MasukKoridor panjang itu dipenuhi pilar-pilar kayu cendana yang dipernis mengilap.
Di sisi kanan terbentang kolam teratai yang tenang, sementara rumpun bambu bergoyang perlahan tertiup angin sore. Suasana kediaman begitu damai, jauh berbeda dengan Kediaman Lin yang selalu dipenuhi pertengkaran dan tatapan sinis.
Qing'er berjalan beberapa langkah di depan.
Sesekali ia melirik ke arah Lin Yuechan dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menjaga sopan santun.
Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah paviliun yang berdiri terpisah dari bangunan utama.
Atapnya berlapis genting hijau tua, dengan halaman kecil yang ditanami anggrek bermekaran. Aroma bunganya tercium lembut, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.
Qing'er mendorong pintu kayu itu perlahan.
"Nona Lin, ini adalah Paviliun Anggrek."
"Mulai hari ini, untuk sementara Nona akan tinggal di sini."
Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke dalam.
Ruangan itu tertata rapi.
Perabotannya memang tidak berlebihan, tetapi setiap sudutnya memancarkan kesan anggun dan nyaman. Di dekat jendela terdapat meja kayu dengan seperangkat peralatan minum teh, sementara di sisi lain berdiri sebuah ranjang berkelambu putih yang tampak bersih.
Dibandingkan kamar sempit dan lembap yang selama ini ditempatinya di Kediaman Lin, tempat ini bagaikan langit dan bumi.
Qing'er bertepuk tangan pelan.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan wanita masuk sambil membawa baskom berisi air hangat, pakaian bersih, serta berbagai perlengkapan mandi.
"Silakan mandi terlebih dahulu, Nona."
"Setelah itu, tabib akan datang memeriksa luka-luka Nona."
Lin Yuechan mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Para pelayan segera menyiapkan segala keperluannya.
Setelah semuanya selesai, mereka membungkukkan badan sebelum keluar, menyisakan Lin Yuechan seorang diri di dalam paviliun.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Lin Yuechan berdiri cukup lama tanpa bergerak. Ia menundukkan kepala, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya.
Bekas luka dan memar yang memenuhi kulit putihnya masih tampak jelas.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
"Nyonya Lin... Lin Yuerou..."
"Aku tidak akan melupakan apa yang telah kalian lakukan."
"Suatu hari nanti..."
"Aku akan kembali."
"Dan saat hari itu tiba, kalian akan membayar setiap luka yang kalian tinggalkan di tubuhku."
Lin Yuechan mengembuskan napas pelan.
Perlahan, ia mengesampingkan segala pikiran tentang balas dendam.
Sekarang bukan waktunya bertindak gegabah.
Yang paling penting adalah memulihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Ia berjalan menuju sekat kayu tempat sebuah bak mandi besar telah dipenuhi air hangat. Uap tipis mengepul memenuhi ruangan, membawa aroma rempah dan bunga-bunga herbal yang menenangkan.
Lin Yuechan melepaskan jubah luarnya dengan perlahan.
Namun, saat kain itu tersingkap, kedua matanya sedikit bergetar.
Tubuhnya dipenuhi bekas luka.
Ada bekas cambukan yang memanjang di punggungnya, memar kehitaman di kedua lengan, serta luka-luka kecil yang belum sepenuhnya mengering.
Meski ingatan itu telah kembali, melihatnya secara langsung tetap membuat hatinya terasa sesak.
"Selama ini..."
"Beginikah mereka memperlakukanku?"
Lin Yuechan tersenyum pahit.
Bahkan para pelayan di Kediaman Lin pun berani merendahkannya karena mengetahui ia tidak memiliki siapa pun yang akan membelanya.
Perlahan ia melangkah masuk ke dalam bak mandi.
Air hangat menyentuh kulitnya yang penuh luka.
Rasa perih langsung menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya tanpa sadar mengerutkan kening.
Namun setelah beberapa saat, kehangatan air mulai meredakan nyeri yang ia rasakan.
Lin Yuechan memejamkan mata.
Sudah lama...
Sangat lama...
Ia tidak pernah merasa setenang ini.
Tak ada bentakan.
Tak ada hinaan.
Tak ada cambukan yang mengancam setiap kali ia melakukan sedikit kesalahan.
Hanya suara gemericik air yang memenuhi ruangan.
Entah sudah berapa lama ia berendam.
Hingga akhirnya terdengar suara ketukan lembut dari luar pintu.
Tok... tok... tok...
"Nona Lin."
Suara Qing'er terdengar dari luar.
"Tabib telah datang."
"Apakah Nona sudah selesai?"
Lin Yuechan perlahan membuka matanya.
"Sebentar lagi."
"Baik, hamba akan menunggu di luar."
Lin Yuechan segera bangkit dari bak mandi, Ia mengenakan pakaian baru yang telah disiapkan.
Gaun berwarna hijau muda itu sederhana, tetapi dibuat dari kain berkualitas baik. Ukurannya juga pas di tubuhnya, seolah memang dijahit khusus untuknya.
Lin Yuechan menatap bayangannya di cermin perunggu.
Rambutnya yang masih sedikit lembap tergerai di bahu, sementara wajahnya tampak jauh lebih segar setelah mandi. Meski kulitnya masih pucat karena kehilangan banyak tenaga, parasnya tetap memancarkan kecantikan yang lembut dan anggun.
Setelah memastikan penampilannya rapi, ia melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan.
Di luar, Qing'er berdiri bersama seorang tabib tua yang membawa sebuah kotak obat di tangannya.
Tabib itu segera membungkukkan badan.
"Hamba memberi salam kepada Nona Lin."
Lin Yuechan membalas dengan anggukan sopan.
"Maaf telah membuat Tabib menunggu."
"Tidak mengapa."
Tabib tua itu tersenyum ramah.
"Nyonya Tua sangat mengkhawatirkan keadaan Nona."
"Beliau memerintahkan hamba untuk memeriksa setiap luka di tubuh Nona dengan saksama."
Mendengar itu, hati Lin Yuechan kembali terasa hangat.
Tabib tua itu kemudian mempersilakan Lin Yuechan duduk di kursi dekat jendela.
"Jika Nona berkenan, izinkan hamba memeriksa denyut nadi terlebih dahulu."
Lin Yuechan mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangan kanannya.
Tabib itu meletakkan dua jarinya di atas pergelangan tangan Lin Yuechan. Matanya terpejam, merasakan denyut nadi dengan penuh saksama.
Ruangan menjadi sunyi.
Qing'er berdiri di samping dengan wajah dipenuhi kekhawatiran.
Beberapa saat kemudian, tabib tua itu perlahan membuka matanya.
"Nadi Nona masih lemah."
"Qi dan darah dalam tubuh juga banyak terkuras."
"Untungnya tidak melukai organ dalam. Dengan beristirahat dan meminum obat secara teratur, tubuh Nona akan berangsur pulih."
Qing'er mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Tabib tua itu kembali membuka kotak obatnya.
Ia mengeluarkan beberapa botol porselen kecil dan menyerahkannya kepada Qing'er.
"Yang ini diminum dua kali sehari."
"Sedangkan salep ini dioleskan pada bekas luka setiap pagi dan malam."
Qing'er menerimanya dengan hormat.
"Hamba mengerti."
Tabib tua itu kemudian memandang Lin Yuechan.
"Nona masih muda."
"Luka-luka di tubuh Nona memang akan sembuh."
"Akan tetapi, jangan terlalu memaksakan diri selama beberapa hari ke depan."
"Jika tidak, tubuh Nona akan sulit benar-benar pulih."
Lin Yuechan menganggukkan kepala.
"Terima kasih atas nasihat Tabib."
Tabib tua itu tersenyum tipis.
"Hamba hanya menjalankan perintah Nyonya Tua."
"Sungguh beruntung Nona mendapat perhatian sebesar itu."
Setelah memberi beberapa pesan lagi, tabib tua itu pun berpamitan.
Qing'er mengantar tabib keluar sebelum kembali membawa semangkuk obat yang masih mengepulkan uap hangat.
"Nona, silakan meminum obat ini terlebih dahulu."
"Tabib tadi telah menyiapkannya sebelum pulang."
Lin Yuechan menerima mangkuk itu.
Aroma pahit ramuan segera memenuhi indera penciumannya.
Tanpa mengeluh, ia meminum obat itu hingga tak tersisa setetes pun.
Qing'er tampak sedikit terkejut.
"Kebanyakan orang akan meringis saat meminum obat sepekat itu."
"Tetapi Nona bahkan tidak mengubah raut wajah."
Lin Yuechan hanya tersenyum tipis.
"Pahitnya obat tidak sebanding dengan pahitnya kehidupan yang pernah kulalui."
Mendengar jawaban itu, Qing'er terdiam.
Setelah tabib tua itu berpamitan, Paviliun Anggrek kembali diselimuti keheningan.Hanya Lin Yuechan yang tersisa di dalam ruangan, Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi dua botol obat yang baru saja diberikan tabib.Perlahan, ia mengambil salah satunya, membuka tutupnya, lalu menghirup aroma salep itu.Ramuan ini memang dibuat dengan baik, bahan-bahan yang digunakan juga bukan sembarangan.Namun, Lin Yuechan menggeleng pelan."Salep ini hanya akan mempercepat penyembuhan luka.""Tetapi bekasnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memudar."Ia kembali menutup botol itu.Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari berbagai ramuan obat dan tanaman herbal. Ia bahkan mengetahui beberapa resep salep yang mampu memudarkan bekas luka jauh lebih cepat dibandingkan ramuan biasa.Hanya saja...Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak tersedia di paviliun ini."Aku harus meraciknya sendiri."Tatapannya beralih ke luar jendela.Di kejauhan, atap-atap rumah di Kota Qinghe tampak diterpa
Koridor panjang itu dipenuhi pilar-pilar kayu cendana yang dipernis mengilap.Di sisi kanan terbentang kolam teratai yang tenang, sementara rumpun bambu bergoyang perlahan tertiup angin sore. Suasana kediaman begitu damai, jauh berbeda dengan Kediaman Lin yang selalu dipenuhi pertengkaran dan tatapan sinis.Qing'er berjalan beberapa langkah di depan.Sesekali ia melirik ke arah Lin Yuechan dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menjaga sopan santun.Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah paviliun yang berdiri terpisah dari bangunan utama.Atapnya berlapis genting hijau tua, dengan halaman kecil yang ditanami anggrek bermekaran. Aroma bunganya tercium lembut, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.Qing'er mendorong pintu kayu itu perlahan."Nona Lin, ini adalah Paviliun Anggrek.""Mulai hari ini, untuk sementara Nona akan tinggal di sini."Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke dalam.Ruangan itu tertata rapi.Perabotannya memang tidak berlebihan, tetapi setiap sudutnya me
Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.Jiang Xuan menunggang kuda di barisan paling depan dengan punggung tegap, sementara kereta yang membawa Lin Yuechan dan wanita tua itu mengikuti di belakangnya. Para pengawal mengapit rombongan dari kedua sisi, menjaga setiap langkah perjalanan dengan penuh kewaspadaan.Di dalam kereta, Lin Yuechan akhirnya mengembuskan napas lega.Setelah lolos dari kejaran para pengawal Kediaman Lin, beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan menghilang.Baru ketika tubuhnya mulai mengendur, rasa nyeri yang sedari tadi ia abaikan kembali menyerang.Bekas cambukan di punggungnya masih terasa perih, sementara memar di kedua pergelangan tangannya belum juga memudar. Semua luka itu merupakan jejak penyiksaan yang diterimanya sebelum diracun hingga kehilangan nyawa.Pelariannya tadi memang tidak menambah luka baru, tetapi telah menguras sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih. Wajah Lin Yuechan perlahan memucat, sementara napasnya terdengar sedikit leb
Suasana mendadak hening.Jiang Xuan terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Pada akhirnya, ia mengembuskan napas pelan."Baiklah, Nona Lin."Tatapannya beralih kepada Lin Yuechan."Aku akan mengantarmu kembali ke Kediaman Lin. Jika memang ada kesalah pahaman, aku akan membantumu menjelaskannya."Lin Yuechan segera menggeleng pelan."Tuan Muda, hamba tidak bisa kembali."Tatapannya meredup."Begitu hamba menginjakkan kaki di sana, mereka pasti akan berusaha membunuh hamba lagi."Belum sempat Jiang Xuan menjawab, wanita tua itu lebih dulu membuka suara."Tentu saja dia tidak akan kembali."Jiang Xuan menoleh."Nenek?"Wanita tua itu menatap cucunya dengan wajah serius."Nona Lin ikut bersamamu.""Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di kediamanmu."Jiang Xuan langsung mengernyit."Nenek...""Kurasa itu tidak pantas.""Bagaimanapun juga, kami belum resmi menjadi suami istri."Wanita tua itu mendengus pelan."Lalu apa sulitnya?""Kalau belum resmi, ya tinggal diresm
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan.Duk... duk... duk...Suara itu semakin lama semakin jelas, seolah sedang menuju ke arah mereka.Tubuh Lin Yuechan sontak menegang."Mereka...?"Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan.Para pengawal Kediaman Lin akhirnya berhasil menemukan jejaknya.Melihat kegelisahan itu, wanita tua tersebut mengulurkan tangan dan menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan."Tenanglah, Itu bukan orang-orang yang mengejarmu."Lin Yuechan menoleh dengan raut bingung."Lalu... siapa?"Senyum hangat menghiasi wajah wanita tua itu."Itu cucuku."Tak lama kemudian, tiga ekor kuda memasuki halaman.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Di belakangnya, dua pria lain mengikuti dengan jarak beberapa langkah, tampak seperti pengawal pribadinya.Begitu tiba, pria itu menarik tali kekang.Kuda hitamnya berhenti dengan anggun. Ia lalu turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan dan m
Penekanan demi penekanan terus ia lakukan tanpa henti, irama kedua tangannya tetap stabil, meski lengannya mulai terasa pegal.Beberapa pelayan tak sanggup lagi melihat pemandangan itu."Sudah cukup...."Salah seorang di antara mereka tersedu."Nyonya Tua pasti sudah tiada.""Tidak."Suara Lin Yuechan terdengar tegas."Beliau masih bisa diselamatkan."Ia kembali memeriksa denyut nadi di leher wanita tua itu.Masih sangat lemah.Lin Yuechan mengembuskan napas, lalu kembali memberikan penekanan dada.Waktu seolah berjalan begitu lambat.Tak seorang pun berani bersuara.Semua mata tertuju kepada gadis muda yang sejak tadi berusaha merebut kembali nyawa seseorang dari ambang kematian.Kepala pengawal mengepalkan tangannya erat. Meski tidak memahami apa yang dilakukan Lin Yuechan, ia memilih menunggu.Untuk saat ini, hanya gadis itu yang membawa secercah harapan.Beberapa saat kemudian, tubuh wanita tua itu mendadak bergetar pelan.Jari-jarinya bergerak.Lin Yuechan segera menghentikan pen







