ANMELDENPara tamu undangan yang mengerti situasi rumit tersebut segera berdiri, memberikan penghormatan singkat pada Nyonya Young, Satria, dan Selena, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan tenang. Mereka cukup bijak untuk tidak mencampuri urusan domestik keluarga Young yang kini berurusan dengan drama keluarga Pramoedya.Meski tak sedikit dari mereka tetap menggunjingkan apa yang terjadi pada saat ini. Mereka semua menyayangkan sikap Nami yang kekanak-kanakan dan sangat jelas terlihat punya karakter yang buruk. Padahal keluarga Pramoedya terkenal dengan sikap sopan dan ramah. Tapi Hari ini, Nami telah mencoreng dan memperlihatkan kesan dan citra buruk di mata semua orang. Secara tidak langsung, Nami telah mempermalukan nama besar keluarganya sendiri. "Satria, kau tenangkan saja ibu mertua. Aku akan pergi menemui keluargaku sebelum Nami bikin ilah lebih parah lagi dari ini," ucap Selena izin pamit pulang menyusul Nami. "Kau mau aku temani?" tawar Satria. Selena menggeleng. "Tidak p
Nami melompat dari kursinya hingga mangkuk porselen di hadapannya terguling, menyiramkan sedikit kuah hangat ke taplak meja yang putih bersih. Wajah gadis itu pucat pasi bagai mayat, kedua matanya terbelalak penuh horor menatap potongan daging yang baru saja diberitahukan Selena sebagai daging ular."Sialan! Kau memang wanita iblis, Selena!" jerit Nami melengking, napasnya memburu cepat. Tubuhnya gemetaran hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau sengaja mau meracuniku, kan? Ibu ... Satria ... lihat dia! Dia memberiku makan ular!""Bukan aku," sanggah Selena dengan gaya polosnya. "Kalau bukan kau, siapa lagi, kau sendiri yang memasak di dapur. Kau sengaja mau membuat kita semua yang ada di sini pindah alam?" bentak Nami masih bergidik ngeri melihat daging ular berserakan di depan matanya. Niat hati ingin menjatuhkan Selena malah dirinya sendiri yang kena mental. "Aku tidak punya niat seperti itu Nami, kau lihat saja sendiri, semua hidangan yang ku suguhkan tidak ada ularnya.
Mata Nami mendadak berbinar gila di balik sisa air matanya. Tiba-tiba saja ada ular air tawar tak sengaja melintas didepannya. Gadis itu langsung berteriak histeris saking kagetnya meski ular tersebut tak berbisa alias tidak berbahaya.Mang Aji yang mendengar suara teriakan Nami bergegas mendekat dan mencoba menjinakkan ular tersebut. Begitu Mang Aji berhasil, ia langsung mengikat mulutnya menggunakan tali kencang sebelum memasukkannya ke dalam karung goni.Kejadian itu membuat otak licik Nami langsung berputar cepat. Rasa takutnya menguap, berganti dengan hasrat membara untuk menghancurkan Selena malam ini juga."Mang, biar aku saja yang buang ularnya," pinta Nami tiba-tiba. "Anda yakin? Bukannya tadi Anda berteriak karena ketakutan melihat ular ini?""Aku pikir tadi ular kobra, ternyata hanya ular sawah. Lagipula, tadi itu aku hanya kaget saja." Nami beralasan. Ia punya niat terselubung terhadap ular sawah dalam karung gini itu. Mang Aji tak curiga, ia menyerahkan karung gini ters
"Halo Kak," sapa wanita muda yang tak lain dan tak bukan adalah Nami. Selena lumayan terpaku, tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia merasa, kedatangan Nami ke rumah keluarga suaminya bukanlah hal yang baik. Pasti Nami mau balas dendam dan cari gara-gara dengannya dengan memanfaatkan ibu mertua Selena sebagi kelemahannya. "Apa yang kau lakukan di sini, Nami?" tanya Selena mencoba bersikap tenang. "Oh, aku merindukan calon ibu mertua walau sekarang sudah jadi ibu mertuamu. Bagaimanapun juga aku pernah jadi calon bagian keluarga ini walau harus direbut olehmu. Makanya aku datang berkunjung, benar, kan ibu?" tanya Nami sambil sok tersenyum ceria. Ia bahkan bergelendot manja di lengan wanita yang paling berkuasa di rumah ini. Selena hampir muntah mendengar ucapan Nami tapi ia berusaha mencoba menahan diri. Jangan sampai ia lepas kendali dan membuat ibu mertuanya semakin membencinya. Saat ini, ia tak tahu apa yang ada dalam pikiran ibu Satria itu. Yang jelas,
"Apa rencanamu sekarang? Melihat reaksi ayahmu, sepertinya ia jauh lebih peduli pada Nami daripada dirimu. Aku jadi penasaran, bagaimana almarhum ibumu, menjalani kehidupan rumah tangga bersama ayahmu," tanya Satria saat mereka ada di ruang kerja Selena."Ibu menikah karena perjodohan. Saat ibu meninggal di usiaku yang masih 7 tahun, akh baru tahu, ayah menikahi cinta pertamanya dan mereka sudah punya anak diluar nikah. Yaitu Nami yang saat itu berusia 5 tahun. Artinya, selama berumah tangga dengan ibu, ayah sudah selingkuh dengan ibu tiriku. Selama ini akh mengalah pada Nami, berharap dia bisa jadi keluarga yang baik untukku. Akh berusaha melakukan apa yang mereka inginkan, supaya aku diizinkan kuliah dan bekerja. Tak kusangka, kebaikanku selama ini, dibalas dengan pengkhianatan."Air mata Selena mulai menggenang, tapi ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Sangat memalukan bila dia harus menangis di depan Satria. "Kau baik-baik saja? Apa perlu kita keluar sebentar sampai perasaa
Nami tak terima. Dengan mata memerah penuh dendam dan napas memburu histeris, ia berhasil menghentak cengkeraman satpam yang memegang tangannya. "Kau wanita iblis, Selena!" jerit Nami melengking seraya melayangkan satu tamparan keras ke arah wajah Selena. Selena tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa mendapat perlakuan kasar dari adik tirinya. Selama ini ia sudah bersabar, tapi kali ini kesabarannya sudah habis total. Diluar dugaan, sebelum jemari Nami sempat menyentuh sehelai rambut Selena, sebuah cengkeraman besi mengunci pergelangan tangannya di udara. Satria bergerak begitu cepat, pasang badan di depan Selena dengan aura intimidasi yang membekukan darah. Cengkeraman Satria membuat tangan Nami merintih kesakitan. Matanya terbelalak menatap sorot mata Satria yang mendadak sangat dingin dan mengerikan, seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya. "Berani menyakiti Selena," bisik Satria dengan suara bariton yang begitu dalam dan mematikan,







