تسجيل الدخول
Lie Yuechan merasakan sakit kepala yang luar biasa saat kesadarannya berangsur pulih. Lalu keningnya berkerut dalam ketika merasakan ruang di sekelilingnya begitu sempit dan pengap. Ia membelalak lebar begitu tersadar dengan keadaannya.
Bukankah… ini peti mati?!
Dengan segenap tenaga, ia mendorong papan di atasnya sampai terbuka dengan kencang. Begitu terbuka, ia mendapati di hadapannya berdiri dua wanita berpakaian duka. Wajah mereka yang semula dipenuhi kesedihan seketika berubah pucat pasi.
"Ti... tidak mungkin...."
Wanita yang lebih tua mundur selangkah. Tubuhnya tampak bergetar hebat.
"Dia... dia masih hidup?"
Gadis di sampingnya menggigit bibir hingga memucat. Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan, seolah baru saja melihat hantu bangkit dari alam kematian.
"Mustahil! Bukankah dia sudah...." Ucapannya terhenti di tenggorokan.
Tak jauh dari mereka, beberapa pria berbaju hitam yang membawa pedang ikut membeku di tempat. Tak seorang pun berani bersuara.
Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kain-kain putih berkibar diterpa angin. Asap dupa masih mengepul, sementara peti mati yang baru saja ia buka tergeletak di tengah halaman.
Dadanya berdegup kencang. Jangan bilang… ia bangkit dari kematian?!
Pada saat itu, rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya, ingatan yang sempat hilang kembali, mengalir memenuhi benaknya.
Ia mengingat semuanya. Beberapa hari lalu, ibu dan adik tirinya yang jahat meracuninya hingga Lin Yuechan kehilangan nyawanya. Keduanya memanfaatkan keadaan kediaman yang sepi karena ayahnya sedang bertugas di luar wilayah.
Nyonya Lin—ibu tirinya—menggertakkan gigi. Ia tidak peduli apakah yang berdiri di hadapannya manusia ataupun arwah. Satu hal yang ia tahu, Lin Yuechan tidak boleh tetap hidup.
"Apa yang kalian tunggu?" bentaknya kepada para pengawal.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia melangkah keluar dari tempat ini!"
Belasan pengawal saling berpandangan. Meski hati mereka dipenuhi rasa takut, mereka tetap mencabut pedang dan perlahan mengepung Lin Yuechan dari segala arah.
Lin Yuechan mengembuskan napas pelan. Tubuhnya memang telah hidup kembali, tetapi racun yang dahulu merenggut nyawanya masih menyisakan kelemahan.
Ia mengalihkan pandangan ke arah jalan pegunungan di belakang halaman pemakaman. Tidak ada pilihan lain selain melarikan diri. Sebelum kepungan para pengawal benar-benar menutup, Lin Yuechan tiba-tiba berbalik dan berlari secepat yang mampu dilakukan tubuhnya.
"Kejar dia!"
Teriakan para pengawal menggema. Belasan orang itu langsung mengejar tanpa memberi kesempatan sedikit pun. Sementara itu, Lin Yuechan terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
Ia mengepalkan tangannya dengan erat.
"Aku sudah selamat dari kematian. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merenggut nyawaku untuk kedua kalinya."
Ujung jubah dukanya berkibar liar saat ia berlari menuruni jalan setapak yang dipenuhi semak dan pepohonan. Napasnya mulai memburu, sementara dadanya terasa seperti terbakar.
Namun ia tidak berani berhenti berlari. Hingga begitu ia keluar dari hutan bambu, ia melihat ada sebuah desa kecil di kejauhan.
Tanpa berpikir panjang, Lin Yuechan segera mempercepat langkahnya menuju desa dan memasuki sebuah kerumunan warga sambil menundukkan kepala. Jantungnya berdegup kencang saat orang-orang yang mengejarnya ikut masuk ke dalam kerumunan.
"Kapten! Kami menemukan gadis itu masuk ke sebuah toko!"
"Benarkah? Ayo cepat kejar!"
Tanpa curiga sedikitpun, mereka berlari meninggalkan Lin Yuechan di kerumunan itu. Barulah begitu yakin mereka benar-benar pergi, ia mengehebuskan napas panjang.
"Nyaris saja..."
Beberapa penduduk di kerumunan itu hanya melirik sekilas ke arahnya. Penampilannya yang berantakan memang menarik perhatian, tetapi tak seorang pun memperdulikannya.
Ia terus berjalan melewati kerumunan itu, melewati rumah-rumah sederhana hingga tiba di ujung desa. Ia melihat di sana ada kereta, dan beberapa pelayan dan belasan pengawal berseragam berdiri di sampingnya. Dari cara mereka berjaga, Lin Yuechan tahu bahwa pemilik kereta bukanlah orang biasa.
Tak jauh dari sana, seorang wanita tua anggun berusia sekitar enam puluh tahun duduk di sebuah kursi kayu. Di sampingnya, seorang pelayan wanita terus membujuk dengan wajah cemas.
"Nyonya Tua, angin di luar cukup dingin. Sebaiknya kita kembali ke kediaman."
Wanita tua itu menggeleng pelan.
"Tidak. Ahli nujum berkata, hari ini aku akan bertemu dengan calon cucu menantuku."
Pelayan itu tak lagi membantah, ia hanya menghela napas pelan. Saat itulah suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketenangan.
Lin yuechan terkejut saat menyadari Lin Yuerou muncul bersama beberapa pengawal. Wajahnya dipenuhi amarah, sementara napasnya memburu akibat terus mengejar.
"Ke mana perempuan itu lari?" gerutunya. Tatapannya menyapu seluruh desa dan tanpa sengaja menabrak bahu wanita tua yang sedang berdiri itu hingga tubuhnya oleng.
Untung sang pelayan sigap menopangnya.
"Astaga! Berani-beraninya kau!" bentak pelayan itu.
Lin Yuerou bahkan tidak menoleh.
"Menyingkirlah, Nenek Tua!" Setelah berkata demikian, ia kembali berlari bersama para pengawalnya.
Wajah pelayan itu memerah menahan marah."Kurang ajar! Beraninya dia bersikap lancang kepada Nyonya Tua!"
Namun sebelum kemarahannya sempat dilampiaskan, tubuh wanita tua itu tiba-tiba menegang. Tangannya mencengkeram dada. Wajahnya berubah pucat dalam sekejap.
"N-Nyonya..."
Beberapa detik kemudian, tubuhnya limbung dan jatuh tak sadarkan diri.
"NYONYA TUA!"
Jeritan panik sang pelayan membuat seluruh pengawal bergegas mengerumuni mereka.
Melihat kejadian itu, Lin Yuechan yang sejak tadi bersembunyi di balik dinding rumah terdekat mengernyit pelan. Tatapannya tertuju pada wanita tua yang terbaring tak bergerak.
Wanita itu tidak akan mampu bertahan lama jika dibiarkan.
Lin Yuechan menarik napas pelan. Nalurinya mengatakan agar segera pergi. Semakin lama ia berada di desa ini, semakin besar kemungkinan para pengawal Kediaman Lin menemukannya.
Namun, tatapannya kembali jatuh pada wanita tua yang terbaring di tanah dengan wajah yang pucat parah.
Lin Yuechan menghela napas pelan. Dengan keadaan seperti itu, wanita tua itu tidak akan mampu bertahan. Tanpa berpikir lebih lama, ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Biarkan aku melihatnya."
Suara tenangnya membuat semua orang menoleh. Tatapan para pengawal langsung dipenuhi kewaspadaan.
"Siapa kau?" tanya salah seorang dari mereka dengan nada dingin.
Lin Yuechan tidak menjawab. Ia berjalan mendekati wanita tua itu. Pelayan yang sejak tadi memeluk tubuh sang nyonya buru-buru menghalangi jalannya.
"Berhenti! Jangan mendekat!"
"Aku bisa menolongnya," ucap Lin Yuechan dengan tenang.
Pelayan itu menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jubah dukanya masih berlumuran debu, rambutnya pun acak-acakan. Bagaimana mungkin perempuan seperti ini bisa menyelamatkan Nyonya Tua?
Tatapan Lin Yuechan beralih kepada wanita tua yang wajahnya semakin pucat.
"Napasnya hampir berhenti. Jika kalian terus menghalangiku, beliau benar-benar akan kehilangan nyawanya."
Pelayan itu menggertakkan gigi. Kalimat itu membuat pelayan tersebut terdiam. Ia menoleh kepada wanita tua yang kini sama sekali tidak bergerak.
Di saat itulah, seorang pria paruh baya yang tampaknya merupakan kepala pengawal maju selangkah. Tatapannya tajam mengamati Lin Yuechan.
"Kalau kau benar-benar memiliki cara untuk menyelamatkan Nyonya Tua, lakukan."
Lalu perlahan, ia menggenggam gagang pedang di pinggangnya.
"Tetapi jika kau berniat mencelakainya… aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."
Setelah tabib tua itu berpamitan, Paviliun Anggrek kembali diselimuti keheningan.Hanya Lin Yuechan yang tersisa di dalam ruangan, Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi dua botol obat yang baru saja diberikan tabib.Perlahan, ia mengambil salah satunya, membuka tutupnya, lalu menghirup aroma salep itu.Ramuan ini memang dibuat dengan baik, bahan-bahan yang digunakan juga bukan sembarangan.Namun, Lin Yuechan menggeleng pelan."Salep ini hanya akan mempercepat penyembuhan luka.""Tetapi bekasnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memudar."Ia kembali menutup botol itu.Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari berbagai ramuan obat dan tanaman herbal. Ia bahkan mengetahui beberapa resep salep yang mampu memudarkan bekas luka jauh lebih cepat dibandingkan ramuan biasa.Hanya saja...Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak tersedia di paviliun ini."Aku harus meraciknya sendiri."Tatapannya beralih ke luar jendela.Di kejauhan, atap-atap rumah di Kota Qinghe tampak diterpa
Koridor panjang itu dipenuhi pilar-pilar kayu cendana yang dipernis mengilap.Di sisi kanan terbentang kolam teratai yang tenang, sementara rumpun bambu bergoyang perlahan tertiup angin sore. Suasana kediaman begitu damai, jauh berbeda dengan Kediaman Lin yang selalu dipenuhi pertengkaran dan tatapan sinis.Qing'er berjalan beberapa langkah di depan.Sesekali ia melirik ke arah Lin Yuechan dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menjaga sopan santun.Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah paviliun yang berdiri terpisah dari bangunan utama.Atapnya berlapis genting hijau tua, dengan halaman kecil yang ditanami anggrek bermekaran. Aroma bunganya tercium lembut, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.Qing'er mendorong pintu kayu itu perlahan."Nona Lin, ini adalah Paviliun Anggrek.""Mulai hari ini, untuk sementara Nona akan tinggal di sini."Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke dalam.Ruangan itu tertata rapi.Perabotannya memang tidak berlebihan, tetapi setiap sudutnya me
Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.Jiang Xuan menunggang kuda di barisan paling depan dengan punggung tegap, sementara kereta yang membawa Lin Yuechan dan wanita tua itu mengikuti di belakangnya. Para pengawal mengapit rombongan dari kedua sisi, menjaga setiap langkah perjalanan dengan penuh kewaspadaan.Di dalam kereta, Lin Yuechan akhirnya mengembuskan napas lega.Setelah lolos dari kejaran para pengawal Kediaman Lin, beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan menghilang.Baru ketika tubuhnya mulai mengendur, rasa nyeri yang sedari tadi ia abaikan kembali menyerang.Bekas cambukan di punggungnya masih terasa perih, sementara memar di kedua pergelangan tangannya belum juga memudar. Semua luka itu merupakan jejak penyiksaan yang diterimanya sebelum diracun hingga kehilangan nyawa.Pelariannya tadi memang tidak menambah luka baru, tetapi telah menguras sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih. Wajah Lin Yuechan perlahan memucat, sementara napasnya terdengar sedikit leb
Suasana mendadak hening.Jiang Xuan terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Pada akhirnya, ia mengembuskan napas pelan."Baiklah, Nona Lin."Tatapannya beralih kepada Lin Yuechan."Aku akan mengantarmu kembali ke Kediaman Lin. Jika memang ada kesalah pahaman, aku akan membantumu menjelaskannya."Lin Yuechan segera menggeleng pelan."Tuan Muda, hamba tidak bisa kembali."Tatapannya meredup."Begitu hamba menginjakkan kaki di sana, mereka pasti akan berusaha membunuh hamba lagi."Belum sempat Jiang Xuan menjawab, wanita tua itu lebih dulu membuka suara."Tentu saja dia tidak akan kembali."Jiang Xuan menoleh."Nenek?"Wanita tua itu menatap cucunya dengan wajah serius."Nona Lin ikut bersamamu.""Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di kediamanmu."Jiang Xuan langsung mengernyit."Nenek...""Kurasa itu tidak pantas.""Bagaimanapun juga, kami belum resmi menjadi suami istri."Wanita tua itu mendengus pelan."Lalu apa sulitnya?""Kalau belum resmi, ya tinggal diresm
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan.Duk... duk... duk...Suara itu semakin lama semakin jelas, seolah sedang menuju ke arah mereka.Tubuh Lin Yuechan sontak menegang."Mereka...?"Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan.Para pengawal Kediaman Lin akhirnya berhasil menemukan jejaknya.Melihat kegelisahan itu, wanita tua tersebut mengulurkan tangan dan menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan."Tenanglah, Itu bukan orang-orang yang mengejarmu."Lin Yuechan menoleh dengan raut bingung."Lalu... siapa?"Senyum hangat menghiasi wajah wanita tua itu."Itu cucuku."Tak lama kemudian, tiga ekor kuda memasuki halaman.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Di belakangnya, dua pria lain mengikuti dengan jarak beberapa langkah, tampak seperti pengawal pribadinya.Begitu tiba, pria itu menarik tali kekang.Kuda hitamnya berhenti dengan anggun. Ia lalu turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan dan m
Penekanan demi penekanan terus ia lakukan tanpa henti, irama kedua tangannya tetap stabil, meski lengannya mulai terasa pegal.Beberapa pelayan tak sanggup lagi melihat pemandangan itu."Sudah cukup...."Salah seorang di antara mereka tersedu."Nyonya Tua pasti sudah tiada.""Tidak."Suara Lin Yuechan terdengar tegas."Beliau masih bisa diselamatkan."Ia kembali memeriksa denyut nadi di leher wanita tua itu.Masih sangat lemah.Lin Yuechan mengembuskan napas, lalu kembali memberikan penekanan dada.Waktu seolah berjalan begitu lambat.Tak seorang pun berani bersuara.Semua mata tertuju kepada gadis muda yang sejak tadi berusaha merebut kembali nyawa seseorang dari ambang kematian.Kepala pengawal mengepalkan tangannya erat. Meski tidak memahami apa yang dilakukan Lin Yuechan, ia memilih menunggu.Untuk saat ini, hanya gadis itu yang membawa secercah harapan.Beberapa saat kemudian, tubuh wanita tua itu mendadak bergetar pelan.Jari-jarinya bergerak.Lin Yuechan segera menghentikan pen







