Mag-log inAtlet karate itu serta merta melompat dari mobil begitu sampai di masuk di lokasi perusahaan milik keluarga Kertanegara. Vivian telah mendapatkan informasi itu dari papinya, bahwa Arsenio selalu datang di perusahaan meski kondisinya lumpuh. Setelah gadis itu keluar dari Pajero Sport kesayangannya, dia segera bergegas menuju gedung utama. Ketika tiba di depan pintu masuk, Vivian dicegat oleh security yang berjaga.
"Tolong sampaikan pada Pak Arsenio, bahwa Vivian Wibisono ingin bertemu," ucapnya pada petugas. "Apa Anda sudah membuat janji?" Bukannya mengikuti ucapan Vivian, security itu malah balik tanya hati-hati. Arsenio adalah Putra Mahkota Kertanegara. Tidak bisa ditemui sembarangan orang. Apalagi dengan penampilan Vivian yang saat ini hanya terbalut setelan celana kargo dengan kemeja flanel lengan panjang yang digulung hingga lengan. Penampilan yang jauh dari rapi untuk ukuran pekerja kantoran. Petugas security itu menatapnya curiga. "Huft." Vivian tampak kesal merutuki nasibnya. Seharusnya dia tadi berganti outfit lebih dahulu sebelum ke sini. “Apa kamu tidak tahu, aku calon istri Pak Arsenio? Jangan sampai kamu dipecat karena tidak mengenali majikanmu sendiri!” Kepalang tanggung, Vivian harus mengungkapkan hal itu supaya bisa bertemu dengan Arsenio. Muka security itu berubah pucat begitu mendengar ucapan Vivian. Entah benar atau salah, akan lebih aman jika dia segera melapor. Daripada dia menanggung konsekuensi kehilangan pekerjaan. Beberapa menit berlalu, Vivian masih menunggu Security itu kembali di pintu masuk, tempat dia saat ini menunggu. "Ribet banget, sih!" Vivian terus menggerutu. Andai situasinya tidak memaksa, kondisi perusahaan milik keluarganya yang buruk. Semua memang bukanlah kesalahan Arsenio. Pria itu justru berniat menolong, karena ketertarikan Arsenio pada Eliana. Alih-alih berterimakasih, kakaknya malah menyuruhnya sebagai pengganti. Sejujurnya, dia malas untuk berurusan dengan masalah ini. Namun, Vivian juga tidak punya pilihan lain. Lagipula, dia tidak bisa pasrah menerima takdir sebagai pengantin pengganti yang menyedihkan seperti di drama-drama romansa. Selagi, ada kesempatan, dia akan sekuat tenaga untuk merubah nasib. Dan akhirnya Vivian harus bernafas lega, ketika dia melihat Security dengan nametag Widodo itu tergopoh-gopoh berjalan menuju ke arahnya. "Nona, Pak Arsenio menunggu Anda di ruangannya, mari saya antar," ucap Widodo dengan ramah. Kalimat yang terdengar jauh lebih ramah berkali-kali lipat dibanding dengan sebelumnya. Setelah naik lift menuju lantai sepuluh mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Arsenio. Tak berapa lama mereka berjalan, ruangan yang bertuliskan ruangan Presdir sudah terlihat. Di depan ruangan itu, ada seorang sekretaris yang masih muda dan cantik, memakai rok kurang bahan --hanya lima senti dari pant*t-- segera menyapa Vivian. "Nona Wibisono, Anda sudah ditunggu di dalam," ucapnya sambil tersenyum ramah. Namun, Vivian bisa melihat dengan jelas bahwa senyuman itu hanya di bibir, tidak sampai di mata. Kendati demikian, Vivian tetap mengangguk padanya dan mengucapkan terima kasih. "Masuk!" Terdengar suara dari dalam, beberapa detik setelah Vivian mengetuk pintu. Vivian lekas meraih handle pintu dan mendorongnya. Begitu pintu terbuka, seorang pria dengan dahi berkerut menatap tajam ke arahnya. Matanya menyipit mengawasinya dari atas sampai ke bawah dengan ekspresi … merendahkan. "Anda … berani mengaku sebagai calon istri saya supaya saya mengizinkan bertemu?!” sindirnya begitu menyadari Vivian bukan wanita yang dia harapkan. "Hei, saya tidak. Saya bilang pada security, nama saya Vivian Wibisono." Vivian cemberut. Jadi, pria songong ini yang harus dinikahinya? "Saya tidak bertanya nama Anda. Saya bertanya, kenapa Anda berani mengaku sebagai calon istri saya?" Arsenio mulai tidak sabar. Tatapannya tajam menguliti. “Hah, baiklah. Mari kita mulai pada inti masalahnya, Tuan Arsenio Kertanegara yang terhormat!” Vivian melangkah mendekat. Arsenio menatap curiga. “Jadi begini, Tuan Arsenio. Saya datang, karena saya yang akan menggantikan Eliana. Senang atau tidak, itu sudah menjadi keputusan keluarga kami.” Vivian harus menekan harga dirinya sedemikian rupa untuk mengatakan semuanya. Dia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan penolakan pria itu. Dahi Arsenio berkerut. Ada yang salah. Jadi, gadis tengik ini yang akan dinikahinya? "Jangan terlalu percaya diri, saya tidak menerima pengantin pengganti. Lagipula, dalam hal ini kalian harus mengikuti keputusan keluarga kami, bukan membuat keputusan sendiri!” Arsenio sepertinya berusaha menahan kemarahan. ‘Apa-apaan ini? Apa Keluarga Wibisono sudah gila?’ “Suka atau tidak, itu keputusan kami.” Vivian bersedekap. Matanya lurus menatap Arsenio yang geram. “Apa alasannya? Kenapa saya harus menikahi Anda?” Vivian mengeluarkan ponsel. Dia memutar berita yang sedang fyp di media sosial yang tadi dikirim Kania. “Eliana tak ingin menikahi Anda. Itu kenyataan pahit yang harus saya sampaikan pada Anda, Tuan.” “Lancang!” Terdengar suara gebrakan meja. Tangan Arsenio sampai bergetar menahan amarah. “Jangan bicara sembarangan, Nona. Pak Hendrawan yang menawarkan Eliana pada kami—” “Ya, tapi Eliana mengancam bunuh diri.” Wajah Arsenio murung, tak sedap dipandang. Bagaimanapun, dia adalah seseorang yang terlahir dengan sendok emas. Sejak kecil, tak ada keinginan yang tak bisa dia dapatkan. Vivian berkata bahwa Eliana bahkan mengancam bunuh diri untuk menghindari pernikahan dengannya, seakan dirinya ada wabah yang harus dihindari, rasanya sungguh menyakitkan. Arsenio menatap Vivian tajam. Beragam pemikiran saling bergulat di kepala. Berita tentang pernikahannya dengan Eliana sudah menyebar di media. Jika batal begitu saja, itu sungguh melukai reputasinya. “Ngomong-ngomong, Anda berniat menjadi pengantin pengganti?” Arsenio memandang sosok Vivian dengan tatapan mengukur penampilannya. Vivian jelas tahu, Arsenio sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang mempunyai penampilan lebih memukau daripada dirinya. “Begitulah.” Arsenio menaikkan alis, penasaran. Vivian menjelaskan tanpa diminta. “Jadi begini, Tuan Arsenio. Sebenarnya, situasinya tidak seburuk itu. Kita bisa pura-pura menikah, itu win-win solution untuk kita. Anda bisa menyelamatkan reputasi Anda. Saya bisa membalas Budi pada keluarga saya.” Vivian bicara penuh keyakinan dan percaya diri. Arsenio berkedip dua kali. “Menarik.” “Asal Anda bersedia, saya pasti akan menjalankan peran sebagai istri Anda dengan baik. Tentang waktunya, Anda bisa mempertimbangkan, saya akan menerima keputusan Anda.” Arsenio kali ini terbahak. Dia menyipitkan mata, bocah ingusan dari keluarga Wibisono ini ternyata sudah menyiapkan rencana pernikahan kontrak padanya. Dia mengukur, umur gadis ini belum genap 20 tahun, tapi bisa mengatakan semua ini dengan begitu santai. Jujur, Arsenio terkejut. “Sepertinya, Eliana harus bangga karena punya adik yang siap mengorbankan diri untuk melindunginya.” Vivian tak menjawab. Jelas, ucapan Arsenio itu terdengar seperti sindiran daripada pujian. Arsenio tahu, bahwa Vivian mempunyai tujuan pribadi dari pernikahan ini. “Jadi, apa keputusan Anda, Tuan Arsenio?” Vivian fokus dengan tujuannya. Dia datang untuk memperjelas semuanya. _Tbc_TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S
Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.
Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l
Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan
"Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19
Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.







