ログインNathan menerima dokumen tersebut, lalu membacanya sekilas. Seringai tipis menghiasi bibir pria itu karena proposal itu sangat tidak sesuai dengan standar perusahaannya, bahkan jauh di bawah standar yang ditentukan. Kertas tebal di hadapannya hanya terlihat seperti sampah. Jika bukan karena nama Alona yang dibawa oleh Addy, dia sudah pasti membuang proposal tersebut ke tempat sampah. Nathan dengan tenang menutup proposal itu karena sangat tidak tertarik akan isinya, tapi dia menyembunyikan ketidaktertarikannya itu. Dia sendiri lebih tertarik membahas tentang Alona. “Sekretarisku bilang, jika kamu adalah kekasih Alona, benarkah itu?” tanya Nathan. “Benar Tuan, saya dan Alona sudah dua tahun menjalin hubungan. Apakah Anda mengenal kekasih saya?” “Aku tidak begitu mengenalnya tapi aku pernah bertemu dengannya di rumah sepupuku, Grace. Bukankah dia dokter yang merawat Richo?” Nathan tidak mengakui pertemuan merek
“Maafkan aku, aku sudah ada janji makan bersama kekasihku,” jawab Alona menolak ajakan Grace karena memang sudah ada janji makan bersama dengan Addy, kekasihnya.“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Apakah kamu mau aku panggilkan taksi?” tanya Grace yang tahu jika Alona datang tidak membawa mobilnya sendiri.“Addy akan menjemputku sebentar lagi, katanya dia sudah berada di dekat sini,” jawab Alona.“Baguslah kalau begitu. Kita bisa menunggu kekasihmu datang sambil mengobrol di depan,” ajak Grace.Alona kemudian berjalan mengikuti langkah Grace menuju teras rumah.“Keadaan Richo sudah jauh lebih baik. Aku tidak menyangka jika perkembangannya akan secepat ini. Aku yakin suamimu akan bisa berjalan dalam waktu yang cepat.” Alona membicarakan perkembangan Richo dan memberi harapan baru bagi Grace.“Hati yang gembira adalah obat, bukankah ada pepatah yang mengatakan hal demikian,” gumam Grace.“Ya, kamu betul sekali. Psikis ses
“Yang Papa ingin bicarakan adalah tentang orang yang sedang menggelontorkan banyak uang untuk rumah sakit keluarga kita. Dia mengharapkan rumah sakit kita bisa membantu lebih banyak orang dengan mengembangkannya lebih besar lagi,” jelas Papa Alona. “Apakah tidak terlalu dini Papa membicarakan bisnis rumah sakit denganku? Aku hanya dokter yang ingin menyembuhkan pasien dan aku tidak begitu peduli dengan bisnis rumah sakit.” “Orang itu adalah Zack Collins, Papa dari Grace Collins yang suaminya kamu tangani.” Kening Alona langsung berkerut tajam mendengar perkataan Papanya. Bagaimana Papanya bisa tahu sedetail itu tentang pasien yang dia tangani? “Lalu apa urusannya denganku?” Alona memasang dinding tebal di depan papanya dan bersikap hati-hati. “Tuan Zack memintamu untuk menjadi dokter pribadi Richo.” “Aku tidak bisa melakukannya, Pa. Berhubungan dengan keluarga Collins terlalu beresiko. Jika per
“Sayangnya aku bukan pria yang mudah menerima penolakan, bahkan seumur hidupku aku belum pernah ditolak oleh seorang wanita,” ucap Nathan dengan angkuh.“Kalau begitu aku adalah wanita pertama yang menolakmu,” ucap Alona yang mulai kesal dengan sikap Nathan yang tak juga mau mengerti apa yang dia inginkan.Tidak ingin semakin kesal, dia berbalik lalu pergi menjauh meninggalkan pria itu.“Alona, tunggu ...!” teriak Nathan menghentikan langkah Alona.“Ada apa lagi? Aku tidak ingin mendengar lagi rayuanmu,” ujar Alona memasang dinding tebal pada Nathan.“Maukah kamu pergi denganku sekali saja dan setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi?” Nathan kembali menawarkan sesuatu dan Alona kurang suka dengan hal itu. Dia terdiam tanpa menolak atau pun mengiyakan permintaan Nathan.“Aku janji tidak akan mengganggumu lagi dan akan menjauhimu, jika kamu mau pergi sekali saja denganku,” tegas Nathan.Alona berpikir sejenak. Daripad
Mata Richo berbinar senang saat Grace memperlihatkan dadanya yang indah tepat di hadapannya. Sebuah hidangan lezat untuk dinikmati.“Apakah kamu sengaja menggodaku?” tanya Richo yang tangannya kini telah mengusap punggung Grace naik turun.Grace terkikik kemudian mendekap kepala Richo hingga wajah suaminya itu terbenam sempurna di lembah di antara kedua bukit miliknya. Richo tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Bibirnya langsung menikmati hidangan yang tersaji di depannya. Desahan halus Grace terdengar mengiringi gerakan bibir suaminya.“HALOOO ...! APAKAH ADA ORANG DI RUMAH ...?!” Suara Nathan dari luar kamar menghancurkan suasana romantis suami istri tersebut.Dengan cekatan, Richo mengambil selimut yang jatuh ke lantai dan menutupkannya ke tubuh istrinya.“TUNGGU DI SANA, AKU AKAN SEGERA KELUAR ...!” teriak Richo dengan cepat menjawab pertanyaan Nathan. Dia khawatir Nathan akan menerobos masuk ke dalam kamar dan melihat posisi dir
Ternyata ide itu berhasil membangkitkan semangat Richo. Dia bisa bekerja dengan baik meski masih berada di kursi roda, pikirannya tak lagi memikirkan hal yang negatif. Dia tidak ingin membuat Grace sedih lagi. Fokus utamanya kini adalah kebahagiaan Grace. Dia akan melakukan apa pun agar istrinya bahagia.Grace yang melihat perkembangan suaminya, merasa senang. Kini hidupnya mulai normal kembali seiring dengan berjalannya waktu.“Hei, apa yang kamu pikirkan?” tanya Grace ketika mendapati Richo yang duduk terdiam menikmati sinar matahari pagi di pintu balkon di kamarnya.“Memikirkanmu,” goda Richo.“Jangan merayuku pagi-pagi seperti ini,” ucap Grace.Baru saja Grace berdiri di depan Richo, pria itu langsung menarik tubuh istrinya hingga jatuh tepat di pangkuannya.“Kamu benar, memikirkan kekuranganku tidak akan membuatku bahagia. Seharusnya kita membuat kebahagiaan kita sendiri dari sudut pandang kita,” kata Richo yang tiba-tiba me
“Bolehkah aku bersama Ethan sekarang?” isak Kelly ketika menjauh dari pelukan Zack. “Pergilah! Bermainlah dengan Ethan agar hatimu lebih tenang,” kata Zack. Kelly segera berjalan ke kamar Ethan dan menghabiskan waktu bersama putranya. “Apakah selama ini k
Kelly masih diam mendengar penjelasan Judy, dia tampak tidak berniat untuk menanggapinya. “Pikirkan tentang keluargamu, Kelly. Demi Ethan dan demi Zack, akan jauh lebih baik jika hubungan kita bisa membaik,” sambung Elbert. “Entahlah,
“Apakah kamu sudah mengemas semua barangmu dan Ethan? Setelah sarapan kita berangkat ke New York,” Zack mengingatkan Kelly jika hari ini mereka akan kembali ke New York, pulang ke rumah mereka yang berada di dekat pelabuhan dan memulai kehidupan baru di sana. Pemotretan sudah seles
Tangan Zack berpindah dari tubuh Kelly ke tubuh Ethan. Dia menidurkan Ethan di karpet tebal tempat mereka bermain dan menggelitik serta menghujani tubuh Ethan dengan kecupan-kecupan kecil di leher dan perut anak itu.“Geli, Papa! Geli!” teriak Ethan sambil tertawa semakin keras. Kelly ik