ログイン"Kau tidak tahu?" pancing Satria.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku tidak peduli orang seperti apa dia. Entah lebih baik atau lebih buruk dari Charlie, aku tidak mempermasalahkannya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya, aku sudah bertekad akan merebut hati si Satria itu agar dia tertarik padaku bagaimanapun caranya!" ucap Selena dengan mata berapi-api bahkan bahasanya sudah tidak formal lagi. "Aku akan menemuinya, mendekatinya, dan membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Kalau bisa aku harus menikah dengannya. Biar wanita kegatelan itu menangis darah karena kehilangan masa depan impiannya!" Suasana kafe yang agak sepi membuat sumpah serapah Selena terdengar begitu tegas. Satria menyesap kopinya perlahan, menyembunyikan seringai tajam yang terkembang di bibirnya. Target balas dendam gadis polos ini sedang duduk tepat satu meter di hadapannya, mendengarkan seluruh strategi perang dengan sukarela. Satria meletakkan cangkirnya, lalu memajukan badannya, mengikis jarak di antara mereka. Tatapan matanya yang sedingin es kini berubah menjadi sorot berburu yang berbahaya sekaligus memikat. "Rencana yang sangat berani, Nona," bisik Satria dengan suara baritonnya yang berat dan penuh intrik. "Merebut pria bernama Satria itu ... kamu yakin dia akan berpaling kepadamu?" "Tentu saja yakin! Dia hanya belum melihatku dan kemampuanku," sahut Selena dengan sisa rasa percaya diri yang meluap-luap. Satria terkekeh rendah, suara tawa yang begitu seksi hingga membuat bulu kuduk Selena meremang aneh. Pria itu bangkit berdiri, merapikan jasnya, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arah Selena. "Kalau begitu ... mari kita lihat seberapa besar talentamu untuk merebutku dari adik tirimu, Selena Pramoedya. Karena pria bernama Satria yang ingin kamu buat bertekuk lutut itu ... sedang berdiri di depanmu sekarang." Selena seketika mematung. Cangkir kopi yang hampir kembali disentuhnya seolah menjelma menjadi es yang membekukan seluruh saraf di tubuhnya. Genggaman tangannya pada sendok kecil terlepas, menimbulkan denting halus yang memecah keheningan sesaat di antara mereka. "Kau jangan bercanda Tuan, ini tidak lucu. Satria itu seorang CEO. Mana mungkin dia menyetir mobil sendiri ... " Selena baru sadar kalau mobil yang ia tumpangi adalah mobil yang sama dengan tadi pagi. Bedanya adalah kalau tadi pagi ada sopirnya kalau yang barusan... "Tadi pagi kau menghentikan paksa mobilku di tengah jalan. Untung aku orang yang baik jadi kuizinkan asisten ku memberimu tumpangan. Karena asisten ku ada urusan di dalam hotel, aku memindahkan mobil ke pinggir bertepatan dengan kau langsung masuk tanpa izin. Kesimpulannya, kau salah naik mobil." Satria bantu menjelaskan. Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali, menatap tangan kekar yang terulur di hadapannya, lalu perlahan menengadah untuk menatap wajah pria tampan didepannya. Rahang tegas, mata tajam yang menghanyutkan, dan setelan jas mewah yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Semua ciri-ciri fisik, karisma, hingga nama yang baru saja diucapkan pria itu berputar-putar di kepala Selena bak kaset rusak.Satria? Dia ... Satria? Pewaris utama perusahan otomotif milik keluarga Wijaya? Astaga apa yang sudah kulakukan? Darah Selena rasanya mendadak berdesir hebat, naik ke wajahnya hingga pipinya merona merah padam. Bukan karena tersipu, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat hingga rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke dalam cangkir kopinya saat itu juga. Pasalnya, Selena baru saja mengumpat, menangis histeris, menyombongkan diri, bahkan membeberkan rencana busuk untuk memanipulasi pria ... yang kini tepat di depan wajah sang target operasi. "Bagaimana ini?" suara Selena mencicit, nyaris kehilangan wibawa manajernya yang biasa ia banggakan. "J-jadi ... kamu ... Satria?" Satria tidak menurunkan tangannya. Ia tetap mengulurkan jemarinya yang kokoh, menunggu dengan sabar sembari mempertahankan seringai tipis yang sangat menawan di sudut bibirnya. "Kenapa? Kamu kecewa karena target yang ingin kamu buat 'menangis darah' ternyata calon tunangannya adalah pria yang tidak sengaja kamu tumpangi mobilnya?" Selena menelan ludah dengan susah payah. Otaknya berputar cepat, mencoba mencari jalan keluar dari situasi paling membagongkan dalam hidupnya ini. Namun, alih-alih menarik diri atau meminta maaf karena kelancangannya, kilasan video perselingkuhan Charlie dan Nami kembali terbayang di benaknya. Rasa sakit hati yang sempat teredam mendadak memicu adrenalin baru.Sudah kepalang basah, batin Selena bertekad. Malu nomor dua, yang penting Nami hancur. "Mari ku perkenalkan diri sekali lagi. Namaku Satria Mars Wijaya. Putra pertama keluarga Wijaya, calon adik iparmu yang kini berubah status menjadi mantan sebab, kakak calon istriku berusaha merebutku." Satria mengulurkan tangan sambil tersenyum sekaligus memberikan sindiran telak untuk Selena. Sembari menata kembali emosinya, Selena menarik napas dalam-dalam. Sisa-sisa air mata di wajahnya kini berganti dengan tatapan yang kembali tegas dan tajam. Dengan gerakan anggun, ia menyambut uluran tangan Satria. Telapak tangan pria itu terasa besar, hangat, dan mencengkeram jemarinya dengan kekuatan yang pas, seolah mengunci kesepakatan rahasia di antara mereka. "Saya tidak perlu memperkenalkan diri karena Anda sudah lebih dulu tahu. Dan perlu Anda ketahui Tuan Satria, saya tidak pernah kecewa pada takdir yang datang terlalu cepat," ucap Selena, suaranya kini kembali tenang dan profesional, khas seorang manajer. Ia mendongak, menantang langsung sepasang mata elang di hadapannya. "Jadi, karena Anda sudah mendengar seluruh rencana saya ... apakah Anda merasa keberatan untuk menjadi alat balas dendam saya?" Selena langsung to the point. Tak perlu menyembunyikan belangnya pada pria tampan didepannya ini. Satria terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada. Ia menarik tangan Selena sedikit lebih dekat sebelum melepaskannya dengan perlahan. Pria itu kembali duduk di kursinya, melipat kedua tangan di atas meja dengan gestur yang sangat dominan. "Keberatan? Sama sekali tidak," sahut Satria, matanya berkilat penuh intrik yang berbahaya. "Sejujurnya, aku juga muak dengan perjodohan bisnis yang diatur oleh orang tua. Dan mendengar bahwa calon tunangan ku ternyata adalah wanita murah yang tidur dengan kekasih kakaknya sendiri ... kurasa menyelamatkan diri dari wanita seperti itu adalah pilihan yang sangat bijaksana." Satria menjeda kalimatnya, menatap Selena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan penilaian yang membuat jantung Selena berdegup tidak karuan. "Kenapa Anda menatap saya seperti itu?" tanya Selena risih. "Kamu bilang kamu punya otak dan bertalentaa? Aku suka wanita yang punya ambisi. Jadi, mari kita buat sebuah kesepakatan," lanjut Satria dengan senyuman yang kini terlihat begitu memikat sekaligus mematikan. "Kesepakatan apa?" tanya Selena penasaran. Satria tidak langsung menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum tipis."Tuan CEO tunggu!" Selena mencoba menghentikan langkah Satria yang berjalan didepannya. "Kau jangan bercanda?" "Apa gedung ini merupakan tempat untuk dibuat candaan nona menejer?" Satria balik bertanya sambil menahan senyum. "Jika kamu masih ingin melanjutkan balas dendammu, ayo masuk bersamaku." Satria menggandeng tangan Selena yang benar-benar shock sampai tak tahu harus berbuat apa. Selena menatap papan nama besar yang terpampang kokoh di atas gerbang gedung bertingkat di hadapannya, langkah kaki Selena seketika terhenti total. Matanya membelalak sempurna, menatap tulisan bercat hijau-putih yang begitu jelas, KANTOR URUSAN AGAMA (KUA). Darah Selena rasanya berhenti mengalir. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Kenapa membawaku ke KUA? Ini ... ini tempat orang mau nikah!" Satria menghentikan langkahnya, membalikkan badan dengan santai sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya. Alisnya terangkat sebelah, menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat
Langkah kaki Selena di tangga terhenti sesaat mendengar teriakan Nami. Sebuah tawa renyah, hampir tak terdengar, meluncur dari bibirnya. Sungguh menggelikan melihat seorang peselingkuh berteriak menuduh orang lain berselingkuh.Selena memutar tubuhnya perlahan di anak tangga kelima. Dari atas, ia menatap Nami yang berdiri berkacak pinggang di ruang tengah dengan pandangan penuh intrik dan dominasi."Selingkuh?" sahut Selena, nadanya begitu tenang dan santai, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu, Nami? Seakan kah itu paham banget arti kata selingkuh. Bukankah seharusnya kamu fokus mengurus gaun pestamu ketimbang mencampuri urusanku? Mau aku selingkuh atau tidak, itu bukan urusanmu dan kau tidak punya hak ikut campur."Nami menyilangkan tangan di dada, matanya memicing curiga. Tidak biasanya kakak tirinya bersikap angkuh seperti ini. "Aku cuma tanya! Soalnya kamu kelihatan beda banget dari biasanya. Senyam-senyum sendiri melihat ponsel, padaha
Selena mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia menegakkan tubuhnya, lalu melangkah menuju meja kerjanya. Perlahan, ia meraba saku blazer dan mengeluarkan ponselnya. Ada rasa penasaran yang menggelitik dadanya saat membuka daftar kontak baru.Di sana, sebuah nomor baru telah tersimpan dengan nama yang singkat namun tegas, Satria. Di bawah nama itu, sebuah pesan singkat yang baru saja masuk beberapa menit lalu berkedip di layar. Satria : Simpan nomorku dengan baik, Calon Istri. Jangan sampai kekasih bodohmu itu melihatnya lebih awal.Selena mendengus pelan, seulas senyum tipis tanpa sadar terukir di sudut bibirnya. Pria itu benar-benar penuh percaya diri. Namun, senyum itu langsung lenyap seketika berganti dengan rasa muak yang teramat sangat ketika sebuah notifikasi lain muncul di layarnya.Itu dari Charlie. Ponsel buaya darat itu rupanya sudah aktif.Charlie: Babe, maaf banget ya baru kabari kamu. Kemarin sampai tadi sore aku ada urusan mendadak dari kantor pusat ke l
"Minggu depan adalah malam perjamuan besar di mana pengumuman perjodohanku dan Nami akan diresmikan di hadapan kolega bisnis dan media," Satria memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Selena. "Aku ingin kamu datang ke pesta itu. Kenakan gaun terbaikmu dan rebut posisi Nami tepat di atas panggung. Jika kamu berhasil membuat Nami mundur dengan caramu, maka aku akan memastikan ... kamulah yang akan menjadi wanita sah yang berdiri di sampingku malam itu."Selena tertegun mendengarnya. Tantangan dari Satria jauh lebih ekstrem dari yang ia bayangkan, namun justru inilah jalan pintas paling sempurna untuk menghancurkan Nami dan Charlie sekaligus dalam satu malam."Maksudmu ... kau bersedia menikah denganku? Sekalipun tidak ada cinta diantara kita?""Kau yakin kita bisa menikah dengan restu keluarga? Menurutmu ... apakah Nami dan ibu tirimu terima kau menikah denganku?""Aku rasa tidak, kemungkinan besar, mereka akan melakukan segala macam cara untuk menggagalkan pernikahan kita
"Kau tidak tahu?" pancing Satria. "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku tidak peduli orang seperti apa dia. Entah lebih baik atau lebih buruk dari Charlie, aku tidak mempermasalahkannya. Meski aku belum pernah bertemu dengannya, aku sudah bertekad akan merebut hati si Satria itu agar dia tertarik padaku bagaimanapun caranya!" ucap Selena dengan mata berapi-api bahkan bahasanya sudah tidak formal lagi. "Aku akan menemuinya, mendekatinya, dan membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Kalau bisa aku harus menikah dengannya. Biar wanita kegatelan itu menangis darah karena kehilangan masa depan impiannya!"Suasana kafe yang agak sepi membuat sumpah serapah Selena terdengar begitu tegas. Satria menyesap kopinya perlahan, menyembunyikan seringai tajam yang terkembang di bibirnya. Target balas dendam gadis polos ini sedang duduk tepat satu meter di hadapannya, mendengarkan seluruh strategi perang dengan sukarela.Satria meletakkan cangkirnya, lalu memajukan badannya, mengikis jarak di antara mer
Satria tak berkomentar apa-apa. Ia mengangkat panggilan telepon saat berjalan masuk ke rest area dan itu dari asisten pribadinya yang tertinggal di hotel gara-gara Selena salah masuk mobil. "Halo, Tuan Muda Satria. Anda di mana? Saya sudah membawa berkas yang Anda minta, tapi mobil Anda sudah tidak ada di lobi," suara sang asisten terdengar panik dari seberang telepon.Satria melirik Selena yang berjalan dengan canggung beberapa langkah di belakangnya. "Aku ada urusan mendadak. Kamu kembali saja ke kantor bawa mobil cadangan. Jadwal sore ini kosongkan.""Tapi Tuan, bagaimana dengan ..."Sebelum asistennya selesai memprotes, Satria langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak. Ia memasukkan ponsel ke saku jas, lalu menoleh ke arah Selena dengan tatapan menuntut yang tenang. "Ayo. Di sebelah sana ada kafe yang lumayan sepi. Kita ngobrol dan duduk santai di sana sambil menikmati suasana makan siang."Selena hanya bisa mengekor pasrah. Otaknya yang biasa encer saat memimpin rapat di p







