แชร์

Bab 5 Kembali Ke Hari Itu

ผู้เขียน: Manila Z
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-22 09:59:55

Gelap.

Semuanya terasa gelap dan hening.

Lunaya tidak lagi mendengar suara hujan di pemakaman. Tidak ada suara orang-orang yang berbisik membicarakan kematiannya. Tidak ada pula sosok Evano yang berdiri di depan makamnya dengan tatapan penuh kesedihan.

Yang ada hanyalah kehampaan.

Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang tanpa tujuan.

"Jadi... ini akhirnya?"

Lunaya memejamkan mata. Mungkin beginilah rasanya setelah kematian. Tidak ada lagi rasa sakit.  Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi penantian yang sia-sia.

Namun tiba-tiba, Sebuah cahaya terang menyilaukan matanya. Lunaya refleks mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya.

Kepalanya terasa berdenyut hebat.

Seperti ada ribuan kenangan yang berputar sekaligus di dalam pikirannya.

Kemudian Lunaya merasakan sesuatu yang hangat, Lembut. Rasanya seperti nyata.

Perlahan, Lunaya membuka matanya.

Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya. Dia berkedip beberapa kali. Napasnya tertahan.

Ruangan ini...

Kenapa terasa begitu familiar?

Lunaya segera bangkit dari tempat tidur. Rasanya ada hal yang aneh dan dia melihat ke sekelilingnya.

Jantungnya berdetak cepat.

Dia menatap sekeliling dengan kebingungan. Kamar yang luas. Dinding berwarna krem. Lemari besar di sudut ruangan. Dan dekorasi bunga mawar putih yang menghiasi setiap sisi kamar.

Tubuh Lunaya membeku, dia tidak percaya sama sekali dengan apa yang dia lihat sekarang. Antara percaya dan tidak percaya sama sekali.

"Ini tidak mungkin."

Tangannya gemetar saat menyentuh seprai tempat tidur. Matanya membelalak. Ia mengenal ruangan ini.

Sangat mengenalnya. Karena ruangan inilah yang menjadi saksi malam pertama pernikahannya dengan Edward.

"Mustahil..." ujar Lunaya bergetar.

Ia segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju meja rias.

Saat melihat bayangannya di cermin, napasnya langsung tercekat.

Wanita yang menatap balik ke arahnya bukanlah dirinya yang sakit dan kurus.

Bukan pula dirinya yang terbaring sekarat di rumah sakit. Melainkan Lunaya yang masih muda. Wajahnya masih segar. Kulitnya masih cerah. Tidak ada bekas penderitaan bertahun-tahun yang dulu menghancurkan hidupnya. Tangannya perlahan menyentuh wajahnya sendiri.

"Apa yang terjadi?" gumam Lunaya.

Lunaya mundur beberapa langkah.

Pikirannya kacau. Bukankah dia sudah mati? Bukankah ia baru saja melihat pemakamannya sendiri? Lalu kenapa sekarang dirinya berada di sini?.

Di kamar pengantin yang seharusnya hanya ada dalam kenangan? Tiba-tiba pandangannya tertuju pada kalender yang tergantung di dinding. Tubuhnya langsung membeku.

Dia melihat dengan seksama, hari, tanggal, bulan dan tahun. Rasanya tidak percaya kalau dia akan kembali ke hari itu.

Semuanya menunjukkan satu kenyataan yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir. Hari ini adalah hari pernikahannya. Hari ketika ia menikah dengan Edward Mahendra.

"Tidak mungkin..."

Lunaya menggeleng berulang kali. Namun kalender itu tidak berubah. Tanggalnya tetap sama. Tanggal yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

Tangannya mulai bergetar hebat. Dia buru-buru membuka laci meja dan mengambil ponsel.

Saat layar menyala, tanggal yang sama kembali terpampang jelas.Tidak ada kesalahan. Tidak ada kebetulan. Dia benar-benar kembali ke masa lalu.

Brak!

Ponsel itu jatuh dari genggamannya.

Lunaya terduduk lemas di lantai. Air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan.

Namun kali ini bukan karena kesedihan. Melainkan karena keterkejutan, bagaimana mungkin dia bisa kembali ke masa ini?

Dia hidup kembali. Dia benar-benar hidup kembali.Semua kenangan dari kehidupan sebelumnya masih tersimpan jelas di dalam pikirannya. Malam-malam yang dipenuhi tangisan.

"Aku masih ingat dengan semua penghianatan, Edward tidak datang ke rumah sakit, dia lebih memilih Selena. Hari di mana aku sakit dan aku tidak mau mengulangi itu."

Semuanya masih terasa nyata. Seolah baru terjadi kemarin. Lunaya memeluk tubuhnya sendiri. Dadanya naik turun dengan cepat.

"Kenapa aku kembali?"

Tidak ada yang menjawab.

Ruangan itu tetap sunyi. Namun semakin lama, pikirannya mulai tenang. Dia mengingat satu per satu kejadian yang akan terjadi setelah hari ini.

Pernikahannya dengan Edward. Tahun-tahun penuh penderitaan. Sampai kematiannya yang menyedihkan.

Dan untuk pertama kalinya, Lunaya merasakan ketakutan yang luar biasa. Karena ia tahu persis bagaimana masa depannya akan berakhir jika tetap memilih jalan yang sama.

"Tidak."

Lunaya menggeleng kuat. Matanya yang semula dipenuhi kebingungan perlahan berubah tegas.

Dia sudah pernah menjalani kehidupan itu.

Dan hasilnya adalah kematian yang menyedihkan. Dia tidak akan mengulanginya lagi.

"Aku tidak ingin mengulanginya lagi," batin Lunaya.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari balik pintu.

Tok... tok... tok...

"Nona Lunaya?"

Suara seorang pelayan terdengar dari luar. Dia berjalan menuju kearah Lunaya.

"Apakah Anda sudah bangun? Sebentar lagi acara pernikahan akan dimulai."

Tubuh Lunaya langsung menegang. Dia terbangun kembali di hari pernikahan dirinya dengan Edward. Tetapi kali ini Lunaya tidak mau mengulangi kesalahannya kembali. Dia harus bisa memperbaiki semuanya.

"Aku harus segara membatalkan pernikahan ini," gumam Lunaya.

Lunaya mengepalkan kedua tangannya. Ingatan tentang Edward kembali muncul di benaknya.

Pria yang dia cintai setengah mati. Pria yang dia perjuangkan selama bertahun-tahun.

Pria yang bahkan tidak datang ketika dirinya sekarat. Perlahan, air mata di pipinya mengering.

Digantikan oleh tatapan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tatapan seorang wanita yang telah mati sekali.

Dan tidak berniat mati dengan cara yang sama untuk kedua kalinya. Lunaya berdiri.

Kemudian menatap bayangannya di cermin. Melihat dirinya yang memang lebih muda dari yang dulu. Dia kembali ke hari pernikahan dirinya dengan Edward. Dia tidak akan mengambil keputusan yang salah lagi. Cukup rasa sakit yang dia rasakan dulu. Kali ini dia tidak akan mau mengulangi lagi.

"Hidup ini memberiku kesempatan lagi."

Bibirnya membentuk senyum tipis. Namun kali ini tidak ada cinta di dalamnya ketika mengingat Edward. Yang ada hanyalah tekad.

Tekad untuk mengubah semuanya.

"Aku tidak akan menikah dengan Edward."

Matanya berkilat penuh keyakinan.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Di luar kamar, suara para tamu mulai terdengar. Pernikahan besar itu akan segera dimulai.

Tetapi mereka tidak tahu. Hari ini takdir telah berubah. Dan Lunaya pun telah kembali untuk menulis ulang kisah hidupnya sendiri.

"Kita lihat saja Edward, aku akan membalaskan semuanya."

BERSAMBUNG

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 22 Pamitan Pulang

    Malam semakin larut. Setelah cukup lama berbincang dan menghabiskan waktu bersama Nenek Niar, akhirnya Lunaya dan Evano memutuskan untuk berpamitan."Nenek kita pamit dulu yah."Nenek Niar menatap keduanya dengan wajah sedikit kecewa."Padahal aku ingin kalian lebih lama di sini," ujarnya dengan tulus.Lunaya tersenyum lembut. Dia kemudian menghampiri Nenek Niar dan memeluk wanita tersebut dengan erat."Kapan-kapan aku pasti akan datang ke sini."Nenek Niar membalas pelukan Lunaya."Janji yah.""Iya Nek, aku janji."Lunaya berkata dengan jujur kali ini.Entah kenapa, setelah kembali bertemu dengan Nenek Niar, ada perasaan nyaman yang sulit dijelaskan. Wanita itu sudah seperti nenek kandungnya sendiri.Mungkin setelah ini Lunaya memang akan sering datang ke rumah tersebut.Bukan hanya untuk menemui Evano.Tetapi juga karena dia ingin kembali merasakan kehangatan yang selama ini dia rindukan."Yaudah kalau begitu, kita pamit dulu yah Nek, nanti aku pasti akan ke sini lagi," kata Evano s

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 21 Membuat Kue Pukis

    Beberapa menit kemudian, Nenek Niar kembali dari dapur sambil membawa sebuah nampan. Aroma manis yang khas langsung memenuhi ruangan.Di atas nampan itu terdapat beberapa kue pukis yang masih terlihat hangat."Nah, ini dia. Nenek buatkan khusus untuk kalian."Lunaya langsung tersenyum lebar, akhirnya dia bisa merasakan kue pukis lagi. "Terima kasih, Nek."Nenek Niar meletakkan nampan tersebut di atas meja.Lunaya langsung mengambil satu potong kue pukis. Dia meniupnya sebentar sebelum menggigit bagian ujungnya.Begitu rasa lembut dan manis itu memenuhi mulutnya, ekspresi wajah Lunaya langsung berubah senang."Masih sama."Nenek Niar tersenyum."Masih sama bagaimana?""Rasanya. Dulu aku sering makan kue pukis buatan Nenek, dan ternyata sampai sekarang rasanya masih sama."Lunaya tersenyum penuh nostalgia, dia mengingat dulu Nenek tersebut selalu datang ke rumahnya sambil membawa kue ini. "Enak sekali."Nenek Niar terlihat senang mendengarnya. "Kalau begitu, makan yang banyak."Evano

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 20 Datang Ke Suatu Tempat

    Lunaya menaikkan sebelah alisnya dengan heran ketika mobil yang dikendarai Evano berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sangat minimalis.Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman. Halamannya dihiasi beberapa tanaman kecil, sementara lampu teras memberikan kesan hangat di malam hari.Namun ada sesuatu yang membuat Lunaya merasa tidak asing.Dia memperhatikan rumah itu beberapa saat."Sepertinya aku pernah melihat rumah ini...""Kita sudah sampai," jawab Evano yang kini melepaskan sabuk pengaman miliknya.Lunaya langsung menoleh. "Sampai?"Evano mengangguk. "Tapi kita di mana?" tanya Lunaya yang merasa asing dengan lokasi tempat ini. Evano hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.Lunaya semakin heran."Evano, kamu membawaku ke mana?""Turun dulu.""Kenapa kamu tidak menjawab?" dengus Lunaya kesal karena sedari tadi pria itu tidak menjawab pertanyaan dia sama sekali. "Karena kalau aku jawab, kejutan ini tidak akan menjadi kejutan."Lunaya menghela napas."Dasar."E

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 19 Edward Memarahi Selena

    Selena mengepalkan tangannya, dia kesal karena Lunaya justru malah terlihat bahagia bersama dengan Evano. Harusnya wanita itu meratapi dirinya sendiri karena sudah meninggalkan Edward. "Sialan Lunaya," umpatnya dengan kesal. Sampai tiba-tiba ada yang menarik tangan Selena. Dia menoleh kearah orang tersebut dengan tenang. "Kenapa?" tanya Selena. "Kamu tadi berbicara dengan Lunaya?" tanya Edward dengan tatapan mata yang begitu tajam. Selena hanya mengangguk dengan santai. "Aku hanya menyapa dia saja.""Kamu hanya menyapa dia? Sedangkan tadi kamu malah melarang aku untuk menghampiri dia?" umpat Edward dengan kesal. Selena paham dengan sikap Edward sekarang, pria itu tengah marah karena dia melarang untuk berbicara dengan Lunaya. "Kamu tenang dulu, okeh. Aku melarang itu karena aku khawatir, kamu tidak bisa mengontrol emosi kamu sendiri."Edward mencengkeram leher Selena dengan keras. Selena terkejut. Senyum tenang yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika menghilang."Edward..."

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 18 Selena Menghampiri Lunaya

    Acara malam itu akhirnya mulai memasuki penghujung.Beberapa tamu sudah meninggalkan ruangan, sementara sebagian lainnya masih berbincang di sekitar meja masing-masing.Lunaya berdiri di samping Evano sambil sesekali melirik pria tersebut.Sejak tadi, dia masih memikirkan perkataan Evano.Setelah acara ini selesai, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.Entah kenapa, rasa penasaran itu semakin besar."Jadi, sekarang kita pergi?" tanya Lunaya akhirnya.Evano yang sedang berbicara dengan salah satu rekannya langsung menoleh."Iya.""Memangnya kita mau ke mana?" tanya Lunaya merasa penasaran. Evano hanya tersenyum dengan penuh arti, dia hanya ingin menghibur Lunaya saja. "Nanti kamu tahu."Lunaya mengerutkan kening, seperti ada yang disembunyikan oleh Evano. Ke mana pria itu akan membawa dirinya? "Kamu sengaja membuatku penasaran, ya?""Mungkin."Lunaya mendengus kecil ketika Evano tidak memberitahu dirinya. "Dasar."Evano tertawa pelan melihat ekspresi wajah dari Lunaya yang begitu s

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 17 Merasa Tidak Nyaman

    "Oh, hai salam kenal."Pria itu menjabat tangan Lunaya dengan ramah. Ada rasa terkejut ketika seorang Evano yang biasa datang sendiri, kini membawa seorang perempuan. "Salam kenal," balas Lunaya sambil tersenyum."Jadi ini wanita yang belakangan ini ramai dibicarakan?" tanya pria tersebut yang sudah menonton sebuah berita. Lunaya sempat terdiam.Namun sebelum dia sempat menjawab, Evano sudah lebih dulu angkat bicara."Jangan dengarkan apa yang orang-orang katakan."Nada suara Evano terdengar santai, tetapi cukup tegas."Yang penting, saya tahu siapa Lunaya."Lunaya menoleh kepada pria di sampingnya. Entah kenapa, kalimat sederhana itu kembali membuat dadanya terasa hangat.Pria yang tadi menyambut mereka tersenyum."Tenang saja. Saya tidak bermaksud menyinggung."Dia kemudian mempersilakan mereka duduk."Silakan duduk. Acara sebentar lagi dimulai."Evano menarik kursi untuk Lunaya."Hati-hati.""Terima kasih."Lunaya duduk, kemudian Evano mengambil tempat tepat di sebelahnya.Bebera

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status