Compartilhar

Chapter 09.

Autor: Anshuu_
last update Data de publicação: 2026-07-24 10:30:50

Lin Yuechan mengikuti Qing'er menyusuri koridor panjang yang menghubungkan Paviliun Anggrek dengan aula utama.

Di sepanjang jalan, beberapa pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepala memberi hormat.

"Salam, Nona Lin."

Meski masih belum terbiasa, Lin Yuechan tetap membalas dengan anggukan sopan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di Aula Utama.

Begitu melangkah masuk, aroma teh yang baru diseduh langsung memenuhi ruangan.

Wanita tua itu telah duduk di kursi utama sambil tersenyum hangat.

Di s
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 142.

    Pagi itu, Lin Yuechan masih berada di tempat tidur ketika Jiang Xuan selesai mengenakan jubah luarnya. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Yuechan yang berusaha bersembunyi di balik selimut. “Yuechan, sudah waktunya bangun.” “Tidak.” Jiang Xuan menoleh. “Bahkan kau belum tahu aku akan mengajakmu melakukan apa.” “Kalau bukan mengajakku makan, aku tidak tertarik.” Jiang Xuan terkekeh pelan. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Fu Cheng akan kembali membawa kabar pagi ini.” Mendengar nama Fu Cheng, Yuechan membuka sedikit selimutnya. “Apakah dia menemukan Zhou An?” “Belum tentu. Dia juga membawa dokumen yang baru dikirim dari Kediaman Lin.” Yuechan akhirnya duduk, rambutnya sedikit berantakan. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” “Aku baru saja mengatakannya.” “Tapi kau mengatakannya setelah membangunkanku.” Jiang Xuan menatap istrinya dengan geli. “Baiklah. Lain kali aku akan membiarkanmu tidur sampai tengah hari, lalu memberitah

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 141.

    Setelah memastikan kondisinya tidak menunjukkan tanda kegawatan saat itu, ia meminta pelayan mengambilkan obat yang telah diresepkan tabib. “Kau harus makan terlebih dahulu, lalu minum obat dan beristirahat.” Jiang Xuan memandang istrinya. “Bagaimana dengan penyelidikan?” “Akan tetap berjalan meskipun kau tidur selama satu jam.” “Kalau ada laporan penting?” “Aku akan menyuruh Fu Cheng membacanya keras-keras di samping tempat tidurmu.” Jiang Xuan tertawa kecil, lalu segera berhenti ketika rasa tidak nyaman kembali terasa di dadanya. Senyum Yuechan menghilang. “Jangan memaksakan diri hanya karena ingin menenangkanku.” Tatapan Jiang Xuan melembut. “Baik. Aku akan beristirahat.” Yuechan baru terlihat lega setelah mendengar jawaban itu. Sambil membantu suaminya meninggalkan ruang kerja, ia kembali memikirkan nama Zhou An. Penyelidikan tentang ibunya perlahan menemukan arah baru, tetapi ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dalam usahanya mencari kebenaran

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 140.

    Pagi berikutnya, Lin Yuechan sudah duduk di ruang kerja Jiang Xuan sebelum matahari benar-benar meninggi. Di atas meja terbentang beberapa surat lama milik mendiang ibunya. Ada surat yang ditujukan kepada Lin Weichen, catatan mengenai kebutuhan rumah tangga, serta beberapa lembar kertas berisi tulisan pribadi yang belum pernah dibaca Yuechan sebelumnya. Di samping semuanya, terletak secarik kertas kecil dengan kalimat yang terus mengusik pikirannya. Jika obat berikutnya kembali diganti, jangan meminumnya sebelum diperiksa. Yuechan menopang dagu dengan satu tangan. “Menurutmu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membandingkan tulisan tangan?” Jiang Xuan, yang sedang membaca laporan di seberangnya, mengangkat pandangan. “Tergantung jumlah dokumen dan kejelasan tulisannya.” “Kalau begitu, kita mungkin harus duduk di sini sampai siang.” “Bukankah kau biasanya mengeluh jika harus duduk terlalu lama?” “Itu berbeda.” “Apa bedanya?” Yuechan menunjuk surat-surat di atas meja.

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 139.

    Keesokan paginya, Lin Yuechan terbangun karena suara Qing'er yang sibuk membuka tirai. “Nona, ada kabar dari ruang depan.” Yuechan masih berbaring dengan mata setengah tertutup. “Kalau kabarnya tidak berkaitan dengan sarapan, sampaikan setelah aku makan.” Qing'er menahan tawa. “Sayangnya, kali ini kabarnya cukup penting.” Yuechan akhirnya membuka mata. “Apa yang terjadi?” “Fu Cheng datang membawa laporan untuk Tuan Muda. Katanya, seseorang telah menemukan informasi mengenai tabib yang dahulu merawat mendiang Nyonya Pertama.” Mendengar itu, Yuechan langsung bangkit. “Siapkan pakaianku.” Qing'er memandangnya heran. “Bukankah Nona baru saja mengatakan ingin sarapan terlebih dahulu?” “Sekarang urusannya berbeda.” Qing'er menggeleng geli. Ternyata, hanya ada dua hal yang mampu membuat Lin Yuechan bangun dengan cepat pada pagi hari: makanan lezat dan persoalan yang menyangkut ibunya. --- Di ruang kerja, Jiang Xuan sedang membaca laporan yang diserahkan Fu Cheng. Ketika Yue

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 138.

    Lin Yuechan dan Jiang Xuan tiba di aula utama ketika Nyonya Tua sedang berbincang dengan Jiang Wei. Di atas meja terdapat sebuah peta wilayah Qinghe, beberapa lembar catatan perjalanan, dan daftar tempat penginapan yang biasa dikunjungi keluarga Jiang. Begitu melihat keduanya datang, Nyonya Tua langsung melambaikan tangan. “Cepat kemari! Nenek sudah menemukan beberapa tempat yang bagus untuk kalian kunjungi.” Lin Yuechan duduk di sampingnya dengan penuh minat. “Tempat seperti apa, Nenek?” “Lihatlah ini.” Nyonya Tua menunjuk sebuah kawasan pegunungan di sebelah barat Qinghe. “Udara di sana sejuk, pemandangannya indah, dan terdapat sebuah vila milik keluarga Jiang di dekat danau.” Yuechan memperhatikan peta tersebut. “Apakah ada pasar di dekat sana?” Nyonya Tua berkedip. “Pasar?” “Benar. Aku ingin membeli makanan khas daerah setempat.” Jiang Wei yang sedang minum teh langsung tertawa. “Kakak ipar, aku pikir kau akan memilih tempat dengan pemandangan romantis. Ternyata yang

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 137.

    Lin Yuechan menghentikan langkahnya ketika Fu Cheng menyerahkan sepucuk surat bersampul putih. “Surat ini dikirim dari Kediaman Lin, Nyonya Muda,” ujar Fu Cheng. “Pelayan yang mengantarkannya mengatakan bahwa Tuan Lin meminta surat ini segera disampaikan kepada Anda.” Yuechan menerima surat itu dengan wajah tenang. “Terima kasih, Fu Cheng.” Fu Cheng membungkuk, lalu mundur beberapa langkah. Jiang Xuan memperhatikan perubahan ekspresi istrinya. “Apakah kau ingin membacanya sekarang?” Yuechan mengangguk. “Sekalian saja. Aku penasaran apa yang ingin disampaikan Ayah kali ini.” Ia membuka sampul surat dan mulai membaca tulisan tangan Lin Weichen. Semakin jauh matanya menyusuri baris demi baris, semakin serius wajahnya. Jiang Xuan tidak mendesaknya. Ia hanya berdiri di samping Yuechan, menunggu sampai istrinya selesai membaca. Beberapa saat kemudian, Yuechan melipat surat tersebut. “Ayah meminta aku datang ke Kediaman Lin setelah beberapa hari,” katanya. “Katanya, ia ingin men

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status