Home / Romansa / Mengubah Takdir Lunaya / Bab 2 Pilihan Yang Menyakitkan

Share

Bab 2 Pilihan Yang Menyakitkan

Author: Manila Z
last update publish date: 2026-06-22 09:08:56

Hujan masih turun membasahi kota sejak sore tadi. Di sebuah rumah sakit swasta yang mewah, Edward duduk di samping ranjang pasien sambil menatap layar ponselnya.Wajah tampannya terlihat tenang, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Di atas ranjang, Selena berbaring dengan perban kecil melilit pergelangan tangannya. Dia senang karena Edward lebih perhatian pada dirinya.

"Edward, sebenarnya kamu tidak perlu menemaniku terus seperti ini," ucap Selena dengan suara lembut.

Edward mengangkat pandangannya.

"Kondisimu belum stabil."

Selena tersenyum tipis, dia senang karena Edward mau menemani dirinya di sini sepanjang malam. Dia menggunakan kesempatan ini agar bisa lebih dekat dengan dirinya.

"Hanya luka ringan. Dokter bahkan sudah memperbolehkanku pulang besok."

Edward tidak menjawab. Pria itu kembali menatap layar ponselnya yang berkali-kali menyala. Ada puluhan pesan yang masuk.

Namun bukan itu yang menarik perhatiannya.

Yang membuatnya diam adalah satu pesan dari rumah sakit tempat Lunaya dirawat.

[Kondisi Nyonya Lunaya menurun. Mohon keluarga segera datang.]

Edward membaca pesan itu selama beberapa detik. Lalu mengunci layar ponselnya kembali.

Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Dia nampak biasa saja, dia juga tidak cemas sama sekali ketika mengetahui kalau Lunaya tengah sakit. Dia tidak peduli sama sekali dengan wanita itu. Dia sudah mengajukan perceraian, tetapi Lunaya selalu menolaknya dan tidak mau.

Melihat sikap Edward, Selena menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum yang muncul di bibirnya.

"Apa itu tentang Kak Lunaya?" tanyanya pura-pura khawatir.

Edward mengangguk singkat.

"Rumah sakit menghubungiku."

"Kalau begitu sebaiknya kamu pergi menemuinya."

Perkataan Selena terdengar tulus, tetapi jauh di dalam hatinya, ia berharap Edward tetap berada di sini.

Edward menggeleng pelan. Dia tidak mau datang ke rumah sakit tersebut, lagian dia yakin kalau Lunaya hanya akting saja.

"Aku sudah mengirim asistenkku."

Jantung Selena berdebar senang, karena artinya Edward memilih dirinya. Namun ia tetap memasang wajah sedih untuk tidak membuat Edward khawatir.

"Kondisinya pasti serius. Bukankah seharusnya seorang suami berada di samping istrinya?"

Edward terdiam cukup lama. Entah mengapa pertanyaan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak. Tetapi perasaan itu segera ia abaikan.

Selama ini Lunaya selalu baik-baik saja.

Wanita itu selalu kuat. Selalu mampu mengurus dirinya sendiri. Dia yakin kalau Lunaya tidak memerlukan dirinya.

Lagipula, setiap kali ia tidak pulang ke rumah, Lunaya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Maka kali ini pun pasti sama.

"Aku akan datang nanti," jawab Edward akhirnya.

"Nanti?"

Edward mengangguk. Selena tersenyum tipis. Jawaban itu sudah cukup. Karena ia tahu arti kata "nanti" bagi Edward.

****

Sementara itu, di rumah sakit tempat Lunaya dirawat.

Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius. Terlebih kondisi wanita itu kini kian menurun.

"Kondisinya semakin kritis."

Perawat yang berdiri di sampingnya tampak cemas. Apalagi melihat kondisi Lunaya sekarang. Tidak ada orang yang bahkan menemani dirinya dalam kondisi seperti ini.

"Apakah suaminya sudah dihubungi?" tanya dokter tersebut memastikan.

"Kami sudah mencoba berkali-kali," jawab Perawat tersebut. Dia sudah menghubungi suaminya Lunaya, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Ini yang membuat perawat itu malah merasa iba dan kasian.

"Bagaimana jawabannya?"

Dokter menghela napas panjang.

"Tidak ada."

Mereka saling berpandangan dengan pandangan yang kasian. Sulit dipercaya bahwa seorang suami tidak datang ketika istrinya berada di ambang kematian.

Apalagi Lunaya sudah dirawat cukup lama. Namun selama itu pula, Edward hampir tidak pernah terlihat. Beberapa perawat bahkan tidak tahu seperti apa wajah suami wanita malang itu.

"Kasian sekali nasibnya."

Mereka hanya sering mendengar Lunaya menyebut nama Edward sambil menunggu dengan penuh harapan. Harapan yang tak pernah menjadi kenyataan.

***

Di rumah sakit lain.

Selena memegang lengan Edward dengan begitu sangat mesra seolah mereka adalah pasangan yang tidak pernah dipisahkan.

"Aku lapar."

"Aku akan membelikan makanan."

"Mau ditemani."

Edward mengangguk tanpa berpikir panjang. Dia menuruti keinginan dari Selena.

"Baik."

Mereka pun berjalan keluar kamar bersama.  Saat melewati koridor, ponsel Edward kembali bergetar. Nomor rumah sakit Lunaya.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar tersebut.

Kemudian...

Dia menekan tombol diam. Panggilan itu berhenti. Edward memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

"Ayo."

Selena tersenyum puas. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan koridor rumah sakit. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa di tempat lain, seseorang sedang berjuang mempertahankan hidupnya seorang diri.

***

Malam semakin larut.

Lampu kota terlihat berkilauan di balik jendela kamar perawatan Lunaya.

Wanita itu membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong menatap langit-langit. Tubuhnya terasa semakin dingin. Dia kembali melirik ke arah pintu.

"Kamu tidak mau datang, Edward," gumam Lunaya ditengah kesakitan yang dia rasakan.

Lunaya tersenyum pahit mengingat semua yang dia lakukan untuk Edward semuanya sia-sia. Bahkan di sisa akhir hidupnya, pria itu tidak datang sama sekali.

Air mata mengalir membasahi pelipisnya. Untuk apa perjuangan dirinya selama ini. Kalau pada akhirnya Edward lebih memilih wanita yang dia cintai. Harusnya dia lebih sadar atas semuanya.

Bukan karena sakit. Melainkan karena kenyataan yang akhirnya harus dia terima. Di hati Edward...

Dirinya tidak pernah benar-benar memiliki tempat. Dan malam itu, harapan terakhir yang selama ini ia pertahankan perlahan mulai mati bersama perasaannya.

"Kamu jahat Edward, aku bersumpah aku membencimu selamanya."

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 69 Mulai Curiga

    Evano masih menatap foto di layar ponsel Lunaya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat kaku. Lunaya memperhatikan perubahan itu dengan saksama. "Evano?" Pria itu tidak menjawab. "Siapa dia?" Evano akhirnya mengangkat wajah. "Orang yang seharusnya sudah tidak ada." Lunaya mengernyit. "Maksudmu... dia sudah meninggal?" Evano mengangguk pelan. "Setidaknya, itu yang saya percaya selama ini." Lunaya kembali melihat foto tersebut. Pria itu berdiri beberapa langkah di belakang Evano dan Karina. Walaupun wajahnya dicoret, bentuk tubuh dan pakaiannya masih terlihat jelas. "Kalau dia sudah meninggal, bagaimana mungkin seseorang mengirim foto ini?" "Itulah masalahnya." Evano mengambil ponsel Lunaya dan memperbesar foto tersebut. Dia memperhatikan latar belakangnya.

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 68 Siapa Pria Itu?

    Lunaya masih menatap layar ponselnya. Sementara itu, Evano sama sekali tidak bergerak. Tatapannya terpaku pada pesan terakhir yang baru saja masuk. Tanyakan pada Karina tentang malam ketika Evano hampir kehilangan segalanya. Kalimat itu terus berputar di kepala Lunaya. "Apa maksudnya?" tanya Lunaya akhirnya. Evano mengalihkan pandangannya dari layar ponsel kepada Lunaya. "Tidak perlu dipikirkan sekarang." "Tapi kamu tahu sesuatu." Evano diam. Lunaya semakin yakin. "Kalau kamu tidak tahu, kamu pasti langsung bilang pesan ini tidak masuk akal." Evano menghela napas panjang. "Lunaya..." "Apa yang terjadi malam itu?" Evano memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. "Itu kejadian lama." "Seber

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 67 Lunaya Berjanji

    Mobil Evano akhirnya berhenti di depan rumah Lunaya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Evano lebih banyak diam, sementara Lunaya hanya menatap keluar jendela dengan pikiran yang masih berputar-putar.Pertemuan dengan Edward dan Karina tadi membuatnya sadar bahwa masalah yang selama ini berusaha ia hindari ternyata sudah mulai menyeret orang-orang di sekitarnya.Begitu mobil berhenti, Evano mematikan mesin. Namun, Lunaya tidak langsung turun.Tangannya masih menggenggam erat ponsel di atas pangkuannya. Evano meliriknya."Kamu masih memikirkan kejadian tadi?"Lunaya mengangguk pelan."Aku tidak menyangka mereka akan benar-benar menungguku di tempat itu."Evano menghela napas."Itulah alasan saya tidak ingin kamu pergi sendirian."Lunaya menoleh."Tapi kalau aku tidak pergi, kita tidak akan tahu siapa yang berada di balik semua ini."Evano terdiam. Dia memang tidak bisa menyangkal perkataan Lunaya.Beberapa saat kemudian, Lunaya akhirnya membuka pintu mobil. Namun seb

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 66 Edward Marah

    Edward masih berdiri di depan bangunan tua itu dengan wajah penuh amarah. Tatapannya bergantian mengarah kepada Evano dan Lunaya.Sementara Karina terlihat jauh lebih gelisah. Dia tidak menyangka adiknya akan mengetahui rencana mereka secepat ini."Kak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Evano, menatap Karina tajam.Karina mengalihkan pandangan."Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."Evano tertawa kecil tanpa menunjukkan sedikit pun rasa geli."Tidak tahu?"Dia mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan tangkapan layar pesan yang diterima Lunaya."Kalau begitu, bagaimana kamu menjelaskan ini?"Karina terdiam. Lunaya yang berdiri di samping Evano akhirnya ikut berbicara."Kak Karina, seseorang mengirimiku pesan dan menyuruhku datang ke tempat ini. Dia mengatakan akan menunjukkan sesuatu tentang Evano."Karina menatap Lunaya."Aku tidak mengirim pesan apa pun kepadamu.""Aku tidak mengatakan Kakak yang mengirimnya."Lunaya menjawab dengan tenang."Tapi aku ingin tahu kenapa Kakak a

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 65 Rencana Gagal

    Pagi itu, Lunaya masih memikirkan pesan misterius yang diterimanya semalam.Dia duduk di ruang keluarga rumah Nenek Niar sambil memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut menyebutkan bahwa seseorang akan menunjukkan bukti mengenai rahasia yang disembunyikan Evano.Awalnya, Lunaya tidak berniat menanggapi pesan itu. Namun, setelah berbicara dengan Evano, dia mulai menyadari bahwa mereka harus mencari tahu siapa orang yang berada di balik semua ancaman tersebut.Terlebih, orang itu seolah mengetahui setiap pergerakan mereka.Tidak lama kemudian, Evano datang menghampirinya."Kamu masih memikirkan pesan itu?" tanyanya.Lunaya mengangguk."Aku penasaran siapa yang mengirimnya."Evano duduk di sampingnya."Aku juga."Lunaya menatap pria itu."Kalau kita terus menunggu, bagaimana kalau mereka justru melakukan sesuatu kepada Nenek Niar?"Ekspresi Evano berubah serius."Itu sebabnya aku ingin menyelesaikan masalah ini."Lunaya terdiam sejenak.Kemudian dia mengangkat ponselnya."Bagaimana kal

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 64 Pesan Tersembunyi

    Lunaya masih memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut membuat pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.Apa yang sebenarnya disembunyikan Evano darimu?Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Namun kali ini Lunaya tidak berniat menyelidikinya sendirian. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mencari Evano. Tidak butuh waktu lama sampai dia menemukannya di ruang kerja.Evano sedang berbicara melalui telepon ketika Lunaya muncul di depan pintu. Tatapan Evano langsung tertuju kepadanya.Dia menyelesaikan pembicaraan singkatnya, lalu meletakkan ponsel."Ada apa?"Lunaya berjalan mendekat."Aku mendapat pesan lagi."Ekspresi Evano langsung berubah."Dari nomor yang sama?""Bukan."Lunaya menyerahkan ponselnya kepada Evano untuk memberitahu apa yang dia lihat. Evano membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. "Aku sudah bilang, jangan pernah datang sendiri.""Aku tahu."Lunaya duduk di hadapannya. Dia tahu kalau orang itu pasti merencanakan sesuatu. Dia tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status