Mag-log inSatria tak berkomentar apa-apa. Ia mengangkat panggilan telepon saat berjalan masuk ke rest area dan itu dari asisten pribadinya yang tertinggal di hotel gara-gara Selena salah masuk mobil.
"Halo, Tuan Muda Satria. Anda di mana? Saya sudah membawa berkas yang Anda minta, tapi mobil Anda sudah tidak ada di lobi," suara sang asisten terdengar panik dari seberang telepon. Satria melirik Selena yang berjalan dengan canggung beberapa langkah di belakangnya. "Aku ada urusan mendadak. Kamu kembali saja ke kantor bawa mobil cadangan. Jadwal sore ini kosongkan." "Tapi Tuan, bagaimana dengan ..." Sebelum asistennya selesai memprotes, Satria langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak. Ia memasukkan ponsel ke saku jas, lalu menoleh ke arah Selena dengan tatapan menuntut yang tenang. "Ayo. Di sebelah sana ada kafe yang lumayan sepi. Kita ngobrol dan duduk santai di sana sambil menikmati suasana makan siang." Selena hanya bisa mengekor pasrah. Otaknya yang biasa encer saat memimpin rapat di perusahaan ayahnya, mendadak mogok total. Mereka berdua duduk di area pojok kafe rest area yang menghadap ke arah jalanan. Tak lama kemudian, dua cangkir kopi hitam mengepul sudah tersaji di atas meja. "Maaf karena harus merepotkan Anda," ucap Selena sopan. "Minum dulu. Biar kepala Anda agak dingin," ujar Satria sembari melonggarkan sedikit dasinya, menampilkan kesan maskulin yang kuat. Namun Selena diam saja. Ia memerhatikan secangkir kopi didepannya. "Itu bukan kopi sianida. Tenang saja." Selena makin tidak enak hati, ia melihat pria asing didepannya menyesap kopinya sendiri untuk memastikan tidak ada racun di dalamnya. Melihat semuanya baik-baik saja, Selena menyesap kopinya perlahan. Rasa pahit cairan hitam itu seolah menariknya kembali ke realitas. Kehangatan kopi itu perlahan mengurai rasa beku di dadanya, dan entah karena dorongan emosi yang masih tersisa atau karena karisma pria asing di depannya yang entah bagaimana, berasa aman, pertahanan kewaspadaan Selena runtuh. Kali ini bukan dengan tangisan, melainkan dengan tawa getir. Ia menertawai dirinya sendiri yang mudah ditipu laki-laki. "Apa maksud ucapan Anda tadi?" tanya Selena lagi. "Pasti Anda merasa kalau saya ini pecundang yang patut dikasihani, makanya Anda bilang begitu," ucap Selena sambil menatap gelas kopi didepannya. "Tidak juga. Tidak ada yang menganggap Andabegitu. Mungkin hanya perasaan Anda sendiri. Tapi saya paham. Tidak ada wanita manapun di dunia ini mau dikhianati apalagi oleh orang terdekat sendiri." Satria memberikan ungkapan yang bisa menghibur Selena. Bahasanya, tutur katanya terlihat santai sehingga Selena marasa bisa akrab dengan pria asing yang baru saja ditemuinya. Padahal mereka berdua tidak saling kenal dan bertemu secara kebetulan. "Beberapa jam lalu aku masih berpikir untuk membahas tanggal pernikahan dengan Charlie. Kami pacaran sejak kuliah, merangkak dari bawah saat dia cuma staf biasa. Dan hari ini? Aku melihat dia berbagi ranjang dengan adik tiriku, Nami." Selena tertawa, tapi air matanya mengalir membasahi pipi sehingga membuat Satria spontan memberikan selembar tisu untuknya. Selena sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi berkat perhatian Satria yang begitu baik padanya. Ia juga tak canggung menangis di depan pria yang baru saja ia temui. Satria menopang dagunya dengan satu tangan, menyimak dengan binar ketertarikan yang semakin pekat. "Adik tirimu ... namanya Nami?" ia memancing, pura-pura tidak tahu. "Iya, Nami," desis Selena, ingatan tentang video di ponselnya membuat matanya kembali berkilat tajam penuh amarah. "Anak itu selalu merasa bisa mendapatkan apa saja yang dia mau karena modal badan seksi dan muka menggoda. Dia dan ibunya selalu merendahkan hubunganku dengan Charlie karena Charlie cuma manajer bank. Tapi di belakangku, mereka malah bermain gila!" Selena mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa malu akibat salah naik mobil tadi sepenuhnya menguap, digantikan oleh ambisi balas dendam yang membakar seluruh nalar sehatnya. "Kau tahu apa yang paling menjijikkan?" lanjut Selena. "Apa?" "Minggu depan, Nami mau dijodohkan dengan anak rekan bisnis Papa. Katanya CEO muda penguasa bisnis otomotif tersukses di kota ini, namanya Satria. Nami dan ibunya sudah besar kepala merasa akan jadi nyonya besar di puncak tertinggi," Selena tertawa sinis, matanya menatap tajam ke arah Satria tanpa menyadari siapa pria itu sebenarnya. "Mereka pikir aku bodoh. Aku sengaja mengalah karena aku masih memandang Papa. Tapi Nami sudah keterlaluan. Aku tidak bisa diam saja. Aku tidak akan membiarkan Nami mencicipi secuil pun kebahagiaan setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku tidak kalah cantik darinya! Dia cuma menang baju kurang bahan, sementara aku punya otak, aku bertalenta, dan aku manajer yang memegang kendali di perusahaan Papa! Aku juga punya banyak uang meski uangku mungkin tak sebanyak CEO Satria." Satria menahan senyumnya agar tidak pecah. Menatap gadis di depannya yang menggebu-gebu menyusun rencana untuk merebut dirinya, dari dirinya sendiri. Ucapan Selena barusan adalah hal paling menghibur yang pernah ia alami tahun ini. "Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Satria dengan nada santai, memprovokasi. "Tentu saja aku akan merebut Satria dari Nami. Akan kubuat Satria jatuh cinta padaku dengan pesonaku," jawab Selena penuh percaya diri. Tawa Satria langsung pecah. "Kenapa kau tertawa?" Selena heran dengan pria didepannya ini. Ia juga baru sadar kalau sejak tadi ia belum tahu siapa nama pria yang lagi ngobrol dengannya. "Apa kau tahu seperti apa orang yang bernama Satria?" Selena terdiam sesaat."Keluarga Young tidak sedang kekurangan uang sampai harus menahan seorang wanita untuk berdiam diri di rumah hanya sebagai pajangan, Bu," jawab Satria tenang, namun nada suaranya begitu dalam dan memancarkan dominasi yang tak terbantahkan."Istrimu itu tidak tahu aturan keluarga kita. Aku juga belum merestuinya sebagai menantuku. Wajar jika akh ingin dia tetap tinggal di rumah ini dibawah naungan ku agar kelak ia tidak mempermalukanmu.""Jika Ibu melakukan semua ini pada Selena atas dasar aturan keluarga sebagai menantu, kenapa tidak ibu lakukan pada kakak-kakak ipar juga? Kakak ipar pertama artis terkenal. Kenapa dia ibu perbolehkan berkarir di luar sebagai artis? Kakak ipar kedua ibu rumah tangga, tapi aku lihat dia santai dan tidak mempelajari aturan apapun.""Itu karena... ""Selena hanya gadis biasa? Makanya ia diperlakukan seenaknya?" Sahut Satria cepat sebelum ibunya buka suara. "Aku takkan biarkan istriku Ibu jadikan ajang balas dendam karena dulu ibu di disiplinkan nenek deng
"Bisakah kau bersikap biasa saja? Ini terlalu berlebihan," bisik Selena pelan ditelinga Satria. "Ini adalah satu-satunya cara untuk mengusir pelakor diantara kita." Satria balas berbisik sok sweet, diskusi mereka malah terlihat makin romantis sehingga sukses membuat Nadia cemburu berat. "Bukankah bagus kalau ada dia diantara kita, dengan begitu, aku punya alasan untuk minta cerai darimu." "Kita baru saja menikah. Mana bisa bercerai secepat itu." "Sepertinya keluargamu sangat menyukai mantanmu. Aku malas jika harus bersaing untuk kepalsuan hubungan kita." Selena masih keukeuh agar Satria mau menerima Nadia meski statusnya jadi selingkuhan. Namun Satria tidak setuju. Baginya Nadia hanyalah masa lalu. "Nyonya Satria yang terhormat, aku sudah membantumu mempermalukan keluargamu. Sekarang giliranmu membantuku. Aku tak ingin ada wanita lain atau siapapun diantara kita berdua. Permainan ini hanya cukup kau dan aku saja. Oke." Ucapan Satria tak bisa dibantah lagi oleh Selena. Ia terp
"Siapa dia?" bisik Selena pada Satria. "Mantanku," jawab Satria sambil menatap wajah Selena dengan mesra. Ia bahkan membelai lembut rambut Selena sambil berkata pelan, "Bantu aku menyingkirkannya dari hadapanku, apa kau bisa?"Selena tidak langsung menjawab, ia menatap wajah mantan suaminya. "Sepertinya tidak mudah. Dia pasti membenciku karena kau menikah denganku. Tapi kau jangan khawatir, aku bisa mengatasinya." Selena tersenyum manis pada suaminya sambil pura-pura merapikan kerah baju Satria. Wanita cantik yang merupakan mantan pacar Satria, melangkah mendekat dengan anggun, dibalut gaun cream berpotongan simpel namun memancarkan keanggunan khas wanita bangsawan terpelajar. Parasnya jelita, bertubuh jangkung, dan memancarkan pesona berkelas dari seseorang yang baru saja menuntaskan studinya di luar negeri.Namun, ekspresi percaya diri wanita itu mendadak surut begitu matanya menyapu jemari Satria yang menggenggam erat tangan Selena. Tanpa dijelaskanpun semua orang paham seperti a
"Ssst," bisik Satria tepat di ceruk leher Selena, menyapukan napas hangatnya yang seketika membuat Selena merinding. "Katanya tadi lelah? Kalau terus mengomel, energimu malah makin habis. Anggap saja aku ini guling ekstra berotot yang bisa menjaga hawa dingin dari tubuhmu." "Guling ekstra berotot kepalamu peyang!" Selena mendesis gemas, berusaha mendorong dada bidang Satria yang dibalut kemeja putih. Namun, tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan benteng kokoh pria di hadapannya ini. "Kau jangan kelewatan Tuan Satria! Kita bukan suami istri sungguhan. Harap jaga etikamu. Jika kau sedeng berhasrat aku bisa mencarikan wanita terbaik untuk memenuhi hasratmu." Satria justru memiringkan kepalanya, menatap bibir Selena yang mengerucut kesal dengan binar jenaka. "Nyonya Satria, apakah tahu kalau seorang suami memeluk istri sendiri itu pahala. Untuk apa repot-repot cari wanita lain kalau kau ada di sini? Apalagi kita baru saja melewati pertempuran sengit melawan 'para robot' di ba
"Robot berselimut manusia," gumam Selena seraya melemparkan dirinya ke atas kasur empuk berukuran King Size di dalam kamar pribadi Satria. Ia meregangkan otot lehernya yang terasa kaku, menyandarkan kepala pada tumpukan bantal tanpa memedulikan gaun emerald green-nya yang sedikit kusut.Selena menghela napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan marathon lima puluh kilometer. "Aku bersumpah, bernapas di antara keluargamu tadi rasanya lebih menyiksa daripada menghadapi amukan Ibu Tiri dan Nami sekaligus. Kakak-kakakmu menatapku seolah ingin menguliti otakku, kakak iparmu membuang muka, dan Ibumu, astaga, Nyonya Sintia itu seperti ratu es yang tidak punya organ jantung!"Satria yang baru saja menutup pintu kamar rapat-rapt terkekeh rendah. Ia melonggarkan ikatan dasinya, melepas kancing teratas kemejanya, lalu melangkah santai menghampiri kasur. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi tempat tidur, menatap istri sahnya yang sedang telentang frustrasi dengan binar jenaka."Tapi kau be
Keheningan yang dingin langsung membeku di udara. Kalimat sengit itu meluncur begitu tenang dari bibir Ibu Satria, namun sarat akan racun intimidasi yang mampu meruntuhkan kepercayaan diri wanita mana pun.Genggaman tangan Satria di jemari Selena mendadak mengerat. Rahang tegap Tuan Muda Ketiga itu mengeras, siap melontarkan teguran tegas membela istrinya. Namun, sebelum Satria sempat membuka suara, Selena memegang pelan lengan suaminya, memberi isyarat tak kasat mata agar Satria membiarkannya menangani situasi ini.Selena menghela napas halus, sangat tenang, tanpa ada raut panik, marah, apalagi minder di wajah cantiknya. Ia melangkah satu titik ke depan, membungkukkan punggungnya sebagai sapaan hormat, lalu tersenyum anggun menatap lurus ke dalam iris mata tajam milik Ibu Satria."Selamat pagi, Nyonya Young," panggil Selena dengan suara jernih, merdu, dan teratur. "Memang benar. Saya adalah putri dari keluarga Pramoedya yang dulu sengaja disingkirkan dan dibuang karena tidak mau tund







