LOGIN“Katakan padaku, Anya. Apa yang harus kulakukan… agar kau percaya padaku?”Aku tak menjawab. Tak menoleh. Jantungku berdetak cepat, tapi aku mencoba menahannya.Kata-kata itu menggantung di udara—berat, panas.Tama masih menatapku. Tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya– kosong, ada tekanan, tapi juga keraguan. Kami hanya terdiam. Langit sudah semakin gelap, udara semakin dingin.Bunyi katak bersahutan, mengisi ruang hampa diantara kami.“Jujur,” kataku akhirnya.“Kau hanya perlu jujur padaku, dan kau sudah janji.”Tama masih diam. Ia menunduk perlahan, memalingkan pandangan. “Bahkan setelah apa yang terjadi, kau masih tak mau jujur?” “Apa sesulit itu… untuk jujur padaku?” suaraku bergetar,“Atau… apa yang harus kulakukan agar kau mau jujur padaku, Tama?”Ia masih diam. Tapi kini diamnya berbeda—bukan seperti dinding yang menahan, melainkan pertimbangan yang perlahan membentuk bayangan keputusan.Aku menahan napas. Setiap detik terasa seperti seribu pertanyaan tanpa jawab
Suara gesekan ban mobil dengan aspal basah terdengar dari ujung jalan. Lampu sorot yang tajam membelah kegelapan, menyapu pagar besi yang berkarat, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Cahayanya menyilaukan, membuat bayangan pagar jatuh memanjang di atas ubin teras, menyerupai jeruji besi.Mesin mobil mati. Hening sejenak.Pintu mobil dibanting. Langkah kaki itu tidak ragu, tidak melambat. Sepatu kulitnya menghantam genangan air di halaman dengan irama yang menuntut.Tama berdiri di ba
Semilir angin malam terasa dingin.Butiran air hujan turun perlahan, suara katak bersautan.Aku duduk di kursi tua di teras rumah, membiarkan ujung kakiku terkena cipratan air hujan.Di rumah Tama, semuanya berlapis marmer yang mahal dan dingin. Di sini, semuanya terasa nyata dan jujur."Minum ini dulu," Tante Ratna meletakkan secangkir cokelat panas di meja kayu kecil.Aku tidak langsung menyentuhnya. Mataku masih tertuju pada pagar besi yang catnya mulai mengelupas.“Tante tak akan bertanya?” tanyaku.Tante Ratna duduk di sampingku.“Tentang kau yang datang dengan basah kuyup?” ia menggenggam tangaku.Aku terdiam."Kenapa Ayah dulu membawaku, Tante? Apa Tante tahu alasannya?" tanyaku lagi, tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya. "Tuan Ardian melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, Anya. Dia selalu bilang, kau punya ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun. Dia ingin ketulusan itu tetap ada di keluarga Adikara."Aku meringis.“Ternyata memang sejak awal, aku hany
Pagi itu, suara gerimis mengetuk kaca jendela. Aku terbangun dengan rasa berat di kepala. Di sampingku, Tama sudah duduk di tepian ranjang, memunggungiku sambil mengenakan jam tangan peraknya. Dari ujung mataku, kulihat Tama berbalik."Anya, kau sudah bangun?"Aku hanya bergumam pendek, tak berniat menjawabnya."Bersiaplah. Sarapan sudah siap di bawah. Kita berangkat tiga puluh menit lagi," ucapnya tenang.Aku menarik napas perlahan, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba datang. "Aku tak akan ikut hari ini,” jawabku sambil kembali menarik selimut. "Kenapa? Kau sakit?""Kepalaku sedikit pusing," jawabku datar. Aku tetap tak menatapnya, memalingkan wajah ke samping.Tama mendekat, punggung tangannya menyentuh keningku– dingin dan tegas. "Kau tidak demam. Mau kupanggilkan Dokter Lee?""Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat di rumah. Sendiri."Ada jeda panjang sebelum dia menjawab. Aku tahu dia sedang menimbang, mungkin menghitung risiko jika 'variabelnya' tidak berada dalam j
Pintu ruang kerja terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Tama. Langkah kakinya punya irama yang khas—mantap, berwibawa, dan selalu terdengar seperti seseorang yang tahu persis ke mana dia melangkah. Aku tetap menunduk, pura-pura merapikan tumpukan majalah di meja sudut, padahal jemariku hanya bergerak tanpa arah."Rapatnya selesai. Semuanya berjalan sesuai rencana," ucapnya. Suaranya terdengar lebih ringan, ada nada puas yang terselip di sana.Dahulu, nada itu akan membuatku ikut lega. Tapi sekarang, kata 'rencana' terdengar seperti dentum lonceng di kepalaku. Rencana. Investasi. Variabel.Aku menghela napas dalam sebelum berdiri.Kulirik wajahnya sekilas, memaksakan senyum tipis yang kurasa tidak sampai ke mata. "Syukurlah. Kamu pasti lelah."Tama mendekat. Dia mengulurkan tangan, hendak mengusap bahuku atau mungkin merapikan rambutku.Aku membungkuk– sengaja. Berpura-pura tak melihatnya, merapikan meja yang sedikit berantakan. Tangannya tertahan di udara, hanya meny
Suara langkah kaki serta bisik-bisik staf bercampur jadi satu. Semua orang sibuk menyiapkan berbagai dokumen rumit yang tak kupahami.Rapat audit.Sesuatu yang dibahas Miranda pagi tadi– sumber dari segala kesibukan dan kemarahannya.Tama duduk di meja kerjanya, sibuk menandai berkas dengan teliti. Aku mengamatinya.Garis-garis di kertas, gerakan tangan yang berulang, napasnya yang tenang tapi penuh fokus. “Kau butuh sesuatu?” tanyaku sambil melangkah mendekat.Ia menoleh sekilas, matanya tetap menatap dokumen. “Tidak. Hanya memastikan semuanya siap.”Aku mengangguk, dan kembali duduk di sofa. Tama menutup map hitamnya perlahan, lalu mengecek jam di pergelangan tangannya.Ia kemudian berdiri, merapikan jas hitamnya yang sedikit kusut.“Ayo,” nada suaranya datar.“Ikut aku,” ia mengulurkan tangannya. Aku terdiam sejenak, ragu.“Tama,” panggilku pelan, “aku tak akan ikut.”Ruangan hening sesaat.“Kenapa?” tanyanya singkat.“Rapat audit,” jawabku tenang. “Aku tidak punya posisi ap







