Share

BAB 5 Tawaran

Penulis: RatuKuyang
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 16:22:43

"Kau tidak tahu?" pancing Satria.

"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku tidak peduli orang seperti apa dia. Entah lebih baik atau lebih buruk dari Charlie, aku tidak mempermasalahkannya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya, aku sudah bertekad akan merebut hati si Satria itu agar dia tertarik padaku bagaimanapun caranya!" ucap Selena dengan mata berapi-api bahkan bahasanya sudah tidak formal lagi. "Aku akan menemuinya, mendekatinya, dan membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Kalau bisa aku harus menikah dengannya. Biar wanita kegatelan itu menangis darah karena kehilangan masa depan impiannya!"

Suasana kafe yang agak sepi membuat sumpah serapah Selena terdengar begitu tegas. Satria menyesap kopinya perlahan, menyembunyikan seringai tajam yang terkembang di bibirnya. Target balas dendam gadis polos ini sedang duduk tepat satu meter di hadapannya, mendengarkan seluruh strategi perang dengan sukarela.

Satria meletakkan cangkirnya, lalu memajukan badannya, mengikis jarak di antara mereka. Tatapan matanya yang sedingin es kini berubah menjadi sorot berburu yang berbahaya sekaligus memikat.

"Rencana yang sangat berani, Nona," bisik Satria dengan suara baritonnya yang berat dan penuh intrik. "Merebut pria bernama Satria itu ... kamu yakin dia akan berpaling kepadamu?"

"Tentu saja yakin! Dia hanya belum melihatku dan kemampuanku," sahut Selena dengan sisa rasa percaya diri yang meluap-luap.

Satria terkekeh rendah, suara tawa yang begitu seksi hingga membuat bulu kuduk Selena meremang aneh. Pria itu bangkit berdiri, merapikan jasnya, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arah Selena.

"Kalau begitu ... mari kita lihat seberapa besar talentamu untuk merebutku dari adik tirimu, Selena Pramoedya. Karena pria bernama Satria yang ingin kamu buat bertekuk lutut itu ... sedang berdiri di depanmu sekarang."

Selena seketika mematung. Cangkir kopi yang hampir kembali disentuhnya seolah menjelma menjadi es yang membekukan seluruh saraf di tubuhnya. Genggaman tangannya pada sendok kecil terlepas, menimbulkan denting halus yang memecah keheningan sesaat di antara mereka.

"Kau jangan bercanda Tuan, ini tidak lucu. Satria itu seorang CEO. Mana mungkin dia menyetir mobil sendiri ... " Selena baru sadar kalau mobil yang ia tumpangi adalah mobil yang sama dengan tadi pagi. Bedanya adalah kalau tadi pagi ada sopirnya kalau yang barusan...

"Tadi pagi kau menghentikan paksa mobilku di tengah jalan. Untung aku orang yang baik jadi kuizinkan asisten ku memberimu tumpangan. Karena asisten ku ada urusan di dalam hotel, aku memindahkan mobil ke pinggir bertepatan dengan kau langsung masuk tanpa izin. Kesimpulannya, kau salah naik mobil." Satria bantu menjelaskan.

Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali, menatap tangan kekar yang terulur di hadapannya, lalu perlahan menengadah untuk menatap wajah pria tampan didepannya. Rahang tegas, mata tajam yang menghanyutkan, dan setelan jas mewah yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Semua ciri-ciri fisik, karisma, hingga nama yang baru saja diucapkan pria itu berputar-putar di kepala Selena bak kaset rusak.

Satria? Dia ... Satria? Pewaris utama perusahan otomotif milik keluarga Wijaya? Astaga apa yang sudah kulakukan?

Darah Selena rasanya mendadak berdesir hebat, naik ke wajahnya hingga pipinya merona merah padam. Bukan karena tersipu, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat hingga rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke dalam cangkir kopinya saat itu juga.

Pasalnya, Selena baru saja mengumpat, menangis histeris, menyombongkan diri, bahkan membeberkan rencana busuk untuk memanipulasi pria ... yang kini tepat di depan wajah sang target operasi.

"Bagaimana ini?" suara Selena mencicit, nyaris kehilangan wibawa manajernya yang biasa ia banggakan. "J-jadi ... kamu ... Satria?"

Satria tidak menurunkan tangannya. Ia tetap mengulurkan jemarinya yang kokoh, menunggu dengan sabar sembari mempertahankan seringai tipis yang sangat menawan di sudut bibirnya. "Kenapa? Kamu kecewa karena target yang ingin kamu buat 'menangis darah' ternyata calon tunangannya adalah pria yang tidak sengaja kamu tumpangi mobilnya?"

Selena menelan ludah dengan susah payah. Otaknya berputar cepat, mencoba mencari jalan keluar dari situasi paling membagongkan dalam hidupnya ini. Namun, alih-alih menarik diri atau meminta maaf karena kelancangannya, kilasan video perselingkuhan Charlie dan Nami kembali terbayang di benaknya. Rasa sakit hati yang sempat teredam mendadak memicu adrenalin baru.

Sudah kepalang basah, batin Selena bertekad. Malu nomor dua, yang penting Nami hancur.

"Mari ku perkenalkan diri sekali lagi. Namaku Satria Mars Wijaya. Putra pertama keluarga Wijaya, calon adik iparmu yang kini berubah status menjadi mantan sebab, kakak calon istriku berusaha merebutku." Satria mengulurkan tangan sambil tersenyum sekaligus memberikan sindiran telak untuk Selena.

Sembari menata kembali emosinya, Selena menarik napas dalam-dalam. Sisa-sisa air mata di wajahnya kini berganti dengan tatapan yang kembali tegas dan tajam. Dengan gerakan anggun, ia menyambut uluran tangan Satria. Telapak tangan pria itu terasa besar, hangat, dan mencengkeram jemarinya dengan kekuatan yang pas, seolah mengunci kesepakatan rahasia di antara mereka.

"Saya tidak perlu memperkenalkan diri karena Anda sudah lebih dulu tahu. Dan perlu Anda ketahui Tuan Satria, saya tidak pernah kecewa pada takdir yang datang terlalu cepat," ucap Selena, suaranya kini kembali tenang dan profesional, khas seorang manajer. Ia mendongak, menantang langsung sepasang mata elang di hadapannya. "Jadi, karena Anda sudah mendengar seluruh rencana saya ... apakah Anda merasa keberatan untuk menjadi alat balas dendam saya?" Selena langsung to the point. Tak perlu menyembunyikan belangnya pada pria tampan didepannya ini.

Satria terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada. Ia menarik tangan Selena sedikit lebih dekat sebelum melepaskannya dengan perlahan. Pria itu kembali duduk di kursinya, melipat kedua tangan di atas meja dengan gestur yang sangat dominan.

"Keberatan? Sama sekali tidak," sahut Satria, matanya berkilat penuh intrik yang berbahaya. "Sejujurnya, aku juga muak dengan perjodohan bisnis yang diatur oleh orang tua. Dan mendengar bahwa calon tunangan ku ternyata adalah wanita murah yang tidur dengan kekasih kakaknya sendiri ... kurasa menyelamatkan diri dari wanita seperti itu adalah pilihan yang sangat bijaksana."

Satria menjeda kalimatnya, menatap Selena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan penilaian yang membuat jantung Selena berdegup tidak karuan.

"Kenapa Anda menatap saya seperti itu?" tanya Selena risih.

"Kamu bilang kamu punya otak dan bertalentaa? Aku suka wanita yang punya ambisi. Jadi, mari kita buat sebuah kesepakatan," lanjut Satria dengan senyuman yang kini terlihat begitu memikat sekaligus mematikan.

"Kesepakatan apa?" tanya Selena penasaran. Satria tidak langsung menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum tipis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 43 Tekad dan Kejutan di Rumah Mertua

    "Apa rencanamu sekarang? Melihat reaksi ayahmu, sepertinya ia jauh lebih peduli pada Nami daripada dirimu. Aku jadi penasaran, bagaimana almarhum ibumu, menjalani kehidupan rumah tangga bersama ayahmu," tanya Satria saat mereka ada di ruang kerja Selena."Ibu menikah karena perjodohan. Saat ibu meninggal di usiaku yang masih 7 tahun, akh baru tahu, ayah menikahi cinta pertamanya dan mereka sudah punya anak diluar nikah. Yaitu Nami yang saat itu berusia 5 tahun. Artinya, selama berumah tangga dengan ibu, ayah sudah selingkuh dengan ibu tiriku. Selama ini akh mengalah pada Nami, berharap dia bisa jadi keluarga yang baik untukku. Akh berusaha melakukan apa yang mereka inginkan, supaya aku diizinkan kuliah dan bekerja. Tak kusangka, kebaikanku selama ini, dibalas dengan pengkhianatan."Air mata Selena mulai menggenang, tapi ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Sangat memalukan bila dia harus menangis di depan Satria. "Kau baik-baik saja? Apa perlu kita keluar sebentar sampai perasaa

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 42 Kalah

    Nami tak terima. Dengan mata memerah penuh dendam dan napas memburu histeris, ia berhasil menghentak cengkeraman satpam yang memegang tangannya. "Kau wanita iblis, Selena!" jerit Nami melengking seraya melayangkan satu tamparan keras ke arah wajah Selena. Selena tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa mendapat perlakuan kasar dari adik tirinya. Selama ini ia sudah bersabar, tapi kali ini kesabarannya sudah habis total. Diluar dugaan, sebelum jemari Nami sempat menyentuh sehelai rambut Selena, sebuah cengkeraman besi mengunci pergelangan tangannya di udara. Satria bergerak begitu cepat, pasang badan di depan Selena dengan aura intimidasi yang membekukan darah. Cengkeraman Satria membuat tangan Nami merintih kesakitan. Matanya terbelalak menatap sorot mata Satria yang mendadak sangat dingin dan mengerikan, seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya. "Berani menyakiti Selena," bisik Satria dengan suara bariton yang begitu dalam dan mematikan,

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 41 CEO yang Menyamar

    "Menurutmu, siapa aku, hm?" bisik Satria seraya memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut pipi Selena. Senyum tipisnya kian mengembang, mengikis kesan pimpinan dingin dan tak tersentuh yang baru saja ia tampilkan di depan seluruh dewan direksi."Kau adalah pimpinan perusahaan misterius yang sering dibicarakan orang-orang. Kenapa kau menyamar jadi CEO?"Satria menyeringai senang. "Kenapa ya? Mungkin aku lagi ikut tren 'CEO yang menyamar'.""Kau jangan bikin aku ketawa. Biasanya CEO yang menyamar itu bikin statusnya lebih rendah dari pangkat CEO. Tapi kau malah sebaliknya.""Yang penting judulnya CEO yang menyamar. Jangan bilang kau mulai jatuh cinta padaku karena suamimu ini bukanlah orang sembarangan.""Siapa juga yang jatuh cinta padamu? Jangan samakan aku dengan Nami atau wanita manapun diluar sana. Tujuanku menikah denganmu bukan untuk jatuh cinta padamu. Tapi balas dendam pada keluargaku atas apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu.

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 40 Siapa Satria Sebenarnya

    "Cukup, Nami! Jaga mulutmu yang lancang itu!" bentak salah satu direksi senior seraya menggebrak meja dengan sangat keras. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Nami dan Sang Ayah bergantian. "Pramoedya! Bagaimana bisa kau membiarkan putri tirimu ini meracau liar dan menghina pimpinan tertinggi di depan seluruh jajaran komisaris? Kau tidak becus mendidiknya. Lihatlah putri kandungmu, dia cekatan, terampil, dan sikapnya tenang dalam menghadapi masalah. Tapi bagaimana bisa kau memercayakan proyek perusahaan pada orang yang tidak punya kompeten apa-apa! Jangan biarkan putri tirimu itu meracau lagi. Usir dia keluar dari sini!" Ayah Selena tersentak, raut wajahnya makin kebingungan sekaligus tertekan. "Pak Direktur ... tolong tenang dulu. Saya juga tidak paham, kenapa Tuan Satria menandatangani berkas konsorsium raksasa itu? Bukankah Tuan Satria hanya CEO dari Young Group?" ​"Dasar bodoh!" sela Komisaris Utama dengan nada penuh penghinaan. "Kalian berdua benar-benar buta! Sel

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 39 Keangkuhan dan Kesombongan Nami

    "Suami sah, huh ... suami sah apaan?" desis Nami dengan nafas memburu, matanya memerah menahan lautan dengki dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dada Nami naik turun secara histeris. Otaknya berputar keras, menolak menerima kenyataan bahwa takdir yang seharusnya menjadi miliknya kini digenggam erat oleh Selena. Di kepalanya, bayangan perselingkuhannya dengan Charlie kembali berkelebat. Dulu, ia sengaja merebut Charlie dari Selena hanya demi membuktikan bahwa ia bisa mengambil apa pun milik kakak tirinya itu. Namun, ia tak pernah menyangka keputusannya bermesraan di kamar hotel justru menjadi bencana terbesar dalam hidupnya. Akibat skandal itu, perjodohannya dengan Satria dibatalkan. Selena mengambil alih posisi pengantin, dan lebih menyakitkan lagi, Satria justru tampak begitu bangga dan bahagia memamerkan Selena sebagai istrinya. Bahkan tak terlihat menyesal membuangnya dan memilih Selena. Rasa iri yang membara membuat Nami gelap mata. Jika ia harus hancur hari ini, ia bertekad

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 38 Tuduhan

    Selena melangkah maju dengan keanggunan mutlak, memecah atmosfir mencekam yang menyelimuti ruang rapat. Dari dalam tas kerjanya, ia mengeluarkan sebuah flashdrive perak berkilau dan menyerahkannya kepada operator IT."Silakan buka dokumen utama yang sebenarnya," pinta Selena dingin namun sarat ketegasan.Dalam hitungan detik, layar proyektor utama berganti menampilkan judul bertinta emas: PROPOSAL STRATEGIS EKSPANSI & PENETRASI PASAR KUARTAL III"Bapak-Bapak Direksi dan Komisaris yang terhormat," ujar Selena seraya memegang pointer. "Draf yang baru saja dipresentasikan oleh Nami adalah berkas lama yang penuh dengan skema defensif, sengaja dibuat untuk menguji mana pihak yang berniat jujur dan mana yang sekadar ingin mencuri hasil kerja orang lain. Sementara ini ... adalah proposal resmi yang sudah diperbaiki secara sempurna."Selena membawakan presentasi itu dengan begitu lugas, tajam, dan percaya diri. Ia memaparkan analisis penetrasi pasar langsung, pembagian keuntungan yang adil na

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status