Masuk“Selama Anda di istana, Anda bisa memakai kamar Paviliun ini sesuka hati Anda.” Ronald, kepala pelayan mempersilahkan Marielle masuk ke kamar utama di paviliun tersebut.“Kau sungguh aku memakai kamar ini?” Marielle terlihat tidak percaya.“Benar Lady. Semoga Anda betah saat tinggal di istana ini. Saya pamit, karena masih banyak yang harus saya kerjakan.” Ronald akhirnya undur diri.Marielle mengangguk. Setelah pintu tertutup kembali, Mariella melihat sekeliling dengan wajah kagum. Ia masih ingat kamar selama dirinya menjadi selir Cassian tidak semewah kamar ini.“Lady, akhirnya kita kembali ke istana lagi. Wah… aku sangat merindukan kasur empuk seperti ini.” Diana langsung berbaring di ranjang utama kamar tersebut. Tangannya mengelus-elus bagaimana lembutnya sprei yang tengah ia tiduri.Marielle tertawa kecil melihat tingkah pelayan pribadinya. Rasa lelah akibat perjalanan panjang seolah sedikit menguap melihat antusiasme Diana. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di tepinya
“Yang Mulia Ratu… hormat saya pada Anda, sang Rembulan Minerva.” Marielle langsung membungkuk memberi hormat bersamaan dengan Diana di sampingnya.Tangan Elira langsung meremas sisi samping gaunnya. Hal yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi. Elira sudah menduga Marielle tidak lama lagi akan menginjakan kaki di istana lagi, mengingat bagaimana kedatangannya kesini secara tiba-tiba saat meminta memberitahu terjadinya perang di Valerante tempo hari lalu.“Elira, sambutlah Marielle dengan hangat. Bagaimanapun dia adalah salah satu pahlawan dalam perang yang baru saja aku menangkan.” Cassian mendekati istrinya dan bicara dengan nada yang dingin.Tangan Ratu Elira bergetar hebat di balik remasan kain gaun beludrunya. Kalimat dingin yang dilontarkan Cassian di hadapan para pelayan dan ksatria pengawal terasa bagai tamparan yang menjatuhkan martabatnya sebagai Ratu.Elira menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mempertahankan topeng keanggunannya meski suaranya tidak dapat menyembu
”Kita akan istirahat di penginapan untuk malam ini Lady,” ucap Claude saat baru saja membuka pintu kereta kuda yang Marielle tumpangi.Marielle mengangguk. Ia langsung dibantu Diana untuk keluar. Matahari telah lama tenggelam, digantikan oleh hamparan langit malam yang pekat saat rombongan besar dari Valerante akhirnya memutuskan untuk menepi. Mengingat perjalanan menuju ibu kota memakan waktu hampir seharian penuh dan kondisi fisik Marielle belum sepenuhnya pulih, Cassian memerintahkan pasukan untuk bermalam di sebuah desa persinggahan.Sebuah penginapan kecil yang cukup bersih telah dikosongkan seluruhnya demi kenyamanan sang Raja dan rombongan.Di sudut halaman penginapan yang temaram, Aldric tampak berdiri menyendiri di bawah naungan pohon rindang. Pria Utara itu sengaja menjaga jarak, membiarkan para ksatria Valtore yang mengurus perimeter luar. Mata hitamnya bergerak lambat, sekadar mengamati keadaan sekitar dengan waspada, namun pandangannya sesekali tertuju pada jendela l
"Bagaimana jika aku katakan..." bisik Cassian dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan sekaligus penekanan. "Jika kau ikut bersamaku ke ibukota, aku akan membuka kembali kasus lama itu. Aku akan memimpin penyelidikan ulang dan membersihkan nama Enzo secara resmi, mengembalikan kehormatannya sebagai ksatria sejati, bukan sebagai seorang pengkhianat beracun."Deg!Mata perak Marielle seketika membelalak sempurna. Tubuhnya menegang, dan nafasnya seolah terhenti di tenggorokan. Ia langsung menoleh tajam, menatap lurus ke dalam mata Cassian yang dipenuhi ambisi untuk membawanya pulang.Nama Enzo. Cassian benar-benar menggunakan satu-satunya kelemahan terbesar di hatinya untuk meruntuhkan tembok pertahanannya.“Apa?!”“Kau bisa memegang kata-kataku. Aku akan membersihkan nama Enzo untukmu.”Marielle terdiam, dadanya naik turun menahan gemuruh emosi yang mencuat. Ia menatap Cassian dengan tatapan yang sulit diartikan. Perpaduan antara rasa sakit yang mendalam dan keputusasaan.
“Bagaimana, Yang Mulia? Apakah ide saya bisa Anda terima?” Claude melihat pada sang Raja.Cassian terdiam sejenak. Matanya berkilat saat memikirkan kembali kata-kata Claude. Sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. Itu dia. Sebuah alasan mutlak yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun, bahkan oleh Marielle sekalipun."Usulan yang bagus, Claude," ujar Cassian memecah keheningan, suaranya kembali dipenuhi otoritas mutlak. "Kita akan membawa para pengkhianat dari Kepala Keluarga Valerante yang membelot ke ibukota untuk dieksekusi di hadapan publik. Dan mengenai Lady Marielle... sebagai Raja, aku secara resmi akan menganugerahkannya gelar Pahlawan Kerajaan atas jasanya menyelamatkan nyawaku dan kontribusinya atas perang ini.”Aldric memicingkan mata hitamnya, langsung menangkap niat terselubung dibalik keputusan mendadak Cassian. Rahangnya mengeras. Pria itu tahu Cassian sedang menggunakan kekuasaannya untuk menyeret Marielle kembali ke sisinya."Jika Anda memutu
“Lebih baik kau istirahat dahulu. Aku tahu kamu masih marah soal kematian Enzo.” Cassian melangkah pergi. Langkahnya pelan.“Aku akan rapat dengan yang lainnya. Aku akan menghampirimu setelah selesai,” lanjut Cassian sebelum benar-benar keluar tenda.Namun Marielle hanya diam, bahkan wanita itu tak menatap Raja sedikitpun. Akhirnya, dengan hati yang berat Cassian pergi.Di dalam tenda komando utama yang megah, sebuah meja kayu jati besar membentang, dipenuhi oleh peta wilayah, laporan kerusakan, serta estimasi logistik.Di kedua ujung meja, duduk dua pria paling berpengaruh di kekaisaran Minerva. Cassian, sang Raja, duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat, mengenakan jubah kebesarannya yang masih menyisakan aura dingin. Di ujung lainnya, Aldric, sang Grand Duke, bersandar dengan ekspresi kaku, matanya sedalam jurang es menatap lembaran kertas di hadapannya. Claude, Jackson, beberapa jenderal, dan para menteri ikut mengelilingi meja rapat."Kita mulai rapat ini," Cassian mem
Kereta kuda yang memiliki lambang serigala Valerante berhenti tepat di pelataran utama Istana Eldora.Derap kuda mulai mereda. Istana kekaisaran Eldora berdiri megah di hadapan Aldric Valtore yang baru saja tiba. Menara-menara menjulang tinggi, pilar marmer raksasa kokoh berdiri, serta bendera ungu
Sore itu, halaman latihan kembali dipenuhi suara benturan pedang. Marielle berdiri dengan nafas memburu, rambutnya diikat seadanya, tangan kanan menggenggam pedang kayu yang mulai licin oleh keringat. Luka kecil di hatinya akibat serangan malam itu belum sembuh, tapi tubuhnya memaksa untuk terus be
Cahaya pagi masuk perlahan melalui tirai tipis yang bergerak lembut tertiup angin laut. Suasana kamar masih hangat oleh sisa semalam. Begitu tenang. Berbeda jauh dari ketegangan yang sempat mengisi hubungan mereka sebelumnya.Elira terbangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, menyesua
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem







