Share

Bab 4

Author: Ummu Nadin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-11 07:47:10

Arsenio mengendikkan bahu, malas menjawab pertanyaan Vivian. Dengan kecerdasannya, dia bisa menangkap maksud Vivian. Hanya saja, Arsenio masih sulit mempercayai ada seorang gadis yang berani mengambil manfaat darinya secara terang-terangan. Apalagi orang itu hanya seorang gadis berumur di bawah 20 tahun.

“Anda menolak? Wah, kalau begitu sayang sekali, Tuan Arsenio yang Terhormat. Padahal saya hanya berniat baik.” Vivian tersenyum miring. Dahi Arsenio berkerut dalam.

"Apa yang kamu rencanakan, Kurcaci Kecil?" tanya Arsenio tertarik, dia ingin melihat seberapa licik gadis kecil di depannya ini.

Sudut bibir Vivian menyeringai mengejek. Arsenio tidak sadar kalau Vivian sudah menjadi kartu As-nya. Sebelum datang, dia tanpa sengaja melihat berita yang viral di toktok. Kabar pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Eliana Wibisono sudah naik hari ini. Entah siapa yang sengaja menyebarkannya. Yang jelas, itu akan dia gunakan untuk mengancam pria ini.

“Hanya mengingatkan, bahwa berita pernikahan Anda dengan Eliana mengundang kontroversi di media.” Vivian menjeda ucapan. Nada ancaman begitu kental menyentuh gendang telinga Arsenio.

"Lalu?”

“Jika isu berkembang ke arah yang merugikan nama baik Anda, itu sudah terlambat untuk diselamatkan.”

"Jadi, kamu merasa aku butuh banget bantuanmu untuk menepis gosip?” Arsenio tergelak melihat betapa naifnya gadis di depannya ini. Tidak sadar dia sudah mulai ber-aku-kamu dengan Vivian.

Dengan sumber daya yang dimilikinya, Arsenio bisa memutar opini sesuai yang dia mau. Tapi, dia penasaran dengan sosok Vivian. Apa yang bisa dilakukan gadis ingusan ini padanya.

"Tentu saja. Kita sama-sama mendapatkan keuntungan, bukan? Jika media tahu, Eliana memilih melarikan diri dengan pria lain di hari pernikahan kalian, bukankah itu akan melukai harga diri Anda, Tuan Arsenio yang Terhormat?" Vivian sangat percaya diri saat mengatakannya.

Arsenio bersedekap sambil menahan tawa. Dia terus memindai, nyalang mengawasi semua gerakan Vivian. Bahkan tidak melewatkan hal kecil pun. Ekspresinya itu sangat menyebalkan.

"Hei, aku hanya menawarkan jalan tengah untuk menjaga kehormatan Anda," sembur Vivian kesal melihat ekspresi Arsenio.

"Hahaha, demi kehormatanku? Jangan lupa, Nona. Kebenarannya adalah Keluarga Wibisono membutuhkan bantuan kami. Lalu, Nona Vivian Wibisono menawarkan diri padaku, begitu bukan?" Tawa Arsenio semakin keras demi melihat Vivian menundukkan kepala dengan muka memerah.

"Bukankah aku juga menguntungkan Anda di satu sisi? Anda tidak akan kehilangan harga diri, karena ditolak Eliana?" Vivian masih bersikeras dengan pendapatnya.

"Jangan terlalu naif, Kurcaci Kecil. Kemana Eliana bisa melarikan diri dariku? Dengan sumber daya yang kupunyai, aku bahkan bisa mengejarnya sampai ke ujung dunia. Benar begitu, Kurcaci Kecil?”

"Namaku Vivian, Tuan Arsenio yang Terhormat. Jangan memanggilku Kurcaci Kecil!" pekik Vivian sambil berpaling dan melangkah pergi. Dia benar-benar jengkel. ‘Apa maksudnya dengan memanggilnya Kurcaci Kecil? Sialan.’

Vivian sudah menduga hasilnya akan seperti ini. Dia tidak mempunyai daya tarik yang sama dengan Eliana. Pria gila mana yang rela melepas Eliana demi dia. Tidak ada satupun.

"Buang-buang waktu saja," desisnya sambil berjalan menuju pintu keluar. Vivian menyerah bernegosiasi pada pria menyebalkan seperti Arsenio. Jadi, dia memutuskan untuk pergi, lagipula sepertinya sia-sia dia mendatangi kantornya siang ini.

"Hei, aku belum menyuruhmu pergi," panggil Arsenio.

"Aku datang kesini juga bukan karena dipanggil. Aku ini jailangkung nggak perlu dijemput dan diantar. Aku pergi, karena aku memutuskan untuk pergi," gerutu Vivian kesal. Ingin sekali dia menghajar pria di depannya itu menjadi rempeyek.

"Hahaha ..." Arsenio kembali tergelak.

Vivian tak memedulikan suara gelak tawa menyebalkan itu. Dia lebih tertarik untuk segera keluar dari ruangan ini. Diraihnya handle pintu untuk membukanya, tapi ...

"Terkunci?" gumamnya pelan.

"Sudah aku bilang, kalau aku belum menyuruh kamu pergi," ujar Arsenio. Di depannya ini hanya seorang gadis kecil, Arsenio menaksir umurnya baru sekitar 19 tahun.

"Jadi, apa maumu?" Vivian menoleh. Ada rasa geram yang tak bisa disembunyikan.

"Tinggalkan nomer Wa kamu!" titah pria itu dengan sorot mata tajam.

"Jangan bilang kalau kamu akan mempertimbangkan penawaranku?" tebak Vivian berbinar penuh harap. Sungguh, ini di luar ekspektasinya.

"Tinggalkan segera atau aku berubah pikiran, Kucing Kecil!" tukas Arsenio dingin.

Vivian mendengus. Kesal dengan gaya Arsenio yang sok bergaya tuan besar tukang main perintah pada bawahan. Ada rasa tidak terima, tapi rasa itu hanya bisa dia telan sekuat tenaga. Kendati jengkel, dia tetap menuruti perintah Arsenio. Dikeluarkannya note book kecil dari dalam tasnya, kemudian mencatat nomer Wa-nya dan menyerahkan pada manusia menyebalkan di depannya.

Pria itu hanya melirik sekilas ketika Vivian meletakkan selembar kertas di meja kerjanya. Pura-pura acuh tak acuh.

"Pergi sana!" usir Arsenio sambil melambaikan tangan jijik setelah mendapatkan nomer Vivian.

Vivian memutar bola mata malas, kemudian melangkah pergi menahan jengkel. Kelak, dia harus tahan banting jika telah resmi menjadi istrinya. Anggap saja saat ini sebagai latihan menahan kesal.

Sempat beberapa detik termangu ketika membuka handle pintu.

'Tadi terkunci, sekarang terbuka, apa dia menggunakan kunci otomatis dari mejanya?'

Tapi akhirnya dia melupakan pertanyaan yang ada dalam benaknya itu. Vivian melangkah pergi meninggalkan ruangan Arsenio dengan perasaan lebih kompleks. Ada harapan sekaligus rasa kesal mendapati betapa menyebalkan pria bernama Arsenio itu.

"Papi, semoga pernikahan ini bisa membayar hutang budiku pada kalian selama belasan tahun ini," gumam Vivian pelan.

Sambil berjalan meninggalkan kantor Arsenio, berkali-kali Vivian membuang napas kasar. Sebagai seorang anak yang diperlakukan tidak adil oleh , tentunya Vivian merasa senang jika dia bisa meringankan beban keluarganya. Dia merasa tidak berdaya karena tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan papinya.

Tiba-tiba ponsel Vivian berdering. Nama sang Papi muncul di layar ponsel yang menyala.

“Kamu dimana, Vi? Papi cari dari tadi!” Suara Hendrawan terdengar tergesa. ‘Apa ada berita buruk?’

“Ada apa, Pi?” sahutnya penuh tanda tanya.

“Cepat pulang! Kita bahas di rumah!”

Klik. Panggilan telah ditutup sepihak. Semua tanya yang bersarang di dalam benak harus terima nasib. Suka atau tidak, dia harus menunggu jawabannya di rumah. Sejujurnya, tak perlu pulang ke rumah. Sedikit banyak, dia bisa menebaknya. Ayahnya pasti akan membuat janji makan malam dengan Arsenio. Lalu, ibunya akan menyuruhnya berdandan dan bersikap seperti Eliana. Baru memikirkannya saja, sudah membuatnya muak.

“Seseorang! Adakah yang bisa menolongku!” Suara itu harusnya melengking tinggi dan bergema jika dimuntahkan di pegunungan. Sialnya, suara bising di sekitarnya telah menelan semua keluhan dengan acuh tak acuh.

Vivian menghela napas panjang, sebelum menyalakan mesin mobilnya. Tatapannya kini dingin tak ada lagi kehangatan. Mereka yang di dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengannya, hanya menganggapnya sebagai alat negosiasi pengganti Eliana. Mereka memilih tidak mengorbankan Eliana yang bersinar terang kariernya. Setelah itu, siapa yang akan bersinar hingga akhir, belum bisa dipastikan. Yang pasti, Vivian harus memperjuangkan nasibnya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 10

    TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 9

    Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 8

    Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 7

    Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 6

    "Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 5

    Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status