Home / Romansa / Mengubah Takdir Lunaya / Bab 17 Merasa Tidak Nyaman

Share

Bab 17 Merasa Tidak Nyaman

Author: Manila Z
last update publish date: 2026-08-27 23:03:52

"Oh, hai salam kenal."

Pria itu menjabat tangan Lunaya dengan ramah. Ada rasa terkejut ketika seorang Evano yang biasa datang sendiri, kini membawa seorang perempuan.

"Salam kenal," balas Lunaya sambil tersenyum.

"Jadi ini wanita yang belakangan ini ramai dibicarakan?" tanya pria tersebut yang sudah menonton sebuah berita.

Lunaya sempat terdiam.

Namun sebelum dia sempat menjawab, Evano sudah lebih dulu angkat bicara.

"Jangan dengarkan apa yang orang-orang katakan."

Nada suara Evano terdengar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 22 Pamitan Pulang

    Malam semakin larut. Setelah cukup lama berbincang dan menghabiskan waktu bersama Nenek Niar, akhirnya Lunaya dan Evano memutuskan untuk berpamitan."Nenek kita pamit dulu yah."Nenek Niar menatap keduanya dengan wajah sedikit kecewa."Padahal aku ingin kalian lebih lama di sini," ujarnya dengan tulus.Lunaya tersenyum lembut. Dia kemudian menghampiri Nenek Niar dan memeluk wanita tersebut dengan erat."Kapan-kapan aku pasti akan datang ke sini."Nenek Niar membalas pelukan Lunaya."Janji yah.""Iya Nek, aku janji."Lunaya berkata dengan jujur kali ini.Entah kenapa, setelah kembali bertemu dengan Nenek Niar, ada perasaan nyaman yang sulit dijelaskan. Wanita itu sudah seperti nenek kandungnya sendiri.Mungkin setelah ini Lunaya memang akan sering datang ke rumah tersebut.Bukan hanya untuk menemui Evano.Tetapi juga karena dia ingin kembali merasakan kehangatan yang selama ini dia rindukan."Yaudah kalau begitu, kita pamit dulu yah Nek, nanti aku pasti akan ke sini lagi," kata Evano s

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 21 Membuat Kue Pukis

    Beberapa menit kemudian, Nenek Niar kembali dari dapur sambil membawa sebuah nampan. Aroma manis yang khas langsung memenuhi ruangan.Di atas nampan itu terdapat beberapa kue pukis yang masih terlihat hangat."Nah, ini dia. Nenek buatkan khusus untuk kalian."Lunaya langsung tersenyum lebar, akhirnya dia bisa merasakan kue pukis lagi. "Terima kasih, Nek."Nenek Niar meletakkan nampan tersebut di atas meja.Lunaya langsung mengambil satu potong kue pukis. Dia meniupnya sebentar sebelum menggigit bagian ujungnya.Begitu rasa lembut dan manis itu memenuhi mulutnya, ekspresi wajah Lunaya langsung berubah senang."Masih sama."Nenek Niar tersenyum."Masih sama bagaimana?""Rasanya. Dulu aku sering makan kue pukis buatan Nenek, dan ternyata sampai sekarang rasanya masih sama."Lunaya tersenyum penuh nostalgia, dia mengingat dulu Nenek tersebut selalu datang ke rumahnya sambil membawa kue ini. "Enak sekali."Nenek Niar terlihat senang mendengarnya. "Kalau begitu, makan yang banyak."Evano

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 20 Datang Ke Suatu Tempat

    Lunaya menaikkan sebelah alisnya dengan heran ketika mobil yang dikendarai Evano berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sangat minimalis.Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman. Halamannya dihiasi beberapa tanaman kecil, sementara lampu teras memberikan kesan hangat di malam hari.Namun ada sesuatu yang membuat Lunaya merasa tidak asing.Dia memperhatikan rumah itu beberapa saat."Sepertinya aku pernah melihat rumah ini...""Kita sudah sampai," jawab Evano yang kini melepaskan sabuk pengaman miliknya.Lunaya langsung menoleh. "Sampai?"Evano mengangguk. "Tapi kita di mana?" tanya Lunaya yang merasa asing dengan lokasi tempat ini. Evano hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.Lunaya semakin heran."Evano, kamu membawaku ke mana?""Turun dulu.""Kenapa kamu tidak menjawab?" dengus Lunaya kesal karena sedari tadi pria itu tidak menjawab pertanyaan dia sama sekali. "Karena kalau aku jawab, kejutan ini tidak akan menjadi kejutan."Lunaya menghela napas."Dasar."E

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 19 Edward Memarahi Selena

    Selena mengepalkan tangannya, dia kesal karena Lunaya justru malah terlihat bahagia bersama dengan Evano. Harusnya wanita itu meratapi dirinya sendiri karena sudah meninggalkan Edward. "Sialan Lunaya," umpatnya dengan kesal. Sampai tiba-tiba ada yang menarik tangan Selena. Dia menoleh kearah orang tersebut dengan tenang. "Kenapa?" tanya Selena. "Kamu tadi berbicara dengan Lunaya?" tanya Edward dengan tatapan mata yang begitu tajam. Selena hanya mengangguk dengan santai. "Aku hanya menyapa dia saja.""Kamu hanya menyapa dia? Sedangkan tadi kamu malah melarang aku untuk menghampiri dia?" umpat Edward dengan kesal. Selena paham dengan sikap Edward sekarang, pria itu tengah marah karena dia melarang untuk berbicara dengan Lunaya. "Kamu tenang dulu, okeh. Aku melarang itu karena aku khawatir, kamu tidak bisa mengontrol emosi kamu sendiri."Edward mencengkeram leher Selena dengan keras. Selena terkejut. Senyum tenang yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika menghilang."Edward..."

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 18 Selena Menghampiri Lunaya

    Acara malam itu akhirnya mulai memasuki penghujung.Beberapa tamu sudah meninggalkan ruangan, sementara sebagian lainnya masih berbincang di sekitar meja masing-masing.Lunaya berdiri di samping Evano sambil sesekali melirik pria tersebut.Sejak tadi, dia masih memikirkan perkataan Evano.Setelah acara ini selesai, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.Entah kenapa, rasa penasaran itu semakin besar."Jadi, sekarang kita pergi?" tanya Lunaya akhirnya.Evano yang sedang berbicara dengan salah satu rekannya langsung menoleh."Iya.""Memangnya kita mau ke mana?" tanya Lunaya merasa penasaran. Evano hanya tersenyum dengan penuh arti, dia hanya ingin menghibur Lunaya saja. "Nanti kamu tahu."Lunaya mengerutkan kening, seperti ada yang disembunyikan oleh Evano. Ke mana pria itu akan membawa dirinya? "Kamu sengaja membuatku penasaran, ya?""Mungkin."Lunaya mendengus kecil ketika Evano tidak memberitahu dirinya. "Dasar."Evano tertawa pelan melihat ekspresi wajah dari Lunaya yang begitu s

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 17 Merasa Tidak Nyaman

    "Oh, hai salam kenal."Pria itu menjabat tangan Lunaya dengan ramah. Ada rasa terkejut ketika seorang Evano yang biasa datang sendiri, kini membawa seorang perempuan. "Salam kenal," balas Lunaya sambil tersenyum."Jadi ini wanita yang belakangan ini ramai dibicarakan?" tanya pria tersebut yang sudah menonton sebuah berita. Lunaya sempat terdiam.Namun sebelum dia sempat menjawab, Evano sudah lebih dulu angkat bicara."Jangan dengarkan apa yang orang-orang katakan."Nada suara Evano terdengar santai, tetapi cukup tegas."Yang penting, saya tahu siapa Lunaya."Lunaya menoleh kepada pria di sampingnya. Entah kenapa, kalimat sederhana itu kembali membuat dadanya terasa hangat.Pria yang tadi menyambut mereka tersenyum."Tenang saja. Saya tidak bermaksud menyinggung."Dia kemudian mempersilakan mereka duduk."Silakan duduk. Acara sebentar lagi dimulai."Evano menarik kursi untuk Lunaya."Hati-hati.""Terima kasih."Lunaya duduk, kemudian Evano mengambil tempat tepat di sebelahnya.Bebera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status