Share

MDDM 5

Malam hari |

Kana melepaskan high heels dari kakinya yang terasa pegal karena seharian berdiri dan berjalan kenalan dengan para kolega Bara. Cukup banyak yang hadir, beberapa orang terpenting yang Bara undang.

Kana berdiri mencoba menarik resleting di punggungnya yang sulit dia jangkau. Dia sampai membusungkan dadanya mencari dimana pengait gaun itu.

"Panggil saya kalau kamu kesulitan, Ai."

Kana menegang! Bara datang tiba-tiba menarik pinggangnya dan menurunkan resleting itu. Kana masih memegangi bagian depan gaun agar tidak terlepas. Malu rasanya.

"Kenapa? Kamu sudah menjadi istri saya, sudah seharusnya saya lihat lekuk tubuh kamu."

"Enggak!" Kana menjauh dari Bara sambil menarim selimut menutup tubuhnya.

"Kana gak mau!"

Bara tersenyum miring melihat wajah memerah Kana. Dia menginjak pucuk selimut di lantai dan berjalan mendekati Kana.

"Om, please. Kana belum siap,"

Bara menghentikan langkahnya, jakunnya naik turun menelan salivanya mendengar kalimat Kana. Dia melihat sorot ketakutan pada bola mata indah Kana, seketika hatinya merasa tidak tega melihat gadis kecilnya ketakutan.

"It's ok. Saya tidak akan paksa kamu, saya akan tunggu dua pekan. Tapi, jika dalam dua pekan ini kamu masih belum menyerahkan diri, saya akan minta paksa hak saya."

Kana menelan susah salivanya, tiba-tiba saja ludahnya terasa kelat sampai sulit sekali meneguknya. Bara melepaskan pijakan kakinya dari selimut dan membiarkan Kana membalut tubuhnya.

"Pergilah ke kamar mandi, bersihkan diri mu. Semua pakaian kamu ada di sana." Bara menunjuk satu ruangan dan pergi dari sana.

Kana menghela nafas lega dengan kepergian pria yang sudah menjadi suaminya. Segera Kana membersihkan diri dari sisah riasan dan bekas peluh yang membuat kulitnya terasa lengket.

Setelah selesai membersihkan diri, dan memakai pakaian yang layak dia pakai untuk tidur malam, Kana berniat ingin segera berbaring. Tapi lagi, dia di kejutkan dengan kehadiran Bara yang sudah mapan di tepi ranjang sambil memainkan ponsel.

"Lihat apa kamu? Kemari." kata Bara tanpa menatap Kana.

"Kamu gak dengar?"

"Kenapa Om di sini?" Kana mendekati Bara dengan tatapan kesal.

"Kamu istri saya, dan saya berhak tidur di sini bersama kamu."

"Tapikan-,"

"Hanya tidur bersama, saya ingat kamu belum siap. Tapi apa dengan tidur bersama pun kamu gak siap?" Bara menaikan sebelah alisnya menatap wajah merona Kana, gemas sekali Bara melihat gadis kecilnya. Ingin rasanya dia lahap habis perempuan cantik ini, tapi dia harus sabar. Dia tidak mau merusak momen malam pertamanya justru menjadi trauma bagi Kana.

"Hanya tidur saja, Ai. Gak lebih," Bara menepuk tempat sebelahnya menyilahkan agar Kana segera berbaring di dekatnya.

"Bener, cuma tidur doang 'kan?"

"Iya, Aira."

Kana menghela nafas lebih dulu sebelum memantapkan dirinya untuk tidur bersama. Perlahan Kana naik ke ranjang yang masih di penuhi taburan kelopak bunga mawar.

"Om!"

"Cuma peluk saja, Ai."

Kana membiarkan Bara memeluknya dari belakang dengan posisi mereka berbaring. Dia dapat merasakan hembusan nafas hangat di tengkuknya.

"Jangan panggil saya 'Om lagi, Aira. Saya suami kamu."

"Jadi, apa?"

Bara menautkan tangannya di sela jari-jari lentik Kana dan menggenggamnya erat.

"Panggil sayang juga boleh." bisik Bara mengecup ceruk leher Kana.

"Gak mau. Om gak cocok di panggil sayang."

"Memangnya kamu gak sayang sama saya?"

"Untuk saat ini kayanya enggak."

Bara tersenyum mendusal wajahnya pada ceruk leher Kana yang terasa hangat.

"Gak apa-apa, saya akan tunggu sampai kamu sayang dan cinta. Tapi jangan panggil saya 'Om, saya gak se-tua itu, Aira."

"Ya jadi mau di panggil apa? Oppa?"

"Panggil saya, 'Mas, boleh?"

Kana menangkup bibirnya menahan senyum, manis sekali suara Bara malam ini.

"Boleh. Tapi ada syaratnya."

"Apa itu?"

"Om jangan lagi pakai kata 'Saya untuk menyebutkan diri Om. Kana ngerasa kaya lagi ngomong sama Presiden."

Tawa Bara pecah menggelegar seketika mendengar kalimat yang entah itu ledekan atau apalah. Lucu sekali Bara mendengarnya, dia memutar tubuh Kana menghadapnya dan mengusap lembut kedua pipinya.

"Ok, mulai sekarang Mas gak pakai lagi kata 'Saya untuk menyebut diri."

Kana semakin merona mendengar Bara sudah mengganti penyebutan dirinya dengan 'Mas. Entah kenapa Kana merasa sangat terkesima mendengar Bara memantapkan diri menyebutnya 'Mas.

"Gimana, Ai. Cocok 'kan?"

Kana mengangguk. Tak sanggup dia menatap mata Bara yang terkesan dalam.

"Coba, kamu panggil 'Mas."

"Iya, Mas Bara."

"Duhh! Istrinya Bara." Bara menarik pucuk hidung Kana saking gemasnya.

"Besok Kana mau kuliah, minggu depan mau ada ujian praktik. Udah dua hari Kana libur, Dira pasti nyariin."

"Kamu jangan bilang dulu sama Dira, biar nanti Mas yang bicara sama dia."

"Kana ragu, gimana kalau Dira tau nanti. Pasti dia bakal kecewa banget."

"Sayang, kamu jangan fikirkan itu. Dira anak Mas, dia gak boleh punya rasa sama Mas."

"Tapi nyatanya dia udah suka sama Om."

Bara mengeratkan rahangnya, sangat tak suka dengan sebutan itu lagi. Harusnya dia mendengar Kana menyebutnya dengan sebutan 'Mas.

"Kamu bilang apa? Coba ulangi lagi."

"Dira udah terlanjur suka sama Om."

Cup!

"Om!"

Cup!

"Panggil, 'Mas, atau kamu Mas cium sepanjang kamu bicara."

Kana menutup mulutnya dengan jari-jarinya, dia lupa kalau baru saja Bara memintanya jangan lagi memanggil 'Om.

"Iya, lupa." kata Kana nyengir menampakkan gigi kelincinya.

"Mas akan selesaikan, dan kasih paham sama Dira supaya tidak lagi menyukai Mas. Dia sudah Mas anggap anak sendiri, Ai. Kenapa dia bisa sampai berfikir seperti itu?"

"Mana Kana tau. Yang Kana tau Dira nyaman sama Mas, dia mau jadi sugar Baby nya Mas."

"Kana! Kamu ini bicara apa?"

"Dira yang bilang gitu, Mas."

"Aira, kamu tau 'kan Mas suka kamu sejak lama. Mas juga tau loh, kamu pura-pura gak tau dan mencoba menghindari Mas."

"Ya 'kan Kana jaga perasaan Dira."

"Mas akan selesaikan ini secepatnya, jangan sampai Dira jatuh terlalu dalam sama perasaannya."

Kana diam saja, ada perasaan senang di sudut hatinya, dia tak lagi merasa bersaing untuk mendapatkan Bara. Toh Bara sendiri yang datang dan mengatakan suka padanya dari jauh waktu. Indira saja yang sudah terlewat batas, bagaimana bisa seorang anak jatuh cinta pada Ayahnya. Walau sebagai anak angkat, rasanya juga tetap tidak pantas.

Bara memeluk Kana yang sudah tertidur, dia mengusap helaian rambut kecoklatan Kana dengan lembut. Fikirannya bermain, memutar otak untuk bicara pada Dira secepatnya. Sebab, urusannya bukan hanya pada Indira, tapi juga pada orang yang semalam bertaruh dengannya. Mungkin saja sekarang orang itu akan mengincar Kana. Tidak ada yang tau orang terdekat Bara, termasuk Indira. Karena mereka sudah melihat Kana, jadi Bara harus melindunginya dari musuh yang datang kapan saja.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status