ログイン“Grand Duke masih belum mau makan?” tanya Jackson pada pelayan yang terus mengetuk pintu kamar Grand Duke dengan membawa sarapan.“Dari pagi Grand Duke terus meminta alkohol untuk diantar ke kamarnya, tuan,” jawab pelayan itu cemas.Jackson menghela nafas. Dirinya sudah tak terkejut lagi jika tuannya melakukan hal seperti ini setiap kali pulang dari ibukota.“Grand Duke, apakah Anda masih lelah karena perjalanan kemarin?” tanya Jackson pelan.Ia memasuki kamar Aldric perlahan. Ia melihat Grand Duke masih berbaring di atas ranjangnya yang besar. Wajahnya tertutupi oleh lengan, dan satu tangannya masih memegang botol yang sudah kosong. Membuat Jackson tidak tahu apakah Grand Duke masih tertidur atau sudah bangun.Pria itu menaruh beberapa dokumen yang dibawanya ke atas meja besar tengah ruangan. Ia berjalan ke sisi ranjang. Langkahnya hati-hati.“Grand Duke?” panggilnya lagi, kali ini lebih pelan“Kenapa...” gumamnya pelan, suaranya serak. “Kenapa harus dia...” Suaranya rendah, sedikit
Sikap Elira berubah seketika. Wanita itu memusatkan perhatian sepenuhnya pada Marielle.“Membunuh? Jangan menipuku, Marielle!” Elira tak percaya.Wajah Marielle tersenyum sejenak. Dada yang semula berdebar kencang kini perlahan mereda. Ia menghela nafas lalu menghembuskannya. Sikapnya masih tenang.“Maaf jika membuat Ratu bingung. Tapi semua yang saya katakan adalah kebenaran. Saya tidak meminta Anda langsung percaya. Yang terpenting saya sudah bicara jujur pada Anda.” Suara Marielle pelan.Sosok itu terlihat teguh. Tak ada satu ekspresi atau tanda-tanda untuk berbohong. Justru sebaliknya, sikap Marielle sekarang begitu pasrah.“Apa kau juga bicara ini pada Raja?”“Tidak, Yang Mulia.”Keraguan masih bergelut di hati Elira. Antara rasa percaya dan ingkar terus saling mendorong untuk memenangkan hatinya.Wanita itu duduk, mengambil secangkir teh yang tersedia, dan meminumnya perlahan.“Aku tidak tahu tujuanmu yang sebenarnya dengan mengatakan ini,” ujarnya. Matanya tak melihat Marielle
Cassian menurunkan Marielle perlahan dan mendudukkannya di tepi ranjang. Wajah wanita itu penuh luka kecil yang mengganggu penglihatannya. Ia duduk, mengelus pipi Marielle yang terdapat luka goresan akibat latihan hari ini.“Kamu terluka,” suara Cassian lirih. Matanya terus menelusuri garis wajah Marielle.“Saya tidak apa-apa, Yang Mulia.”“Lihat wajahmu, banyak goresan.” Cassian masih meniti bagian wajah Marielle yang mengalami luka.Tangan kecil Marielle menarik tangan Cassian pelan, ia menangkup tangan yang lebih besar itu.“Yang Mulia, saya tidak apa-apa. Saya ingin menjadi kuat Yang Mulia. Saya ingin menjadi wanita yang pantas untuk Anda. Bisakah Anda mempercayai saya?”Satu tangan Marielle mengelus lembut punggung tangan Cassian. Sentuhan itu membuat Raja tak berdaya. Dengan berat hati, ia gagal menjauhkan Marielle dengan Enzo lagi.“Baiklah jika itu maumu.”Marielle tersenyum. “Bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.“Dia masih sakit. Sepertinya un
Perlahan kereta kuda itu keluar melewati gerbang istana yang megah, dengan membawa luka yang tak terbantah.“Karena kita sudah dalam perjalanan pulang, mulai besok lusa kita akan fokus pada wilayah Valtore, Grand Duke,” ujar Jackson yang sudah mulai membalik-balik dokumen dari tas kerjanya.“Terserah kau saja,” jawab Aldric tidak minat.“Grand Duke, bagaimana saat kita di Valtore nanti kita adakan sebuah pesta. Untuk mencari gadis cantik sebagai calon pasangan Anda.” Jackson memajukan tubuhnya sedikit, berharap ide darinya diterima.“Berhenti membuat omong kosong.” Aldric sama sekali tak tertarik. Ia hanya menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata.“Ayolah Grand Duke, Anda sudah memasuki usia untuk menikah,” rayu Jackson sekali lagi.“Hanya ada satu wanita yang ada di hatiku. Dan kau tau siapa itu.” Aldric menatap Jackson jengah.“Tapi Grand Duke, wanita itu sudah bersuami. Apakah Anda benar-benar ingin merebut Yang Mulia Ratu dari Raja Cassian?”“Diam, atau aku lempar dirimu keluar!
“Lady Marielle, Anda sudah siap untuk berlatih hari ini?” tanya Diana sembari mengencangkan sepatu Marielle agar tidak longgar saat berlatih dengan Enzo.Wanita itu mengangguk, melihat ke jendela dimana langit pagi berwarna biru cerah. Pikirannya masih tertuju pada kejadian semalam. Secara tidak langsung dia, menyalakan genderang perang pada Grand Duke. Hatinya terus berdesir ngeri, membayangkan reaksi apa yang akan Aldric perlihatkan saat sertifikat budak itu telah menghilang dari bawah karpet kamar tidurnya.“Aku sebisa mungkin harus menjadi lebih kuat untuk mempersiapkan hal buruk nanti,” batin Marielle. Tangannya mencengkram erat baju di dada.“Lady, ada sesuatu yang mengganggu Anda? Anda terlihat gelisah.” Diana menyadari gelagat aneh darinya.Wanita itu langsung menepis dengan tersenyum. “Aku baik-baik saja, hanya memikirkan latihan hari ini,” kilah Marielle.“Begitu… baiklah, saya akan mengantar Anda menuju tempat latihan.”Marielle hanya bisa menuruti keinginan Diana. Mereka b
Aldric berjalan di belakang Marielle ketika Cassian meminta semuanya untuk keluar dari kamar Ratu. Semua orang berjalan tenang, agar tak membuat suara di sekitar kamar. Marielle berjalan bersama Diana. Jantungnya berdegup kencang, khawatir tentang keadaan sang Ratu. “Ratu Elira akan baik-baik saja kan?” Marielle mengeratkan tangannya di dadanya sembari melihat ke belakang sekali lagi. “Saya pernah melayani Ratu. Setiap kali merasa panik dan takut, beliau selalu pingsan. Katanya Ratu memiliki sakit bawaan dari kecil. Saya takut jika Ratu banyak pikiran hingga membuatnya jatuh pingsan lagi,” jelas Diana pelan. Wajahnya juga memperlihatkan kekhawatiran yang jelas. Kedua tangan Diana terus menggenggam, seolah mendoakan keadaan Ratu Elira. Marielle berhenti. Ia langsung teringat tentang jawaban yang diberikan Aldric pada Cassian. Hatinya merasa janggal. Ia berbalik, melihat Aldric yang tak jauh darinya. “Grand Duke Aldric, bisakah kita bicara sebentar?” Marielle mengepalkan tangannya
“Apa kau bilang?!” Cassian langsung berlari pergi.Marielle yang dibantu Diana mengikuti dari belakang. Cassian berlari kencang, hingga Marielle jauh tertinggal.Sesampainya disana, dokter istana tengah memeriksa keadaan Elira yang sudah terbaring di ranjang. Semua orang harap-harap cemas dengan ke
Marielle ambruk di tanah ketika senja mulai datang. Wajahnya penuh debu dan bau keringat.“Lady Marielle? Anda tidak apa-apa?” Diana bergegas mendekat, melihat keadaan sang Lady.Wanita itu tersenyum lebar, merasa bangga. Ia mengacungkan jempolnya untuk memberitahu jika dirinya baik-baik saja. Nafa
“Elira, tunggu!” teriak Aldric sambil berlari menyusul gadis kecil berambut keemasan yang melangkah cepat di depannya.Elira berhenti dengan wajah kesal, tangannya bertolak pinggang.“Kau lambat sekali, Aldric! Kalau begini terus, kau tidak akan pernah bisa menangkap kelinci, tahu!” Elira mendengus
Wajah Enzo berubah seketika. Melatih Marielle? Itu adalah ide buruk, mengingat Raja Cassian telah memperingatkan dirinya agar tidak melampaui batas.“Apa Lady yakin? Maksud saya, mengapa Anda harus bisa bertarung?” Kening Enzo berkerut. Kepalanya menggeleng pelan, tak percaya.Wanita itu tak langsu







