Partager

Bab 7. Dia Sembuh?

Auteur: Nychinta
last update Date de publication: 2025-02-13 19:49:49

“Mbak bajuku apa sudah disetrika?” Yasmin menghampiri Lisa yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga ini.

Lisa tersenyum dan mengangguk. “Sudah, tunggu sebentar, ya.” Dia lalu mengambilkan baju yang dimaksud oleh Yasmin dan menyerahkannya.

Yasmin mengamati hasil seterika dari Lisa dan kembali berkomentar, “Mbak, ini kenapa masih sedikit kusut? Kalo dipake, bagian ini keliatan banget gak rapinya.”

Lisa hanya menghela napas sejenak mendengar celotehan itu.

“Mbak rapiin lagi ini, nanti kalo sudah anterin ke kamar, aku mau beres-beres barang.” Yasmin meninggalkan Lisa dan melemparkan bajunya ke wajah Lisa.

Paham, Lisa sangat tahu persis kalau ini pasti akan terjadi. Kembali diperhatikannya baju itu, tidak nampak seperti yang dikatakan oleh Yasmin. Adik tirinya itu memang sengaja ingin membuatnya tersiksa saja, karena itu dia berbuat demikian. Sebenarnya beberapa kali Lisa mencoba untuk berontak, tetapi saat mencoba melakukan hal itu, dia kembali berpikir bahwa percuma saja, karena sang ayah akan menasehatinya untuk bersabar.

Lisa tidak menyetrikanya lagi, hanya membawanya ke belakang lalu dia kembali sibuk dengan urusannya di dapur yang masih tanggung, yaitu menghidangkan sarapan mereka. Setelahnya, Lisa kembali memberikan pakaian itu kepada Yasmin.

“Yasmin, ini pakaiannya.” Lisa memberikan itu pada Yasmin yang masih sibuk dengan ponselnya di atas tempat tidur.

“Oh, iya, letak di sana saja. Mbak sekalian, masukin itu baju ke dalam tas, ya!” perintah Yasmin lagi tanpa melihat ke arah Lisa.

Mendadak Lisa menghentikan langkahnya untuk keluar kamar, dia benar-benar ingin berontak, hingga akhirnya untuk kali pertama dia mengabaikan adik tirinya itu.

Belum sempat dia benar-benar melangkah keluar, Yasmin membentak dan membuatnya sangat terkejut, “Mbak Lisa! Mbak Lisa telinganya tuli?!”

Lisa mengepalkan erat tangannya, tetapi dia tidak ingin melihat ke arah adiknya itu.

“Hei Mbak Lisa! Berhenti di sana!” Bentak Yasmil lagi pada Lisa yang masih mematung di tempat tanpa menoleh ke belakang.

Terdengar langkah Yasmin menghampirinya dan benar saja, Yasmin manarik kuat tangan Lisa membuatnya jatuh terjerembab di lantai.

“Mbak Lisa mulai mau melawan, ya?” Kali ini Yasmin menjepit wajah Lisa dengan tangannya dan membuat wajah Lisa mendongak ke arahnya. “Dengar ya Mbak, telingamu jangan ditulikan! Kamu mau melawan?! Menurutmu kamu bisa?” Yasmin berkata dengan nada sinis pada Lisa.

Dan kali pertama Lisa menepis kuat tangan Yasmin, membuat wanita itu tersentak karena terkejut. Hingga sang adik pun terdorong ke belakang dan terduduk di lantai. Mendapati hal tersebut Lisa langsung berdiri dengan cepat. Lisa kemudian melihat ke arah Yasmin yang berada di bawahnya dengan tatapan datar, sementara Yasmin, dia matanya menatap dengan nyalang ke arah Lisa, baru saja Yasmin ingin membuka mulut untuk meluapkan emosinya, terdengar suara Duha dari arah luar.

“Lisa, Lisa,” panggil sang ayah tidak jauh dari kamar Yasmin.

“Aku akan melepaskanmu kali ini,” ucap Yasmin dengan nada penuh penekanan, sementara Lisa tidak menghiraukannya, dia berjalan dengan santai ke arah luar.

“Ya, ada apa, Ayah?” tanya Lisa dengan tersenyum. “Ayah sudah pulang dari masjid, ya?” Dia mendekati ayahnya dan mencium punggung tangan pria itu.

“Suami kamu … apa kamu sudah membantunya untuk bersih-bersih?” tanya Duha lagi.

Mendengar pertanyaan itu Lisa diam sejenak, dia berpikir sejenak tentang kenyataan bahwa Gandha bisa bertindak normal saat ini.

“Itu ….” Kata-kata itu terhenti.

“Kalau kamu belum melakukannya ayah akan membantumu untuk membersihkan suamimu.” Duha berkata dengan lembut.

“Apa?! Apa yang ingin ayah lakukan?!” Terdengar suara Ida membuat keduanya menoleh.

Lisa menarik napas dalam.

“Ayah, pria gila itu sudah punya istri!” Ida berkata pada Duha dengan suara melengking sambil berjalan mendekati mereka. “Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab istrinya untuk membantunya membersihkan diri dan mengurus semuanya!” Ida berkata dengan melihat sinis ke arah Lisa.

“Kamu Lisa, mulai saat ini, jangan menyuruh ayahmu lagi mengurus suami gilamu itu! Ayah, semalam adalah terakhir ayah membantu Lisa, mulai hari ini, dia harus terbiasa dengan tugasnya itu.” Pernyataan Ida barusan menjawab pertanyaan Lisa yang sempat menggantung semalam tentang siapa yang mengganti pakaian suaminya itu.

Duha menghela napas dalam, melihat ke arah Lisa lalu berkata pada istrinya, “Bu, Lisa juga perlu waktu lagipula kemarin malam itu–”

“Jangan membelanya terus! Semalam sudah terlihat jelas apa yang terjadi, jadi jangan pura-pura lugu, toh dia juga sudah melakukannya, kan?” Ida berkata sambil melihat Lisa dan menatapnya dengan pandangan merendahkan.

“Bu, semalam Ibu juga tahu kalau itu hanya kesalahpahaman saja, semalam Lisa hanya membantu Mas Gandha makan seperti biasa lalu, tiba-tiba dia berteriak ketakutan, kita semua tahu, dia selalu menjerit-jerit kalau hari hujan apalagi ditambah dengan kilat dan petir..” Lisa meluapkan apa yang dia rasakan, tetapi dia masih bisa mengendalikannya hingga rasa marah itu masih tetap tertahan.

“Oh, ya? Tapi sepertinya semalam kamu cukup menikmatinya.” Ida berkata dengan menyunggingkan sebelah bibirnya.

Lisa hanya mendesah pelan dengan tangan yang terkepal erat di samping tubuhnya.

“Bu, jangan bicara seperti itu! Kamu sudah kelewatan!” bentak Duha, hal ini cukup mengejutkan Lisa, pasalnya ini pertama kalinya Duha membentak istrinya di depan dirinya.

Ida tercengang mendengar nada tinggi dari suaminya itu.

“Oh, demi anakmu yang sudah mencoreng nama keluarga kita bahkan kamu sudah berani membentakku, ya?!” Ida berkata dengan suara berang.

Tidak ingin ada keributan akhirnya, Lisa kembali mengalah. “Bu, Ayah, maafkan Lisa, Lisa sudah membuat keributan pagi ini.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan karena kamu tidak salah.” Ini juga kali pertama sang ayah membela dirinya di depan Ibu tirinya itu. “Dengar ya, Bu, sekali lagi ayah ingatkan, jangan bicara yang tidak baik pada Lisa, karena ayah tahu ini hanya kesalahpahaman saja.”

“Ayah apa-apaan sih?!” Ida berkata dengan menunjukkan kekesalannya dia merasa sangat tidak terima dengan masalah ini.

Duha kembali melihat ke arah Lisa menatapnya dengan pandangan yang rumit kemudian memerintahkan Lisa, “Lisa lebih baik kamu masuk ke kamarmu sekarang, tunggulah sebentar lagi, ayah akan membantumu membersihkan Gandha.”

Tanpa banyak tanya dan membantah lagi, Lisa mengangguk dan segera masuk ke kamarnya.

***

Namun, saat tiba di kamarnya, Lisa sangat terkejut. Pasalnya saat ini, Gandha yang sudah lebih rapi. Pria itu juga sepertinya sudah mandi sendiri, tidak seperti hari-hari sebelumnya.

“Mas Gandha kamu ….” Lisa menggantung kalimatnya, dia mulai menebak-nebak, tetapi tidak mampu satu kalimat pun keluar dari bibirnya untuk bertanya.

Gandha hanya tersenyum sekilas pada Lisa.

Rumah Duha memang salah satu rumah yang cukup besar di kampung ini, mengingat mereka dulu adalah orang yang sangat kaya raya di kampung sebelum kejatuhannya bermula. Di setiap kamar rumah ini ada kamar mandi di dalam hingga penghuninya tidak perlu repot untuk berebut kamar mandi.

Gandha menarik napas dalam dan melihat tajam ke arah Lisa.

“Maaf, aku sudah membuat kekacauan di pagi hari ini.”

Mata Lisa berkedip beberapa kali mendengar ucapan Gandha yang benar-benar seperti orang normal. Hingga akhirnya dia tidak tahan untuk segera bertanya, “Mas apa kamu melakukan ini sendiri?”

Belum sempat Gandha menjawab terdengar ketukan kuat dari arah pintunya.

“Mbak Lisa! Mbak Lisa!”

“Kamu dipanggil saudaramu,” ujar Gandha pada Lisa.

Namun, Lisa tidak terlalu peduli akan hal itu. “Mas apa kamu benar-benar bisa bicara dengan baik? Apa kamu ingat siapa dirimu? Darimana asalmu?” Lisa bertanya dengan bertubi-tubi, dia berjalan mendekati Gandha dan memegang lengan pria itu.

Tatapan mata mereka bertemu, untuk kali ini Lisa bisa melihat jelas wajah suaminya ini. Mata hitam yang tajam, bulu mata lebat, pangkal hidung yang cukup tinggi, alis tebal dan rapi, walaupun wajahnya tertutup cambang yang mulai tumbuh tak beraturan, tetapi kalau dilihat dari jarak yang cukup dekat seperti ini, pria ini memancarkan aura yang luar biasa.

BRAKK!!!

Suara pintu terdengar dibuka dengan kasar, membuat Lisa dan juga Gandha melihat ke arah pintu, di sana sudah ada Yasmin dengan wajah bertekuk masam, tangannya terlipat di depan dada memandang penuh amarah pada Lisa.

Ada apa lagi ini ...?

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 100. Akhir yang Diinginkan

    Empat tahun kemudian ...."Papa! Cepat!"Suara tawa seorang anak laki-laki memenuhi halaman rumah yang berdiri megah di tengah hamparan kebun bunga lavender.Anak kecil berusia hampir empat tahun itu berlari dengan langkah pendeknya sambil membawa pesawat kayu di tangan. Rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa angin, sementara sepasang mata abu-abu yang diwarisi sang ayah tampak berbinar penuh semangat."Pelan-pelan, Nak!" seru Lisa dari teras rumah. Namun, peringatannya datang terlambat."Papa!"Bruk!Tubuh mungil itu langsung menabrak kaki Gandha yang baru saja turun dari mobil.Alih-alih marah, Gandha justru tertawa pelan. Dengan satu gerakan, ia mengangkat putranya tinggi-tinggi hingga terdengar suara cekikikan riang. "Wah... siapa ini? Kok berat sekali?""Bukan berat!" protes si kecil sambil tertawa. "Arka sudah besar!""Kalau begitu sudah tidak mau digendong Papa?" Gandha menggoda putranya."Tetap mau." Jawaban polos itu membuat Lisa terkekeh."Katanya sudah besar.""Kalau sa

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 99. Keputusan untuk Kembali

    Beberapa saat, Gandha hanya memandangi nama yang terus berkedip di layar ponselnya. Sesekali ia mengalihkan pandangan ke arah Lisa, tetapi tidak juga mengangkat panggilan itu hingga deringnya berhenti dengan sendirinya.Belum sempat ia menyimpan ponsel, layar itu kembali menyala.Nama yang sama kembali muncul.Gandha mengembuskan napas pelan, lalu menatap Lisa dengan wajah memelas."Lihat sendiri, kan?" katanya sambil mengangkat ponselnya. "Belum jadi pimpinan saja, orang-orang sudah mengejarku seperti ini."Lisa tak kuasa menahan senyum melihat tingkah suaminya."Angkat saja, Mas. Siapa tahu keponakanmu mau membicarakan hal lain.""Kalau ternyata dia sama saja dan memaksaku lagi, bagaimana?" Gandha kembali melihat ke arah istrinya itu."Ya didengarkan dulu. Jangan mengambil kesimpulan sendiri." Lisa berkata dengan suara lembut.Gandha menggeleng pelan sambil terkekeh. Akhirnya ia mengusap layar ponselnya dan menerima panggilan itu. Sengaja ia menyalakan pengeras suara agar Lisa ikut

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 98. Sedikit Tentang Beban Gandha

    Sejujurnya, Lisa sangat penasaran. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan sikap suaminya. Di satu sisi, ia begitu kagum melihat betapa dihormatinya Gandha oleh banyak orang. Namun di sisi lain, ia juga menangkap sesuatu yang disembunyikan pria itu. Di balik senyum dan ketenangannya, Gandha tampak menyimpan beban yang cukup berat."Sebenarnya, Mas Gandha kenapa, ya?" gumam Lisa lirih.Rasa penasarannya akhirnya mengalahkan keinginan untuk tetap diam. Ia melangkah keluar kamar, mengikuti arah suaminya.Langkah Lisa terhenti di ambang pintu balkon.Dari kejauhan, ia melihat Gandha sedang berbicara melalui telepon. Nada suaranya terdengar rendah, tetapi tegas. Wajah yang biasanya tenang kini dipenuhi keseriusan yang belum pernah Lisa lihat selama lima tahun mereka bersama."Apa ada masalah besar di perusahaan?" bisiknya pelan.Lisa mengurungkan niat untuk menghampiri. Ia tidak ingin mengganggu pembicaraan suaminya, terlebih jika itu memang sesuatu yang penting.Sebagai gantinya,

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 97. Panggilan Penting

    Melihat wajah Gandha yang panik dan langsung mendekati Lisa membuat Radiah dan Lisa terkejut sesaat.“Sayang kamu, tidak apa-apa, kan?” tanya Gandha dengan wajah yang penuh diliputi rasa khawatir.Lisa lalu tersenyum kemudian sedikit tertawa dan menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa, jangan berlebihan.” “Tapi … kenapa kau …?” Gandha lalu melihat ke arah ibunya dengan pandangan menuntut penjelasan.“Apa aku terlihat seperti ibu mertua yang ingin menindas menantunya? Pikiranmu payah sekali. Bahkan kau tidak percaya pada mamamu sendiri.” Radiah berkata lalu memperlihatkan wajah sedihnya.“Minta maaflah sama Mama. Bahkan mama sudah sangat baik padaku,” ujar Lisa dengan suara yang sedikit serak.Gandha hanya mengernyitkan keningnya mencoba untuk mengerti situasi yang sedang terjadi saat ini.Lisa dan Radiah saling pandang lalu tersenyum. “Tidak seperti yang ada dalam pikiranmu, Mas, Mama sangat menerimaku, bahkan aku merasakan kalau saat ini aku benar-benar mendapatkan seorang ibu yang men

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 96. Mendapatkan Keluarga Baru

    Melihat cara Radiah yang menatap Lisa, membuat Gandha menjadi sedikit tidak tenang. “Lisa, namamu Lisa, kan?” suara Radiah terdengar sangat tenang.Lisa hanya mengangguk pelan, lalu melihat ke arah Gandha sejenak.“Mama … apa yang ingin mama bicarakan dengan istriku?” tanya Gandha sambil merangkul Lisa, seolah-olah tidak ingin melepaskannya sendirian.Radiah lalu tersenyum melihat putranya. “Kau tenang saja, mama ini bukan ibu mertua yang suka mengancam seperti di drama-drama anak muda itu!”Mendengar ucapan Radiah membuat Lisa tersenyum, dia lalu melihat ke arah Gandha yang wajahnya diliputi rasa khawatir.“Lagipula, kalau mama tidak suka sudah daritadi istrimu ini Mama tarik.” Radiah kembali menambahkan lalu tersenyum lalu menarik Lisa dari pelukan Gandha.Gandha merasa tidak rela tapi Lisa hanya tersenyum dan memberikan ekspresi kalau dia tidak apa-apa.“Istrimu saja tidak takut, kenapa kau ini sangat khawatir kalau mama akan melukainya?” Radiah berkata dengan nada sedikit manja d

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 95. Kejutan untuk Keponakan

    Melihat Gandha yang benar-benar berdiri di hadapan keduanya, tentu saja Radiah tidak mampu menahan air mata bahagianya. “Nak apa ini benar-benar kamu?” tanyanya sambil memegang wajah anaknya itu. Seperti biasa, bawaan Gandha yang tenang meyakin mereka kalau ini memang nyata.“Aku membawa seseorang untuk kuperkenalkan pada kalian.” Gandha lalu melihat ke arah Lisa, lalu berjalan pelan menghampiri istrinya itu.“Dia adalah istriku, Lisa.” Gandha memperkenalkan istrinya pada mereka semua.“A-apa? Kamu sudah memiliki istri?” Radiah tampak cukup terkejut.Gandha lalu membawa Lisa ke hadapan kedua orang tuanya, sedikit malu-malu Lisa tersenyum pada kedua orang tua Gandha. Dalam hatinya jantungnya berpacu cepat, meski ada sedikit rasa gugup dan takut tidak diterima dia harus melakukan yang terbaik saat ini.Siapa sangka Radiah langsung memeluknya, sebentuk rasa hangat merayap dalam hatinya saat itu juga.“Terima kasih … terima kasih kamu sudah menjaga anakku.” Dia berkata sambil terisak.Ti

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 6. Apa Dia Ingat?

    Lisa tertegun sejenak, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Ibu dan adik tirinya itu. Hanya saja selama ini dia masih diam dan tidak melawan untuk mengurangi percekcokan yang terjadi di rumah ini.Ayah dan ibunya juga kerap kali bertentangan pendapat yang ujung-ujungnya Duha akan mengal

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 5. Berhenti Memikirkannya

    “Mas Gandha, apa kamu paham apa yang aku katakan?” Lisa kembali mengulang tanya untuk memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi jika suaminya bisa diajak bicara dengan normal.“Aku … aku hanya ingat namaku, aku juga ingat kalau aku belum menikah,” ucap Gandha, “tapi selebihnya, aku tidak bisa meng

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 4. Dia Bicara Normal

    “Bagaimana saksi, apa ini sah?”“Sah!” Beberapa orang menjawab dengan lantang. “Alhamdulillah,” ucap yang hadir di sana. Kini, Lisa benar-benar sudah resmi menjadi seorang wanita bersuami.Doa dipanjatkan setelah ijab kabul terdengar. Namun, Lisa masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri, rasany

  • Menikah Dengan Pria Gila   Bab 3. Bicara Dengan Benar

    Entahlah, tapi yang jelas sekarang ini pikiran Lisa, benar-benar berkecamuk hebat. Kemudian dia tiba-tiba terpikir hal lain. Selain dia bisa mengucapkan namanya dengan jelas tadi, kebiasaan pria ini selama ini hanya bisa menjerit-jerit dengan nada pilu dan tidak bisa mengatakan kalimat lain dan kal

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status