Masuk“... berhati-hatilah dengannya kakak ipar,..” penggalan kalimat Daniel itu terus terngiang di telinga Celina sepanjang koridor. Ia melangkah cepat kembali ke ruang rapat. Pikirannya terusik oleh pernyataan Daniel yang mengetahui kontrak pernikahannya.Celina gelisah, jika sampai kontrak itu ter blow-up ke publik maka nilai saham dan reputasi Heatrix akan bergejolak. Meski pernikahan bisnis adalah hal yang umum dilakukan tapi tidak dengan pernikahannya.Heatrix baru saja pulih dari kekacauan manajemen era Jason. Jika sampai kembali kacau karena kontrak pernikahan itu, masalahnya bakal semakin rumit.Pintu ruang rapat terbuka, beberapa orang di dalam langsung menoleh. Suasana diskusi yang tengah berlangsung terjeda sesaat sampai Celina kembali ke kursinya.David yang duduk di kursi utama meja panjang itu langsung mengangkat kepala.Tatapannya otomatis tertuju pada Celina. Wajah pucat dan sikap gugupnya memancing rasa penasaran David.Celina duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Tangan
“A-apa?!”Celina terperanjat. Alisnya berkerut tajam, seolah kata-kata Daniel barusan adalah sesuatu yang terlalu lancang untuk diucapkan dengan santai.Daniel hanya tersenyum tipis. Senyuman yang terlalu tenang dan mencurigakan.“Pernikahan kontrak ... Kedengarannya tidak asing tapi aku tak menyangka jika David bersedia melakukannya.”“Berhenti bicara seolah kau tahu segalanya tentang hidupku.” wajah Celina terlihat tegang.“Aku tidak tahu semuanya,” Daniel mengangkat bahu ringan. “Tapi aku tahu cukup banyak.”Ia melangkah setengah langkah lebih dekat. Tidak menyentuh Celina lagi, tapi jaraknya cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa panas.“Contohnya, seperti … aku tahu seorang David Knight tidak pernah benar-benar membawa seorang wanita ke dalam hidupnya sebelum kau.”Celina berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.“Dan aku juga tahu,” lanjut Daniel, suaranya lebih rendah sekarang, “bahwa pernikahan kalian dibuat karena kebutuhan … bukan karena
Mobil hitam milik David meluncur mulus memasuki pelataran gedung Heatrix yang menjulang tinggi di pusat kota.Pagi itu langit cukup cerah, tapi tak cukup untuk mencerahkan suasana di dalam mobil.David duduk di kursi belakang bersama Celina. Tangannya sesekali bergerak membuka berkas digital di tablet, meneliti laporan keuangan yang sejak semalam dikirimkan oleh tim audit. Di sampingnya, Celina juga memeriksa dokumen yang sama.“Jason benar-benar meninggalkan kekacauan,” gumam Celina pelan.David tidak langsung menjawab. Matanya masih menelusuri angka-angka di layar.“Aku sudah menduganya. Maaf jika aku terlambat menyadari hal ini.” Sesal David seraya menoleh pada Celina.“Aku tidak menyalahkanmu. Aku juga memiliki andil atas kekacauan ini. Dia terlalu lama memberi ruang pada orang-orang yang salah.”“Kita bisa mengatasinya bersama. Yakinlah padaku.” David menenangkan Celina dengan genggaman tangan erat.Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan lobi. Begitu pintu terbuka, seor
Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang makan, memantul lembut di atas meja kayu panjang yang telah tertata rapi. Suasana mansion masih tenang dan sunyi untuk David dengan otak penuhnya.Di hadapan David tersaji sarapan sederhana kesukaannya. Sepiring omelet lembut dengan potongan jamur dan keju, beberapa lembar smoked beef panggang, roti sourdough yang masih hangat, semangkuk kecil salad alpukat dan tomat ceri, serta secangkir kopi hitam pekat yang uapnya masih mengepul.David duduk santai di kursinya. Ia mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya perlahan, menikmati rasa pahit yang familiar di lidahnya.Langkah kaki tergesa terdengar menggema dari koridor. Itu Daniel, David bahkan sudah mengenali langkah panjang itu tanpa melihat.Beberapa detik kemudian, Daniel muncul.Kemeja putihnya sudah terpasang rapi, tetapi ia masih sibuk berusaha mengancingkan kancing di ujung lengan bajunya sambil berjalan. Rambutnya basah, sedikit berantakan seolah ia baru saja bangun lebih lambat dari b
Malam semakin larut, Celina dan David akhirnya bisa bernafas lega setelah tamu terakhir pergi.Suasana mansion terasa lebih dingin dan sunyi dari sebelumnya. Kematian Lauren dan juga Jason, sedikit banyak berpengaruh pada suasana hati para pengurus mansion. Duka itu masih menempel lekat seolah enggan pergi Celina duduk di sofa ruang keluarga tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang ia lihat. Tatapannya kosong, tertuju pada meja di depannya. Suara api membakar kayu terdengar pelan mengisi ruangan senyap itu.David datang dengan segelas air ditangannya. “Minumlah.”Celina mengangguk pelan. Jari-jarinya melingkari gelas itu, tapi Celina tak langsung meminumnya.Keduanya duduk diam untuk beberapa saat. Ponsel Celina bergetar pelan. Layar menyala dan sebuah nomor tak dikenal muncul di sana.David mengerutkan kening, ia mengenali tiga digit paling akhir. “Sejak kapan kau dan Daniel bertukar nomor?”Celina tampak sedikit terkejut. “Daniel? Ini nomornya?”“Hm,”“Aneh … kami tidak pernah b
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa terlalu panjang bagi dua bersaudara itu.Daniel akhirnya memalingkan pandangan lebih dulu. Ia menghela nafas pelan lalu menoleh pada Celina.“Jika tidak keberatan, izinkan aku mengantarmu sampai mobil,” katanya ringan.Celina tampak ragu sejenak, tapi sebelum ia sempat menjawab, Daniel sudah berjalan lebih dulu menuju jalan setapak keluar dari pemakaman—seolah yakin mereka akan mengikutinya.David mendengus pelan. “Aku tidak ingat kita meminta pengawalan darinya.”Celina menyentuh lengan David sebentar.“Dave …”Nada suaranya lembut, seolah meminta agar ia tidak memperpanjang situasi. David menghembuskan nafas kasar, tapi akhirnya berjalan juga mengikuti Daniel. Mereka bertiga berjalan dalam diam selama beberapa saat.Daniel tiba-tiba memperlambat langkahnya hingga sejajar dengan Celina. Tangannya terulur, lalu dengan santai menyingkirkan daun kering yang tersangkut di rambut Celina sejak dari makam.Gerakannya yang lembut dan penuh
David dan Celina menghabiskan malam panjang dalam situasi canggung. Gengsi Celina masih terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya pada David. Selain itu, Celina juga takut jika David akan melakukan hal yang sama seperti halnya Jason. “Apa yang kau pikirkan?” Tanya David lembut setelah meletakkan m
“Dia bahkan hendak membunuhku, dan lucunya … aku justru menikah dengan ayahnya. Orang yang seharusnya menjadi musuhku.”Celina menatap David dengan mata sembab. Suaranya semakin gemetar menahan diri untuk tidak berteriak. Kalimat itu begitu menusuk hati David.Hening panjang mengisi kamar.Celina
Aroma kayu dan lavender tercium samar memenuhi kamar saat kesadaran Celina kembali perlahan. Langit-langit putih dengan ukiran klasik menyambut pandangannya. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya masih samar. Ia mengerjap pelan. Ingatan sebelum kehilangan kesadaran perlahan datang seperti gelo
Udara sore di manor milik Andreas terasa tenang seolah mendukung pertemuan penting yang sedang berlangsung. Langit di luar jendela kaca tinggi berwarna kelabu pucat, cahaya redupnya jatuh ke ruang duduk utama yang didominasi sofa kulit gelap dan meja marmer panjang. Sebastian Whitmore duduk tega







