Share

Chapter 06.

Author: Anshuu_
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-23 18:21:35

Koridor panjang itu dipenuhi pilar-pilar kayu cendana yang dipernis mengilap.

Di sisi kanan terbentang kolam teratai yang tenang, sementara rumpun bambu bergoyang perlahan tertiup angin sore. Suasana kediaman begitu damai, jauh berbeda dengan Kediaman Lin yang selalu dipenuhi pertengkaran dan tatapan sinis.

Qing'er berjalan beberapa langkah di depan.

Sesekali ia melirik ke arah Lin Yuechan dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menjaga sopan santun.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah paviliun yang berdiri terpisah dari bangunan utama.

Atapnya berlapis genting hijau tua, dengan halaman kecil yang ditanami anggrek bermekaran. Aroma bunganya tercium lembut, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.

Qing'er mendorong pintu kayu itu perlahan.

"Nona Lin, ini adalah Paviliun Anggrek."

"Mulai hari ini, untuk sementara Nona akan tinggal di sini."

Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke dalam.

Ruangan itu tertata rapi.

Perabotannya memang tidak berlebihan, tetapi setiap sudutnya memancarkan kesan anggun dan nyaman. Di dekat jendela terdapat meja kayu dengan seperangkat peralatan minum teh, sementara di sisi lain berdiri sebuah ranjang berkelambu putih yang tampak bersih.

Dibandingkan kamar sempit dan lembap yang selama ini ditempatinya di Kediaman Lin, tempat ini bagaikan langit dan bumi.

Qing'er bertepuk tangan pelan.

Tak lama kemudian, beberapa pelayan wanita masuk sambil membawa baskom berisi air hangat, pakaian bersih, serta berbagai perlengkapan mandi.

"Silakan mandi terlebih dahulu, Nona."

"Setelah itu, tabib akan datang memeriksa luka-luka Nona."

Lin Yuechan mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Para pelayan segera menyiapkan segala keperluannya.

Setelah semuanya selesai, mereka membungkukkan badan sebelum keluar, menyisakan Lin Yuechan seorang diri di dalam paviliun.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Lin Yuechan berdiri cukup lama tanpa bergerak. Ia menundukkan kepala, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya.

Bekas luka dan memar yang memenuhi kulit putihnya masih tampak jelas.

Tatapannya perlahan berubah dingin.

"Nyonya Lin... Lin Yuerou..."

"Aku tidak akan melupakan apa yang telah kalian lakukan."

"Suatu hari nanti..."

"Aku akan kembali."

"Dan saat hari itu tiba, kalian akan membayar setiap luka yang kalian tinggalkan di tubuhku."

Lin Yuechan mengembuskan napas pelan.

Perlahan, ia mengesampingkan segala pikiran tentang balas dendam.

Sekarang bukan waktunya bertindak gegabah.

Yang paling penting adalah memulihkan tubuhnya terlebih dahulu.

Ia berjalan menuju sekat kayu tempat sebuah bak mandi besar telah dipenuhi air hangat. Uap tipis mengepul memenuhi ruangan, membawa aroma rempah dan bunga-bunga herbal yang menenangkan.

Lin Yuechan melepaskan jubah luarnya dengan perlahan.

Namun, saat kain itu tersingkap, kedua matanya sedikit bergetar.

Tubuhnya dipenuhi bekas luka.

Ada bekas cambukan yang memanjang di punggungnya, memar kehitaman di kedua lengan, serta luka-luka kecil yang belum sepenuhnya mengering.

Meski ingatan itu telah kembali, melihatnya secara langsung tetap membuat hatinya terasa sesak.

"Selama ini..."

"Beginikah mereka memperlakukanku?"

Lin Yuechan tersenyum pahit.

Bahkan para pelayan di Kediaman Lin pun berani merendahkannya karena mengetahui ia tidak memiliki siapa pun yang akan membelanya.

Perlahan ia melangkah masuk ke dalam bak mandi.

Air hangat menyentuh kulitnya yang penuh luka.

Rasa perih langsung menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya tanpa sadar mengerutkan kening.

Namun setelah beberapa saat, kehangatan air mulai meredakan nyeri yang ia rasakan.

Lin Yuechan memejamkan mata.

Sudah lama...

Sangat lama...

Ia tidak pernah merasa setenang ini.

Tak ada bentakan.

Tak ada hinaan.

Tak ada cambukan yang mengancam setiap kali ia melakukan sedikit kesalahan.

Hanya suara gemericik air yang memenuhi ruangan.

Entah sudah berapa lama ia berendam.

Hingga akhirnya terdengar suara ketukan lembut dari luar pintu.

Tok... tok... tok...

"Nona Lin."

Suara Qing'er terdengar dari luar.

"Tabib telah datang."

"Apakah Nona sudah selesai?"

Lin Yuechan perlahan membuka matanya.

"Sebentar lagi."

"Baik, hamba akan menunggu di luar."

Lin Yuechan segera bangkit dari bak mandi, Ia mengenakan pakaian baru yang telah disiapkan.

Gaun berwarna hijau muda itu sederhana, tetapi dibuat dari kain berkualitas baik. Ukurannya juga pas di tubuhnya, seolah memang dijahit khusus untuknya.

Lin Yuechan menatap bayangannya di cermin perunggu.

Rambutnya yang masih sedikit lembap tergerai di bahu, sementara wajahnya tampak jauh lebih segar setelah mandi. Meski kulitnya masih pucat karena kehilangan banyak tenaga, parasnya tetap memancarkan kecantikan yang lembut dan anggun.

Setelah memastikan penampilannya rapi, ia melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan.

Di luar, Qing'er berdiri bersama seorang tabib tua yang membawa sebuah kotak obat di tangannya.

Tabib itu segera membungkukkan badan.

"Hamba memberi salam kepada Nona Lin."

Lin Yuechan membalas dengan anggukan sopan.

"Maaf telah membuat Tabib menunggu."

"Tidak mengapa."

Tabib tua itu tersenyum ramah.

"Nyonya Tua sangat mengkhawatirkan keadaan Nona."

"Beliau memerintahkan hamba untuk memeriksa setiap luka di tubuh Nona dengan saksama."

Mendengar itu, hati Lin Yuechan kembali terasa hangat.

Tabib tua itu kemudian mempersilakan Lin Yuechan duduk di kursi dekat jendela.

"Jika Nona berkenan, izinkan hamba memeriksa denyut nadi terlebih dahulu."

Lin Yuechan mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangan kanannya.

Tabib itu meletakkan dua jarinya di atas pergelangan tangan Lin Yuechan. Matanya terpejam, merasakan denyut nadi dengan penuh saksama.

Ruangan menjadi sunyi.

Qing'er berdiri di samping dengan wajah dipenuhi kekhawatiran.

Beberapa saat kemudian, tabib tua itu perlahan membuka matanya.

"Nadi Nona masih lemah."

"Qi dan darah dalam tubuh juga banyak terkuras."

"Untungnya tidak melukai organ dalam. Dengan beristirahat dan meminum obat secara teratur, tubuh Nona akan berangsur pulih."

Qing'er mengembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Tabib tua itu kembali membuka kotak obatnya.

Ia mengeluarkan beberapa botol porselen kecil dan menyerahkannya kepada Qing'er.

"Yang ini diminum dua kali sehari."

"Sedangkan salep ini dioleskan pada bekas luka setiap pagi dan malam."

Qing'er menerimanya dengan hormat.

"Hamba mengerti."

Tabib tua itu kemudian memandang Lin Yuechan.

"Nona masih muda."

"Luka-luka di tubuh Nona memang akan sembuh."

"Akan tetapi, jangan terlalu memaksakan diri selama beberapa hari ke depan."

"Jika tidak, tubuh Nona akan sulit benar-benar pulih."

Lin Yuechan menganggukkan kepala.

"Terima kasih atas nasihat Tabib."

Tabib tua itu tersenyum tipis.

"Hamba hanya menjalankan perintah Nyonya Tua."

"Sungguh beruntung Nona mendapat perhatian sebesar itu."

Setelah memberi beberapa pesan lagi, tabib tua itu pun berpamitan.

Qing'er mengantar tabib keluar sebelum kembali membawa semangkuk obat yang masih mengepulkan uap hangat.

"Nona, silakan meminum obat ini terlebih dahulu."

"Tabib tadi telah menyiapkannya sebelum pulang."

Lin Yuechan menerima mangkuk itu.

Aroma pahit ramuan segera memenuhi indera penciumannya.

Tanpa mengeluh, ia meminum obat itu hingga tak tersisa setetes pun.

Qing'er tampak sedikit terkejut.

"Kebanyakan orang akan meringis saat meminum obat sepekat itu."

"Tetapi Nona bahkan tidak mengubah raut wajah."

Lin Yuechan hanya tersenyum tipis.

"Pahitnya obat tidak sebanding dengan pahitnya kehidupan yang pernah kulalui."

Mendengar jawaban itu, Qing'er terdiam.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 81.

    Jiang Xuan menatap pemuda itu tajam."Kenapa?"Pemuda tersebut menarik napas dengan susah payah."Karena... dia bukan orang yang paling berbahaya."Lin Yuechan langsung berdiri."Apa maksudmu?"Pria berjubah hitam tersenyum tipis.Tawa kecilnya justru membuat suasana semakin mencekam."Kalian masih belum mengerti."Jiang Xuan mengarahkan pedangnya kembali ke lehernya."Kalau begitu bicara.""Orang yang mengirim pasukan kerajaan ke sini..."Pria itu berhenti sejenak."...bukan Jenderal Zhao."Mata Lin Yuechan melebar."Jenderal Zhao tidak tahu?""Dia hanya menerima perintah."Jiang Xuan menoleh ke arah lorong."Fu Cheng.""Hamba di sini.""Segel semua pintu keluar.""Baik!"Fu Cheng segera membawa beberapa pengawal berlari pergi.Jenderal Zhao yang masih berada di halaman mendengar percakapan itu dan wajahnya berubah serius."Jiang Xuan!""Aku juga ingin tahu siapa yang mengeluarkan perintah palsu itu."Jiang Xuan menatapnya dingin."Kalau begitu jangan menghalangiku."Jenderal Zhao me

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 80.

    Lin Yuechan spontan mundur satu langkah."Itu... mata manusia?"Jiang Xuan tidak menjawab.Tatapannya terkunci pada celah pintu batu.Sepasang mata merah itu tidak bergerak.Hanya menatap mereka.Para pengawal mulai gelisah."Tuan Muda...""Jangan bergerak."Suara Jiang Xuan terdengar tegas.Ia mengangkat pedangnya dan perlahan mendekati pintu.Lin Yuechan buru-buru menarik lengan bajunya."Jiang Xuan, tunggu.""Ada sesuatu di balik pintu.""Aku tahu.""Kalau begitu jangan masuk sendirian."Jiang Xuan menoleh."Takut?"Lin Yuechan mendengus."Takut, tentu saja."Ia menunjuk kegelapan di balik pintu."Siapa yang tidak takut melihat mata merah seperti itu?"Jiang Xuan hampir tersenyum.Namun senyumnya menghilang ketika terdengar suara rantai bergesekan dari balik pintu.Klang!Klang!Klang!Sesuatu bergerak.Jiang Xuan langsung menghunus pedangnya sepenuhnya."Semua mundur."Para pengawal segera menurut.Lin Yuechan juga mundur, tetapi matanya tetap memperhatikan pintu.Tiba-tiba cahaya

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 79.

    kini Pria itu berjalan maju. "Sudah lama, Pewaris." Tubuh Jiang Xuan menegang. Lin Yuechan langsung menyadari sesuatu. Pria itu bukan sekadar mengenal Jiang Xuan. Dia mengetahui identitasnya. Jenderal Zhao menoleh. "Pewaris apa?" Pria berjubah hitam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Jiang Xuan, kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu." Jiang Xuan menggenggam pedangnya. "Siapa kau?" "Orang yang dulu melihat keluargamu jatuh." Tatapan pria itu berubah dingin. "Dan orang yang akan memastikan kau membuka pintu yang selama ini tersegel." Lin Yuechan menggenggam liontin di balik pakaiannya. Tiba-tiba liontin itu kembali terasa panas. Cahaya tipis muncul dari balik kain. Pria berjubah hitam langsung menoleh ke arah tempat Lin Yuechan berdiri. Tatapannya berubah tajam. "Jadi liontin itu ada padamu." Lin Yuechan mundur selangkah. Jiang Xuan langsung berdiri di antara mereka. "Jangan lihat dia." Pria itu tertawa. "Sudah terlambat." "S

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 78.

    Jiang Xuan mengepalkan tangannya lebih erat."Siapa yang menghapus ingatanku?"Mei Lan menundukkan kepala."Aku tidak tahu."Tatapan Jiang Xuan menjadi semakin dingin."Jangan berbohong.""Hamba benar-benar tidak tahu, Tuan."Mei Lan menarik napas panjang."Aku hanya tahu bahwa ketika kau masih kecil, seseorang membawamu keluar dari ibu kota.""Setelah itu, semua catatan mengenai keberadaanmu dihapus."Lin Yuechan mengerutkan kening."Lalu bagaimana kau bisa tahu?"Mei Lan menatapnya."Karena ibumu yang memintaku membantu."Lin Yuechan langsung terdiam."Ibuku?""Ya."Mei Lan mengangguk."Ibumu mengetahui bahwa keluarga Jiang sedang diburu. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, jadi ia hanya bisa menyelamatkan satu orang.""Jiang Xuan."Jiang Xuan menatap wanita tua itu tanpa berkedip."Kenapa?""Karena kau adalah satu-satunya pewaris yang masih memiliki darah asli keluarga Jiang."Lin Yuechan perlahan memahami."Jadi ibuku menyelamatkan Jiang Xuan?""Benar.""Dan setelah itu?"Mei La

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 77.

    Wanita itu menatapnya. "Baru beberapa tahun terakhir inti racun mulai bangun." Lin Yuechan merasa dadanya sesak. "Jadi selama ini..." "Benar." Wanita itu menatap Jiang Xuan dengan tatapan iba. "Racun itu bukan dibuat untuk membunuhmu." Jiang Xuan mengerutkan kening. "Lalu untuk apa?" Wanita itu menjawab perlahan. "Untuk menjaga sesuatu tetap tersegel di dalam darahmu." Ruangan kembali sunyi. Lin Yuechan menatap Jiang Xuan. "Tersegel?" Wanita itu mengangguk. "Dan jika segel itu rusak..." Ia berhenti. "Apa yang terjadi?" tanya Lin Yuechan. Wanita tua itu menatap liontin di tangan Lin Yuechan. "Mereka akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari." Jiang Xuan mengambil liontin tersebut dari tangan Lin Yuechan. Tatapannya berubah semakin serius. "Kalau begitu, kita harus menemukan ruang rahasia itu lebih dahulu." Wanita tua tersebut mengangguk. "Tempatnya berada di bawah istana lama." "Namun pintunya hanya bisa dibuka dengan dua benda." Lin Yuechan langsung be

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 76.

    Jiang Xuan mengambil seluruh surat dari dalam kotak. "Namun yang lebih penting sekarang adalah ini." Lin Yuechan menatap kotak tersebut. Di bagian dasar ternyata terdapat ukiran yang sama seperti cincin milik kelompok berjubah hitam. Burung hitam. Lin Yuechan perlahan mengepalkan tangan. "Ternyata ibuku memang terlibat dalam semua ini." Jiang Xuan menatapnya. "Belum tentu." "Jangan menyimpulkan sebelum kita mengetahui kebenarannya." Lin Yuechan mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kematian ibunya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Dan sekarang, masa lalu itu mulai menyeret Jiang Xuan ke dalamnya. Lin Yuechan masih menatap ukiran burung hitam di dasar kotak. Semakin lama ia melihatnya, semakin sesak dadanya. "Ibuku pasti mengetahui sesuatu," gumamnya. Jiang Xuan mengangguk. "Benar." Ia membalik kotak tersebut dan memeriksa setiap sisinya. "Ada sesuatu yang disembunyikan di sini." Lin Yuechan mendekat. "Di mana?" Jiang X

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status