Share

Chapter 07.

Author: Anshuu_
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-23 19:38:41

Setelah tabib tua itu berpamitan, Paviliun Anggrek kembali diselimuti keheningan.

Hanya Lin Yuechan yang tersisa di dalam ruangan, Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi dua botol obat yang baru saja diberikan tabib.

Perlahan, ia mengambil salah satunya, membuka tutupnya, lalu menghirup aroma salep itu.

Ramuan ini memang dibuat dengan baik, bahan-bahan yang digunakan juga bukan sembarangan.

Namun, Lin Yuechan menggeleng pelan.

"Salep ini hanya akan mempercepat penyembuhan luka."

"Tetapi bekasnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memudar."

Ia kembali menutup botol itu.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari berbagai ramuan obat dan tanaman herbal. Ia bahkan mengetahui beberapa resep salep yang mampu memudarkan bekas luka jauh lebih cepat dibandingkan ramuan biasa.

Hanya saja...

Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak tersedia di paviliun ini.

"Aku harus meraciknya sendiri."

Tatapannya beralih ke luar jendela.

Di kejauhan, atap-atap rumah di Kota Qinghe tampak diterpa cahaya senja.

"Aku harus pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan obat."

Tentu saja, itu hanya bisa dilakukan setelah meminta izin kepada Nenek atau Jiang Xuan.

Bagaimanapun juga, saat ini ia masih menjadi tamu di Kediaman Bupati.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengurungkan niatnya.

"Namun, untuk saat ini aku harus beristirahat terlebih dahulu."

"Tubuhku belum sepenuhnya pulih."

Ia melirik luka-luka di kedua tangannya.

Jika memaksakan diri keluar sekarang, bukan hanya tubuhnya yang akan semakin lemah, tetapi juga akan menarik perhatian orang lain.

"Lusa saja."

"Mudah-mudahan saat itu keadaan sudah lebih tenang."

Bagaimanapun juga, orang-orang dari Kediaman Lin pasti masih menyisir berbagai tempat untuk mencarinya.

Mereka tentu tidak akan menyangka bahwa dirinya kini berlindung di Kediaman Bupati Qinghe.

Meski begitu, Lin Yuechan tidak ingin mengambil risiko.

"Sebaiknya aku menunggu beberapa hari lagi."

"Setelah keadaan benar-benar aman, barulah aku pergi ke pasar membeli bahan-bahan obat."

Setelah mengambil keputusan itu, Lin Yuechan berjalan menuju ranjang.

Begitu tubuhnya menyentuh kasur yang empuk, rasa lelah yang sedari tadi ia tahan seketika menyerbu.

Tak lama kemudian, kelopak matanya perlahan terpejam.

Untuk pertama kalinya setelah kembali dari kematian, ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa dihantui rasa takut akan cambukan ataupun ancaman kematian.

Malam menyelimuti Kediaman Bupati Qinghe dengan tenang.

Lentera-lentera merah yang digantung di sepanjang koridor memancarkan cahaya kekuningan, menerangi setiap sudut kediaman. Sesekali terdengar suara jangkrik dari taman, berpadu dengan desir angin yang menggoyangkan dedaunan bambu.

Sementara itu, di ruang utama, Jiang Xuan baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Di atas meja masih bertumpuk gulungan dokumen yang harus ia periksa. Sebagai Bupati Qinghe, hampir setiap hari ia disibukkan dengan urusan pemerintahan, mulai dari perkara rakyat hingga laporan para pejabat bawahan.

Fu Cheng berdiri di samping sambil menuangkan secangkir teh hangat.

"Tuan, sudah larut malam."

"Selebihnya bisa Tuan lanjutkan besok."

Jiang Xuan meletakkan kuas di atas tempatnya, lalu mengangkat cangkir teh.

Ia menyesapnya perlahan.

"Bagaimana keadaan Nona Lin?"

Fu Cheng sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka pertanyaan pertama tuannya justru tentang gadis yang baru mereka temui hari ini.

"Hamba baru saja bertemu Qing'er."

"Katanya tabib telah selesai memeriksa Nona Lin."

"Luka-lukanya memang cukup banyak, tetapi tidak membahayakan nyawa."

"Beliau hanya perlu banyak beristirahat."

Jiang Xuan menganggukkan kepala pelan.

"Itu sudah cukup."

Fu Cheng mengamati wajah tuannya sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Tuan tampaknya cukup memedulikan Nona Lin."

Jiang Xuan meliriknya datar.

"Aku hanya memastikan tamu nenek mendapatkan perawatan yang layak."

"Jangan berpikir macam-macam."

Fu Cheng segera menundukkan kepala, meski senyum tipis di wajahnya belum sepenuhnya hilang.

"Hamba mengerti."

Pada saat itu, terdengar suara langkah kaki dari luar.

Seorang pelayan masuk, lalu membungkukkan badan.

"Tuan Bupati."

"Nyonya Tua meminta Tuan datang ke Aula Giok."

Jiang Xuan sedikit mengernyit.

"Apakah Nenek belum beristirahat?"

"Belum, Tuan."

"Beliau berkata ada hal penting yang ingin dibicarakan."

Jiang Xuan menghela napas pelan.

Entah mengapa, ia memiliki firasat bahwa pembicaraan itu pasti berkaitan dengan Lin Yuechan.

Ia pun bangkit dari kursinya.

"Ayo."

Tanpa menunda lagi, Jiang Xuan melangkah meninggalkan ruang kerjanya, sementara Fu Cheng mengikuti dari belakang.

Tak lama kemudian, Jiang Xuan tiba di Aula Giok.

Begitu melangkah masuk, ia melihat wanita tua itu tengah duduk dengan tenang sambil menikmati secangkir teh hangat.

"Nenek."

Jiang Xuan membungkukkan kepala memberi hormat.

"Masih belum beristirahat?"

Wanita tua itu mengangkat pandangannya, lalu tersenyum.

"Duduklah."

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Jiang Xuan pun duduk di hadapan neneknya.

Seorang pelayan segera menuangkan secangkir teh untuknya sebelum mundur meninggalkan aula.

Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam ruangan, wanita tua itu langsung membuka pembicaraan.

"Bagaimana pendapatmu tentang Yuechan?"

Jiang Xuan sedikit terdiam.

"Kenapa Nenek tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Jawab saja."

Jiang Xuan merenung sejenak.

"Menurutku..."

"Ia bukan gadis biasa."

Wanita tua itu mengangkat sebelah alis.

"Oh?"

Jiang Xuan melanjutkan,

"Meski sedang diburu dan tubuhnya dipenuhi luka, ia masih memilih menyelamatkan orang lain."

"Kebanyakan orang akan lebih mementingkan diri sendiri dalam keadaan seperti itu."

"Tetapi tidak dengannya."

"Selain itu..."

Jiang Xuan berhenti sejenak.

"Pengetahuan yang dimilikinya juga cukup aneh."

Wanita tua itu tersenyum kecil.

"Maksudmu cara ia menyelamatkanku?"

Jiang Xuan mengangguk.

"Aku belum pernah mendengar metode seperti itu."

"Namun, cara tersebut benar-benar berhasil menyelamatkan nyawa Nenek."

Wanita tua itu menyesap tehnya perlahan.

"Justru karena itulah aku semakin yakin."

Jiang Xuan memandang neneknya dengan bingung.

"Yakin akan apa?"

Wanita tua itu tersenyum penuh arti.

"Bahwa aku tidak salah memilih cucu menantu."

Jiang Xuan hanya bisa menghela napas pelan.

"Nenek..."

"Yuechan sendiri bahkan belum tentu bersedia menikah denganku."

Wanita tua itu tertawa kecil.

"Kalau begitu, buatlah dia bersedia."

Jiang Xuan hampir tersedak teh yang baru saja diminumnya.

"Nenek, pernikahan bukan perkara yang bisa dipaksakan."

"Aku tahu."

Wanita tua itu meletakkan cangkir tehnya.

"Itulah sebabnya aku tidak menyuruhmu memaksanya."

"Aku hanya ingin kau memperlakukannya dengan baik."

"Biarkan ia tinggal di sini dengan tenang."

"Setelah luka di tubuh dan hatinya sembuh, biarkan dia sendiri yang menentukan pilihannya."

Mendengar ucapan itu, Jiang Xuan sedikit terdiam, Ia mengenal neneknya dengan baik.

Meski sering bertindak sesuka hati, wanita tua itu tidak pernah memaksa seseorang dalam urusan yang menyangkut kebahagiaan hidup.

Setelah beberapa saat, Jiang Xuan menganggukkan kepala.

"Baik."

"Selama ia tinggal di kediaman ini, aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya."

Mendengar jawaban itu, senyum wanita tua tersebut semakin lebar.

"Itu baru cucuku."

Namun, baik Jiang Xuan maupun wanita tua itu sama-sama tidak menyadari...

Di luar Kediaman Bupati, orang-orang dari Kediaman Lin masih belum menghentikan pencarian mereka.

Bahkan, sebuah rencana baru tengah disusun untuk menemukan Lin Yuechan, apa pun risikonya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 81.

    Jiang Xuan menatap pemuda itu tajam."Kenapa?"Pemuda tersebut menarik napas dengan susah payah."Karena... dia bukan orang yang paling berbahaya."Lin Yuechan langsung berdiri."Apa maksudmu?"Pria berjubah hitam tersenyum tipis.Tawa kecilnya justru membuat suasana semakin mencekam."Kalian masih belum mengerti."Jiang Xuan mengarahkan pedangnya kembali ke lehernya."Kalau begitu bicara.""Orang yang mengirim pasukan kerajaan ke sini..."Pria itu berhenti sejenak."...bukan Jenderal Zhao."Mata Lin Yuechan melebar."Jenderal Zhao tidak tahu?""Dia hanya menerima perintah."Jiang Xuan menoleh ke arah lorong."Fu Cheng.""Hamba di sini.""Segel semua pintu keluar.""Baik!"Fu Cheng segera membawa beberapa pengawal berlari pergi.Jenderal Zhao yang masih berada di halaman mendengar percakapan itu dan wajahnya berubah serius."Jiang Xuan!""Aku juga ingin tahu siapa yang mengeluarkan perintah palsu itu."Jiang Xuan menatapnya dingin."Kalau begitu jangan menghalangiku."Jenderal Zhao me

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 80.

    Lin Yuechan spontan mundur satu langkah."Itu... mata manusia?"Jiang Xuan tidak menjawab.Tatapannya terkunci pada celah pintu batu.Sepasang mata merah itu tidak bergerak.Hanya menatap mereka.Para pengawal mulai gelisah."Tuan Muda...""Jangan bergerak."Suara Jiang Xuan terdengar tegas.Ia mengangkat pedangnya dan perlahan mendekati pintu.Lin Yuechan buru-buru menarik lengan bajunya."Jiang Xuan, tunggu.""Ada sesuatu di balik pintu.""Aku tahu.""Kalau begitu jangan masuk sendirian."Jiang Xuan menoleh."Takut?"Lin Yuechan mendengus."Takut, tentu saja."Ia menunjuk kegelapan di balik pintu."Siapa yang tidak takut melihat mata merah seperti itu?"Jiang Xuan hampir tersenyum.Namun senyumnya menghilang ketika terdengar suara rantai bergesekan dari balik pintu.Klang!Klang!Klang!Sesuatu bergerak.Jiang Xuan langsung menghunus pedangnya sepenuhnya."Semua mundur."Para pengawal segera menurut.Lin Yuechan juga mundur, tetapi matanya tetap memperhatikan pintu.Tiba-tiba cahaya

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 79.

    kini Pria itu berjalan maju. "Sudah lama, Pewaris." Tubuh Jiang Xuan menegang. Lin Yuechan langsung menyadari sesuatu. Pria itu bukan sekadar mengenal Jiang Xuan. Dia mengetahui identitasnya. Jenderal Zhao menoleh. "Pewaris apa?" Pria berjubah hitam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Jiang Xuan, kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu." Jiang Xuan menggenggam pedangnya. "Siapa kau?" "Orang yang dulu melihat keluargamu jatuh." Tatapan pria itu berubah dingin. "Dan orang yang akan memastikan kau membuka pintu yang selama ini tersegel." Lin Yuechan menggenggam liontin di balik pakaiannya. Tiba-tiba liontin itu kembali terasa panas. Cahaya tipis muncul dari balik kain. Pria berjubah hitam langsung menoleh ke arah tempat Lin Yuechan berdiri. Tatapannya berubah tajam. "Jadi liontin itu ada padamu." Lin Yuechan mundur selangkah. Jiang Xuan langsung berdiri di antara mereka. "Jangan lihat dia." Pria itu tertawa. "Sudah terlambat." "S

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 78.

    Jiang Xuan mengepalkan tangannya lebih erat."Siapa yang menghapus ingatanku?"Mei Lan menundukkan kepala."Aku tidak tahu."Tatapan Jiang Xuan menjadi semakin dingin."Jangan berbohong.""Hamba benar-benar tidak tahu, Tuan."Mei Lan menarik napas panjang."Aku hanya tahu bahwa ketika kau masih kecil, seseorang membawamu keluar dari ibu kota.""Setelah itu, semua catatan mengenai keberadaanmu dihapus."Lin Yuechan mengerutkan kening."Lalu bagaimana kau bisa tahu?"Mei Lan menatapnya."Karena ibumu yang memintaku membantu."Lin Yuechan langsung terdiam."Ibuku?""Ya."Mei Lan mengangguk."Ibumu mengetahui bahwa keluarga Jiang sedang diburu. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, jadi ia hanya bisa menyelamatkan satu orang.""Jiang Xuan."Jiang Xuan menatap wanita tua itu tanpa berkedip."Kenapa?""Karena kau adalah satu-satunya pewaris yang masih memiliki darah asli keluarga Jiang."Lin Yuechan perlahan memahami."Jadi ibuku menyelamatkan Jiang Xuan?""Benar.""Dan setelah itu?"Mei La

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 77.

    Wanita itu menatapnya. "Baru beberapa tahun terakhir inti racun mulai bangun." Lin Yuechan merasa dadanya sesak. "Jadi selama ini..." "Benar." Wanita itu menatap Jiang Xuan dengan tatapan iba. "Racun itu bukan dibuat untuk membunuhmu." Jiang Xuan mengerutkan kening. "Lalu untuk apa?" Wanita itu menjawab perlahan. "Untuk menjaga sesuatu tetap tersegel di dalam darahmu." Ruangan kembali sunyi. Lin Yuechan menatap Jiang Xuan. "Tersegel?" Wanita itu mengangguk. "Dan jika segel itu rusak..." Ia berhenti. "Apa yang terjadi?" tanya Lin Yuechan. Wanita tua itu menatap liontin di tangan Lin Yuechan. "Mereka akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari." Jiang Xuan mengambil liontin tersebut dari tangan Lin Yuechan. Tatapannya berubah semakin serius. "Kalau begitu, kita harus menemukan ruang rahasia itu lebih dahulu." Wanita tua tersebut mengangguk. "Tempatnya berada di bawah istana lama." "Namun pintunya hanya bisa dibuka dengan dua benda." Lin Yuechan langsung be

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 76.

    Jiang Xuan mengambil seluruh surat dari dalam kotak. "Namun yang lebih penting sekarang adalah ini." Lin Yuechan menatap kotak tersebut. Di bagian dasar ternyata terdapat ukiran yang sama seperti cincin milik kelompok berjubah hitam. Burung hitam. Lin Yuechan perlahan mengepalkan tangan. "Ternyata ibuku memang terlibat dalam semua ini." Jiang Xuan menatapnya. "Belum tentu." "Jangan menyimpulkan sebelum kita mengetahui kebenarannya." Lin Yuechan mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kematian ibunya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Dan sekarang, masa lalu itu mulai menyeret Jiang Xuan ke dalamnya. Lin Yuechan masih menatap ukiran burung hitam di dasar kotak. Semakin lama ia melihatnya, semakin sesak dadanya. "Ibuku pasti mengetahui sesuatu," gumamnya. Jiang Xuan mengangguk. "Benar." Ia membalik kotak tersebut dan memeriksa setiap sisinya. "Ada sesuatu yang disembunyikan di sini." Lin Yuechan mendekat. "Di mana?" Jiang X

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status