LOGINMenikahi Gadis Pilihan Mama, merupakan hal yang harus dilakukan Freddy Hanafi, seorang karyawan perusahaan swasta. Meskipun tahu dirinya dijodohkan dengan Raisa sejak mereka masih kecil, tetapi Freddy tidak menduga akan benar-benar menikahi anak gadis sahabat mamanya. Perbedaan usia, wawasan dan gaya hidup, menimbulkan riak-riak kecil dalam kehidupan rumah tangga Freddy dan Raisa. Masalah mulai muncul ketika mantan pacar keduanya kembali hadir dan tidak ragu-ragu untuk mendekat. Mampukah Freddy dan Raisa mempertahankan rumah tangga mereka? Akankah cinta akan menyatukan keduanya?
View More“Terima kasih, Bu Veronica. Veronica Astrid Prawira. Proposal ini cukup menarik, tetapi tetap keputusan akan kami serahkan kepada pimpinan untuk menyetujuinya atau tidak.” Wanita setengah baya berkacamata itu bicara dengan senyum manis.
Veronica tidak mengira akan mendapat jawaban normatif setelah panjang lebar dia paparkan proposal bisnis yang dia akan lakukan.“Oh, baik, Bu Ranintya. Kira-kira bisa saya bertemu dengan pimpinan hari ini juga?” Sambil membaca papan nama di meja, Veronica memandang wanita di depannya.Yang ada di kepala Veronica, begitu proposal dia paparkan, segera akan mendapat sambutan baik dan usaha yang dia rintis pun bisa cepat punya rekan untuk berkembang. Sayang sekali, jawaban itu yang dia terima. Dan Veronica tidak bisa menunggu. Dia harus mendapat kepastian.“Maaf, Bu, kalau hari ini pimpinan kami sudah punya jadwal. Saya akan sampaikan perihal pengajuan ini dan beliau akan mengatur pertemuan dengan Bu Veronica. Saya kira paling lama tiga hari sampai lima hari ke depan pertemuan bisa dilakukan.” Wanita dengan rambut sebagian mulai memutih itu menjawab dengan tetap tenang, tetap mengurai senyum manisnya.Tidak! Sampai lima hari ke depan, ada deretan jadwal yang Veronica sudah atur. Ini bisa menunda beberapa hal lain. Tidak bisa!“Bu Ranintya, saya mohon, sebentar saja, saya minta waktu bertemu dengan pimpinan Ibu. Tidak akan lebih dari lima belas menit, atau … dua puluh menit. Saya mohon, Bu,” ucap Veronica bersungguh-sungguh. Dia tidak boleh kehilangan kesempatan.Kalau saja Veronica tahu, setelah pemaparan proposal dia masih harus menunggu lebih baik dia minta bertemu langsung saja dengan pimpinan dari awal.Ranintya cepat menarik senyumnya. Dia cukup terkejut dengan sikap Veronica yang mendesak seperti itu.“Saya juga meminta pengertian Bu Veronica. Pimpinan saya, CEO perusahaan ini, punya jadwal yang tidak bisa dengan mudah dialihkan. Jam ini beliau masih ada meeting dengan rekan bisnis dari beberapa perusahaan. Usai meeting itu, langsung akan menuju ke lain tempat untuk jadwal selanjutnya. Saya juga harus bersiap mendampingi beliau.” Keramahan wanita itu berubah menjadi tatapan dan nada suara yang tegas.“Ah, Bu, sekali lagi saya minta maaf. Hari ini saja berikan sa-““Bu, Rani! Apa sudah siap?!”Ranintya mengangkat wajahnya melihat ke arah pintu. Veronia memutar kepala dan melihat juga ke arah yang sama. Seorang pria tampan dan gagah berdiri di sana. Dia mengenakan kaos putih dilengkapi dengan jas hitam.“Sebentar, Pak Hendrick, saya siap dalam dua menit.” Tegas, Ranintya menjawab. Seandainya Veronica tidak menahannya, pasti dia sudah siap.Veronica berdiri dan menghadap ke arah pria tampan itu. Wajahnya tegas, dengan pandangan mata tajam dan berkharisma. Dia melihat sekilas pada Veronica lalu beralih pada Ranintya, sekretarisnya.“Oke, aku tunggu di lobi, Bu Rani,” kata pria itu, kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu.“Pak CEO!” Veronica dengan sigap bergerak dan menuju ke pintu.Ranintya terkejut melihat secepat itu Veronica bergerak.“Pak CEO!” panggil Veronica lagi lebih keras.Pria tampan penuh kharisma itu berbalik, melihat pada Veronica. Seorang wanita tinggi dengan bentuk tubuh sintal dan sikap anggun. Rambutnya berwarna coklat gelap, lurus panjang hingga hampir sepunggungnya. Melihat penampilannya, usianya baru masuk tiga puluhan.“Perlu dengan saya?” Pria itu menatap tajam pada Veronica.Suaranya tenang, tapi tegas. Namun, tatapannya dingin dan tajam. Meski begitu, kharismanya kembali menyeruak. Kali ini Veronica terpana. Pesona dari CEO dingin itu tak bisa dia elakkan.“Saya minta waktu sebentar, saya ingin bicara dengan Pak CEO.” Veronica memberanikan diri.Dia melangkah tiga tapak ke depan, berhadapan dengan CEO yang berdiri tegak, masih dengan tatapan dingin terarah padanya.“Saya Veronica Prawira.” Veronica mengulurkan tangan memperkenalkan diri.Pria itu hanya menatap saja, tidak bergerak.“Ehh, saya ingin menyampaikan sesuatu, maksud saya, saya sedang mengembangkan usaha dan ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan Bapak.” Veronica segera memperbaiki kesiapannya.CEO dingin itu membuat Veronica kehilangan fokus. Tapi dia harus segera kembali ke urusannya, tidak boleh sampai kehilangan momen penting itu.“Pak Hendrick, maafkan saya.” Ranintya muncul dan segera menjelaskan siapa Veronica dan apa tujuannya datang ke kantor itu. Ringkas, jelas, dan padat Ranintya bicara.CEO dingin itu memandang Veronica selama Ranintya memberi penjelasan. Lalu dia mengulurkan tangannya kepada Veronica.“Saya Gio, Georgio Hendrick. Silakan ikut dengan saya,” kata Gio lalu berjalan mendahului menuju ke ruangannya.“Ibu, terima kasih banyak. Sungguh, terima kasih banyak,” ujar Veronica pada Ranintya lalu bergegas menyusul Gio.Ranintya menarik napas dan menggeleng-geleng. Dia berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangannya. Sementara, Gio telah duduk di sofa, di kantornya yang besar dan nyaman. Veronica ikut masuk dan memilih duduk di kursi samping, sedikit berseberangan dengan Gio.“Silakan. Waktu Anda maksimal lima belas menit,” ucap Gio dengan tatapan tajam, sementara kedua lengan dia lipat di depan dada.Veronica mengerjap beberapa kali, lalu menarik napas dalam. Dia membuka berkas yang dia bawa dan dia sodorkan di depan Gio.“Ini proposal saya, Pak. Saya akan paparkan rencana usaha saya yang saya yakin bisa bekerja sama dengan perusahaan ini,” kata Veronica.Gio mengambil berkas yang ada di depannya. Dia membacanya sekilas, lalu memperhatikan Veronica yang mulai menjelaskan usaha distro yang dia sedang rintis di kota itu. Veronica sudah mendapatkan ketenangan, sehingga percaya dirinya pun bangkit. Dengan lancar dan lugas dia menyampaikan semua yang dia akan lakukan dan dalam hal apa dia yakin bisa bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Gio.Selama kurang lebih sepuluh menit Veronica bicara, tatapan Gio tak beralih. Dia seperti tidak bergerak dan tidak juga berkedip. Dia mencermati wanita cantik di depannya itu dengan detil. Cerdas, penuh semangat, dan sangat menarik. Apa yang dia sampaikan tidak terlalu Istimewa, bukan sebuah usaha besar yang perusahaannya bisa mendapat keuntungan besar pula seandainya menerima kerja sama itu. Tetapi, melihat kesungguhan wanita itu, Gio penasaran.“Jadi demikian, Pak. Saya yakin, dengan menjalin relasi dalam usaha ini, kita akan berkembang bersama.” Veronica mengakhiri pemaparan proposalnya. Matanya memandang penuh harap pada Gio.“Anda seyakin itu? Bisnis yang Anda bicarakan, punya saingan terlalu banyak. Dalam hal apa Anda bisa meyakinkan saya, kerja sama ini akan bagus buat perusahaan ini?” Tajam, sedikit sinis kalimat itu terdengar.“Design. Design yang saya buat, pasti akan dengan cepat diminati banyak anak muda. Dan akan terus berinovasi dengan cepat, sesuai pasar dan kebutuhan lapangan.” Cepat dan yakin Veronica menjawab.“Hmm …” Gio mengerutkan keningnya. Dia berpikir akan mengiyakan atau menolak saja permintaan wanita muda itu. Tidak terlalu ada pengaruh juga bagi bisnisnya yang sudah melebar dengan cepat dalam waktu lebih dua tahun.“Apa yang membuat design Anda akan bertahan? Keunikan apa yang akhirnya konsumen Anda akan tetap mau mengikuti dan menjadikannya favorit?” Pertanyaan Gio lebih jauh, memastikan bahwa Veronica tahu apa yang akan dia jual.“Ah, ya …” Veronica ingin cepat menjawab tetapi tiba-tiba dia seperti kehilangan kata-kata. Benar! Keunikan apa yang dia mau tonjolkan sehingga produknya akan bisa berumur panjang bersaing di pasaran.“Anda tidak yakin?” Gio menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Dia sedikit maju, memastikan Veronica tidak siap dengan jawaban yang Gio butuhkan.50Jalinan waktu terus bergulir. Tepat dua minggu setelah Byantara lahir, aku dan Raisa mengadakan acara akikahan di kediaman Papi. Pada awalnya, kupikir acaranya akan sederhana. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Papi mengadakan pesta mewah, yang pastinya sebagian besar dananya berasal dari dompet beliau.Aku bukan tidak sanggup mengadakan akikahan mewah seperti ini, tetapi aku harus menghemat biaya. Terutama karena sampai dua bulan ke depan akan ada dua dapur yang harus diisi. Yaitu, dapur Bandung dan Jakarta. Beberapa saat sebelum pengajian dimulai, aku dipanggil Amran yang berada di teras depan. Aku menyambanginya dan seketika terkejut melihat banyak teman-teman dari PC yang datang. Bahkan beberapa bos PG turut hadir bersama keluarga masing-masing. Aku bergegas jalan menuju depan rumah, kemudian menyalami semua tamu. Kemudian aku mempersilakan mereka memasuki ruang tamu dan ruang tengah. Para istri bos menghampiri Raisa dan memeluknya sembari beradu pipi. Mereka sempat ber
49Seunit motor polisi dengan sirine khas, menjadi pembuka jalan konvoi beberapa kendaraan roda dua dan empat, yang keluar dari area bandara menuju jalan raya utama Kota Bandung.Bang Zein dan kedua staf HWZ memacu motor besar mereka di belakang motor polisi. Aku memandangi mereka dari kursi depan mobil pertama, sembari mengucap syukur dalam hati, karena memiliki para sahabat yang setia kawan.Aku benar-benar takjub dengan kesigapan mereka yang menyambutku dan teman-teman, dengan protokoler yang biasanya dilakukan pada pejabat. Kendatipun sedikit malu, karena aku jadi penyebab para pengguna jalan lainnya menggerutu, tetapi aku tetap bersyukur, sebab dengan terbukanya jalan ini, konvoi kami tidak terjebak kemacetan.Seno mengemudikan mobil operasional kantor dengan kecepatan tinggi. Di belakang, dua unit mobil operasional PBK menyusul dengan jarak dekat. Bang Zulfi yang berada di kursi tengah, sedang bercakap-cakap dengan Bang Wirya yang berada di Jakarta, melalui sambungan telepon.
48Beberapa hari menjelajahi Malang, ternyata aku sangat menyukai kota ini. Udaranya yang cukup sejuk, menjadikanku teringat akan Bandung di masa lampau. Saat aku kecil, Bandung masih dingin. Keluar untuk berangkat ke sekolah masih banyak embun menggantung di pepohonan. Sekarang, kota kelahiranku sudah panas. Sebab telah banyak pohon dan hutan yang dibabat buat dijadikan tempat bisnis. Jangankan Bandung, Lembang yang dulu dinginnya bikin beku, sekarang biasa-biasa saja. Hanya beberapa daerah di sekitar Jawa Barat yang udaranya masih dingin. Contohnya, Pangalengan, Ciwidey, Cijeruk di Bogor, dan tempat-tempat yang posisi tanahnya tinggi di perbukitan. Lainnya, sih, sama saja dengan Bandung, hareudang, dang, dang, dang, dut. Setelah 3 hari berjibaku di tempat proyek, pagi ini aku dan tim berwisata keliling kota. Tadinya, Bang Yoga mengusulkan ke Bromo, tetapi ditolak yang lainnya dengan alasan capai. Aku pun sama. Di tempat proyek yang jalanannya belum rata, ditambah lokasinya di p
47Hari yang dinantikan Bayu dan Esti, akhirnya tiba. Pagi ini, aku dan keluarga serta kerabat Bayu, mengantarkan papanya Evan ke kediaman orang tua Esti.Suasana akad nikah yang semula tegang, seketika berubah tenang seusai kalimat kabul diucapkan Bayu dalam satu tarikan napas. Aku yang turut tegang sejak tadi, akhirnya bisa menghela napas lega. Aku melirik Raisa yang terlihat serius mengamati pasangan pengantin yang tengah berbincang dengan penghulu. Aku mengulurkan tangan kanan untuk menggenggam jemari Raisa yang seketika menoleh. Aku mengukir senyuman yang dibalasnya dengan hal serupa. Semua runutan acara adat Sunda digelar dengan khidmat. Aku terharu ketika Evan memeluk dan menciumi Esti yang sudah sah menjadi Ibu sambungnya. Isakan lirih terdengar dari semua sudut tempat perhelatan digelar. Begitu pula dengan Raisa. Dia berulang kali mengusap matanya yang basah dengan tisu. Demikian juga dengan Mama, Mami dan Neyla. Geng cengeng. Acara saweran menjadi hal yang paling ditung
"Bang." Sayup-sayup terdengar suara Raisa memanggil. "Abang," suaranya mulai meninggi. Aku mencoba membuka kelopak mata yang tertutup rapat. Terasa ada yang mengguncangkan tubuh atletisku dengan kuat. "Abang!" hardiknya. "Apa?" "Bangun! Udah Subuh. Buruan salat!" "Hmm. Entar dulu, deh. Masih
"Abang." "Ehm." "Kok, diam aja dari tadi?" "Males ngomong." "Kenapa?" "Sakit gigi." Raisa cekikikan. Aku bersedekap tangan di dada sambil mesem-mesem. "Fokus dong nyetirnya. Entar celaka!" protesku."Ini juga udah fokus, Abang. Kalau nggak, Abang aja, deh, yang nyetir." "Aku nggak punya SIM.
05Selesai salat Isya berjamaah di kamar, Raisa mengurung diri lama di toilet. Aku menunggu sampai 30 menit, tetapi dia enggak keluar juga. Akhirnya kupaksakan untuk mengetuk pintu. "Raisa?" panggilku. "Ya?" "Kamu lagi sakit perut?""Enggak." "Udah bisa keluar? Gantian, dong. Aku juga mau nyeto
04Kakiku melangkah sambil menyeret koper, mengikuti jejak langkah Raisa, memasuki kamarnya yang terletak di bagian tengah rumah Om Deni. Tepatnya di sebelah kanan ruang tengah. Sudah sering aku main ke sini, tetapi, memang baru kali ini bisa masuk ke ruang pribadinya. Wallpaper bernuansa biru mu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews