Share

Awal Mula Perang

Author: nababy
last update publish date: 2026-05-27 21:50:35

“Lady Marielle! Ada kereta datang lagi!” Suara Diana terdengar panik dari depan rumah.

Marielle yang sedang menyusun bunga di meja dapur langsung menoleh cepat.

“Apa?” Marielle langsung mengangkat gaunnya agar langkahnya lebih cepat.

Sementara Diana buru-buru membuka pintu lebih lebar.

“Keretanya besar… dan…” Kalimatnya terputus saat suara langkah kaki terdengar dari luar.

Marielle segera berjalan menuju teras. Begitu sampai di depan, matanya langsung membesar. Di halaman rumah kecil itu telah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makan Malam

    “Makan malam bersama Anda?” Marielle menatap Aldric dengan alis terpaut tipis. Di bawah temaram cahaya senja, raut wajah sang Grand Duke tampak begitu serius meski semburat merah tipis di ujung telinganya masih enggan menghilang sepenuhnya.​Marielle mendengus pelan, mengeratkan pegangannya pada tumpukan berkas di pelukannya agar tidak merosot. "Membahas logistik saat makan malam? Anda sungguh tidak mengenal kata istirahat, Yang Mulia."​"Ini demi efisiensi waktu, Marielle," sahut Aldric cepat, berusaha memoles nada suaranya agar kembali terdengar dingin, berwibawa, dan profesional. "Count Vance akan mulai menyusun angka pastinya nanti malam. Semakin cepat kita mematangkan alur distribusi logistik, semakin cepat proyek ini bisa berjalan tanpa hambatan birokrasi."​Marielle memperhatikan gestur tubuh Aldric dengan saksama. Pria tegap itu berdiri agak kaku di depannya, menatapnya lurus-lurus seolah-olah jawaban 'tidak' dari Marielle akan merusak seluruh skema besar rekonstruksi wilay

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rasa Canggung Dan Khawatir

    ​"Siapa juga yang minta ditolong oleh Anda, Grand Duke?" balas Marielle dengan nada tak kalah sengit, walau jarinya masih sedikit gemetar saat melempar bola kain itu pelan ke arah anak-anak pengungsi.​Anak-anak itu dengan cepat memungut bolanya dan berlari menjauh seraya membungkuk takut. Marielle lalu membalikkan badan, berjalan mendahului Aldric tanpa memandangnya sedikit pun. Ia segera menyusul Count Vance dan perwira militer yang berpura-pura sibuk memeriksa peta tanah demi mencairkan atmosfer yang sempat membeku.​"Mari kita lanjutkan surveinya," cetus Marielle, berusaha tampil seprofesional mungkin.​Selama dua jam berikutnya, mereka bertiga membedah seluruh area pengungsian secara menyeluruh. Hasil survei langsung di lapangan membuka banyak fakta penting yang tak tercatat di dalam lembaran audit lama milik Vane. Marielle mencatat dengan cermat bahwa dari total lima puluh tenda darurat di Sektor Tiga, masih ada tiga puluh dua kepala keluarga yang menanti kepastian hunian perma

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Debaran Di Dada

    “Saya tahu kok kalau jalannya tidak rata,” balas Marielle dingin.Marielle langsung kembali fokus mengobrol dengan Count Vance, itu membuat Aldric makin kesal.Kereta kuda mewah yang membawa rombongan sang Grand Duke akhirnya melambat dan berhenti di area terbuka. Begitu pintu kereta dibuka, hawa dingin bercampur aroma tanah basah dan asap kayu bakar langsung menyapa indra penciuman mereka. Tempat pengungsian Sektor Tiga itu membentang cukup luas, diisi oleh deretan tenda-tenda kain tebal berwarna abu-abu yang tampak amat sederhana.​Seorang perwira militer berbadan tegap dengan jubah bertambal simbol wilayah Valerante bergegas melangkah mendekat. Di belakangnya, beberapa prajurit mengikuti dengan langkah kaku namun penuh kedisiplinan.​"Selamat datang di Kamp Sektor Tiga, Yang Mulia Grand Duke, Count Vance, dan Lady Marielle!" sapa perwira itu seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberikan penghormatan tertinggi militer.​Aldric mengangguk tipis, gestur tegas seorang pemimpin

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tanpa Sadar Cemburu

    “Selamat pagi juga, untuk pahlawan Minerva, Lady Marielle,” sapa Count Vance ramah.Pria paruh baya itu mengukir senyum tipis yang ditujukan pada Marielle. Sedangkan​Marielle mengerjapkan matanya sekilas, berusaha menguasai raut wajahnya yang sempat terkejut. Pahlawan Minerva? Julukan itu terasa agak berlebihan, namun mendengar kata-kata tersebut keluar langsung dari mulut seorang diplomat ulung sekelas Count Vance membuat situasi di ruangan itu makin terasa bobot politiknya.​Marielle membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi penghormatan formal yang sangat anggun. "Selamat pagi, Count Vance. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda di sini."​Count Vance kembali menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan. Matanya yang tajam meneliti sosok Marielle dari kepala hingga ujung kaki, seperti seorang veteran politik yang sedang menilai kawan bertarungnya.​"Kehormatan ini milik saya, Lady Marielle," balas Count Vance seraya melangkah semakin mendekat ke meja kerja. "Saat Yang M

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kembalinya Count Vance

    ​”Pagi Lady Marielle… apakah tidur Anda nyenyak?” Suara Diana membuyarkan lamunannya saat baru saja bangun tidur.“Ya. Aku sangat tidur dengan nyenyak. Aku sudah lama tidak tidur di ranjang yang sangat empuk ini.” Marielle mengelus ranjang tersebut karena sangat empuk dan halus. Diana hanya bisa tersenyum sambil menyiapkan baju yang akan dikenakan Marielle hari ini.“Mari saya bantu untuk Lady,” tawar gadis itu.Akhirnya Marielle turun dari ranjang menuju kamar mandi. Pagi hari ini, sinar matahari hangat menembus tirai tipis Paviliun Barat, membiaskan cahaya di atas meja makan yang dipenuhi hidangan sarapan segar. Setelah Marielle selesai bersiap, ia duduk menimang cangkir tehnya, menikmati keheningan pagi sebelum kesibukan rekonstruksi dimulai.​Di sudut ruangan, Tristan, ksatria muda berambut cokelat yang ditunjuk Aldric sebagai pengawal pribadinya berdiri tegak. Matanya yang polos dan jujur sesekali melirik ke arah Marielle dengan binar kagum yang amat sulit ia sembunyikan.​"Lad

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Terbongkarnya Kebusukan

    ​"Tuan Vane," panggil Aldric dengan suara yang dalam, namun sanggup menggetarkan lantai batu di bawah kaki mereka. "Apakah yang dikatakan Lady Marielle itu benar?"​Keheningan di ruang rapat utama Kastil Valtore mendadak berubah menjadi atmosfer mencekam yang membekukan darah. Suasana memanas setelah Marielle membongkar habis catatan audit keuangan internal.​Aldric, yang sejak tadi berdiri menahan diri di samping meja, melangkah maju dua titik. Tatapan matanya yang semula dipenuhi rasa takjub pada Marielle seketika berganti menjadi kilatan amarah yang amat dingin dan mematikan. Rahangnya mengeras kaku, dan aura menekan khas seorang penguasa perang menguar hebat dari tubuhnya.​Pria itu menatap tajam ke arah Pejabat Keuangan yang kini gemetar hebat di sudut meja.​Vane mendadak kehilangan kemampuannya untuk bernapas secara normal. Wajahnya yang pucat pasi kini dibasahi keringat dingin. "Yang Mulia Grand Duke... ini... ini hanya kesalahpahaman dalam pencatatan laporan logistik…" jawab

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Insiden Perburuan

    “Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status