LOGINCastella sudah muak setelah pernikahannya dibatalkan lima kali, tetapi dia terjebak dalam perjodohan, jadi untuk membatalkan pertunangan itu dia perlu menemukan pria lain untuk dinikahi! Secara mengejutkan, Othinel Patton, marquess yang terkenal dingin, muncul untuk melindungi Castella di sebuah pesta bangsawan di mana dia dipermalukan. Tapi perlindungan itu tak gratis, dan Marquess itu meminta Castella menikahinya sebagai bayaran. Castella, yang terbiasa direndahkan karena menjadi wanita bangsawan rendahan, kini harus menghadapi dunia yang menentangnya menjadi istri Marquess yang dihormati! Marquess Othinel berdiri di sisinya, mengangkat dagu Castella yang menunduk. "Angkat kepalamu. Tidak ada yang berani menyentuhmu sekarang. Kau adalah istri Marquess."
View More“Pernikahan ini harus dibatalkan, ada urusan yang lebih penting saat ini.”
Castella terdiam mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut calon suaminya.
Itu sudah kelima kalinya pernikahannya dibatalkan sepihak oleh pria itu.
Damian tampak tergesa-gesa melepas suit hitam yang melekat di tubuhnya.
Semua pelayan yang sejak tadi masih sibuk merias wajah Castella kompak terdiam, namun mereka tampak tak terkejut sama sekali.
Semuanya hanya saling memberi kode agar segera meninggalkan ruangan itu lewat pandang, lalu segera melipir keluar ruangan dengan sesenyap mungkin.
Hanya begitu saja, pernikahan itu batal.
Tapi Castella tak merasa terkejut. Ini sudah kelima kalinya.
Bertahun-tahun lalu, ayah Castella, Baron Wellington yang memimpin distrik Farley bersahabat dengan ayah Damian, Baron Caleste yang memimpin distrik Hadley. Mereka saling menjodohkan putra dan putri mereka.
Tepat pada tahun 1910, setahun setelah Baron Wellington dan istrinya meninggal dunia, ayah Damian bertitah agar Damian segera menikahi Castella.
Itu adalah permintaan terakhir orang tua Castella sebelum meninggal, demi hubungan baik antar dua keluarga itu.
Tapi, Castella mengetahui, pria yang dijodohkan dengannya itu sama sekali tak mencintainya, ataupun menghargainya sebagai tunangan yang sah.
Pernikahannya sudah gagal sebanyak lima kali dan alasan dibalik itu selalu karena Luna—cinta pertama Damian.
“Luna ada di rumah sakit.”
“Kenapa? Kecelakaan, seperti dua minggu yang lalu? Atau keracunan, seperti bulan lalu?” tanya Castella yang sudah hafal alasan-alasan itu.
“Kalau kau tidak bisa berempati, setidaknya miliki rasa pengertian padanya,” ucap Damian tajam. Di wajahnya sama sekali tak ada yang menyiratkan penyesalan.
Castella menggigit bibir. Meski hanya perjodohan, jika pun tidak dicintai, ia setidaknya ingin dihargai sebagai calon istri. Ia tidak pernah mempermasalahkan jika Damian tidak mencintainya.
Lagipula, Castella sendiri pun hanya menuruti wasiat orang tua.
Tapi lima kali batal menikah, Castella sudah menjadi lelucon satu kerajaan.
“Baiklah,” suara Castella terdengar lebih rendah dan tegas kali ini. “Sebaiknya kita tidak usah menikah saja.”
Langkah Damian seketika terhenti. Lalu ia berbalik dengan sorot mata penuh amarah.
“Bukan hakmu memutuskan itu! Kau putri bangsawan rendah, jika bukan aku, siapa lagi yang mau menikahimu?” hardiknya.
Setelah mengatakan kata-kata menyakitkan, Damian kembali melangkah pergi. Meninggalkannya demi wanita lain.
Orang-orang memang mudah menghinanya karena status. Tapi kenapa Castella diam begitu saja ketika harga dirinya diinjak-injak, oleh orang yang tak lain adalah tunangannya sendiri?
Kesabaran pun ada batasnya. Castella tersadar. Ia harus mencari cara untuk keluar dari perjodohan ini.
Orang tuanya di surga pasti akan mengizinkannya tidak menikahi pria yang membuatnya sengsara.
Castella menarik napas. Tekadnya sudah bulat. Ia melangkah keluar dari gedung itu, lalu bertemu dengan sosok pelayan pribadi yang selalu setia padanya.
“Maria, sepertinya hubungan kami benar-benar selesai kali ini,” ucap Castella pelan.
Pelayan yang dipanggil Maria itu sedikit terkejut. Saat nonanya gagal menikah empat kali, ia selalu tampak suram.
Tapi kini, wanita itu hanya bicara dengan lembut dan ceria.
“Kalau begitu, Anda punya waktu luang malam ini. Bagaimana jika datang ke pesta kerajaan yang diadakan oleh Raja Desmond?” ucap Maria, berusaha menghibur, seraya menyerahkan sebuah amplop dengan cap kerajaan yang menghiasi bagian perekatnya.
Pandangan Castella langsung tertuju pada amplop tersebut, tangannya juga ikut meraihnya untuk ia baca sekilas.
Castella tersenyum. Ini ide yang bagus, pikirnya.
Ia akan berpesta untuk melupakan rasa sakit hatinya.
Dan jika beruntung, ia bisa menemukan pria untuk calon suami penggantinya.
***
Pestanya ramai.
Riuh para bangsawan juga sudah memenuhi aula Istana sejak tadi, padahal acara belum juga dimulai.
Hingga saat sebuah terompet berbunyi nyaring memecah perhatian semua orang yang ada di sana.
“Marquess Othinel sudah datang!” seru salah seorang penjaga bersamaan dengan pintu masuk Istana yang terbuka lebar.
Tampak pria bertubuh tinggi dengan seragam militer serba hitam melangkah masuk bersama beberapa prajurit, pria itu mendominasi perhatian semua orang.
Begitu juga dengan Castella, mulutnya menganga sedikit karena terpukau dengan aura yang terpancar dari pria itu.
Badan yang tinggi tegap, wajah tampan dengan garis rahang yang kokoh, dan sorot mata tajam.
Pandangan Castella tak teralihkan. Tanpa sadar, dirinya berandai jika ia dapat menikahi orang seperti Marquess Othinel.
Jika ia bisa menikahi pria dengan status cemerlang, pastilah ia bisa lepas dari jerat perjodohan dengan anak Baron.
Dan kini, kaki wanita itu tanpa sadar sudah bergerak menghampirinya.
Bersamaan dengan itu, sang Marquess mulai menatap tajam Castella yang sedang mendekat ke arahnya.
“Yang Mulia Marquess Othinel, maukah kau berdansa denganku?”
“Kau ingin ikut berburu!?” Helaan napas kasar terhembus dari bibir Marcus saat mendapat respon anggukan antusias dari Castella. “Kau ingin ikut berburu denganku, saat ini juga!?” ulangnya tampak frustasi. “Iya, Tuan Marcus. Saya dengar, sore hari menjelang malam adalah waktu yang tepat untuk berburu,” ucap Castella. Namun, alih-alih setuju, Marcus malah memberikan tatapan tajam pada Castella, karena pria itu sebelumnya sangat yakin bahwa Castella hanyalah anak manja. Lagipula, lady macam apa yang pergi beburu?Ia masih berpikir alasan mengapa Othinel mau menikahi Castella tanpa meminta izin pada keluarga adalah karena wanita itu memaksa anaknya untuk menikahinya. Mungkin menjebaknya dengan licik, seperti yang diberitakan di koran-koran.Meski bukan ia yang memaksa menikah, Castella sebenarnya salah satu wanita yang cukup tangguh dan memiliki kegemaran yang cukup ekstrim, karena dirinya selalu mengekori mendiang ayahnya sejak kecil.Maka dari itu, Castella memilih menunjukkan bahwa
“Jadi seluruh berita itu benar? Kalian benar-benar punya hubungan gelap?” seru Emily.Castella segera mendelik pada Othinel.Tatapannya kini seolah bertanya mengenai maksud dari ucapan suaminya barusan. Apa ini rencananya?Mereka seharusnya di sini untuk mengambil hati orang tuanya, bukannya memberikan kabar horor itu. Seolah menuang minyak ke dalam api!Tetapi Othinel seolah tak peduli pada reaksi orang-orang, ia hanya duduk sambil memandangi semua orang di meja makan, sepersekian detik kemudian ia meraih tangan Castella seraya mengelusnya pelan.“Maaf… Itu bisa terjadi karena kami saling mencintai,” seru Othinel pelan kemudian beralih menatap kedua orang tuanya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.Emily memandangi dengan seksama, seolah sedang mencari puing-puing kebohongan dari gelagat Othinel. Namun dalam pikiran wanita tua itu, Othinel adalah anak yang terlalu sempurna untuk menjadi seorang penipu. Ia juga tak pernah mendapati anaknya itu berbohong bahkan pada kondisi yang memu
Castella ikut menoleh. Othinel baru saja seolah sengaja berkata demikian agar pelayan itu juga memperhatikan Castella yang sejak tadi diabaikannya.Dengan gerakan kaku karena terpaksa, pelayan itu menolehkan kepalanya ke arah Castella untuk menawarkan handuk hangat.“Nyonya… ingin handuk hangat?” tawarnya.Castella tersenyum sopan. “Tidak, terima kasih. Aku tak membutuhkannya.” Pelayan itu berusaha mempertahankan senyumnya, tetapi dari ekspresinya itu Castella dapat merasakan ketidaksukaan yang pelayan itu sembunyikan. Tentu saja ia tak bisa terang-terangan menunjukkannya pada wanita yang sudah menjadi nyonya dari tuannya.“Baik. Nyonya dan Tuan Patton sedang bersiap untuk pergi ke ruang makan, mari saya antar,” jawabnya sopan.Pelayan itu kemudian menunduk sopan sebelum menunjukkan jalan ke ruangan lain.Di belakangnya, Castella berbisik pelan kepada Othinel. “Orang-orang di sini sepertinya tak menyukaiku.”“Tak usah hiraukan para pelayan, yang terpenting kau harus meluluhkan hati
“Ada masalah?” Alis pria itu terangkat sebelah, matanya mulai tampak menelisik ke arahnya.Castella menggeleng sambil menimang dengan lirih.“Kau sendiri tahu bahwa pernikahan kita tidak dihadiri oleh keluargamu, itu berarti mereka tidak setuju, kan? Lalu, kalau aku menampakkan batang hidungku di hadapan mereka…” Castella sengaja menggantung ucapannya, ia menatap penuh harap kepada suaminya agar pria itu mau membatalkan janji pada keluarganya. “Tidak bisa,” sela Othinel tegas. “Karena mereka tidak setuju, mau tak mau kita harus meminta mereka untuk menerima pernikahan ini.”Castella terdiam lagi. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan agar dapat menghindar dari pertemuan bersama keluarga Othinel.Lagipula, untuk meluruskan masalah, yang paling utama perlu dimulai dari keluarga.Beberapa jam pun berlalu, langit perlahan mulai tercoreng dengan warna jingga dan ungu. Othinel sudah siap dengan baju yang tidak seformal pakaian untuk pekerjaan dinasnya.Castella keluar dengan terusan bir






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.