LOGINSetelah tabib tua itu berpamitan, Paviliun Anggrek kembali diselimuti keheningan.
Hanya Lin Yuechan yang tersisa di dalam ruangan, Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi dua botol obat yang baru saja diberikan tabib.
Perlahan, ia mengambil salah satunya, membuka tutupnya, lalu menghirup aroma salep itu.
Ramuan ini memang dibuat dengan baik, bahan-bahan yang digunakan juga bukan sembarangan.
Namun, Lin Yuechan menggeleng pelan.
"Salep ini hanya akan mempercepat penyembuhan luka."
"Tetapi bekasnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memudar."
Ia kembali menutup botol itu.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari berbagai ramuan obat dan tanaman herbal. Ia bahkan mengetahui beberapa resep salep yang mampu memudarkan bekas luka jauh lebih cepat dibandingkan ramuan biasa.
Hanya saja...
Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak tersedia di paviliun ini.
"Aku harus meraciknya sendiri."
Tatapannya beralih ke luar jendela.
Di kejauhan, atap-atap rumah di Kota Qinghe tampak diterpa cahaya senja.
"Aku harus pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan obat."
Tentu saja, itu hanya bisa dilakukan setelah meminta izin kepada Nenek atau Jiang Xuan.
Bagaimanapun juga, saat ini ia masih menjadi tamu di Kediaman Bupati.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengurungkan niatnya.
"Namun, untuk saat ini aku harus beristirahat terlebih dahulu."
"Tubuhku belum sepenuhnya pulih."
Ia melirik luka-luka di kedua tangannya.
Jika memaksakan diri keluar sekarang, bukan hanya tubuhnya yang akan semakin lemah, tetapi juga akan menarik perhatian orang lain.
"Lusa saja."
"Mudah-mudahan saat itu keadaan sudah lebih tenang."
Bagaimanapun juga, orang-orang dari Kediaman Lin pasti masih menyisir berbagai tempat untuk mencarinya.
Mereka tentu tidak akan menyangka bahwa dirinya kini berlindung di Kediaman Bupati Qinghe.
Meski begitu, Lin Yuechan tidak ingin mengambil risiko.
"Sebaiknya aku menunggu beberapa hari lagi."
"Setelah keadaan benar-benar aman, barulah aku pergi ke pasar membeli bahan-bahan obat."
Setelah mengambil keputusan itu, Lin Yuechan berjalan menuju ranjang.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur yang empuk, rasa lelah yang sedari tadi ia tahan seketika menyerbu.
Tak lama kemudian, kelopak matanya perlahan terpejam.
Untuk pertama kalinya setelah kembali dari kematian, ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa dihantui rasa takut akan cambukan ataupun ancaman kematian.
Malam menyelimuti Kediaman Bupati Qinghe dengan tenang.
Lentera-lentera merah yang digantung di sepanjang koridor memancarkan cahaya kekuningan, menerangi setiap sudut kediaman. Sesekali terdengar suara jangkrik dari taman, berpadu dengan desir angin yang menggoyangkan dedaunan bambu.
Sementara itu, di ruang utama, Jiang Xuan baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Di atas meja masih bertumpuk gulungan dokumen yang harus ia periksa. Sebagai Bupati Qinghe, hampir setiap hari ia disibukkan dengan urusan pemerintahan, mulai dari perkara rakyat hingga laporan para pejabat bawahan.
Fu Cheng berdiri di samping sambil menuangkan secangkir teh hangat.
"Tuan, sudah larut malam."
"Selebihnya bisa Tuan lanjutkan besok."
Jiang Xuan meletakkan kuas di atas tempatnya, lalu mengangkat cangkir teh.
Ia menyesapnya perlahan.
"Bagaimana keadaan Nona Lin?"
Fu Cheng sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka pertanyaan pertama tuannya justru tentang gadis yang baru mereka temui hari ini.
"Hamba baru saja bertemu Qing'er."
"Katanya tabib telah selesai memeriksa Nona Lin."
"Luka-lukanya memang cukup banyak, tetapi tidak membahayakan nyawa."
"Beliau hanya perlu banyak beristirahat."
Jiang Xuan menganggukkan kepala pelan.
"Itu sudah cukup."
Fu Cheng mengamati wajah tuannya sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Tuan tampaknya cukup memedulikan Nona Lin."
Jiang Xuan meliriknya datar.
"Aku hanya memastikan tamu nenek mendapatkan perawatan yang layak."
"Jangan berpikir macam-macam."
Fu Cheng segera menundukkan kepala, meski senyum tipis di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
"Hamba mengerti."
Pada saat itu, terdengar suara langkah kaki dari luar.
Seorang pelayan masuk, lalu membungkukkan badan.
"Tuan Bupati."
"Nyonya Tua meminta Tuan datang ke Aula Giok."
Jiang Xuan sedikit mengernyit.
"Apakah Nenek belum beristirahat?"
"Belum, Tuan."
"Beliau berkata ada hal penting yang ingin dibicarakan."
Jiang Xuan menghela napas pelan.
Entah mengapa, ia memiliki firasat bahwa pembicaraan itu pasti berkaitan dengan Lin Yuechan.
Ia pun bangkit dari kursinya.
"Ayo."
Tanpa menunda lagi, Jiang Xuan melangkah meninggalkan ruang kerjanya, sementara Fu Cheng mengikuti dari belakang.
Tak lama kemudian, Jiang Xuan tiba di Aula Giok.
Begitu melangkah masuk, ia melihat wanita tua itu tengah duduk dengan tenang sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Nenek."
Jiang Xuan membungkukkan kepala memberi hormat.
"Masih belum beristirahat?"
Wanita tua itu mengangkat pandangannya, lalu tersenyum.
"Duduklah."
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Jiang Xuan pun duduk di hadapan neneknya.
Seorang pelayan segera menuangkan secangkir teh untuknya sebelum mundur meninggalkan aula.
Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam ruangan, wanita tua itu langsung membuka pembicaraan.
"Bagaimana pendapatmu tentang Yuechan?"
Jiang Xuan sedikit terdiam.
"Kenapa Nenek tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Jawab saja."
Jiang Xuan merenung sejenak.
"Menurutku..."
"Ia bukan gadis biasa."
Wanita tua itu mengangkat sebelah alis.
"Oh?"
Jiang Xuan melanjutkan,
"Meski sedang diburu dan tubuhnya dipenuhi luka, ia masih memilih menyelamatkan orang lain."
"Kebanyakan orang akan lebih mementingkan diri sendiri dalam keadaan seperti itu."
"Tetapi tidak dengannya."
"Selain itu..."
Jiang Xuan berhenti sejenak.
"Pengetahuan yang dimilikinya juga cukup aneh."
Wanita tua itu tersenyum kecil.
"Maksudmu cara ia menyelamatkanku?"
Jiang Xuan mengangguk.
"Aku belum pernah mendengar metode seperti itu."
"Namun, cara tersebut benar-benar berhasil menyelamatkan nyawa Nenek."
Wanita tua itu menyesap tehnya perlahan.
"Justru karena itulah aku semakin yakin."
Jiang Xuan memandang neneknya dengan bingung.
"Yakin akan apa?"
Wanita tua itu tersenyum penuh arti.
"Bahwa aku tidak salah memilih cucu menantu."
Jiang Xuan hanya bisa menghela napas pelan.
"Nenek..."
"Yuechan sendiri bahkan belum tentu bersedia menikah denganku."
Wanita tua itu tertawa kecil.
"Kalau begitu, buatlah dia bersedia."
Jiang Xuan hampir tersedak teh yang baru saja diminumnya.
"Nenek, pernikahan bukan perkara yang bisa dipaksakan."
"Aku tahu."
Wanita tua itu meletakkan cangkir tehnya.
"Itulah sebabnya aku tidak menyuruhmu memaksanya."
"Aku hanya ingin kau memperlakukannya dengan baik."
"Biarkan ia tinggal di sini dengan tenang."
"Setelah luka di tubuh dan hatinya sembuh, biarkan dia sendiri yang menentukan pilihannya."
Mendengar ucapan itu, Jiang Xuan sedikit terdiam, Ia mengenal neneknya dengan baik.
Meski sering bertindak sesuka hati, wanita tua itu tidak pernah memaksa seseorang dalam urusan yang menyangkut kebahagiaan hidup.
Setelah beberapa saat, Jiang Xuan menganggukkan kepala.
"Baik."
"Selama ia tinggal di kediaman ini, aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya."
Mendengar jawaban itu, senyum wanita tua tersebut semakin lebar.
"Itu baru cucuku."
Namun, baik Jiang Xuan maupun wanita tua itu sama-sama tidak menyadari...
Di luar Kediaman Bupati, orang-orang dari Kediaman Lin masih belum menghentikan pencarian mereka.
Bahkan, sebuah rencana baru tengah disusun untuk menemukan Lin Yuechan, apa pun risikonya.
Setelah tabib tua itu berpamitan, Paviliun Anggrek kembali diselimuti keheningan.Hanya Lin Yuechan yang tersisa di dalam ruangan, Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi dua botol obat yang baru saja diberikan tabib.Perlahan, ia mengambil salah satunya, membuka tutupnya, lalu menghirup aroma salep itu.Ramuan ini memang dibuat dengan baik, bahan-bahan yang digunakan juga bukan sembarangan.Namun, Lin Yuechan menggeleng pelan."Salep ini hanya akan mempercepat penyembuhan luka.""Tetapi bekasnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memudar."Ia kembali menutup botol itu.Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari berbagai ramuan obat dan tanaman herbal. Ia bahkan mengetahui beberapa resep salep yang mampu memudarkan bekas luka jauh lebih cepat dibandingkan ramuan biasa.Hanya saja...Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak tersedia di paviliun ini."Aku harus meraciknya sendiri."Tatapannya beralih ke luar jendela.Di kejauhan, atap-atap rumah di Kota Qinghe tampak diterpa
Koridor panjang itu dipenuhi pilar-pilar kayu cendana yang dipernis mengilap.Di sisi kanan terbentang kolam teratai yang tenang, sementara rumpun bambu bergoyang perlahan tertiup angin sore. Suasana kediaman begitu damai, jauh berbeda dengan Kediaman Lin yang selalu dipenuhi pertengkaran dan tatapan sinis.Qing'er berjalan beberapa langkah di depan.Sesekali ia melirik ke arah Lin Yuechan dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menjaga sopan santun.Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah paviliun yang berdiri terpisah dari bangunan utama.Atapnya berlapis genting hijau tua, dengan halaman kecil yang ditanami anggrek bermekaran. Aroma bunganya tercium lembut, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.Qing'er mendorong pintu kayu itu perlahan."Nona Lin, ini adalah Paviliun Anggrek.""Mulai hari ini, untuk sementara Nona akan tinggal di sini."Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke dalam.Ruangan itu tertata rapi.Perabotannya memang tidak berlebihan, tetapi setiap sudutnya me
Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.Jiang Xuan menunggang kuda di barisan paling depan dengan punggung tegap, sementara kereta yang membawa Lin Yuechan dan wanita tua itu mengikuti di belakangnya. Para pengawal mengapit rombongan dari kedua sisi, menjaga setiap langkah perjalanan dengan penuh kewaspadaan.Di dalam kereta, Lin Yuechan akhirnya mengembuskan napas lega.Setelah lolos dari kejaran para pengawal Kediaman Lin, beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan menghilang.Baru ketika tubuhnya mulai mengendur, rasa nyeri yang sedari tadi ia abaikan kembali menyerang.Bekas cambukan di punggungnya masih terasa perih, sementara memar di kedua pergelangan tangannya belum juga memudar. Semua luka itu merupakan jejak penyiksaan yang diterimanya sebelum diracun hingga kehilangan nyawa.Pelariannya tadi memang tidak menambah luka baru, tetapi telah menguras sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih. Wajah Lin Yuechan perlahan memucat, sementara napasnya terdengar sedikit leb
Suasana mendadak hening.Jiang Xuan terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Pada akhirnya, ia mengembuskan napas pelan."Baiklah, Nona Lin."Tatapannya beralih kepada Lin Yuechan."Aku akan mengantarmu kembali ke Kediaman Lin. Jika memang ada kesalah pahaman, aku akan membantumu menjelaskannya."Lin Yuechan segera menggeleng pelan."Tuan Muda, hamba tidak bisa kembali."Tatapannya meredup."Begitu hamba menginjakkan kaki di sana, mereka pasti akan berusaha membunuh hamba lagi."Belum sempat Jiang Xuan menjawab, wanita tua itu lebih dulu membuka suara."Tentu saja dia tidak akan kembali."Jiang Xuan menoleh."Nenek?"Wanita tua itu menatap cucunya dengan wajah serius."Nona Lin ikut bersamamu.""Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di kediamanmu."Jiang Xuan langsung mengernyit."Nenek...""Kurasa itu tidak pantas.""Bagaimanapun juga, kami belum resmi menjadi suami istri."Wanita tua itu mendengus pelan."Lalu apa sulitnya?""Kalau belum resmi, ya tinggal diresm
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan.Duk... duk... duk...Suara itu semakin lama semakin jelas, seolah sedang menuju ke arah mereka.Tubuh Lin Yuechan sontak menegang."Mereka...?"Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan.Para pengawal Kediaman Lin akhirnya berhasil menemukan jejaknya.Melihat kegelisahan itu, wanita tua tersebut mengulurkan tangan dan menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan."Tenanglah, Itu bukan orang-orang yang mengejarmu."Lin Yuechan menoleh dengan raut bingung."Lalu... siapa?"Senyum hangat menghiasi wajah wanita tua itu."Itu cucuku."Tak lama kemudian, tiga ekor kuda memasuki halaman.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Di belakangnya, dua pria lain mengikuti dengan jarak beberapa langkah, tampak seperti pengawal pribadinya.Begitu tiba, pria itu menarik tali kekang.Kuda hitamnya berhenti dengan anggun. Ia lalu turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan dan m
Penekanan demi penekanan terus ia lakukan tanpa henti, irama kedua tangannya tetap stabil, meski lengannya mulai terasa pegal.Beberapa pelayan tak sanggup lagi melihat pemandangan itu."Sudah cukup...."Salah seorang di antara mereka tersedu."Nyonya Tua pasti sudah tiada.""Tidak."Suara Lin Yuechan terdengar tegas."Beliau masih bisa diselamatkan."Ia kembali memeriksa denyut nadi di leher wanita tua itu.Masih sangat lemah.Lin Yuechan mengembuskan napas, lalu kembali memberikan penekanan dada.Waktu seolah berjalan begitu lambat.Tak seorang pun berani bersuara.Semua mata tertuju kepada gadis muda yang sejak tadi berusaha merebut kembali nyawa seseorang dari ambang kematian.Kepala pengawal mengepalkan tangannya erat. Meski tidak memahami apa yang dilakukan Lin Yuechan, ia memilih menunggu.Untuk saat ini, hanya gadis itu yang membawa secercah harapan.Beberapa saat kemudian, tubuh wanita tua itu mendadak bergetar pelan.Jari-jarinya bergerak.Lin Yuechan segera menghentikan pen







