Share

Chapter 02.

Author: Anshuu_
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-16 00:23:18

Penekanan demi penekanan terus ia lakukan tanpa henti, irama kedua tangannya tetap stabil, meski lengannya mulai terasa pegal.

Beberapa pelayan tak sanggup lagi melihat pemandangan itu.

"Sudah cukup...."

Salah seorang di antara mereka tersedu.

"Nyonya Tua pasti sudah tiada."

"Tidak."

Suara Lin Yuechan terdengar tegas.

"Beliau masih bisa diselamatkan."

Ia kembali memeriksa denyut nadi di leher wanita tua itu.

Masih sangat lemah.

Lin Yuechan mengembuskan napas, lalu kembali memberikan penekanan dada.

Waktu seolah berjalan begitu lambat.

Tak seorang pun berani bersuara.

Semua mata tertuju kepada gadis muda yang sejak tadi berusaha merebut kembali nyawa seseorang dari ambang kematian.

Kepala pengawal mengepalkan tangannya erat. Meski tidak memahami apa yang dilakukan Lin Yuechan, ia memilih menunggu.

Untuk saat ini, hanya gadis itu yang membawa secercah harapan.

Beberapa saat kemudian, tubuh wanita tua itu mendadak bergetar pelan.

Jari-jarinya bergerak.

Lin Yuechan segera menghentikan penekanan dan kembali memeriksa denyut nadinya.

Sesaat kemudian, bibirnya tersenyum tipis.

"Nadinya kembali."

Belum sempat orang-orang mencerna ucapannya, wanita tua itu tiba-tiba terbatuk keras.

"Uhuk...! Uhuk...!"

Ia menarik napas panjang seolah baru saja kembali dari gerbang kematian.

Pelayan yang sedari tadi menangis langsung membelalak.

"Nyonya Tua!"

Ia berlutut di sisi wanita tua itu dengan air mata yang terus mengalir.

"Syukur kepada Langit... Anda akhirnya sadar."

Wanita tua itu membuka mata perlahan.

Pandangannya masih kabur.

Samar-samar, ia melihat seorang gadis berwajah pucat berlutut di hadapannya.

Gadis itu tampak kelelahan, tetapi sorot matanya tetap tenang.

Wanita tua itu menggerakkan bibirnya perlahan.

"...Kau... yang menyelamatkanku?"

Lin Yuechan hanya menganggukkan kepala.

"Keadaan Anda sudah berangsur membaik. Namun tubuh Anda masih lemah. Sebaiknya jangan banyak bergerak."

Mendengar perkataan itu, seluruh pengawal dan pelayan saling berpandangan.

Tak ada seorang pun yang menyangka gadis asing yang tampak lusuh itu benar-benar berhasil menyelamatkan nyawa Nyonya Tua.

Tatapan mereka kepada Lin Yuechan pun berubah sepenuhnya.

Wanita tua itu memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napasnya yang masih belum sepenuhnya stabil.

Setelah beberapa saat, ia kembali membuka mata dan menatap Lin Yuechan dengan saksama.

Meski wajah gadis itu dipenuhi debu dan rambutnya tampak berantakan, pembawaannya tetap tenang. Sama sekali tidak terlihat gugup meski sedang dikelilingi begitu banyak pengawal.

"Siapa... namamu?" tanya wanita tua itu dengan suara yang masih lemah.

Lin Yuechan memberi hormat ringan.

"Hamba bernama Lin Yuechan."

Begitu mendengar nama itu, beberapa pengawal saling berpandangan.

Nama keluarga Lin bukanlah nama yang asing di kota ini.

Namun mereka tidak menghubungkannya dengan Kediaman Lin, terlebih penampilan Lin Yuechan saat ini sangat jauh dari sosok seorang nona bangsawan.

Wanita tua itu mengangguk perlahan.

"Lin Yuechan..."

Ia mengulang nama itu seakan ingin mengingatnya baik-baik.

"Lalu, bagaimana kau mengetahui cara menyelamatkanku?"

Lin Yuechan telah menduga pertanyaan itu akan muncul, Ia tidak mungkin menjelaskan tentang resusitasi jantung paru.

Karena itu, ia menjawab dengan tenang,

"Dahulu hamba pernah bertemu seorang tabib pengembara. Beliau mengajarkan beberapa cara untuk menolong seseorang yang berada di ambang maut. Hari ini, hamba hanya mencoba mengingat kembali ajarannya."

Wanita tua itu menatapnya cukup lama.

Entah mengapa, ia merasa gadis di hadapannya tidak sedang berbohong.

"Kalau begitu..." ucapnya pelan, "kau telah menyelamatkan nyawaku."

Tatapan wanita tua itu jatuh pada jubah duka yang masih dikenakan gadis tersebut.

Jubah itu telah dipenuhi debu dan sobekan akibat berlari melewati hutan, tetapi tetap tidak dapat menyembunyikan bahwa itu adalah pakaian yang dikenakan dalam upacara pemakaman.

Alis wanita tua itu sedikit berkerut.

"Nona Lin..."

"Sebenarnya, apa yang telah terjadi hingga kau mengenakan busana duka seperti itu?"

Wanita tua itu menatap Lin Yuechan dengan penuh perhatian.

"Nona Lin, katakan padaku. Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu?"

Lin Yuechan terdiam sejenak. Setelah menarik napas pelan, ia mulai menceritakan semua yang dialaminya.

Tentang bagaimana ibu tirinya dan Lin Yuerou meracuninya.

Bagaimana tabib menyatakan dirinya telah meninggal.

Lalu bagaimana ia terbangun di dalam peti mati ketika upacara pemakamannya sedang berlangsung, sebelum akhirnya melarikan diri demi menyelamatkan nyawa.

Semakin lama mendengarkan, wajah wanita tua itu semakin muram.

Tatapannya dipenuhi rasa iba sekaligus amarah.

"Sungguh kejam..."gumamnya lirih.

Beberapa saat kemudian, wanita tua itu seolah teringat sesuatu.

Senyum perlahan menghiasi wajahnya.

"Kalau begitu, tidak ada pilihan lain."

Ia memberi isyarat kepada Fu Cheng.

"Ambilkan surat itu."

Fu Cheng segera menuju kereta, lalu kembali membawa sebuah gulungan kertas dan sebuah kotak kecil berisi pasta tinta merah.

Lin Yuechan memandang keduanya dengan bingung.

"Nyonya... apa yang hendak Anda lakukan?"

Wanita tua itu tidak menjawab.

Ia membuka gulungan kertas itu di atas meja kecil, lalu membuka tutup kotak tinta merah.

Setelah itu, ia meraih tangan kanan Lin Yuechan dengan lembut.

"Nyonya?"

Lin Yuechan belum sempat bereaksi ketika wanita tua itu menekan ibu jarinya ke dalam tinta merah.

Lalu...

Dengan gerakan mantap, beliau membimbing ibu jari Lin Yuechan hingga menempel di bagian bawah gulungan kertas.

Cap.

Bekas sidik jari merah tercetak dengan jelas.

Lin Yuechan langsung menarik tangannya.

"N-Nyonya! Apa arti semua ini?"

Wanita tua itu menggulung kembali surat tersebut sambil tersenyum puas.

"Mulai hari ini, tidak akan ada seorang pun yang berani melukaimu."

Lin Yuechan mengerjapkan mata.

"Maksud Anda?"

Wanita tua itu menatapnya penuh kasih.

"Karena mulai saat ini, kau adalah calon istri cucuku."

"...Apa?"

Lin Yuechan benar-benar membeku.

Hingga Ia bahkan mulai meragukan pendengarannya sendiri.

"Calon... istri?"

Wanita tua itu mengangguk mantap.

"Benar."

"Jangan khawatir. Cucuku bukan pria sembarangan."

"Di seluruh negeri ini, hanya sedikit orang yang berani menyinggungnya."

"Selama namamu tercantum dalam surat pertunangan ini, orang-orang dari Kediaman Lin tidak akan berani menyentuhmu lagi."

Lin Yuechan masih belum bisa mencerna semua itu.

Bukankah beberapa saat yang lalu ia masih berlari menyelamatkan diri?

Bagaimana mungkin sekarang ia sudah menjadi calon istri seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya?

"N-Nyonya..."

"Bukankah keputusan ini terlalu mendadak?"

Wanita tua itu justru tertawa kecil.

"Aku sudah hidup puluhan tahun. Pandanganku terhadap seseorang tidak pernah keliru."

Ia menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan.

"Lagipula, cucuku sangat tampan."

"Percayalah, kau tidak akan menyesal."

Sudut bibir Lin Yuechan berkedut.

Dalam hati ia hanya bisa bergumam,

Apa hubungannya tampan dengan pertunangan?

Melihat ekspresi bingung gadis itu, wanita tua tersebut kembali tersenyum hangat.

"Duduklah dan tenangkan dirimu."

"Cucuku sebentar lagi akan tiba."

"Untuk sementara, kau akan tinggal di kediamannya agar tidak ada seorang pun yang dapat mengganggumu."

"Setelah semuanya tenang..."

Tatapan wanita tua itu dipenuhi kegembiraan.

"...kita akan segera meresmikan pernikahan kalian."

Lin Yuechan hanya bisa menatap wanita tua itu dengan ekspresi linglung.

Rasanya, sejak ia membuka mata di dalam peti mati, hidupnya berubah terlalu cepat hingga ia bahkan tidak sempat mengejarnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 81.

    Jiang Xuan menatap pemuda itu tajam."Kenapa?"Pemuda tersebut menarik napas dengan susah payah."Karena... dia bukan orang yang paling berbahaya."Lin Yuechan langsung berdiri."Apa maksudmu?"Pria berjubah hitam tersenyum tipis.Tawa kecilnya justru membuat suasana semakin mencekam."Kalian masih belum mengerti."Jiang Xuan mengarahkan pedangnya kembali ke lehernya."Kalau begitu bicara.""Orang yang mengirim pasukan kerajaan ke sini..."Pria itu berhenti sejenak."...bukan Jenderal Zhao."Mata Lin Yuechan melebar."Jenderal Zhao tidak tahu?""Dia hanya menerima perintah."Jiang Xuan menoleh ke arah lorong."Fu Cheng.""Hamba di sini.""Segel semua pintu keluar.""Baik!"Fu Cheng segera membawa beberapa pengawal berlari pergi.Jenderal Zhao yang masih berada di halaman mendengar percakapan itu dan wajahnya berubah serius."Jiang Xuan!""Aku juga ingin tahu siapa yang mengeluarkan perintah palsu itu."Jiang Xuan menatapnya dingin."Kalau begitu jangan menghalangiku."Jenderal Zhao me

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 80.

    Lin Yuechan spontan mundur satu langkah."Itu... mata manusia?"Jiang Xuan tidak menjawab.Tatapannya terkunci pada celah pintu batu.Sepasang mata merah itu tidak bergerak.Hanya menatap mereka.Para pengawal mulai gelisah."Tuan Muda...""Jangan bergerak."Suara Jiang Xuan terdengar tegas.Ia mengangkat pedangnya dan perlahan mendekati pintu.Lin Yuechan buru-buru menarik lengan bajunya."Jiang Xuan, tunggu.""Ada sesuatu di balik pintu.""Aku tahu.""Kalau begitu jangan masuk sendirian."Jiang Xuan menoleh."Takut?"Lin Yuechan mendengus."Takut, tentu saja."Ia menunjuk kegelapan di balik pintu."Siapa yang tidak takut melihat mata merah seperti itu?"Jiang Xuan hampir tersenyum.Namun senyumnya menghilang ketika terdengar suara rantai bergesekan dari balik pintu.Klang!Klang!Klang!Sesuatu bergerak.Jiang Xuan langsung menghunus pedangnya sepenuhnya."Semua mundur."Para pengawal segera menurut.Lin Yuechan juga mundur, tetapi matanya tetap memperhatikan pintu.Tiba-tiba cahaya

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 79.

    kini Pria itu berjalan maju. "Sudah lama, Pewaris." Tubuh Jiang Xuan menegang. Lin Yuechan langsung menyadari sesuatu. Pria itu bukan sekadar mengenal Jiang Xuan. Dia mengetahui identitasnya. Jenderal Zhao menoleh. "Pewaris apa?" Pria berjubah hitam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Jiang Xuan, kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu." Jiang Xuan menggenggam pedangnya. "Siapa kau?" "Orang yang dulu melihat keluargamu jatuh." Tatapan pria itu berubah dingin. "Dan orang yang akan memastikan kau membuka pintu yang selama ini tersegel." Lin Yuechan menggenggam liontin di balik pakaiannya. Tiba-tiba liontin itu kembali terasa panas. Cahaya tipis muncul dari balik kain. Pria berjubah hitam langsung menoleh ke arah tempat Lin Yuechan berdiri. Tatapannya berubah tajam. "Jadi liontin itu ada padamu." Lin Yuechan mundur selangkah. Jiang Xuan langsung berdiri di antara mereka. "Jangan lihat dia." Pria itu tertawa. "Sudah terlambat." "S

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 78.

    Jiang Xuan mengepalkan tangannya lebih erat."Siapa yang menghapus ingatanku?"Mei Lan menundukkan kepala."Aku tidak tahu."Tatapan Jiang Xuan menjadi semakin dingin."Jangan berbohong.""Hamba benar-benar tidak tahu, Tuan."Mei Lan menarik napas panjang."Aku hanya tahu bahwa ketika kau masih kecil, seseorang membawamu keluar dari ibu kota.""Setelah itu, semua catatan mengenai keberadaanmu dihapus."Lin Yuechan mengerutkan kening."Lalu bagaimana kau bisa tahu?"Mei Lan menatapnya."Karena ibumu yang memintaku membantu."Lin Yuechan langsung terdiam."Ibuku?""Ya."Mei Lan mengangguk."Ibumu mengetahui bahwa keluarga Jiang sedang diburu. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, jadi ia hanya bisa menyelamatkan satu orang.""Jiang Xuan."Jiang Xuan menatap wanita tua itu tanpa berkedip."Kenapa?""Karena kau adalah satu-satunya pewaris yang masih memiliki darah asli keluarga Jiang."Lin Yuechan perlahan memahami."Jadi ibuku menyelamatkan Jiang Xuan?""Benar.""Dan setelah itu?"Mei La

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 77.

    Wanita itu menatapnya. "Baru beberapa tahun terakhir inti racun mulai bangun." Lin Yuechan merasa dadanya sesak. "Jadi selama ini..." "Benar." Wanita itu menatap Jiang Xuan dengan tatapan iba. "Racun itu bukan dibuat untuk membunuhmu." Jiang Xuan mengerutkan kening. "Lalu untuk apa?" Wanita itu menjawab perlahan. "Untuk menjaga sesuatu tetap tersegel di dalam darahmu." Ruangan kembali sunyi. Lin Yuechan menatap Jiang Xuan. "Tersegel?" Wanita itu mengangguk. "Dan jika segel itu rusak..." Ia berhenti. "Apa yang terjadi?" tanya Lin Yuechan. Wanita tua itu menatap liontin di tangan Lin Yuechan. "Mereka akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari." Jiang Xuan mengambil liontin tersebut dari tangan Lin Yuechan. Tatapannya berubah semakin serius. "Kalau begitu, kita harus menemukan ruang rahasia itu lebih dahulu." Wanita tua tersebut mengangguk. "Tempatnya berada di bawah istana lama." "Namun pintunya hanya bisa dibuka dengan dua benda." Lin Yuechan langsung be

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 76.

    Jiang Xuan mengambil seluruh surat dari dalam kotak. "Namun yang lebih penting sekarang adalah ini." Lin Yuechan menatap kotak tersebut. Di bagian dasar ternyata terdapat ukiran yang sama seperti cincin milik kelompok berjubah hitam. Burung hitam. Lin Yuechan perlahan mengepalkan tangan. "Ternyata ibuku memang terlibat dalam semua ini." Jiang Xuan menatapnya. "Belum tentu." "Jangan menyimpulkan sebelum kita mengetahui kebenarannya." Lin Yuechan mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kematian ibunya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Dan sekarang, masa lalu itu mulai menyeret Jiang Xuan ke dalamnya. Lin Yuechan masih menatap ukiran burung hitam di dasar kotak. Semakin lama ia melihatnya, semakin sesak dadanya. "Ibuku pasti mengetahui sesuatu," gumamnya. Jiang Xuan mengangguk. "Benar." Ia membalik kotak tersebut dan memeriksa setiap sisinya. "Ada sesuatu yang disembunyikan di sini." Lin Yuechan mendekat. "Di mana?" Jiang X

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status