INICIAR SESIÓNNyonya Tua menggenggam tangan Lin Yuechan. "Kalau kau memang sudah memutuskan, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal." Lin Yuechan tersenyum lega. "Terima kasih, Nenek." "Tapi ada satu syarat." "Apa?" Nyonya Tua menatapnya serius. "Kau harus membawa beberapa pengawal." Lin Yuechan hendak membantah. Namun Nyonya Tua langsung berkata, "Jangan menolak." Lin Yuechan akhirnya tersenyum kecil. "Baik." Jiang Xuan yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Aku akan mengantarmu sampai dekat kediaman Lin." Lin Yuechan menatapnya. "Jiang Xuan..." "Aku tidak akan ikut masuk." Tatapannya melembut. "Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat." Lin Yuechan terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengangguk. "Baik." Jiang Xuan menghela napas pelan. "Kalau ada sesuatu yang terjadi, kirim seseorang untuk memberitahuku." "Aku tahu." "Jangan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian kalau keadaan menjadi berbahaya." Lin Yuechan tersenyum. "Aku ber
Setelah memasuki kediaman, Jiang Wei langsung diminta kembali ke kamarnya untuk beristirahat.Tabib juga ikut memeriksanya sekali lagi sebelum mengizinkannya tidur.Sementara itu, Lin Yuechan duduk bersama Nyonya Tua di ruang utama.Sejak tadi, wanita tua itu terus menatapnya dengan wajah senang.Lin Yuechan akhirnya merasa sedikit tidak nyaman."Nenek, kenapa terus melihatku?""Karena aku senang kau sudah kembali."Nyonya Tua menggenggam tangannya."Selama kalian pergi, aku terus memikirkan keadaan kalian.""Kami baik-baik saja.""Jiang Xuan memang begitu."Nyonya Tua mendengus kecil."Dia pasti hanya akan mengatakan dirinya baik-baik saja meskipun terluka."Lin Yuechan tidak bisa menahan senyum."Memang begitu.""Benar, kan?"Nyonya Tua langsung tertawa.Jiang Xuan yang baru masuk ke ruangan mendengar kalimat terakhir itu."Nenek.""Apa?""Kalian sedang membicarakanku?"Nyonya Tua menjawab santai."Tidak."Jiang Xuan menatap keduanya."Jelas-jelas sedang membicarakanku."Lin Yuechan
Tiga hari berlalu. Kondisi Jiang Wei semakin membaik. Ia sudah bisa berjalan perlahan meskipun masih harus banyak beristirahat. Tabib juga memastikan racun di tubuhnya sudah jauh berkurang dan tidak lagi mengancam nyawanya untuk sementara. Pagi itu, Jiang Xuan memutuskan mereka akan kembali ke kediaman utama. Kereta sudah disiapkan sejak matahari belum terlalu tinggi. Para penjaga memeriksa barang bawaan dan memastikan jalan yang akan mereka lewati aman. Lin Yuechan berdiri di depan rumah lama sambil memandang tempat itu untuk terakhir kalinya. "Rasanya baru kemarin kita datang ke sini." Jiang Xuan berdiri di sampingnya. "Banyak hal terjadi selama beberapa hari ini." Lin Yuechan mengangguk. "Setidaknya Jiang Wei sudah lebih baik." Tatapan Jiang Xuan berubah lembut. "Ya." Dari belakang mereka terdengar suara Jiang Wei. "Kalian mau meninggalkanku?" Lin Yuechan menoleh. Jiang Wei berjalan keluar dengan bantuan seorang penjaga. Jiang Xuan langsung mengerutkan kening. "Sia
Jiang Xuan masih menatap tabib itu dengan serius."Periksa dia baik-baik."Tabib mengangguk."Baik, Tuan Muda.""Kalau ada sesuatu yang membuat kondisinya memburuk, segera beri tahu aku.""Ya."Jiang Xuan kemudian menoleh kepada Fu Cheng."Siapkan satu kamar untuknya. Jangan biarkan banyak orang keluar masuk.""Baik."Fu Cheng bersama dua penjaga segera membantu memindahkan adik Jiang Xuan ke kamar yang lebih tenang.Jiang Xuan masih berdiri di sana sampai tabib mulai kembali memeriksa kondisi adiknya.Setelah memastikan semuanya aman, ia akhirnya keluar.Begitu menutup pintu, Jiang Xuan melihat Lin Yuechan berdiri tidak jauh dari sana."Kau belum beristirahat?"Lin Yuechan tersenyum kecil."Aku baru mau kembali ke kamar."Jiang Xuan berjalan menghampirinya."Bagaimana lukamu?""Sudah lebih baik.""Kau yakin?""Yakin."Jiang Xuan masih terlihat tidak percaya.Lin Yuechan akhirnya berkata,"Kalau kau terus menatapku seperti itu, aku benar-benar merasa seperti pasien.""Kalau perlu, aku
Namun sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Lin Yuechan menoleh. "Jiang Xuan." "Hm?" "Jangan terlalu memaksakan diri." Jiang Xuan mengangguk. "Kau juga." Lin Yuechan akhirnya masuk. Jiang Xuan menunggu sampai sosoknya menghilang di balik pintu, lalu berbalik menuju ruangan tempat adiknya dibawa. Di dalam, seorang tabib sudah menyiapkan berbagai peralatan. Adik Jiang Xuan terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat. Garis hitam di lehernya terlihat semakin jelas. Tabib memeriksa nadinya. "Bagaimana?" Jiang Xuan berdiri di samping ranjang. "Racunnya sedang aktif." "Apakah bisa dihentikan?" Tabib terdiam. "Untuk sementara." Tatapan Jiang Xuan mengeras. "Untuk sementara?" "Racun ini berbeda dari racun biasa. Seolah-olah ada sesuatu yang terus mengalirkannya dari dalam tubuh." Jiang Xuan mengepalkan tangan. "Bisakah kau mengobatinya?" "Aku akan mencoba." Tabib membuka kotak obatnya dan mulai menyiapkan jarum. Beberapa saat kemudian, jarum ditusukkan ke titik-ti
Mereka akhirnya berhasil keluar dari lorong bawah tanah.Begitu sampai di permukaan, beberapa penjaga langsung menutup pintu masuk sumur dengan batu-batu besar. Namun suara retakan dari bawah masih terdengar samar.Lin Yuechan berdiri di samping Jiang Xuan sambil menatap sumur itu.Pikirannya masih dipenuhi suara dari balik pintu ketiga.Terutama kalimat terakhir tentang ibunya."Yuechan."Suara Jiang Xuan membuatnya tersadar."Hm?""Kau baik-baik saja?"Lin Yuechan mengangguk pelan."Aku hanya sedang berpikir."Jiang Xuan memperhatikannya beberapa saat."Kita akan mencari jawabannya. Tapi jangan bertindak sendiri."Lin Yuechan menatapnya."Aku tahu."Dari arah tandu, terdengar suara lemah."Jangan..."Mereka langsung menoleh.Adik Jiang Xuan membuka matanya sedikit.Lin Yuechan segera menghampirinya."Kenapa? Racunnya kambuh lagi?"Adiknya menggeleng."Jangan bawa aku ke kediaman."Jiang Xuan mengernyit."Kenapa?""Mereka tahu tempat itu.""Siapa?"Adiknya menarik napas dengan susah







