LOGINMalam semakin larut.
Hujan yang sejak sore mengguyur kota masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Suara rintikannya terdengar samar dari balik jendela kamar rumah sakit. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma obat-obatan itu, Lunaya berbaring sendirian. Tidak ada yang menemani. Tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya. Tidak ada suara yang menenangkannya. Hanya kesunyian yang menjadi teman terakhirnya. Mata Lunaya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Napasnya terdengar semakin berat dari waktu ke waktu. Mesin monitor di samping ranjang mulai mengeluarkan bunyi yang tidak beraturan. Namun wanita itu sudah tidak terlalu memedulikannya. Tubuhnya memang terasa sakit. Tetapi rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa. Perlahan, dia menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang. Di sana masih tergeletak cincin pernikahannya. Cincin yang selama bertahun-tahun ia jaga seolah benda itu adalah simbol kebahagiaannya. Padahal sekarang ia sadar. Semua itu hanyalah kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Lunaya tersenyum tipis. Senyuman yang dipenuhi kepahitan. "Aku benar-benar bodoh..." bisiknya lirih. Matanya mulai terasa panas. Air mata kembali mengalir tanpa bisa dihentikan. Dia benar-benar membenci Edward. Lunaya teringat hari pertama bertemu Edward. Pria tampan yang berhasil membuat jantungnya berdebar hanya dengan sekali pandang. Saat itu Lunaya percaya bahwa cintanya akan membawa kebahagiaan. Lunaya percaya bahwa jika dirinya cukup tulus, Edward suatu hari nanti akan membalas perasaannya. Lunaya tetap memilih bertahan. Namun kini, ketika ajal sudah berada di depan mata, Lunaya akhirnya memahami satu hal. "Lihat aku sekarang..." gumamnya. Suara itu hampir tidak terdengar. "Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk seseorang yang bahkan tidak datang ketika aku sekarat." Dadanya terasa sesak. Bukan karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Melainkan karena kenyataan yang begitu kejam. Sampai akhir hidupnya... Edward tetap memilih orang lain.Pintu kamar perlahan terbuka. Seorang dokter dan dua perawat masuk ke dalam. Mereka segera memeriksa kondisi Lunaya. Ekspresi mereka berubah serius. Tekanan darahnya terus menurun. Detak jantungnya semakin melemah. Dokter menatap wajah pucat wanita itu dengan rasa iba. "Nyonya Lunaya," panggil Dokter. Lunaya menoleh perlahan kepada Dokter yang menangani dirinya. "Ya, Dok?" "Apakah ada anggota keluarga yang ingin Anda hubungi?" Pertanyaan sederhana itu membuat hati Lunaya terasa perih. Tidak ada yang yang ingin dia hubungi, suami pun bahkan tidak peduli dengan dirinya sama sekali. Dia malah lebih memilih menjaga wanita lain. Itu yang membuat hatinya kembali sesak. Keluarga sudah tidak ada, Ayah dan ibunya sudah lama meninggal. Kerabat lainnya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Dan suaminya... Lunaya tersenyum pahit. "Tidak ada." Dokter terdiam. Perawat yang berdiri di sampingnya bahkan menundukkan kepala. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi wanita itu. Menghadapi kematian seorang diri. Tanpa siapa pun di sisi. Tanpa orang yang dicintai. Setelah dokter keluar, suasana kamar kembali sunyi. Lunaya memejamkan matanya perlahan. Ingatan demi ingatan mulai berputar di dalam kepalanya. Hari pernikahannya. Masa-masa ketika dirinya masih penuh harapan. Saat-saat dirinya menunggu Edward pulang hingga larut malam. Momen ketika dirinya memasak makanan favorit pria itu tetapi tidak pernah disentuh. Hari ulang tahunnya yang selalu dilupakan. Tangis yang dirinya sembunyikan di balik senyuman. Semuanya muncul silih berganti. Seolah hidupnya sedang diputar kembali untuk terakhir kalinya. Lalu... Di antara semua kenangan itu, muncul satu sosok yang selama ini jarang dia pikirkan. Evano. Pria dingin yang selalu terlihat jauh. Pria yang beberapa kali membantunya tanpa meminta balasan. Pria yang diam-diam selalu memperhatikannya. Lunaya masih ingat tatapan mata Evano ketika mereka bertemu beberapa bulan lalu. Tatapan yang saat itu tidak dia mengerti. Namun sekarang entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan dari Edward. Tatapan dengan penuh ketulusan, dengan perhatian yang dulu sebelum dia menikah dengan Edward. Dia baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat. "Seandainya..." bisiknya. Air mata mengalir semakin deras. "Seandainya aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya." Lunaya ingin memperbaiki hidupnya. dia ingin memilih jalan yang berbeda. dia ingin berhenti mengejar orang yang tidak pernah mencintainya. Namun hidup tidak berjalan seperti itu. Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Setidaknya itulah yang ia yakini. Bunyi monitor jantung mulai melemah. Garis-garis pada layar bergerak semakin lambat. Lunaya merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan. Rasa sakit perlahan menghilang. Anehnya, dia tidak lagi merasa takut. Mungkin karena dia sudah terlalu lelah. Sangat lelah. Perlahan, ia membuka matanya untuk terakhir kali. Pandangannya tertuju pada pintu kamar. Masih kosong, Edward tetap tidak datang. Hingga detik terakhir. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. "Jika ada kehidupan berikutnya..." Napasnya tersendat. "Aku tidak akan mencintaimu lagi, Edward." Kalimat itu menjadi penyesalan terakhir yang keluar dari bibirnya. Sesaat kemudian. Bunyi monitor berubah menjadi nada panjang yang nyaring. Niiiiiiiiing... Garis pada layar menjadi lurus. Tidak bergerak lagi. Lunaya mengembuskan napas terakhirnya. Seorang perawat menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangis. Dokter yang masuk beberapa saat kemudian hanya bisa menghela napas panjang. "Waktu kematian, pukul 23.47." Malam itu, seorang wanita yang telah menghabiskan hidupnya demi cinta yang salah akhirnya menutup mata untuk selamanya. Dengan hati yang penuh luka. Dengan penyesalan yang tidak sempat diperbaiki. BERSAMBUNGPukul tujuh lewat lima belas menit.Setelah menghabiskan makan malam, Evano mengantar Lunaya kembali ke rumahnya.Sepanjang perjalanan, mereka berbicara tentang hal-hal ringan. Evano bahkan sempat menggoda Lunaya karena wanita itu berkali-kali memeriksa ponselnya."Kamu sedang menunggu pesan dari seseorang?"Lunaya buru-buru mematikan layar ponselnya."Tidak.""Kalau begitu, kenapa kamu memeriksanya setiap beberapa menit?"Lunaya mengalihkan pandangan."Aku hanya melihat jam."Evano melirik jam digital pada dasbor mobil."Di depanmu ada jam."Lunaya terdiam.Evano terkekeh pelan."Kamu buruk sekali kalau berbohong.""Siapa yang berbohong?""Kamu.""Aku tidak berbohong!""Baiklah, baiklah." Evano mengangkat sebelah tangannya seolah menyerah. "Saya tidak akan mengganggumu lagi."Lunaya mendengus pelan.Meskipun sedan
Mobil Evano berhenti di depan sebuah restoran yang cukup terkenal di pusat kota.Lunaya yang sejak tadi memandangi jalanan di luar jendela akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia melihat Evano melepaskan sabuk pengaman, kemudian menoleh ke arahnya dengan senyum tipis."Sudah sampai. Kenapa kamu masih melamun?"Lunaya tersentak kecil."Aku tidak melamun."Evano mengangkat sebelah alisnya."Oh, ya? Lalu, kenapa sejak tadi kamu lebih tertarik melihat jalanan daripada berbicara dengan saya?"Lunaya mengerjapkan mata.Dia tidak menyangka Evano menyadari sikapnya yang berubah sepanjang perjalanan."Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.""Masih tentang hal yang tadi kamu katakan?"Lunaya terdiam sejenak sebelum mengangguk.Evano tidak langsung bertanya lebih jauh. Dia justru membuka pintu mobil, turun, lalu berjalan ke sisi Lunaya untuk membukakan pintu bagi wanita itu."Saya tidak akan memaksamu bercerita sekarang," katanya sambil mengulurkan tangan. "Tapi, setidaknya, izinkan saya menemanimu
Ponsel Karina yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Jangan biarkan Lunaya datang malam ini. Kalau dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kamu akan kehilangan semuanya. Karina membeku. Jari-jarinya bergetar ketika membaca pesan tersebut untuk kedua kalinya. Belum sempat dia membalas, sebuah pesan lain masuk. Kamu sudah membuat kesalahan dengan membiarkannya tahu terlalu banyak. Jangan membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Karina segera mengangkat kepala dan memandang ke arah pintu kafe. Dia berharap pria misterius tadi masih berada di sekitar tempat itu. Namun, jalanan di luar tampak biasa saja. Pria itu sudah pergi. Karina kembali menatap layar ponselnya. Napasnya mulai tidak teratur. Selama lima tahun, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian malam itu telah berlalu. Dia mengira
Lunaya masih menatap Karina dengan tatapan tidak percaya. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut wanita itu terus terngiang di telinganya.Seseorang yang selama ini kami kira sudah meninggal."Apa maksudnya?"Siapa orang yang dimaksud Karina? Mengapa keberadaan orang itu begitu penting hingga bisa mengguncang semua kepercayaan yang selama ini mereka miliki?Lunaya menarik napas perlahan, berusaha mengendalikan pikirannya yang mulai dipenuhi berbagai kemungkinan."Karina, aku ingin kamu menjelaskan semuanya kepadaku."Karina menggeleng pelan. Wajahnya terlihat semakin pucat, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja."Aku tidak bisa.""Kenapa?" Lunaya menatapnya lekat-lekat. "Kamu sendiri yang mengatakan bahwa selama lima tahun ini kalian mempercayai kebohongan. Sekarang, setelah kamu mengatakan hal seperti itu, bagaimana mungkin kamu memintaku untuk tidak bertanya?""Aku bukan tid
Sore harinya, Karina duduk sendirian di sebuah kafe yang cukup sepi.Sejak datang, dia terus memeriksa jam tangannya. Beberapa kali, dia bahkan menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang yang mengikuti atau mengawasinya.Di atas meja, secangkir kopi yang dipesannya sudah mulai dingin.Karina tidak benar-benar berniat menemui Lunaya. Namun, setelah menerima pesan dari wanita itu, dia menyadari bahwa membiarkan Lunaya mencari tahu sendiri justru akan membuat keadaan semakin berbahaya.Setidaknya, dia harus memperingatkan Lunaya agar tidak mendatangi tempat yang sudah ditentukan orang misterius tersebut.Karina menarik napas panjang."Aku hanya perlu membuatnya menjauh," gumamnya.Dia tidak perlu menceritakan semuanya. Tidak perlu menyebutkan nama siapa pun.Dan yang terpenting, dia tidak boleh membiarkan Lunaya mengetahui bahwa dirinya sudah mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini dia akui kepada E
Pagi itu, Lunaya terbangun dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan.Sejak semalam, dia hampir tidak bisa tidur nyenyak. Pesan dari Karina dan orang misterius itu terus berputar di kepalanya, membuatnya kesulitan menentukan langkah yang harus diambil.Dia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponselnya. Alamat yang dikirimkan orang misterius itu masih tersimpan di sana.Dua orang yang sepertinya mengetahui rahasia yang sama memberikan arahan yang bertolak belakang.Lunaya menghela napas panjang."Apa sebenarnya yang terjadi lima tahun lalu?" gumamnya.Dia tidak ingin mengambil keputusan gegabah. Namun, semakin lama dia membiarkan semuanya tanpa jawaban, semakin besar pula kemungkinan orang-orang yang terlibat akan menghilangkan bukti.Lunaya kemudian teringat pada Evano.Pria itu sudah mengatakan bahwa dia ingin Lunaya menceritakan apa pun yang mengganggu pikirannya. Bahkan, Evano terlihat k







