LOGIN“Lady Marielle!” Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Diana masuk dengan napas tersengal, wajahnya pucat, matanya merah seperti habis menangis.Marielle yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh.“Ada apa, Diana?” Wajah Marielle langsung berubah khawatir.Diana berhenti di tengah langkah. Bibirnya bergetar. Ia menatap Marielle seolah tak tahu bagaimana cara mengatakannya.“Lady… Sir Enzo…” Diana tergagap saat berusaha menyampaikan informasi itu.Jantung Marielle langsung berdegup keras.“Kenapa dengan Enzo?” suaranya pelan, tapi penuh ketakutan.Diana menutup mulutnya sejenak, lalu akhirnya berkata dengan suara pecah.“Sir Enzo… sudah… meninggal,” jawab Diana akhirnya.Dunia seolah berhenti. Marielle membeku.Matanya membesar, nafasnya tertahan. “Apa?” Suaranya nyaris tak terdengar.Marielle tidak tahu jika eksekusinya akan berlangsung hari ini juga. Padahal dia sudah mempunyai rencana untuk membawa kabur Enzo malam ini.Diana menangis. “Dia sudah dieksekusi siang ini, Lady…” Kalim
“Tahanan eksekusi mati memasuki tempat eksekusi!” Suara lantang seseorang memberi tanda jika eksekusi mati Enzo diselenggarakan hari ini.Wajah Enzo masih terlihat tenang, dan langkah kakinya berhenti tepat di tengah lapangan batu yang dikelilingi para ksatria kerajaan. Udara siang hari ini terasa dingin. Langit masih pucat, seolah enggan menyaksikan apa yang akan terjadi hari ini.Enzo berdiri tegak. Tangannya terikat di depan, wajahnya penuh lebam, namun sorot matanya sangat teduh. Ia menatap lurus ke depan.Setidaknya ia bisa bernafas lega, karena tidak ada Marielle disana. Ia sangat tidak ingin wanita yang telah menjadi tempat berlabuh hatinya menyaksikan kematiannya sendiri. Enzo menghela nafas, tidak ada keraguan. Tidak ada penyesalan yang tersisa.Di kejauhan, Cassian berdiri dengan jubah hitam, wajahnya tanpa ekspresi. Di sampingnya, Aldric berdiri santai dengan tangan terlipat di belakang punggung, memperhatikan seperti sedang menikmati pertunjukan.Salah satu ksatria mendeka
Fajar datang bersama udara dingin yang menusuk halaman utama istana Minerva. Langit masih pucat ketika lonceng besar dibunyikan tiga kali, pertanda sidang kerajaan akan segera dimulai.Hari itu, suasana istana berbeda dari biasanya. Para pelayan berbisik pelan di sudut lorong. Para bangsawan datang lebih pagi dengan wajah penuh rasa ingin tahu.Para ksatria berdiri berjajar lebih tegang dari biasanya.Kabar bahwa seorang ksatria kerajaan meracuni Raja telah menyebar ke seluruh penjuru ibu kota. Dan hari ini, pengkhianat itu akan diadili.Di aula utama, kursi-kursi panjang telah dipenuhi para tamu undangan. Pilar marmer menjulang tinggi, dihiasi bendera kerajaan yang jatuh diam tanpa gerak. Di ujung ruangan, singgasana emas berdiri megah.Cassian duduk di sana dengan jubah hitam kebesaran raja. Wajahnya masih pucat, namun sorot matanya tajam dan dingin. Di sisi kanan berdiri Elira dengan gaun biru tua, dagunya terangkat angkuh. Sedangkan di sisi kiri, Aldric berdiri tenang dengan tanga
“Lady Marielle, maaf saya harus membawa Anda dengan cara seperti ini.” Claude menurunkan Marielle dari pundaknya saat sampai di depan kamar.“Saya harap Anda bisa merelakan Enzo meski saya tahu ini menyakitkan,” ucap Claude pelan sambil membuka pintu kamar Marielle untuk membiarkannya masuk.Wanita itu sama sekali tak bersuara, ia hanya berjalan pelan dan langsung menutup pintu agak keras. Claude hanya menghela nafas dan kembali berjaga sambil memikirkan bagaimana menghibur hari Marielle.Di kamar Marielle, lilin di meja hampir habis meleleh. Cahaya kecilnya bergoyang tertiup angin, memantulkan bayangan rapuh di dinding.Marielle duduk di tepi ranjang dengan jubah masih melekat di tubuhnya. Ia belum mengganti pakaian sejak Claude diam-diam mengantarnya kembali dari penjara bawah tanah. Kedua tangannya menggenggam selimut erat.Pikirannya hanya dipenuhi satu wajah.Enzo. Bayangan pria itu duduk di lantai batu dengan bibir pecah dan mata lelah terus berputar di kepalanya. Senyum kecil y
Pintu kamar Marielle diketuk cukup keras saat larut malam. Marielle yang sudah bersiap memakai jubah hitam membuka pintu perlahan. Dan disana sudah ada Claude berdiri.“Saya akan mengantar Anda sekarang,” ucap Claude lirih sambil melihat sekeliling.Marielle mengangguk, dengan hati-hati mereka pergi dari kamar dan berjalan di lorong gelap tanpa penerangan apapun. “Cepat, Lady. Kita tidak punya banyak waktu.” Suara Claude terdengar lirih. Ia juga mengenakan jubah, tudungnya ditarik rendah menutupi sebagian wajah. Di tangannya tergenggam lentera kecil yang cahayanya sengaja diredupkan untuk menerangi jalan mereka.“Terima kasih, Claude,” ucap Marielle yang berjalan di belakangnya.Claude menunduk singkat. “Jangan berterima kasih dulu. Jika kita tertangkap, kepala saya bisa dipenggal.”Marielle menggigit bibir, lalu mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia terus mengikuti Claude.Lorong istana sunyi. Hanya suara langkah patroli yang sesekali terdengar dari kejauhan. Claude membawa Marielle
“Lady Marielle!”Pintu kamar terbuka cepat, lalu Diana masuk hampir berlari sambil membawa nampan teh dan beberapa kue kecil.Begitu melihat Marielle benar-benar berada di dalam kamar dan bukan lagi di penjara menara barat, wajah pelayan muda itu langsung berubah lega. Ia menaruh nampan begitu saja di meja terdekat lalu bergegas mendekat.“Syukurlah… syukurlah Anda sudah keluar!” serunya dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat khawatir. Semalaman saya tidak bisa tidur mendengar Lady dipenjara karena dituduh meracuni Yang Mulia.” Diana memegang tangan Marielle dengan tangis bahagia.Marielle yang duduk di tepi ranjang hanya menoleh pelan. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.“Aku baik-baik saja, Diana,” ucapnya pelan.Diana langsung tahu itu bohong. Wajah Marielle pucat, matanya bengkak karena menangis, dan kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kesedihan biasa.Diana







