Masuk"Mari batalkan pernikahan ini, Duke. Di neraka sekalipun, kita jangan bertemu lagi." Roselyn Sirius menghabiskan bertahun-tahun menjadi duchess sempurna dan tidak mendapat apa-apa, selain pengkhianatan. Ketika kesempatan kedua datang, ia terbangun tepat di malam ketika nyaris menyerahkan tubuh demi mengemis cinta. Masih dalam kondisi dan luka yang sama, Sang Mawar Suci Kekaisaran bersumpah tidak akan pernah lagi menjadi boneka yang patuh. Pelarian membawanya ke tangan Grand Duke Kaelus, Monster Utara yang justru menyimpan rahasia tak terduga: ia telah memutar ulang waktu berkali-kali, semata demi menyelamatkan Roselyn dari kematian. Kini di tanah Utara yang membeku, Roselyn harus belajar menjadi mawar yang menumbuhkan duri. Kali ini dia bertekad melindungi orang yang dicintai, sambil menenun kebahagiaannya sendiri.
Lihat lebih banyak"Buktikan cintamu, Lady. Coba layani aku malam ini."
Suara itu terdengar lembut. Namun, bukan melodi, melainkan lonceng kematian. Roselyn bergeming di atas marmer dingin, membiarkan lututnya mati rasa. Kehormatan sebagai putri tunggal Count Sirius pun sudah lama ditanggalkan. Yang tersisa hanyalah gaun sutra tipis, itu pun basah dan membuat lekuk tubuhnya terekspos jelas. Derrick, sang tunangan sekaligus duke di kekaisaran, mendekat. Tanpa terburu-buru, yakin jika sang mangsalah yang akan menunggu. "Lady, aku berbaik hati menerimamu karena kau cukup gila untuk menunggu di tengah badai. Tadi kau bilang sangat merindukanku, ‘kan?" Mata biru yang sedingin es itu menatap Roselyn dari atas. Wanita yang dijuluki Mawar Suci Kekaisaran itu telah menjadi mainan barunya. Sementara itu, putri Vogard tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada jemari yang lentik, putih, dan … utuh. Padahal dalam ingatan yang masih segar, jari-jari itu pernah kurus kering, bahkan ada yang terpenggal.“Kenapa aku di sini? Bukannya aku jatuh dari balkon dan sekarat?” gumamnya dalam hati. Sebelum pikirannya sempat menjawab, panas tubuh Derrick sudah membekap punggungnya dari belakang. Sontak gelora terlarang mendadak bangkit. "Maafkan aku karena membiarkamu kehujanan, Rose. Tapi aku sudah melihat kesungguhanmu dan aku akan membalasnya malam ini." "Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Roselyn dengan spontan, seakan bibirnya bisa berbicara sendiri."Aira? Dia cuma mainan saat bosan. Kaulah pasanganku."
"Berarti kita akan menikah?"
"Tentu. Jadi cepat lepaskan gaun itu. Aku tak mau ada sekat lagi Atau … aku saja yang lepaskan?" "Tunggu, Derrick—" Dengan satu gerakan, sang duke menyentak tubuh Roselyn hingga berbalik. Lanjut membungkam bibir itu dengan ciuman. Semakin Roselyn mencoba menciptakan jarak, semakin liar api gairah yang tersulut di dalam diri pria itu. Derrick pun menyambar tubuh Roselyn dan menghempaskannya ke atas ranjang di sudut ruangan. Kemeja hitam yang dikenakan pun dilepaskan. Di bawah temaram lilin, otot-otot tubuhnya yang keras tampak menonjol bagaikan pahatan sempurna.Ia lantas merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah tersisa. Embusan napasnya yang berat dengan aroma wine terasa begitu panas, merangsang titik sensitif di leher Roselyn, saat pria itu mulai membenamkan wajah di sana.
Roselyn memejamkan matanya rapat-rapat, meremas sprei dengan gemetar saat merasakan tangan kekar itu mulai merayap liar ke balik gaun silvernya. Namun, meski akal sehat menolak, raga mudanya seolah berkhianat dan malah mendesah. “Derrick, aku ... malu sekali.” “Biasakan dirimu, Rose. Ini tugasmu sebagai Duchess nanti.” Kalimat itu seketika memicu kilasan memori di balik kelopak mata Roselyn yang terpejam. Bukan masa lalu, melainkan kepingan masa depan yang pernah dilewati. Ia ingat bagaimana Derrick akan menyulut cerutu di tepi ranjang, melangkah keluar tanpa sepatah kata usai bersetubuh. Ia meninggalkan sang istri begitu saja, bagai melempar benda yang habis dipakai ke atas kasur.Dan hal hina itu terjadi berulang kali, selama sepuluh tahun.
Namun, sentuhan Derrick malam ini terasa berbeda. Begitu lembut dan penuh perhatian, hingga membuat akal sehat Roselyn limbung.
"Kau menggigil, Rose. Biar aku hangatkan," ucap Derrick yang segera membuyarkan lamunan.
"Apa kau mencintaiku?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Lady? Memangnya ada yang lebih pantas menerima cintaku selain dirimu?" "Apa kau bisa memberikannya hanya untukku?" Sang duke tidak menjawab dengan kata-kata. Bibirnya langsung mengusap leher, bawah telinga, hingga di tempat yang ia tahu persis akan membuat wanita mana pun memperkeras desahan. Jarinya kembali menelusuri kulit wanita itu dengan perlahan, hingga kemudian menyusup ke antara kaki Roselyn. "Ah, Derrick!" "Ssst. Nikmati saja." Roselyn mengerang pelan. Jemai yang tadi mencengkeram sprei, kini meremas bahu kokoh sang kekasih. Ia menancapkan kukunya di sana, mencari tumpuan saat area paling sensitifnya diraba makin dalam.Menyadari kepasrahan sang wanita, Derrick pun melucuti kardigan sutra transparan dari bahu putri count.
"Cantik sekali. Kalau saja dari dulu kau merayuku dengan tubuh indah ini, aku pasti sudah menikahimu." DEG! Kalimat itu. Kalimat penuh hinaan yang sama persis yang ada di masa lalu. Di ranjang yang berbeda, di malam yang sama. Kata-kata itu terasa seperti tamparan yang tertunda satu dekade, dan kini mendarat tepat di ulu hati. Roselyn memalingkan wajah, menatap pantulan dirinya di cermin besar di samping ranjang. Di sana, seorang wanita muda menatap balik. Tampak berantakan, cantik, lugu, dan hampir saja kehilangan kesucian untuk kedua kali. Detik itu juga, ia tersadar jika ini bukan mimpi, melainkan kesempatan kedua. Hampir saja disia-siakan dengan masuk ke dekapan pria itu. "Minggir!" "Rose? Kenapa tiba-tiba begitu? Bukankah kau datang agar kupeluk?" "Aku akan pulang. Aku datang bukan untuk dipermainkan." "Jangan konyol. Minggu depan kita menikah. Melakukannya sekarang atau nanti itu sama saja. Lagipula kau duluan yang menggodaku dengan pakaian begitu. Tenanglah, aku akan melakukannya pelan supaya—" "Jangan sentuh aku!" Roselyn menendang tangan Derrick yang coba meraih pergelangan kakinya. Ekspresi tersinggung mulai menggelapkan wajah tampan itu. Ia benci ketika permainan nafsunya terhenti begitu saja. "Duke, ternyata yang aku inginkan bukan dirimu. Jadi … ayo, batalkan pertunangan ini." Derrick terdiam. Lalu terkekeh pelan, tidak percaya bahwa boneka cantiknya tiba-tiba punya kehendak sendiri. "Lady, sepertinya kau marah karena kehujanan terlalu lama. Aku akan memandikanmu sebagai permintaan maaf. Setelah itu, mari makan dan kita bisa menghabiskan waktu bersama.” “Sepertinya wine membuat pikiran Anda lamban, Duke?” “Apa kau baru saja menghinaku, Rose? “Terserah kau mau menanggapnya apa,” katanya sambil meraih kardigan di lantai. "Kuberi satu kesempatan terakhir, Roselyn Sirius. Cium aku, dan kuanggap omong kosong ini tidak pernah terjadi." "Tidak." "Baik! Pergi! Tapi jangan pernah merangkak kembali padaku. Akan kupasatikan kalau posisi sebagai Duchess dan sebagai istriku tidak akan pernah kau dapatkan." Tanpa sempat memakai baju, Derrick pergi dan membanting pintu. Begitu keras hingga pajangan di meja rias bergetar. “Temperamen yang masih sama,” tutur Roselyn. “Kau memang Derrick yang kukenal.”Debur ombak seolah terhenti. Tepat bersamaan dengan nyala terakhir api tersebut, Roselyn tidak percaya dengan yang barusan didengar."Kalau begitu menikahlah denganku, Lady."Kaelus tidak berkedip saat mengatakannya. Pria itu pun meraih ujung rambut wanita tersebut dan mengecupnya. "Aku tidak sedang memaksamu, Lady. Kau tak perlu buru-buru menjawab, tapi tolong pertimbangkanlah setidaknya sekali.""Pasti banyak tawaran pernikahan yang menguntungkan Kael.""Aku tidak mengajukan pernikahan kontrak, Lady. Seperti kau yang memilihku untuk melarikan diri, rasanya aku hanya akan menikah jika denganmu.""Kenapa aku, Grand Duke?"Kaelus tidak langsung menjawab.Ia justru mengambil kerang terakhir, meletakkannya di depan Roselyn tanpa berkata apa-apa."Kael, aku serius bertanya.""Aku tahu.""Lalu?""Makan dulu."Wanita berambut panjang itu menatapnya tidak percaya. Pria yang baru saja melamar, sekarang malah menyuruh lanjut makan. Ia pun membuka mulut hendak memprotes, tapi Kaelus sudah berdi
Roselyn terbangun di pagi hari dengan perut yang bergejolak. Langit seakan tiba-tiba berputar, pagar kapal yang tidak cukup kuat untuk dipegangi, dan Kaelus yang entah dari mana sudah berdiri di samping dengan alis mengerut. Berbeda dengannya, bermalam di dek tetap membuat pria itu bugar.“Biar aku akan turun dulu, Lady. Kau bisa berpegangan padaku nanti.”Putri Vogard melirik ke arah papan kayu yang terhubung dengan daratan. "Aku baik-baik saja.""Kau pucat, Lady.""Aku bilang baik-baik—"Ombak besar menghantam lambung kapal. Roselyn oleng, dan sebelum kakinya sempat menemukan pijakan, tubuhnya sudah terangkat. Kaelus sigap menggendong. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, dan justru itu menghindarkan mereka dari kecanggungan.“Apa ini yang disebut baik-baik saja?”“Maaf, Kael. Aku sebenarnya malu. Aku tidur di kamar, tapi tetap sakit.”“Wajar saja, ini pertama kali dirimu naik kapal sejauh ini.”Hari sudah meredup ketika dermaga kecil itu akhirnya muncul di cakrawala. Langit pesi
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku punya mata."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius — lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika bukan bagian dari Sirius lagi, pasti berbeda.""Apa itu?"“
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku tinggal beli semua ukuran dan mengira-ngira yang cocok untukmu."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius, yang ini lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak