ログインHujan masih turun membasahi kota sejak sore tadi. Di sebuah rumah sakit swasta yang mewah, Edward duduk di samping ranjang pasien sambil menatap layar ponselnya.Wajah tampannya terlihat tenang, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Di atas ranjang, Selena berbaring dengan perban kecil melilit pergelangan tangannya. Dia senang karena Edward lebih perhatian pada dirinya. "Edward, sebenarnya kamu tidak perlu menemaniku terus seperti ini," ucap Selena dengan suara lembut. Edward mengangkat pandangannya. "Kondisimu belum stabil." Selena tersenyum tipis, dia senang karena Edward mau menemani dirinya di sini sepanjang malam. Dia menggunakan kesempatan ini agar bisa lebih dekat dengan dirinya. "Hanya luka ringan. Dokter bahkan sudah memperbolehkanku pulang besok." Edward tidak menjawab. Pria itu kembali menatap layar ponselnya yang berkali-kali menyala. Ada puluhan pesan yang masuk. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya. Yang membuatnya diam adalah satu pesan dari rumah sakit tempat Lunaya dirawat. [Kondisi Nyonya Lunaya menurun. Mohon keluarga segera datang.] Edward membaca pesan itu selama beberapa detik. Lalu mengunci layar ponselnya kembali. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Dia nampak biasa saja, dia juga tidak cemas sama sekali ketika mengetahui kalau Lunaya tengah sakit. Dia tidak peduli sama sekali dengan wanita itu. Dia sudah mengajukan perceraian, tetapi Lunaya selalu menolaknya dan tidak mau. Melihat sikap Edward, Selena menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum yang muncul di bibirnya. "Apa itu tentang Kak Lunaya?" tanyanya pura-pura khawatir. Edward mengangguk singkat. "Rumah sakit menghubungiku." "Kalau begitu sebaiknya kamu pergi menemuinya." Perkataan Selena terdengar tulus, tetapi jauh di dalam hatinya, ia berharap Edward tetap berada di sini. Edward menggeleng pelan. Dia tidak mau datang ke rumah sakit tersebut, lagian dia yakin kalau Lunaya hanya akting saja. "Aku sudah mengirim asistenkku." Jantung Selena berdebar senang, karena artinya Edward memilih dirinya. Namun ia tetap memasang wajah sedih untuk tidak membuat Edward khawatir. "Kondisinya pasti serius. Bukankah seharusnya seorang suami berada di samping istrinya?" Edward terdiam cukup lama. Entah mengapa pertanyaan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak. Tetapi perasaan itu segera ia abaikan. Selama ini Lunaya selalu baik-baik saja. Wanita itu selalu kuat. Selalu mampu mengurus dirinya sendiri. Dia yakin kalau Lunaya tidak memerlukan dirinya. Lagipula, setiap kali ia tidak pulang ke rumah, Lunaya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Maka kali ini pun pasti sama. "Aku akan datang nanti," jawab Edward akhirnya. "Nanti?" Edward mengangguk. Selena tersenyum tipis. Jawaban itu sudah cukup. Karena ia tahu arti kata "nanti" bagi Edward. **** Sementara itu, di rumah sakit tempat Lunaya dirawat. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius. Terlebih kondisi wanita itu kini kian menurun. "Kondisinya semakin kritis." Perawat yang berdiri di sampingnya tampak cemas. Apalagi melihat kondisi Lunaya sekarang. Tidak ada orang yang bahkan menemani dirinya dalam kondisi seperti ini. "Apakah suaminya sudah dihubungi?" tanya dokter tersebut memastikan. "Kami sudah mencoba berkali-kali," jawab Perawat tersebut. Dia sudah menghubungi suaminya Lunaya, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Ini yang membuat perawat itu malah merasa iba dan kasian. "Bagaimana jawabannya?" Dokter menghela napas panjang. "Tidak ada." Mereka saling berpandangan dengan pandangan yang kasian. Sulit dipercaya bahwa seorang suami tidak datang ketika istrinya berada di ambang kematian. Apalagi Lunaya sudah dirawat cukup lama. Namun selama itu pula, Edward hampir tidak pernah terlihat. Beberapa perawat bahkan tidak tahu seperti apa wajah suami wanita malang itu. "Kasian sekali nasibnya." Mereka hanya sering mendengar Lunaya menyebut nama Edward sambil menunggu dengan penuh harapan. Harapan yang tak pernah menjadi kenyataan. *** Di rumah sakit lain. Selena memegang lengan Edward dengan begitu sangat mesra seolah mereka adalah pasangan yang tidak pernah dipisahkan. "Aku lapar." "Aku akan membelikan makanan." "Mau ditemani." Edward mengangguk tanpa berpikir panjang. Dia menuruti keinginan dari Selena. "Baik." Mereka pun berjalan keluar kamar bersama. Saat melewati koridor, ponsel Edward kembali bergetar. Nomor rumah sakit Lunaya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar tersebut. Kemudian... Dia menekan tombol diam. Panggilan itu berhenti. Edward memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. "Ayo." Selena tersenyum puas. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan koridor rumah sakit. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa di tempat lain, seseorang sedang berjuang mempertahankan hidupnya seorang diri. *** Malam semakin larut. Lampu kota terlihat berkilauan di balik jendela kamar perawatan Lunaya. Wanita itu membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong menatap langit-langit. Tubuhnya terasa semakin dingin. Dia kembali melirik ke arah pintu. "Kamu tidak mau datang, Edward," gumam Lunaya ditengah kesakitan yang dia rasakan. Lunaya tersenyum pahit mengingat semua yang dia lakukan untuk Edward semuanya sia-sia. Bahkan di sisa akhir hidupnya, pria itu tidak datang sama sekali. Air mata mengalir membasahi pelipisnya. Untuk apa perjuangan dirinya selama ini. Kalau pada akhirnya Edward lebih memilih wanita yang dia cintai. Harusnya dia lebih sadar atas semuanya. Bukan karena sakit. Melainkan karena kenyataan yang akhirnya harus dia terima. Di hati Edward... Dirinya tidak pernah benar-benar memiliki tempat. Dan malam itu, harapan terakhir yang selama ini ia pertahankan perlahan mulai mati bersama perasaannya. "Kamu jahat Edward, aku bersumpah aku membencimu selamanya." BERSAMBUNGEdward dibuat kesal karena Lunaya malah memilih pergi dengan begitu saja di hari pernikahan dirinya, bahkan di saat semua tamu undangan yang sudah hadir. Desi kembali menghampiri anaknya. "Bagaimana ini nak?" tanya Desi pada Edward. Edward juga frustasi karena Lunaya sudah pergi dengan begitu saja. Dia langsung berteriak pada semua tamu undangan yang datang. "Pergi kalian semuanya!"Edward mengusir orang-orang yang ada di sini. Memang sedikit meresahkan dan dia tidak tahu harus berbuat apa setelah ini. Para tamu berbisik dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Edward lelah memikirkan Lunaya yang pergi dengan begitu saja. Sedangkan Desi menyimpan dendam pada wanita itu. Dia pasti akan membalaskan dendamnya nanti. Sementara tidak jauh dari sana, Selena tersenyum dengan penuh kemenangan, dia tidak melakukan apapun untuk menggagalkan pernikahan ini, tetapi wanita seperti Selena sudah lebih dulu pergi. "Bagus sekali, wanita itu sudah pergi tanpa aku usir," gumam Selena.
Lunaya keluar dari gedung acara pernikahan dirinya dengan Edward, dia merasa muak karena harus berada di rumah itu terus. Dia berjalan menuju kearah luar, sampai tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti dihadapannya. "Nona Lunaya?" tanya supir tersebut yang tiba-tiba turun. Lunaya menaikan sebelah alisnya heran, sebuah mobil berwarna hitam mewah turun di hadapannya. "Iya, saya?" tunjuknya pada diri sendiri. "Silakan masuk ke dalam."Lunaya tengah menimbang perkataan dari orang tersebut, apa maksudnya orang itu menyuruh dirinya masuk ke dalam mobil mewah itu. Ada rasa khawatir dalam diri Lunaya sekarang. Takut ini semuanya hanya sebuah jebakan saja. Tetapi kemudian ada suara batuk dari dalam mobil, seorang memberikan tanda kalau di dalam sana ada orang. "Siapa?" tanya Lunaya tanpa sadar. "Tuan Evano."Lunaya membulatkan matanya ketika mendengar nama tersebut, dia tidak salah dengar bukan? Orang yang di dalam mobil tersebut adalah Evano. Lunaya hendak akan bertanya kembali, tet
Edward dibuat frustasi, bagaimana mungkin kalau Lunaya tiba-tiba berubah pikiran. Dia yakin kalau sudah terjadi sesuatu dengan Lunaya sampai wanita itu ingin membatalkan pernikahan itu. Edward kembali keluar dari kamar Lunaya, dia tengah memikirkan alasan sebenarnya Lunaya ingin membatalkan pernikahan. Sampai Selana datang menghampiri Edward. "Bagaimana Kak Edward?"Edward yang memang tengah dilanda emosi pun akhirnya dia langsung mencekik leher Lunaya. Dia menatap wanita itu dengan sedikit tajam. "Kak.. le..pas.."Edward menatap tajam Selena. "Kamu pasti yang sudah mengancam Lunaya dan menyuruh dia membatalkan pernikahan ini!""Tid...dak...""Jangan berbohong!"Edward sampai mengeraskan cekikan itu dengan keras, sampai membuat Selena hampiri kehabisan napas. Membuat dia ingin berbatuk. "Tid..dak lepas."Edward menyadari kalau Selena hampir kehabisan napas, dia langsung melepaskan cekikan tersebut. Selena bernapas lega, dia juga terkejut dengan Edward yang tiba-tiba mencekik diri
Selena berjalan cepat meninggalkan kamar Lunaya. Dia masih belum percaya dengan perkataan Lunaya tadi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyum khawatir yang sejak tadi ia tunjukkan langsung menghilang.Digantikan oleh tatapan penuh perhitungan.Jujur saja, dia juga terkejut mendengar Lunaya ingin membatalkan pernikahan.Namun setelah keterkejutannya mereda, ia justru melihat sebuah kesempatan."Ada apa dengan perempuan itu sebenarnya?" gumam Selana. Kalau pernikahan itu batal, bukankah itu berarti Edward akan kembali bebas? Meski begitu, Selena tetap harus berhati-hati.Dia tidak boleh terlihat senang.Karena selama ini citra yang ia bangun adalah seorang sahabat yang selalu mendukung hubungan Lunaya dan Edward.Dengan langkah cepat, ia menuju ruang tunggu khusus pengantin pria.Tak lama kemudian, ia menemukan Edward yang sedang berbicara dengan beberapa kerabat."Kak Edward."Edward menoleh kearah belakang di mana Selena masuk ke dalam kamarnya. Tapi kali ini terlihat berbeda,
Tok... tok... tok...Suara dari ketukan pintu kembali terdengar. Lunaya yang masih berdiri di depan cermin mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Siapa orang yang mengetuk pintu tersebut. "Masuk," ucapnya tenang.Pintu perlahan terbuka. Sesosok wanita masuk dengan gaun berwarna pastel yang terlihat anggun. Senyum manis menghiasi wajahnya, membuat siapa pun yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah orang yang baik dan tulus."Selena."Mata Lunaya langsung menyipit tipis.Jika ini adalah dirinya yang dulu, mungkin ia akan langsung tersenyum bahagia melihat kedatangan wanita itu.Bagaimanapun, selama bertahun-tahun Selena berhasil memainkan perannya dengan sempurna.Berpura-pura menjadi sahabat yang peduli.Berpura-pura mendukung hubungan Lunaya dan Edward. Berpura-pura tidak memiliki perasaan apa pun terhadap pria itu.Padahal kenyataannya?Selena adalah orang yang perlahan-lahan menghancurkan rumah tangganya."Ka Lunaya!"Selena berjalan mendekat dengan wajah ceria. Dia melihat ke
Gelap.Semuanya terasa gelap dan hening.Lunaya tidak lagi mendengar suara hujan di pemakaman. Tidak ada suara orang-orang yang berbisik membicarakan kematiannya. Tidak ada pula sosok Evano yang berdiri di depan makamnya dengan tatapan penuh kesedihan.Yang ada hanyalah kehampaan.Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang tanpa tujuan. "Jadi... ini akhirnya?"Lunaya memejamkan mata. Mungkin beginilah rasanya setelah kematian. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi penantian yang sia-sia.Namun tiba-tiba, Sebuah cahaya terang menyilaukan matanya. Lunaya refleks mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya.Kepalanya terasa berdenyut hebat.Seperti ada ribuan kenangan yang berputar sekaligus di dalam pikirannya.Kemudian Lunaya merasakan sesuatu yang hangat, Lembut. Rasanya seperti nyata.Perlahan, Lunaya membuka matanya.Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya. Dia berkedip beberapa kali. Napasnya tertahan.Ruangan ini...Kenapa terasa begitu fam







