Mag-log in
Suara mesin monitor berdetak pelan di dalam ruangan rumah sakit yang terasa begitu dingin. Seorang wanita bernama Lunaya berbaring lemah di atas ranjang pasien. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat. Setiap tarikan napas terasa seperti perjuangan yang menyakitkan.
Di luar jendela, hujan turun dengan deras, seolah langit ikut merasakan kesedihan yang selama ini ia pendam seorang diri. Perlahan, Lunaya menggerakkan kepalanya menoleh ke arah pintu kamar. "Dia tidak datang," lirihnya dengan pelan. Kosong, tidak ada siapa pun, tidak ada keluarga, tidak ada sahabat. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada suaminya. Orang yang selama ini dia harapkan kehadirannya. Bahkan di sisa akhir dirinya sekarang. Sudah lima hari ia dirawat di rumah sakit karena penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Namun selama itu pula, Edward tidak pernah datang menemuinya. Pria itu tidak peduli dengan keadaan dirinya sama sekali. Bibir Lunaya yang pucat membentuk senyum tipis penuh kepahitan. "Aku masih berharap..." gumamnya lirih. Padahal setelah semua yang terjadi, ia seharusnya sudah tahu. Harapan kepada Edward hanyalah sesuatu yang sia-sia. Ingatannya kembali melayang ke masa lalu. Hari pernikahan mereka. Hari yang dulu dia kira akan menjadi awal kebahagiaan. Saat itu Lunaya begitu mencintai Edward. Dia rela melakukan apa saja demi pria tersebut. Bahkan ketika mengetahui bahwa Edward tidak mencintainya, dia tetap bertahan. Dia berpikir suatu hari nanti ketulusannya akan meluluhkan hati pria itu. Namun kenyataan berkata lain. Bertahun-tahun sudah berlalu dan sikap Edward tidak pernah berubah sama sekali. Masih sama seperti dulu, tidak pernah peduli dengan keadaan dan kondisinya. Di mata pria itu, Lunaya hanyalah seorang istri yang keberadaannya tidak penting. Setiap kali Lunaya membutuhkan perhatian, Edward selalu sibuk. Setiap kali Lunaya ingin menghabiskan waktu bersama, Edward selalu memiliki alasan untuk pergi. Dan setiap kali Lunaya menangis diam-diam, pria itu tidak pernah mengetahuinya. Atau mungkin... Tidak pernah peduli. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Lunaya menutup kedua matanya perlahan. "Kenapa aku begitu bodoh?" bisiknya. Dulu banyak orang memperingatkannya. Bahkan ayahnya pernah berkata bahwa Edward bukan pria yang tepat. Namun Lunaya terlalu keras kepala. Terlalu mencintai. Sampai akhirnya cinta itu menghancurkan dirinya sendiri. Sekarang Lunaya malah menyesal telah mengenal Edward yang sama sekali tidak peduli dengan kondisi dirinya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Jantung Lunaya berdegup lebih cepat. Harapan yang hampir mati kembali muncul. "Edward..." Namun saat melihat sosok yang masuk, cahaya di matanya perlahan memudar. Ternyata itu bukan Edward yang datang menemui dirinya. Melainkan seorang perawat. "Malam, Nonya Lunaya." Perawat itu tersenyum lembut meski sorot matanya menyimpan rasa iba. Tidak ada seorang pun yang menjenguk wanita itu di rumah sakit. "Nyonya Lunaya, apakah ada yang Anda butuhkan?" tanya Perawat tersebut dengan sopan. Lunaya menggeleng pelan, dia tidak membutuhkan apapun. kecuali kehadiran suaminya. "Suami saya... belum datang?" tanyanya dengan suara lemah. Perawat itu tampak ragu. Sesaat kemudian ia menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Nyonya." Jawaban itu sudah cukup. Lunaya memahami semuanya. Edward tidak akan datang, pria itu tengah sibuk dengan sesuatu yang Lunaya sangat benci. Lunaya menoleh ke arah langit-langit kamar. Dadanya terasa semakin sesak. Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh kini tidak lagi seberapa dibandingkan luka yang selama ini ia simpan di dalam hati. Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja samping ranjang bergetar. Perawat segera mengambilnya. "Layar panggilan masuk, Nyonya." Mata Lunaya sedikit berbinar. "Mungkinkah Edward?" batin Lunaya senang. Dengan tangan gemetar, ia menerima panggilan itu. Namun suara yang terdengar justru membuat hatinya kembali hancur. "Bu Lunaya." Suara itu milik asisten Edward, ada rasa kecewa karena bukan Edward sendiri yang menghubunginya melainkan asistennya. "Pak Edward menyampaikan bahwa beliau tidak bisa datang hari ini." Tangan Lunaya langsung membeku. Asisten itu melanjutkan perkataannya. "Nona Selena mengalami kecelakaan kecil. Pak Edward sedang menemaninya di rumah sakit lain." Sunyi. Sangat sunyi. Lunaya tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ternyata Edward tidak bisa datang menemui dirinya di sini karena dia lebih memilih untuk bersama dengan Selena. Dirinya sedang berjuang antara hidup dan mati. Namun Edward memilih menemani wanita lain. Dadanya begitu sesak ketika suaminya sendiri malah lebih menemani Selena. Nama yang selama bertahun-tahun menjadi bayangan dalam rumah tangganya. Nama yang selalu menang dari dirinya. Perlahan, Lunaya memutus sambungan telepon. Tangannya jatuh lemas ke atas ranjang. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Kini tidak ada lagi yang perlu dia harapkan. Tidak ada lagi yang perlu dia tunggu. Hatinya sudah terlalu lelah. Sangat lelah. Lunaya menatap cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya. Cincin yang dulu begitu berharga. Kini terasa seperti rantai yang mengikat seluruh penderitaannya. Dengan sisa tenaga yang ada, dia melepaskan cincin itu. Kemudian meletakkannya di atas meja. "Aku menyesal..." Suaranya begitu lirih dengan penuh penyesalan. Edward lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Harusnya dari awal Lunaya sadar akan hal tersebut, Edward tidak benar-benar mencintainya. "Aku menyesal pernah mencintaimu, Edward." Di luar ruangan, hujan semakin deras. Sementara di dalam kamar yang sunyi itu, seorang wanita yang telah menghabiskan seluruh hidupnya demi cinta yang salah.Selena berjalan cepat meninggalkan kamar Lunaya. Dia masih belum percaya dengan perkataan Lunaya tadi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyum khawatir yang sejak tadi ia tunjukkan langsung menghilang.Digantikan oleh tatapan penuh perhitungan.Jujur saja, dia juga terkejut mendengar Lunaya ingin membatalkan pernikahan.Namun setelah keterkejutannya mereda, ia justru melihat sebuah kesempatan."Ada apa dengan perempuan itu sebenarnya?" gumam Selana. Kalau pernikahan itu batal, bukankah itu berarti Edward akan kembali bebas? Meski begitu, Selena tetap harus berhati-hati.Dia tidak boleh terlihat senang.Karena selama ini citra yang ia bangun adalah seorang sahabat yang selalu mendukung hubungan Lunaya dan Edward.Dengan langkah cepat, ia menuju ruang tunggu khusus pengantin pria.Tak lama kemudian, ia menemukan Edward yang sedang berbicara dengan beberapa kerabat."Kak Edward."Edward menoleh kearah belakang di mana Selena masuk ke dalam kamarnya. Tapi kali ini terlihat berbeda,
Tok... tok... tok...Suara dari ketukan pintu kembali terdengar. Lunaya yang masih berdiri di depan cermin mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Siapa orang yang mengetuk pintu tersebut. "Masuk," ucapnya tenang.Pintu perlahan terbuka. Sesosok wanita masuk dengan gaun berwarna pastel yang terlihat anggun. Senyum manis menghiasi wajahnya, membuat siapa pun yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah orang yang baik dan tulus."Selena."Mata Lunaya langsung menyipit tipis.Jika ini adalah dirinya yang dulu, mungkin ia akan langsung tersenyum bahagia melihat kedatangan wanita itu.Bagaimanapun, selama bertahun-tahun Selena berhasil memainkan perannya dengan sempurna.Berpura-pura menjadi sahabat yang peduli.Berpura-pura mendukung hubungan Lunaya dan Edward. Berpura-pura tidak memiliki perasaan apa pun terhadap pria itu.Padahal kenyataannya?Selena adalah orang yang perlahan-lahan menghancurkan rumah tangganya."Ka Lunaya!"Selena berjalan mendekat dengan wajah ceria. Dia melihat ke
Gelap.Semuanya terasa gelap dan hening.Lunaya tidak lagi mendengar suara hujan di pemakaman. Tidak ada suara orang-orang yang berbisik membicarakan kematiannya. Tidak ada pula sosok Evano yang berdiri di depan makamnya dengan tatapan penuh kesedihan.Yang ada hanyalah kehampaan.Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang tanpa tujuan. "Jadi... ini akhirnya?"Lunaya memejamkan mata. Mungkin beginilah rasanya setelah kematian. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi penantian yang sia-sia.Namun tiba-tiba, Sebuah cahaya terang menyilaukan matanya. Lunaya refleks mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya.Kepalanya terasa berdenyut hebat.Seperti ada ribuan kenangan yang berputar sekaligus di dalam pikirannya.Kemudian Lunaya merasakan sesuatu yang hangat, Lembut. Rasanya seperti nyata.Perlahan, Lunaya membuka matanya.Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya. Dia berkedip beberapa kali. Napasnya tertahan.Ruangan ini...Kenapa terasa begitu fam
Langit pagi tampak kelabu. Awan hitam menggantung di atas pemakaman umum yang terletak di pinggiran kota. Angin berembus pelan, membawa suasana duka yang semakin terasa menyesakkan.Di depan sebuah liang lahat yang masih terbuka, beberapa orang berdiri dengan pakaian serba hitam. Namun jumlah mereka sangat sedikit.Bahkan tidak sampai dua puluh orang.Beberapa adalah tetangga lama yang mengenal Lunaya sejak kecil. Ada pula beberapa karyawan yang pernah bekerja bersamanya. Selebihnya hanyalah orang-orang yang datang karena merasa tidak enak hati. Tidak ada keramaian.Tidak ada pelayat yang berdesakan. Tidak ada orang penting yang hadir untuk mengantar kepergiannya. Pemakaman itu berlangsung begitu sederhana.Seolah hidup Lunaya yang selama ini penuh pengorbanan tidak meninggalkan jejak berarti bagi dunia."Kasihan sekali."Seorang wanita paruh baya berbisik kepada temannya."Iya. Padahal dia istri keluarga Mahendra.""Katanya suaminya pengusaha besar, kan?""Benar.""Lalu kenapa yang d
Malam semakin larut.Hujan yang sejak sore mengguyur kota masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Suara rintikannya terdengar samar dari balik jendela kamar rumah sakit. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma obat-obatan itu, Lunaya berbaring sendirian.Tidak ada yang menemani. Tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya.Tidak ada suara yang menenangkannya. Hanya kesunyian yang menjadi teman terakhirnya.Mata Lunaya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Napasnya terdengar semakin berat dari waktu ke waktu.Mesin monitor di samping ranjang mulai mengeluarkan bunyi yang tidak beraturan. Namun wanita itu sudah tidak terlalu memedulikannya. Tubuhnya memang terasa sakit. Tetapi rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa.Perlahan, dia menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang. Di sana masih tergeletak cincin pernikahannya.Cincin yang selama bertahun-tahun ia jaga seolah benda itu adalah simbol kebahagiaannya. Padahal sekarang ia sadar. Semua itu hanyalah keboho
Hujan masih turun membasahi kota sejak sore tadi. Di sebuah rumah sakit swasta yang mewah, Edward duduk di samping ranjang pasien sambil menatap layar ponselnya.Wajah tampannya terlihat tenang, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.Di atas ranjang, Selena berbaring dengan perban kecil melilit pergelangan tangannya. Dia senang karena Edward lebih perhatian pada dirinya. "Edward, sebenarnya kamu tidak perlu menemaniku terus seperti ini," ucap Selena dengan suara lembut.Edward mengangkat pandangannya."Kondisimu belum stabil."Selena tersenyum tipis, dia senang karena Edward mau menemani dirinya di sini sepanjang malam. Dia menggunakan kesempatan ini agar bisa lebih dekat dengan dirinya. "Hanya luka ringan. Dokter bahkan sudah memperbolehkanku pulang besok."Edward tidak menjawab. Pria itu kembali menatap layar ponselnya yang berkali-kali menyala. Ada puluhan pesan yang masuk.Namun bukan itu yang menarik perhatiannya.Yang membuatnya diam adalah satu pesan dari rumah sak







