Beranda / Romansa / Mengubah Takdir Lunaya / Bab 3 Nafas Terakhir Penuh Penyesalan

Share

Bab 3 Nafas Terakhir Penuh Penyesalan

Penulis: Manila Z
last update Tanggal publikasi: 2026-06-22 09:17:58

Malam semakin larut.

Hujan yang sejak sore mengguyur kota masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Suara rintikannya terdengar samar dari balik jendela kamar rumah sakit. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma obat-obatan itu, Lunaya berbaring sendirian.

Tidak ada yang menemani. Tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya.

Tidak ada suara yang menenangkannya. Hanya kesunyian yang menjadi teman terakhirnya.

Mata Lunaya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Napasnya terdengar semakin berat dari waktu ke waktu.

Mesin monitor di samping ranjang mulai mengeluarkan bunyi yang tidak beraturan. Namun wanita itu sudah tidak terlalu memedulikannya. Tubuhnya memang terasa sakit. Tetapi rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa.

Perlahan, dia menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang. Di sana masih tergeletak cincin pernikahannya.

Cincin yang selama bertahun-tahun ia jaga seolah benda itu adalah simbol kebahagiaannya. Padahal sekarang ia sadar. Semua itu hanyalah kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Lunaya tersenyum tipis.

Senyuman yang dipenuhi kepahitan.

"Aku benar-benar bodoh..." bisiknya lirih.

Matanya mulai terasa panas.

Air mata kembali mengalir tanpa bisa dihentikan. Dia benar-benar membenci Edward.

Lunaya teringat hari pertama bertemu Edward. Pria tampan yang berhasil membuat jantungnya berdebar hanya dengan sekali pandang.

Saat itu Lunaya percaya bahwa cintanya akan membawa kebahagiaan. Lunaya percaya bahwa jika dirinya cukup tulus, Edward suatu hari nanti akan membalas perasaannya.

Lunaya tetap memilih bertahan. Namun kini, ketika ajal sudah berada di depan mata, Lunaya akhirnya memahami satu hal.

"Lihat aku sekarang..." gumamnya.

Suara itu hampir tidak terdengar.

"Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk seseorang yang bahkan tidak datang ketika aku sekarat."

Dadanya terasa sesak. Bukan karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Melainkan karena kenyataan yang begitu kejam.

Sampai akhir hidupnya...

Edward tetap memilih orang lain.Pintu kamar perlahan terbuka. Seorang dokter dan dua perawat masuk ke dalam.

Mereka segera memeriksa kondisi Lunaya. Ekspresi mereka berubah serius. Tekanan darahnya terus menurun. Detak jantungnya semakin melemah. Dokter menatap wajah pucat wanita itu dengan rasa iba.

"Nyonya Lunaya," panggil Dokter.

Lunaya menoleh perlahan kepada Dokter yang menangani dirinya.

"Ya, Dok?"

"Apakah ada anggota keluarga yang ingin Anda hubungi?"

Pertanyaan sederhana itu membuat hati Lunaya terasa perih. Tidak ada yang yang ingin dia hubungi, suami pun bahkan tidak peduli dengan dirinya sama sekali. Dia malah lebih memilih menjaga wanita lain. Itu yang membuat hatinya kembali sesak.

Keluarga sudah tidak ada, Ayah dan ibunya sudah lama meninggal.

Kerabat lainnya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Dan suaminya...

Lunaya tersenyum pahit.

"Tidak ada."

Dokter terdiam.

Perawat yang berdiri di sampingnya bahkan menundukkan kepala. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi wanita itu.

Menghadapi kematian seorang diri. Tanpa siapa pun di sisi.

Tanpa orang yang dicintai. Setelah dokter keluar, suasana kamar kembali sunyi.

Lunaya memejamkan matanya perlahan. Ingatan demi ingatan mulai berputar di dalam kepalanya.

Hari pernikahannya. Masa-masa ketika dirinya masih penuh harapan. Saat-saat dirinya menunggu Edward pulang hingga larut malam. Momen ketika dirinya memasak makanan favorit pria itu tetapi tidak pernah disentuh.

Hari ulang tahunnya yang selalu dilupakan. Tangis yang dirinya sembunyikan di balik senyuman. Semuanya muncul silih berganti.

Seolah hidupnya sedang diputar kembali untuk terakhir kalinya.

Lalu...

Di antara semua kenangan itu, muncul satu sosok yang selama ini jarang dia pikirkan.

Evano.

Pria dingin yang selalu terlihat jauh.

Pria yang beberapa kali membantunya tanpa meminta balasan.

Pria yang diam-diam selalu memperhatikannya. Lunaya masih ingat tatapan mata Evano ketika mereka bertemu beberapa bulan lalu.

Tatapan yang saat itu tidak dia mengerti. Namun sekarang entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang berbeda di sana.

Sesuatu yang tidak pernah dia temukan dari Edward. Tatapan dengan penuh ketulusan, dengan perhatian yang dulu sebelum dia menikah dengan Edward.

Dia baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat.

"Seandainya..." bisiknya.

Air mata mengalir semakin deras.

"Seandainya aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya."

Lunaya ingin memperbaiki hidupnya. dia ingin memilih jalan yang berbeda. dia ingin berhenti mengejar orang yang tidak pernah mencintainya. Namun hidup tidak berjalan seperti itu.

Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Setidaknya itulah yang ia yakini. Bunyi monitor jantung mulai melemah. Garis-garis pada layar bergerak semakin lambat. Lunaya merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan.

Rasa sakit perlahan menghilang. Anehnya, dia tidak lagi merasa takut. Mungkin karena dia sudah terlalu lelah.

Sangat lelah. Perlahan, ia membuka matanya untuk terakhir kali. Pandangannya tertuju pada pintu kamar.

Masih kosong, Edward tetap tidak datang. Hingga detik terakhir. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.

"Jika ada kehidupan berikutnya..."

Napasnya tersendat.

"Aku tidak akan mencintaimu lagi, Edward."

Kalimat itu menjadi penyesalan terakhir yang keluar dari bibirnya. Sesaat kemudian. Bunyi monitor berubah menjadi nada panjang yang nyaring.

Niiiiiiiiing...

Garis pada layar menjadi lurus. Tidak bergerak lagi. Lunaya mengembuskan napas terakhirnya.

Seorang perawat menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangis.

Dokter yang masuk beberapa saat kemudian hanya bisa menghela napas panjang.

"Waktu kematian, pukul 23.47."

Malam itu, seorang wanita yang telah menghabiskan hidupnya demi cinta yang salah akhirnya menutup mata untuk selamanya.

Dengan hati yang penuh luka.

Dengan penyesalan yang tidak sempat diperbaiki.

BERSAMBUNG

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 69 Mulai Curiga

    Evano masih menatap foto di layar ponsel Lunaya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat kaku. Lunaya memperhatikan perubahan itu dengan saksama. "Evano?" Pria itu tidak menjawab. "Siapa dia?" Evano akhirnya mengangkat wajah. "Orang yang seharusnya sudah tidak ada." Lunaya mengernyit. "Maksudmu... dia sudah meninggal?" Evano mengangguk pelan. "Setidaknya, itu yang saya percaya selama ini." Lunaya kembali melihat foto tersebut. Pria itu berdiri beberapa langkah di belakang Evano dan Karina. Walaupun wajahnya dicoret, bentuk tubuh dan pakaiannya masih terlihat jelas. "Kalau dia sudah meninggal, bagaimana mungkin seseorang mengirim foto ini?" "Itulah masalahnya." Evano mengambil ponsel Lunaya dan memperbesar foto tersebut. Dia memperhatikan latar belakangnya.

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 68 Siapa Pria Itu?

    Lunaya masih menatap layar ponselnya. Sementara itu, Evano sama sekali tidak bergerak. Tatapannya terpaku pada pesan terakhir yang baru saja masuk. Tanyakan pada Karina tentang malam ketika Evano hampir kehilangan segalanya. Kalimat itu terus berputar di kepala Lunaya. "Apa maksudnya?" tanya Lunaya akhirnya. Evano mengalihkan pandangannya dari layar ponsel kepada Lunaya. "Tidak perlu dipikirkan sekarang." "Tapi kamu tahu sesuatu." Evano diam. Lunaya semakin yakin. "Kalau kamu tidak tahu, kamu pasti langsung bilang pesan ini tidak masuk akal." Evano menghela napas panjang. "Lunaya..." "Apa yang terjadi malam itu?" Evano memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. "Itu kejadian lama." "Seber

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 67 Lunaya Berjanji

    Mobil Evano akhirnya berhenti di depan rumah Lunaya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Evano lebih banyak diam, sementara Lunaya hanya menatap keluar jendela dengan pikiran yang masih berputar-putar.Pertemuan dengan Edward dan Karina tadi membuatnya sadar bahwa masalah yang selama ini berusaha ia hindari ternyata sudah mulai menyeret orang-orang di sekitarnya.Begitu mobil berhenti, Evano mematikan mesin. Namun, Lunaya tidak langsung turun.Tangannya masih menggenggam erat ponsel di atas pangkuannya. Evano meliriknya."Kamu masih memikirkan kejadian tadi?"Lunaya mengangguk pelan."Aku tidak menyangka mereka akan benar-benar menungguku di tempat itu."Evano menghela napas."Itulah alasan saya tidak ingin kamu pergi sendirian."Lunaya menoleh."Tapi kalau aku tidak pergi, kita tidak akan tahu siapa yang berada di balik semua ini."Evano terdiam. Dia memang tidak bisa menyangkal perkataan Lunaya.Beberapa saat kemudian, Lunaya akhirnya membuka pintu mobil. Namun seb

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 66 Edward Marah

    Edward masih berdiri di depan bangunan tua itu dengan wajah penuh amarah. Tatapannya bergantian mengarah kepada Evano dan Lunaya.Sementara Karina terlihat jauh lebih gelisah. Dia tidak menyangka adiknya akan mengetahui rencana mereka secepat ini."Kak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Evano, menatap Karina tajam.Karina mengalihkan pandangan."Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."Evano tertawa kecil tanpa menunjukkan sedikit pun rasa geli."Tidak tahu?"Dia mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan tangkapan layar pesan yang diterima Lunaya."Kalau begitu, bagaimana kamu menjelaskan ini?"Karina terdiam. Lunaya yang berdiri di samping Evano akhirnya ikut berbicara."Kak Karina, seseorang mengirimiku pesan dan menyuruhku datang ke tempat ini. Dia mengatakan akan menunjukkan sesuatu tentang Evano."Karina menatap Lunaya."Aku tidak mengirim pesan apa pun kepadamu.""Aku tidak mengatakan Kakak yang mengirimnya."Lunaya menjawab dengan tenang."Tapi aku ingin tahu kenapa Kakak a

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 65 Rencana Gagal

    Pagi itu, Lunaya masih memikirkan pesan misterius yang diterimanya semalam.Dia duduk di ruang keluarga rumah Nenek Niar sambil memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut menyebutkan bahwa seseorang akan menunjukkan bukti mengenai rahasia yang disembunyikan Evano.Awalnya, Lunaya tidak berniat menanggapi pesan itu. Namun, setelah berbicara dengan Evano, dia mulai menyadari bahwa mereka harus mencari tahu siapa orang yang berada di balik semua ancaman tersebut.Terlebih, orang itu seolah mengetahui setiap pergerakan mereka.Tidak lama kemudian, Evano datang menghampirinya."Kamu masih memikirkan pesan itu?" tanyanya.Lunaya mengangguk."Aku penasaran siapa yang mengirimnya."Evano duduk di sampingnya."Aku juga."Lunaya menatap pria itu."Kalau kita terus menunggu, bagaimana kalau mereka justru melakukan sesuatu kepada Nenek Niar?"Ekspresi Evano berubah serius."Itu sebabnya aku ingin menyelesaikan masalah ini."Lunaya terdiam sejenak.Kemudian dia mengangkat ponselnya."Bagaimana kal

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 64 Pesan Tersembunyi

    Lunaya masih memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut membuat pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.Apa yang sebenarnya disembunyikan Evano darimu?Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Namun kali ini Lunaya tidak berniat menyelidikinya sendirian. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mencari Evano. Tidak butuh waktu lama sampai dia menemukannya di ruang kerja.Evano sedang berbicara melalui telepon ketika Lunaya muncul di depan pintu. Tatapan Evano langsung tertuju kepadanya.Dia menyelesaikan pembicaraan singkatnya, lalu meletakkan ponsel."Ada apa?"Lunaya berjalan mendekat."Aku mendapat pesan lagi."Ekspresi Evano langsung berubah."Dari nomor yang sama?""Bukan."Lunaya menyerahkan ponselnya kepada Evano untuk memberitahu apa yang dia lihat. Evano membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. "Aku sudah bilang, jangan pernah datang sendiri.""Aku tahu."Lunaya duduk di hadapannya. Dia tahu kalau orang itu pasti merencanakan sesuatu. Dia tid

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status