LOGINPagi datang lagi.Cahaya matahari masuk dari sela jendela kayu, menyentuh lantai yang sudah memudar warnanya. Udara masih dingin, sisa dari hujan semalam. Aku duduk di tepi ranjang lama yang kasurnya sedikit berdecit setiap kali aku bergerak. Tidak empuk. Tidak sempurna. Di rumah ini, pagi dimulai lebih sederhana.Tidak ada suara langkah penjaga.Juga, tidak ada Tama.Perasaan itu menakutkan.Namun anehnya, melegakan.Aku bangkit perlahan, merapikan selimut seadanya. Cermin kecil di sudut kamar memantulkan bayanganku yang tampak berbeda. Wajahku masih sama, tapi sorot mataku tak seperti biasanya.Kali ini, aku tak sedang bersiap menjadi istri siapa pun. Tidak sedang mengingat peran apa yang harus kupakai hari ini.Tidak peduli pada skenario yang berjalan.Aku melangkah ke dapur.Tante Ratna sudah di sana, menuang air panas ke dalam teko.“Kau sudah bangun,” katanya, tanpa nada tanya.“Iya.”Ia mengangguk, lalu berjalan ke belakang rumah. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pertanya
“Katakan padaku, Anya. Apa yang harus kulakukan… agar kau percaya padaku?”Aku tak menjawab. Tak menoleh. Jantungku berdetak cepat, tapi aku mencoba menahannya.Kata-kata itu menggantung di udara—berat, panas.Tama masih menatapku. Tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya– kosong, ada tekanan, tapi juga keraguan. Kami hanya terdiam. Langit sudah semakin gelap, udara semakin dingin.Bunyi katak bersahutan, mengisi ruang hampa diantara kami.“Jujur,” kataku akhirnya.“Kau hanya perlu jujur padaku, dan kau sudah janji.”Tama masih diam. Ia menunduk perlahan, memalingkan pandangan. “Bahkan setelah apa yang terjadi, kau masih tak mau jujur?” “Apa sesulit itu… untuk jujur padaku?” suaraku bergetar,“Atau… apa yang harus kulakukan agar kau mau jujur padaku, Tama?”Ia masih diam. Tapi kini diamnya berbeda—bukan seperti dinding yang menahan, melainkan pertimbangan yang perlahan membentuk bayangan keputusan.Aku menahan napas. Setiap detik terasa seperti seribu pertanyaan tanpa jawab
Suara gesekan ban mobil dengan aspal basah terdengar dari ujung jalan. Lampu sorot yang tajam membelah kegelapan, menyapu pagar besi yang berkarat, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Cahayanya menyilaukan, membuat bayangan pagar jatuh memanjang di atas ubin teras, menyerupai jeruji besi.Mesin mobil mati. Hening sejenak.Pintu mobil dibanting. Langkah kaki itu tidak ragu, tidak melambat. Sepatu kulitnya menghantam genangan air di halaman dengan irama yang menuntut.Tama berdiri di ba
Semilir angin malam terasa dingin.Butiran air hujan turun perlahan, suara katak bersautan.Aku duduk di kursi tua di teras rumah, membiarkan ujung kakiku terkena cipratan air hujan.Di rumah Tama, semuanya berlapis marmer yang mahal dan dingin. Di sini, semuanya terasa nyata dan jujur."Minum ini dulu," Tante Ratna meletakkan secangkir cokelat panas di meja kayu kecil.Aku tidak langsung menyentuhnya. Mataku masih tertuju pada pagar besi yang catnya mulai mengelupas.“Tante tak akan bertanya?” tanyaku.Tante Ratna duduk di sampingku.“Tentang kau yang datang dengan basah kuyup?” ia menggenggam tangaku.Aku terdiam."Kenapa Ayah dulu membawaku, Tante? Apa Tante tahu alasannya?" tanyaku lagi, tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya. "Tuan Ardian melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, Anya. Dia selalu bilang, kau punya ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun. Dia ingin ketulusan itu tetap ada di keluarga Adikara."Aku meringis.“Ternyata memang sejak awal, aku hany
Pagi itu, suara gerimis mengetuk kaca jendela. Aku terbangun dengan rasa berat di kepala. Di sampingku, Tama sudah duduk di tepian ranjang, memunggungiku sambil mengenakan jam tangan peraknya. Dari ujung mataku, kulihat Tama berbalik."Anya, kau sudah bangun?"Aku hanya bergumam pendek, tak berniat menjawabnya."Bersiaplah. Sarapan sudah siap di bawah. Kita berangkat tiga puluh menit lagi," ucapnya tenang.Aku menarik napas perlahan, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba datang. "Aku tak akan ikut hari ini,” jawabku sambil kembali menarik selimut. "Kenapa? Kau sakit?""Kepalaku sedikit pusing," jawabku datar. Aku tetap tak menatapnya, memalingkan wajah ke samping.Tama mendekat, punggung tangannya menyentuh keningku– dingin dan tegas. "Kau tidak demam. Mau kupanggilkan Dokter Lee?""Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat di rumah. Sendiri."Ada jeda panjang sebelum dia menjawab. Aku tahu dia sedang menimbang, mungkin menghitung risiko jika 'variabelnya' tidak berada dalam j
Pintu ruang kerja terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Tama. Langkah kakinya punya irama yang khas—mantap, berwibawa, dan selalu terdengar seperti seseorang yang tahu persis ke mana dia melangkah. Aku tetap menunduk, pura-pura merapikan tumpukan majalah di meja sudut, padahal jemariku hanya bergerak tanpa arah."Rapatnya selesai. Semuanya berjalan sesuai rencana," ucapnya. Suaranya terdengar lebih ringan, ada nada puas yang terselip di sana.Dahulu, nada itu akan membuatku ikut lega. Tapi sekarang, kata 'rencana' terdengar seperti dentum lonceng di kepalaku. Rencana. Investasi. Variabel.Aku menghela napas dalam sebelum berdiri.Kulirik wajahnya sekilas, memaksakan senyum tipis yang kurasa tidak sampai ke mata. "Syukurlah. Kamu pasti lelah."Tama mendekat. Dia mengulurkan tangan, hendak mengusap bahuku atau mungkin merapikan rambutku.Aku membungkuk– sengaja. Berpura-pura tak melihatnya, merapikan meja yang sedikit berantakan. Tangannya tertahan di udara, hanya meny







