanmu. Apa Tante merindukanku?

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 5

    Heh, cukup baik? Gemar bermain wanita dibilang cukup baik? Hampir menghamili salah satu teman sekelasku saat SMA dibilang cukup baik? Saat itu, jika dia tidak membayar ganti rugi sebesar 1,6 miliar, dia pasti sudah membusuk di penjara!Tante Adelina tertawa canggung. "Itu ... itu pasti salah paham. Gilbert ... nggak terlihat seperti orang yang seperti itu."Aku mencibir dan berkata, "Tante baru mengenalnya berapa lama? Mana mungkin Tante benar-benar tahu sifat aslinya."Melihatku terus menjelek-jelekkan Gilbert, Tante Adelina merasa tidak senang. Setelah merapikan pakaiannya, tanpa menyapa lagi, dia langsung membuka pintu dan pergi. Aku ingin memanggilnya untuk meminta nomor teleponnya, tapi saat aku mengejar ke luar, dia sudah menghilang tanpa jejak.Kembali ke dalam ruangan, aku mengenang kembali pengalaman tadi. Semakin aku memikirkannya, semakin bergejolak perasaanku. Hal semacam ini, jika belum pernah mencoba mungkin tidak apa-apa, tapi sekali merasakannya, rasanya sulit untuk

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 4

    "Ngh! Mmh, jangan ... jangan lebih dalam lagi ... ah!" Aku mengatur napas yang memburu, lalu bertanya dengan suara rendah, "Bagaimana, Tante? Apa rasanya nikmat?""Nik-nik ... mmh ... mat ...."Seketika aku menarik tanganku. Dengan gerakan cepat, aku menanggalkan jas dokter serta celanaku, lalu naik ke atas tubuh Tante Adelina."Tante sudah merasa nikmat, sekarang biar aku juga merasakannya. Aku sudah hampir mati menahannya ...."Tanpa menunggu jawabannya, aku mengangkat kedua kakinya ke bahuku. Sambil memegang milikku yang sudah mengeras seperti baja, aku pun melakukan dorongan kuat ke depan dalam satu gerakan."Ssh ... ngh ... ohh .... ahhh ...!"Awalnya Tante Adelina menggigit bibir rapat-rapat, enggan mengeluarkan suara. Namun, setelah aku memberikan beberapa kali hentakan bertenaga, dia mulai mengerang dan mendesah keras. Beberapa kali dia bahkan mengeluh karena gerakanku terlalu lambat. Padahal tadinya aku ingin melakukannya perlahan. Tapi melihat reaksinya yang begitu liar, ak

  • Mengobati Menopause Dini Sahabat Ibu   Bab 3

    "Aku bahkan belum pernah merasakan rasanya 'begitu' sampai sekarang ...."Tante Adelina menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Andre, kamu ... kamu nggak mungkin masih perjaka sampai sekarang, ‘kan?"Aku menghela napas, mengangguk pasrah, dan membenarkannya. Tante Adelina seketika terdiam. Melihatnya terbungkam cukup lama, pikiranku mendadak panas. Entah setan apa yang merasukiku, aku berkata secara spontan, "Tante, aku benar-benar mau mencoba rasanya 'itu'. Apa Tante bisa membantuku?"Tante Adelina menatapku dengan wajah penuh keheranan. "Andre, kamu ... apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"Aku mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Bukannya Tante sendiri yang bilang punyaku ini ukurannya kelas atas? Apa Tante nggak mau mencobanya?" Aku mengerucutkan bibir, lalu berkata dengan nada sedih yang dibuat-buat, "Atau jangan-jangan, Tante tadi cuma mau menghiburku dan berbasa-basi saja padaku?"Tante Adelina pun bergegas menjelaskan bahwa semua yang dikatakannya benar, dia ti

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status