LOGINSuara tawa manja itu terdengar begitu familier di telinga Selena. Berasal dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Dengan jantung yang berdegup kencang, Selena melangkah mendekat, mengintip melalui celah kecil yang langsung menghancurkan seluruh dunianya dalam sekejap.
Di dalam sana, di atas ranjang, kekasihnya, pria yang selama ini berjanji akan menikahinya, sedang mendekap mesra seorang wanita. Wanita itu adalah Nami, adik tirinya. Mereka bahkan tak malu melakukan hubungan terlarang yang begitu menjijikkan. "Kamu beneran nggak takut kalau Kak Selena tahu hubungan kita?" bisik Nami dengan nada menggoda, jemarinya bermain di dada pria itu. "Ngapain takut? Selena itu membosankan. Nggak kayak kamu," jawab pria itu sebelum kembali mencium Nami dengan penuh gairah. "Aku tuh nikah sama dia supaya bisa ketemu kamu tiap hari. Dengan begitu kita bisa seperti ini kapan saja aku mau." "Dasar kau ini ..." Selena mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih dan menembus kulit telapak tangannya sendiri. Rasa sakit di hatinya begitu hebat, berubah menjadi kekosongan yang dingin. Dia tahu persis siapa Nami. Adik tirinya itu memang memiliki paras yang luar biasa cantik, tubuh yang seksi, dan aura menggoda yang bisa membuat pria mana pun bertekuk lutut didepannya. Nami terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan, termasuk kekasih Selena. Alih-alih marah atau kesal. Selena memutuskan pergi meninggalkan pasangan perselingkuhan itu untuk menikmati hari-hari indah mereka sebelum akhirnya akan Selena hancurkan. "Jadi, seperti inikah kelakuan bejat kalian dibelakangku?" Selena tertawa getir untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Dunia Selena sempat runtuh saat melihat dengan mata kepala sendiri adegan perselingkuhan orang-orang terdekatnya dan makin hancur hatinya saat dua orang itu menjadikan dirinya sebagai bahan lelucon. Selena menggenggam erat ponselnya di mana di dalam ponsel itu ia sempat merekam adegan tak senonoh antara Charlie dan Nami sebagai kartu AS untuk membuat mereka membayar apa yang sudah mereka lakukan padanya. Selena melangkah perlahan, meninggalkan hotel itu tanpa membuat suara sedikit pun. Air matanya sudah mengering sebelum sempat jatuh, digantikan oleh kobaran api amarah yang murni. "Kamu sudah mengambil apa yang menjadi milikku, Nami," gumam Selena dengan senyum dingin yang terukir di wajahnya yang pucat. "Maka jangan salahkan aku, kalau aku mengambil apa yang harusnya menjadi milikmu. Akan kurebut Tuan Muda Satria darimu." Sakit hati yang dirasakan Selena saat ini tidak akan dibiarkannya menjadi kelemahan. Ia bertekad mendekati calon suami Nami hasil dari perjodohan meski Selena belum pernah bertemu dengan pria itu. Selena melangkah keluar dari lobi hotel dengan pandangan kosong. Kalau Selena mau, ia bisa menghancurkan keduanya saat ini juga. Tapi itu hanya akan membuat sakit hatinya sia-sia. Selena ingin Nami merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Setelah melangkah keluar dari hotel dengan dada bergemuruh, Selena tidak langsung pulang. Ia membatalkan janji temu bisnisnya dengan Lala hari itu melalui pesan singkat, berjanji akan menjelaskan semuanya nanti. Saat ini, fokusnya hanya satu, menyusun strategi. Di pinggir jalan depan hotel, sebuah mobil sedan mewah hitam mengkilap tampak sedang berhenti. Karena kepalanya sudah telanjur pening dan air mata yang ditahannya sejak tadi sudah mendesak ingin keluar, Selena langsung membuka pintu belakang mobil tersebut tanpa memeriksa pelat nomornya lagi. Ia mengira mobil itu adalah taksi online premium yang tadi sempat ia pesan. "Jalan Pak," pinta Selena. Ia menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Selena menatap hotel yang akan ia tinggalkan dengan tatapan kosong. Namun, Selena merasa heran, karena taksinya tidak jalan juga. "Ayo jalan Pak. Kenapa masih belum jalan juga," pinta Selena dan ia menoleh pada Sang supir yang terlihat punggung dan kepalanya saja. Ia merasa tidak asing dengan mobil yang ia tumpangi. Desainnya mirip seperti mobil yang ia tumpangi tadi pagi, hanya beda sopir saja. Namun Selena tak mau ambil pusing. Tanpa suara, mobil mulai melaju perlahan, tapi Selena menggerutu pelan. "Apa semua sopir taksi itu dingin dan angkuh?" gumam Selena setengah berbisik pada dirinya sendiri disaat suasana hatinya sangat buruk. Sang sopir terus diam saja sambil menyembunyikan senyum. "Mau ke mana Nona," tanya Sang sopir memecah kesunyian. "Ke kantor," jawab Selena serak karena tak lagi bisa membendung air matanya. Pertahanan Selena akhirnya runtuh total. Tangisnya pecah seketika. Isakan yang menyakitkan memenuhi kabin mobil yang sunyi itu. Bohong kalau hati Selena tidak hancur. Wanita mana yang mau dikhianati pria yang sudah dipacarinya selama bertahun-tahun. "Charlie, Nami, awas saja kalian! Kenapa kalian setega itu? Apa salahku? Kalau kalian saling suka bilang saja padaku, jangan main dibelakangku," erang Selena sambil bercucuran air mata membuat telinga Sang sopir jadi gatal sekali mendengarnya. Si sopir pendiam itu memberikan sekotak tisu pada Selena sambil berkata, "Air mata Anda begitu berharga, sayang kalau dibuat menangisi orang-orang yang tidak penting. Balas saja perbuatan mereka, untuk apa Anda menangis. Tidak ada gunanya." Seketika Selena berhenti menangis dan mengamati punggung Sang sopir. "Kau siapa?" tanyanya.Nami tak terima. Dengan mata memerah penuh dendam dan napas memburu histeris, ia berhasil menghentak cengkeraman satpam yang memegang tangannya. "Kau wanita iblis, Selena!" jerit Nami melengking seraya melayangkan satu tamparan keras ke arah wajah Selena. Selena tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa mendapat perlakuan kasar dari adik tirinya. Selama ini ia sudah bersabar, tapi kali ini kesabarannya sudah habis total. Diluar dugaan, sebelum jemari Nami sempat menyentuh sehelai rambut Selena, sebuah cengkeraman besi mengunci pergelangan tangannya di udara. Satria bergerak begitu cepat, pasang badan di depan Selena dengan aura intimidasi yang membekukan darah. Cengkeraman Satria membuat tangan Nami merintih kesakitan. Matanya terbelalak menatap sorot mata Satria yang mendadak sangat dingin dan mengerikan, seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya. "Berani menyakiti Selena," bisik Satria dengan suara bariton yang begitu dalam dan mematikan,
"Menurutmu, siapa aku, hm?" bisik Satria seraya memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut pipi Selena. Senyum tipisnya kian mengembang, mengikis kesan pimpinan dingin dan tak tersentuh yang baru saja ia tampilkan di depan seluruh dewan direksi."Kau adalah pimpinan perusahaan misterius yang sering dibicarakan orang-orang. Kenapa kau menyamar jadi CEO?"Satria menyeringai senang. "Kenapa ya? Mungkin aku lagi ikut tren 'CEO yang menyamar'.""Kau jangan bikin aku ketawa. Biasanya CEO yang menyamar itu bikin statusnya lebih rendah dari pangkat CEO. Tapi kau malah sebaliknya.""Yang penting judulnya CEO yang menyamar. Jangan bilang kau mulai jatuh cinta padaku karena suamimu ini bukanlah orang sembarangan.""Siapa juga yang jatuh cinta padamu? Jangan samakan aku dengan Nami atau wanita manapun diluar sana. Tujuanku menikah denganmu bukan untuk jatuh cinta padamu. Tapi balas dendam pada keluargaku atas apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu.
"Cukup, Nami! Jaga mulutmu yang lancang itu!" bentak salah satu direksi senior seraya menggebrak meja dengan sangat keras. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Nami dan Sang Ayah bergantian. "Pramoedya! Bagaimana bisa kau membiarkan putri tirimu ini meracau liar dan menghina pimpinan tertinggi di depan seluruh jajaran komisaris? Kau tidak becus mendidiknya. Lihatlah putri kandungmu, dia cekatan, terampil, dan sikapnya tenang dalam menghadapi masalah. Tapi bagaimana bisa kau memercayakan proyek perusahaan pada orang yang tidak punya kompeten apa-apa! Jangan biarkan putri tirimu itu meracau lagi. Usir dia keluar dari sini!" Ayah Selena tersentak, raut wajahnya makin kebingungan sekaligus tertekan. "Pak Direktur ... tolong tenang dulu. Saya juga tidak paham, kenapa Tuan Satria menandatangani berkas konsorsium raksasa itu? Bukankah Tuan Satria hanya CEO dari Young Group?" "Dasar bodoh!" sela Komisaris Utama dengan nada penuh penghinaan. "Kalian berdua benar-benar buta! Sel
"Suami sah, huh ... suami sah apaan?" desis Nami dengan nafas memburu, matanya memerah menahan lautan dengki dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dada Nami naik turun secara histeris. Otaknya berputar keras, menolak menerima kenyataan bahwa takdir yang seharusnya menjadi miliknya kini digenggam erat oleh Selena. Di kepalanya, bayangan perselingkuhannya dengan Charlie kembali berkelebat. Dulu, ia sengaja merebut Charlie dari Selena hanya demi membuktikan bahwa ia bisa mengambil apa pun milik kakak tirinya itu. Namun, ia tak pernah menyangka keputusannya bermesraan di kamar hotel justru menjadi bencana terbesar dalam hidupnya. Akibat skandal itu, perjodohannya dengan Satria dibatalkan. Selena mengambil alih posisi pengantin, dan lebih menyakitkan lagi, Satria justru tampak begitu bangga dan bahagia memamerkan Selena sebagai istrinya. Bahkan tak terlihat menyesal membuangnya dan memilih Selena. Rasa iri yang membara membuat Nami gelap mata. Jika ia harus hancur hari ini, ia bertekad
Selena melangkah maju dengan keanggunan mutlak, memecah atmosfir mencekam yang menyelimuti ruang rapat. Dari dalam tas kerjanya, ia mengeluarkan sebuah flashdrive perak berkilau dan menyerahkannya kepada operator IT."Silakan buka dokumen utama yang sebenarnya," pinta Selena dingin namun sarat ketegasan.Dalam hitungan detik, layar proyektor utama berganti menampilkan judul bertinta emas: PROPOSAL STRATEGIS EKSPANSI & PENETRASI PASAR KUARTAL III"Bapak-Bapak Direksi dan Komisaris yang terhormat," ujar Selena seraya memegang pointer. "Draf yang baru saja dipresentasikan oleh Nami adalah berkas lama yang penuh dengan skema defensif, sengaja dibuat untuk menguji mana pihak yang berniat jujur dan mana yang sekadar ingin mencuri hasil kerja orang lain. Sementara ini ... adalah proposal resmi yang sudah diperbaiki secara sempurna."Selena membawakan presentasi itu dengan begitu lugas, tajam, dan percaya diri. Ia memaparkan analisis penetrasi pasar langsung, pembagian keuntungan yang adil na
Keesokan harinya, ruang rapat utama PT Pramoedya Group dipenuhi ketegangan yang membumbung tinggi. Seluruh jajaran direksi dan komisaris sudah duduk rapi di sekitar meja oval besar. Di ujung meja, sang ayah, pemilik perusahaan, duduk dengan raut wajah tegas namun menyimpan kegelisahan. Nami duduk tidak jauh dari posisi ayah mereka. Wajahnya dipoles riasan sempurna, berbalut busana formal mewah. Senyum tipis penuh kemenangan terus mengembang di bibirnya. Di dalam tasnya, map dokumen biru berisi proposal kerja sama Young Grup, hasil curiannya semalam, sudah siap ia pamerkan. Tanpa Nami tahu bahwa proposal itu sudah direvisi jauh lebih sempurna dibandingkan sebelumnya. "Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tepat, kita mulai rapatnya," ujar sang Ayah seraya membetulkan posisi miknya. Ia melirik ke arah pintu yang masih tertutup rapat. "Di mana Selena? Mengapa dia belum datang?" Nami langsung memajukan tubuhnya, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. "Ayah ... maaf sebelumn







