LOGINMenjelang malam, rumah tua terasa terlalu sunyi. Debur ombak terdengar samar dari kejauhan. Kabut tipis mulai muncul memenuhi sekitar rumah, menciptakan suasana dramatis yang mencekam.Meski begitu, suasana di dalam rumah terasa tenang dan nyaman. Beberapa hari berlalu, luka-luka Daniel dan Celina mulai membaik. Cornell selalu datang untuk merawat di pagi dan sore hari.Sementara Gavin berjaga di lantai satu sambil memantau situasi di luar sana. Perkembangan Heatrix dan Knight Corp selalu dilaporkan Gavin berkala begitu juga dengan posisi Irene yang masih belum lelah mencari Daniel.Celina sedang duduk di sofa sambil memilah obat-obatan ketika Daniel keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam tipis dan rambut masih basah. Tatapannya langsung jatuh pada Celina.“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyanya masih menatap.“ehm, memisahkan obat yang harus kau minum setelah makan malam.” Celina mengangkat wajah dan membalas tatapan Daniel yang rasanya sudah terlalu lama.Daniel terdiam, memperha
Gerimis lembut berubah menjadi hujan tipis ketika sebuah SUV hitam berhenti tanpa suara di seberang apartemen.David keluar dari mobilnya lebih dulu. Menaikkan kerah mantel gelapnya yang bergerak pelan tertiup angin dingin malam. Tiga pria bantuan Dominic menyusul keluar dari SUV lalu menunggu di dekat pintu masuk gedung.“Kamera lantai atas sudah aku loop tiga menit,” bisik salah satu dari mereka sambil menyerahkan earpiece cadangan. “Waktu kita terbatas.”David mengangguk singkat. Ia kembali menatap jendela besar dengan lampu yang menyala redup. Meski tak begitu yakin tapi ia berharap intuisinya benar. Setidaknya, ia bisa menemukan informasi keberadaan adik dan istrinya.Lift bergerak lambat menuju lantai paling atas. Mereka terlihat tegang sekaligus waspada. David memeriksa magazine pistolnya sekali lagi begitu juga dengan yang lain.Pintu lift terbuka. Salah satu dari anak buah Dominic keluar lebih dulu dengan moncong senjata siap membidik siapapun di luar lift.“Clear.” Serunya
Hujan turun semakin deras ketika mobil hitam meluncur membelah jalanan kota yang mulai sepi. Lampu jalan memantul di aspal basah seperti serpihan emas yang pecah berantakan. Di balik kemudi, David mengemudi dengan satu tangan sementara tangan lainnya bertumpu santai di dekat persneling. Sorot matanya tajam tetap waspada memperhatikan sekitar. Layar navigasi di dashboard terus menunjukkan titik lokasi terakhir transaksi Francis Drake. Apotik dua puluh empat jam di salah satu sudut kota lama, lima ratus meter dari pelabuhan. David sedikit curiga karena itu adalah tempat yang terlalu kumuh untuk seorang dokter dengan reputasi bersih seperti Francis Drake. David sedikit menyipitkan mata saat menatap bangunan apartemen tua itu dari balik kaca mobil. Cat dindingnya mengelupas, lorongnya sempit dan lembab. “Yang benar saja, dia tinggal disini? Lalu darimana uang sebanyak itu?” ucapnya pelan menatap kembali daftar belanja medis yang dilakukannya. “Dom, kau yakin Francis Drake ad
Malam menyelimuti kota London dengan hujan tipis yang turun tanpa suara. Lantai eksekutif gedung utama Knight Corp masih terang ketika sebagian besar kota telah tertidur.Di dalam ruang rapat khusus, beberapa layar besar menampilkan grafik saham yang terus bergerak turun. Warna merah memenuhi monitor.Situasi memburuk lebih cepat dari perkiraan.Steve berdiri di ujung meja panjang sambil membaca laporan terbaru dari tabletnya. Jas abu gelap yang ia kenakan masih rapi, berbeda jauh dengan suasana kacau di dalam perusahaan.Beberapa divisi bekerja tanpa henti sejak sore. Melakukan panggilan investor, menghadapi ancaman regulasi sekaligus mengatur berita di berbagai media.Steve harus mengatasi kekacauan di dua perusahaan besar—-Knight dan Heatrix.Kebocoran data Heatrix mulai menyebar terlalu luas. Hilangnya Celina semakin memperburuk keadaan.Pintu ruang rapat terbuka. Salah satu staf legal masuk dengan wajah tegang.“Dua perusahaan afiliasi resmi menghentikan kerja sama mereka malam i
Celina mengabaikan kalimat Daniel, berusaha menenangkan diri dari debaran kacau jantungnya.Kain kompres di tangan Celina belum sempat diganti ketika suara mobil terdengar berhenti di luar rumah tua itu. Ia menoleh cepat ke arah jendela sementara Daniel perlahan berdiri. Sorot matanya terlihat tajam.“Apa itu Cornell …” bisik Celina.Daniel mencoba berjalan untuk mengintip. Tapi baru beberapa langkah, tubuhnya limbung—sebenarnya itu disengaja Daniel demi menarik perhatian.Celina refleks menahan lengannya. “Daniel, jangan memaksa diri.”“Tenanglah.” Daniel menepuk lembut tangan Celina.Suara pintu mobil dibanting terdengar keras dari luar. Celina langsung mencengkeram baju Daniel tanpa sadar.“Bagaimana kalau itu anak buah Irene?” Tanyanya dengan wajah memucat.Daniel tidak langsung menjawab.Ia meraih pistol di atas meja lalu menarik Celina berdiri di belakang tubuhnya secara refleks. Langkah kaki mulai mendekat ke teras kayu. Daniel mengarahkan ujung pistol ke tangga, bersiap untuk
Malam turun perlahan di rumah tua itu, membawa hawa dingin yang merayap masuk dari celah-celah jendela kayu. Lampu kecil di sudut ruangan menjadi satu-satunya penerangan, menciptakan bayangan samar di dinding kusam.Cornell sudah pergi sejak satu jam lalu setelah meninggalkan makanan sederhana dan beberapa obat tambahan.Kini hanya ada Daniel dan Celina. Suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.Usai membereskan wadah makanan di meja kecil, ia melirik sofa tua di sudut ruangan. Busanya bahkan nyaris tidak berbentuk lagi.Daniel yang duduk di tepi ranjang mengikuti arah pandang Celina lalu terkekeh pelan.“Aku bisa tidur di sana.”Celina langsung mengernyit. “Dengan luka seperti itu?”“Aku pernah tidur di tempat lebih buruk.”“Itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan.” Daniel tersenyum tipis melihat nada seriusnya. Celina menarik nafas panjang, menggigit bibir sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, “Naiklah.”Daniel mengangkat alis. “Kau yakin?”“Jangan buat aku mengulangi
Langit London terlihat kelabu. Kabut tipis menggantung rendah di atas kompleks pemakaman keluarga Valemont. Nisan marmer putih dengan lambang keluarga terukir rapi—patung singa berdiri dengan mahkota kecil di atasnya.Celina berdiri tegak di depan tiga makam. Matanya sayu menatap tulisan. Kedua ora
David dan Celina menghabiskan malam panjang dalam situasi canggung. Gengsi Celina masih terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya pada David. Selain itu, Celina juga takut jika David akan melakukan hal yang sama seperti halnya Jason. “Apa yang kau pikirkan?” Tanya David lembut setelah meletakkan m
Udara sore di manor milik Andreas terasa tenang seolah mendukung pertemuan penting yang sedang berlangsung. Langit di luar jendela kaca tinggi berwarna kelabu pucat, cahaya redupnya jatuh ke ruang duduk utama yang didominasi sofa kulit gelap dan meja marmer panjang. Sebastian Whitmore duduk tega
“Kau memilih mengorbankan putrimu?” David bertanya setelah Victor menyatakan keberatannya melakukan permintaan David.Kening Victor bertaut, jarinya saling meremas gundah. “Bukan begitu, maksudku … kau tidak akan mengerti.”“Kalau begitu, buat aku mengerti.”David tersenyum tipis, umpannya berhasil







