Share

Bab 30

Author: Ummu Nadin
last update publish date: 2026-10-24 08:16:23

"Arsen, jangan macam-macam! Atau gue bikin tubuh elo hancur kayak tetelan daging," tukasnya ketika dua lengan itu makin kuat ditekan Arsenio.

"Hais, kasar banget calon bini gue. Kan gue cuma pegang dikit doang."

"Bukan mahrom, ngerti nggak lo!" Vivian sekuat tenaga melepaskan cekalan tangan Arsenio.

“Whats?” Sepasang netra Arsenio terbelalak. Aneh sekali gadis ini bicara tentang mahrom.

“Jangan sembarangan nyentuh. Nggak halal!” Entah kenapa isi kepala Vivian saat ini dipenuhi Kania yang sedan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 54

    "Sialan.” Natasya menggertakkan gigi. Langkahnya gontai menyusuri lorong menuju ruang HRD. Harusnya dia bersikap lebih hormat pada leluhur wanita itu. Tapi mana dia tahu, kalau Penelope adalah orang penting di perusahaan ini.Sebanyak apapun penyesalan, hari ini dia telah kehilangan pekerjaan yang telah susah payah didapatkan.“Nyalinya cukup besar sampai berani mengusir Nyonya Penelope, ckck.” Berita itu cepat menyebar di antara karyawan. “Padahal Presdir Arsenio sendiri rela ditindas Nyonya Penelope. Dia hanya seorang sekretaris begitu tidak tahu diri.”Di bawah tatapan karyawan yang ada di kanan kiri lorong yang dipenuhi kubikel. Beberapa bulan ini, Natasya selalu bersikap tinggi hati di depan karyawan lain. Memandang rendah, seakan dialah bos di kantor ini."Ngapain lihat-lihat?" bentak Natasya dengan mata mendelik. “Dih, udah dipecat masih belagu!” “Dikira bisa jadi Nyonya Kertanegara jalur ranjang. Padahal dia nggak tahu sekejam apa keluarga Kertanegara pada wanita kek elu.”

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 53

    Suasana hati Natasya sangat buruk. Dua pekan berlalu Arsenio absen dari kantor, Natasya merasa bosan. Baginya, wajah tampan Arsenio telah menjadi semacam penyemangat. Asalkan bisa melihat Arsenio tiap hari meski hanya dari jauh, dia rela.“Kapan bulan madu sialan itu usai?!” sungutnya pelan, melirik berkas yang menumpuk di meja, antri menunggu tanda tangan Arsenio. Segala sesuatunya terasa membosankan.Natasya menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Arsenio baru saja mengunggah foto profil WhatsApp. Dalam foto itu, Arsenio terlihat berdiri di samping Vivian dengan latar belakang laut biru Santorini. Pria yang selama ini bersikap dingin padanya itu tampak begitu bahagia. Bahkan, satu tangannya melingkar di pinggang sang istri.Natasya memperbesar foto tersebut. Dadanya makin sesak.Wajah pria itu makin tampan saat tersenyum lebar. Senyuman yang begitu sulit didapatkannya, kini justru diberikan kepada perempuan lain."Dasar perempuan jalang tidak tahu diri!" desisnya

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 52

    Pagi itu, suasana meja sarapan terasa sedikit berbeda. Vivian duduk di ujung meja dengan wajah yang berusaha terlihat senormal mungkin. Tangannya sibuk mengaduk teh, meskipun sejak tadi sendok itu hanya berputar-putar tanpa tujuan. Setelah apa yang terjadi, dia tidak mungkin sepenuhnya menganggap bahwa tidak ada yang terjadi. Tiap tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan pemilik iris obsidian itu, Vivian hanya bisa menundukkan kepala.Masih ada sisa suasana hati yang buruk, meski rasa canggung terasa lebih mendominasi. Arsenio menyesap espresso double shot. Biasanya pria itu akan duduk santai sambil membaca berita di tabletnya. Namun pagi ini, tablet tersebut bahkan belum dinyalakan. Arion melirik keduanya bergantian. Pria bule itu bisa mencium aroma tak biasa. Tak ada perdebatan. Tak ada tatapan kesal. Hanya diam yang canggung."Something wrong?" tanyanya dengan mata menyipit. Vivian pura-pura tuli. Sementara Arsenio menyalakan tablet, pura-pura sibuk.Arion berjalan mendekat, lalu

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 51

    Ketika semuanya usai, kamar itu mendadak terasa terlalu sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, sementara Vivian berbaring membelakangi Arsenio. Wajahnya masih terasa panas. Entah karena malu, gugup, atau karena ia sendiri belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi di antara mereka.Arsenio pun tidak jauh berbeda. Linglung.Lelaki itu menatap langit-langit kamar dalam diam. Untuk pertama kalinya, pria smart dengan prestasi menggemparkan dunia bisnis itu tampak seperti orang bodoh.Tangannya bergerak pelan, kemudian berhenti di udara sebelum akhirnya menarik selimut untuk menutupi bahu Vivian.“Vivian…”Beberapa detik berikutnya, tetap sunyi. Tidak ada jawaban. Arsenio menarik tubuh Vivian mendekat. Dia tidak tahan diabaikan.“Arsen!” Vivian meronta. Sial, tenaganya telah terkuras. Tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman pria yang memeluknya erat dari belakang. Yang tidak dipahaminya, bagaimana bisa Arsenio masih mempunyai tenaga sebesar itu setelah apa

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 50

    Setelah lima hari keliling kota Athena, mereka melanjutkan perjalanan ke Santorini. Diselingi naik turunnya hubungan Arsenio dan Vivian. Begitu tiba di Santorini, gawai Vivian yang tergeletak di nakas tiba-tiba berdering. Sebuah nomer asing yang tidak tersimpan dalam kontaknya menjerit cari perhatian.Vivian meliriknya. Tak ada keinginan untuk menerima panggilan itu. Dering ponsel itu berlangsung lama, tanpa tahu malu dan rasa bersalah.“Siapa sih?” Arsenio bersungut kesal.“Tauk. Nomor asing.” Dering itu kembali terdengar setelah jeda satu menit. Untuk kelima kalinya. “Angkat, Viv! Gendang telinga gue mau pecah!”Vivian menghela napas, lalu menggeser tombol hijau. “Ya?”"Kenapa bolos?" Suara sedingin gunung es terdengar, membuat Vivian tersedak saking kagetnya."Uhuk uhuk!" Arsenio mengerutkan dahi seraya mengangsurkan segelas air jernih. Vivian meneguknya hingga tandas."Ini Prof. Dian?” “Jawab pertanyaan saya, bukan malah nanya!”Bibir Vivian menganga tanpa kata. Terkejut, tak

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 49

    Vivian baru pertama kali menginjakkan kaki di Yunani. Sebagai mahasiswa Teknik sipil, perjalanan ke Yunani adalah sebuah hadiah istimewa. Karena sudah sejak lama dia memimpikan bisa berkunjung ke negara ini. Dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri. Seberapa elok bangunan yang konon menjadi salah satu keajaiban dunia kuno. Di kejauhan, Akropolis berdiri dengan jumawa. “Happy?” Arsenio menangkap rasa kagum di mata Vivian. “Yes, it’s my dream.” “I am happy to hear that.”Keduanya menerawang jauh.Di atas bukit batu, Parthenon menjulang dalam keanggunan yang sulit dijelaskan. Pilar-pilar marmernya berdiri tegak diterpa cahaya keemasan, seolah waktu telah berulang kali mencoba meruntuhkannya. Sialnya, sejarah menolak membiarkannya lenyap.Sebagai mahasiswa teknik sipil, Vivian terbiasa memandang bangunan melalui angka-angka. Beban mati, beban hidup, kekuatan material, distribusi gaya, hingga keseimbangan struktur adalah bahasa yang selama ini ia pelajari di ruang kuliah. Baginya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status