LOGINSisa para bandit mulai panik. Beberapa dari mereka saling berpandangan, lalu tanpa aba-aba mencoba kabur menuju ujung gang. Sepatu mereka menghantam batu dengan langkah terburu-buru.Namun mereka bahkan belum sempat berlari jauh. Bayangan-bayangan hitam tiba-tiba meluncur turun dari atap di sekeliling gang. Empat sosok berjubah gelap mendarat hampir tanpa suara.Shadow Guard — Pasukan bayangan.Gerakan mereka cepat, presisi, dan mematikan. Pedang mereka berkilat seperti kilatan cahaya di bawah sinar matahari. Dalam hitungan detik, semuanya berakhir. Bandit-bandit yang mencoba melarikan diri sudah terjatuh ke tanah, beberapa dengan tangan dipelintir ke belakang, beberapa lainnya sudah terikat. Tak ada yang berhasil lolos.Sementara itu, para prajurit Kael yang sebelumnya ditahan segera dibebaskan. Mereka bangkit dengan wajah penuh kemarahan, langsung membalikkan keadaan. Sekarang gantian. Para bandit itu yang menjadi tahanan.Gang sempit itu kembali sunyi.Hanya tersisa suara napas ber
Nama itu seolah memukul udara di gang sempit itu.Suasana yang sebelumnya hanya dipenuhi derap napas tegang tiba-tiba berubah. Beberapa bandit yang tadinya berdiri kaku langsung menoleh ke arah atap dengan wajah yang menegang. Mata mereka menyipit, seakan berharap apa yang mereka dengar barusan hanyalah kesalahpahaman.Namun nama itu terlalu dikenal untuk diabaikan.Mungkin mereka belum pernah melihat Duke Vallas secara langsung. Tetapi kisah tentangnya telah beredar di seluruh ibukota—dibisikkan di kedai minum, diceritakan oleh para prajurit yang kembali dari medan perang, dan ditakuti oleh mereka yang pernah berdiri di sisi yang salah dari pedangnya. Tentang jenderal yang tak pernah kalah dalam pertempuran. Tentang bagaimana ia memperlakukan musuh-musuhnya tanpa belas kasihan.Cerita-cerita itu membuat banyak orang merinding. Dan kini nama itu disebut di hadapan mereka. Kael tidak menjawab.Ia hanya berdiri di atas atap, menatap lurus ke arah pria yang masih mencengkeram Valeriana.
Delapan prajurit Vallas yang baru datang langsung terjun ke dalam pertarungan. Baja beradu dengan keras di gang sempit itu, suara benturan pedang menggema di antara dinding batu yang tinggi. Namun meski jumlah mereka bertambah, para bandit bertopeng yang muncul dari segala arah ternyata jauh lebih banyak.Pertarungan menjadi semakin kacau.Valeriana mundur selangkah, napasnya sedikit terengah. Anna di belakangnya ikut mundur, matanya liar mencari jalan keluar. Mereka berdua berusaha menjauh dari keributan itu—mencari celah untuk kabur dan meminta bantuan.Namun sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, dua bayangan tiba-tiba muncul dari belakang. Anna bahkan tidak sempat menyadarinya ketika sebuah tangan kasar menarik tubuhnya dengan keras. Ia terkejut dan kehilangan keseimbangan.“Ah!”Salah satu bandit mendorongnya menjauh tanpa ampun. Tubuh Anna terhempas ke tanah berbatu.Sementara itu, sebelum Valeriana sempat bereaksi, sebuah lengan kuat sudah melilit bahunya dari belakang. Uj
Jantung Valeriana berdetak keras di dalam dadanya, seolah ingin memecah sunyi malam dengan dentumannya. Namun gadis itu tidak berteriak. Ia juga tidak mundur. Tubuhnya tetap tegak, tatapannya tajam dan tak berkedip saat menatap pria bertopeng di hadapannya.Pria itu mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi. Kilau baja dingin memantulkan cahaya redup dari lentera kereta.“Ikutlah—”Kalimatnya bahkan belum selesai ketika Valeriana bergerak cepat. Tangannya meraih sesuatu di sampingnya—sebuah botol kaca kecil dari toko obat. Salep Kael. Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan tangannya dan melempar botol itu sekuat tenaga.PRANG!Botol kaca itu menghantam wajah pria bertopeng tersebut dengan keras.“ARGH!”Pria itu terhuyung mundur, tangannya refleks memegang wajahnya yang kini dipenuhi pecahan kaca dan salep lengket. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh dari pijakan kereta.Kesempatan itu tidak disia-siakan. Valeriana langsung meraih tangan Anna. “Keluar!”Mereka melompat tu
Siang itu, ibu kota Kekaisaran Arcelia terasa cukup terik. Debu-debu jalanan beterbangan setiap kali roda kereta kuda yang berlalu-lalang menggilas permukaan jalan. Valeriana baru saja selesai berbelanja dari butik milik Madame Rose.Di tangannya, ia membawa dua bungkusan kecil. Salah satunya berisi gaun untuk dirinya, sementara yang lain adalah pakaian untuk Kael. Pakaian itu merupakan busana khusus untuk pasangan suami istri, dan Valeriana sudah tidak sabar membayangkan memakainya bersama Kael.Sementara itu, Anna yang duduk di sampingnya juga membawa beberapa kantong berisi sayuran, ikan, daging, keju, dan roti sebagai persediaan makanan di kediaman mereka yang hampir habis. Sebelum mampir ke butik Madame Rose, mereka lebih dulu pergi ke pasar. Mereka juga tidak lupa membeli salep untuk Kael di toko obat.Dua prajurit Kael mengawal perjalanan mereka. Kedua prajurit itu duduk di depan bersama kusir, menemani dan sekaligus berjaga. Tiba-tiba kereta kuda yang ditumpangi Valeriana berh
Di malam hari di kediaman keluarga Vallas, Kael terlihat keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang kekar dipenuhi bekas luka kering akibat sayatan pedang dan berbagai pertempuran yang telah ia lalui.Namun bagi Valeriana, pemandangan itu justru tampak begitu gagah dan memikat. Ia jauh lebih menyukai tubuh pria yang penuh bekas perjuangan seperti itu dibandingkan tubuh mulus tanpa luka. Baginya, bekas luka itu adalah bukti bahwa suaminya adalah seorang pekerja keras—seorang pria yang melindungi negaranya dengan sepenuh hati. Sayangnya, ada seseorang yang dengan keji memfitnah suaminya.Valeriana mengambil handuk kecil lalu mulai mengusap rambut Kael yang masih sedikit basah. Ia harus sedikit berjinjit karena tubuh Kael yang jauh lebih tinggi darinya.Memahami keinginan istrinya, Kael sedikit membungkuk. Di tangannya terdapat salep untuk mengobati bahu kirinya yang kembali terasa nyeri. Sejak semalam, bahu itu memang sedikit sakit.Ta







