Mag-log inArsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.
Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya. Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang. Usianya yang masih begitu muda, ada begitu banyak capaian prestasi yang membuatnya selalu malang melintang di beberapa majalah bisnis. Nama Arsenio Kertanegara sebagai pengusaha jenius dikenal di lapisan pengusaha tanah air dan kawasan Asia. Usianya baru 28 tahun, tapi telah mendapatkan jabatan sebagai Presdir Nagara Corp dengan omset fantastis. "Jadi, kalian mau bermain-main denganku?!” desisnya. Menjadi lumpuh, tentu saja bukan keinginan Arsenio. Dadanya terasa sakit. Selama hidupnya, Arsenio belum pernah mendapatkan penolakan. Ini pertama kalinya dia direndahkan oleh seorang wanita. Dan itu, rasanya sangat menyakitkan. Seperti ada ribuan jarum yang ditusukkan secara bergantian di hatinya. Eliana menolak pernikahan ini karena alasan tersebut. "Baiklah, kalau begitu mari kita ramaikan permainan ini.” Bibir pria itu melengkung membentuk seringaian. Dia kembali melemparkan pandangan menembus jendela kaca. Di bawah, sosok Vivian melintas menuju mobil. Dari lantai sepuluh Arsenio menatapnya dengan kilatan berbeda. Gadis ingusan itu seperti kurcaci. Sosok mungil Vivian bertolak belakang dengan kakaknya. Tatapan polos dan bicaranya yang sok berani kembali melintas dalam benak. Pria matang seperti dirinya yang sudah mempunyai banyak pengalaman bernegosiasi dengan banyak orang, bisa-bisanya diancam oleh gadis ingusan. Tanpa sadar, terbit sebuah seringai dari bibir Arsenio. Tiba-tiba dia membayangkan harus bersanding di pelaminan dengan gadis kurcaci itu. “Kamu cukup pemberani, Kurcaci Kecil. Ha-ha-ha….” Pandangannya beralih pada selembar kertas kecil yang diberikan Vivian tadi. Sederet angka ada di sana. Serta merta, Arsenio meraih gawai yang tergeletak di meja. Sederet angka yang tertulis di kertas kecil itu telah berpindah di layar gawainya. Arsenio tampak berpikir beberapa saat, baru kemudian memberi nama 'Kurcaci Kecil'. Jemarinya otomatis meluncur di aplikasi hijau. Di layarnya, tampak Vivian dengan seragam karate sambil memegang tropi kejuaraan. "Wow, bocah ingusan ini ternyata seorang Karateka," gumamnya seakan tak percaya. “Tidak heran keberaniannya sampai menyentuh langit. Mari kita lihat seberapa seberapa serius kamu.” Sejenak, Arsenio tampak termangu. Seolah sedang menimbang keputusan penting. “Rega, masuk!” Asisten Pribadi Arsenio yang bernama Rega ini berusia sepantaran dengannya. Rega siap mendengar perintah. "Selidiki putri kedua keluarga Wibisono!" titahnya. *** "Gimana, Vi. Kalian berdua sudah bertemu? Saran aja, menurut gue sih elu harus segera ketemu si lumpuh itu, rayu dia dengan seluruh pesona yang elu punya, gue rasa Arsenio pasti bakalan klepek-klepek, Vi.” Eliana lantas terbahak setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia jelas sedang menghina Vivian terang-terangan. Namun, Vivian enggan menanggapi. Dia tahu persis, makin ditanggapi, Eliana makin kegirangan. Kakaknya sangat tidak normal. Mungkin dia menderita salah satu gangguan kejiwaan. Hendrawan duduk di sebelah Eliana tanpa kata. Apa boleh buat. Sementara Lusi dengan penuh kebanggaan mengupaskan jeruk untuk putri kesayangannya itu. Pemandangan yang membuat iri, sejak kecil ibunya itu bahkan tidak pernah menyuapi Vivian, hanya fokus melayani kakak sulungnya itu. Vivian hanya bisa menyimpan rasa kecewanya sendirian. “Jadi, kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Vi?” Suara Hendrawan terdengar ironis. Vivian yang baru saja meneguk air dingin nyaris tersedak. Bisa-bisanya dia berkata seakan-akan Vivian yang membuat keputusan. Padahal sejak awal, semua ini sudah direncanakan oleh papinya. Meski baru kenal Arsenio, Vivian tahu pria itu tidak berbohong ketika mengatakan bahwa papinya yang lebih dulu datang memohon pertolongan padanya dengan kompensasi pernikahan. “Maksudnya, aku boleh menolak semua rencana Papi?” Vivian menatap tajam. Hatinya memberontak, jelas menolak ide gila untuk menggantikan Eliana. “Loh, loh, ini gimana sih? Bukannya kita udah sepakat?” Hendrawan terlihat gusar. “Jangan plin-plan, Vi! Masih mending ada cowok kaya yang mau jadi suami elu. Kalian berdua itu sangat serasi, btw.” Eliana kembali memuntahkan lahar panas. Dari mereka bertiga, hanya Lusi yang tidak mencecar Vivian. Wanita paruh baya itu tampaknya masih punya hati. “Andai Arsenio nggak lumpuh, elu nggak akan dapat kesempatan ini, Vi. Elu harus tahu itu. Dia ganteng, kaya raya. Sayangnya cacat.” “Jadi maksudnya, cowok yang nggak lolos kualifikasi elu, baru bisa digeser ke gue, begitu?!” sentak Vivian mulai tak sabar. “Itu udah pasti dong, Adikku Sayang. Sejak kecil, gue yang cantik paripurna ini yang mendapat kesempatan pertama, sementara elu dapat bekasan gue. Benar, kan?!” Gelak tawa terdengar memecah hening ruang tengah kediaman. “Dasar Nenek Sihir!” “Siapa yang nenek sihir, elu tuh lebih buruk dari nenek sihir! Tahu nggak lu!” Napas Eliana naik turun emosional. “Udah-udah. Kalian berdua ini kenapa sih, bikin Papi makin sakit kepala aja!” Eliana tak berani melanjutkan omelannya. Dia membulatkan matanya sempurna, melotot dan mengancam adiknya. Tapi Vivian malah memutar bola mata malas. "Dih, dikiranya gue takut apa kalau elu melotot kek gitu?" tukasnya seraya meninggalkan ruang tengah. "Kalian kenapa sih, berantem aja dari kemarin? Bukannya kita udah sepakat, Vivian yang akan gantikan El? Udah nggak usah ribut lagi!” Lusi yang sejak tadi diam, kini ikut bersuara. Memuakkan! "Anak manja Mami tuh, bikin perut mual aja," balas Vivian kesal. "Vi, jaga sopan santun! Dia kakakmu," tegur Lusi galak. "Oh, jadi dia kakak? Emang ada ya, kakak yang senang kalau adiknya menderita?” cecar Vivian menahan kesal. Sementara Eliana yang sedang mengunyah pastry jadi tersedak. "Sini, Lu! Biar gue kutuk jadi kutu kupret," pekik Elnara setelah meminum segelas air. "Kutukan dari seorang kakak durhaka nggak akan mempan, week," ejek Vivian, membuat Eliana mengacungkan genggaman tangannya. "Ape lu?" balas Vivian. "Mih, ngeselin banget sih, punya adik satu aja kek gitu. Balikin lagi dalam perut Mami aja, El mau adik baru yang nurut," pekik Eliana setelah Vivian menjulurkan lidahnya mengejek dan ngeloyor pergi dari sana. Lusi memasang wajah galak memelototi Vivian. Sementara gadis itu masuk kamar acuh tak acuh. Sebenarnya dia malas harus berdebat dengan Eliana. Tapi saat dia teringat pria songong itu, apalagi dipaksa menikah dengan dia, rasa jengkel kembali melesak di kepalanya. "Gue bisa terima, kalo gue harus menikah sama orang cacat. Tapi kan nggak harus ngehina segitu rupa sama adik sendiri, kan?" gerutu Vivian begitu masuk kamar. “Gedeg bener gue, punya kakak modelan kek dajal! Bukan cuma dia, keluarga ini semuanya kayak dajal!” Vivian melangkah menuju meja belajar dengan bibir mengerucut. Setelah membuang napas beberapa kali, dia membuka laptop dan sibuk bergelut dengan tugas-tugas kampusnya. Hingga suara notifikasi mengganggu konsentrasinya. Ting Vivian gegas meraih gawai yang tergeletak di meja belajar. Lalu dia membuka aplikasi hijau bergambar telepon. Ada pesan baru. Begitu gadis itu membaca isi pesan itu, dahinya berkerut. [Datang ke kantor gue besok siang!] "Dih, ga punya sopan santun, salam dulu kek," gerutunya saat menyadari siapa pemilik nomor asing tersebut. [Siapa?] sahutnya kesal. Ting [Pahlawan penolong perusahaan elo!] "Dih, songong, coba deket udah gue gecek-gecek tu mulut," omel Vivian sambil meninju udara. [Besok siang gue ada ujian] balasnya. Vivian menambahkan nomor itu dalam kontaknya dengan nama 'Pithecanthropus Erectus' sambil tertawa terbahak-bahak. “Itu pembalasan gue, karena udah panggil gue Kurcaci Kecil tadi. Ha-ha-ha.” Ting Ting Ting [Itu urusan elo] [Gue nggak punya banyak waktu, Kurcaci Kecil] [Datang atau lupain semuanya] "Yaelah, cuma baca chat aja udah bikin gue naik darah. Apalagi ketemu langsung, coba?" omelnya tiada henti. [Hei, Pithecanthropus Erectus, bisa nggak elu bicara yang nggak nyebelin gitu?] Vivian nyaris membanting ponsel saking kesalnya. Namun, dia merasa lebih baik saat membayangkan wajah Arsenio di seberang sana. Amarah pria itu pasti meledak karena mendapat panggilan spesial ‘Pithecanthropus Erectus’ darinya. "Salah sendiri, jadi orang ga ada akhlak," gerutunya lagi. Semenit, lima menit, sepuluh menit berlalu, belum ada balasan dari pria songong itu. Vivian merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Minat belajarnya sudah hancur berantakan malam ini. Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di meja belajar berbunyi nyaring, membuat Vivian berjinggat kaget. Buru-buru, dia menyambarnya. Pithecanthropus Erectus memanggil… "Hallo." "Besok siang gue tunggu di kantor!" suara Arsenio terdengar dingin. "Gue nggak bisa, besok gue ujian kalkulus, itu dosen killer bang---" Vivian belum menyelesaikan kalimatnya. Arsenio sudah memotong. "Dateng sendiri atau bodyguard gue yang jemput elo di kampus!" "Ebusyet, nggak bisa gitu dong. Elu nentuin timing seenak jidat." Vivian protes. "Terserah gue!" Tut Tut Tut Suara panggilan terputus. "Lihat aja besok bakal gue bejek-bejek muka songong elo," geram Vivian. Tadinya, dia senang karena berhasil membuat marah Arsenio, tapi ternyata pria itu lebih berbakat dalam hal menindas orang lain. Vivian mendaratkan bok*ng di ranjangnya dengan kasar. Diraihnya bantal lantas memukulnya dengan ganas. Dia membayangkan seolah bantal itu adalah Arsenio Kertanegara, cowok menyebalkan itu.TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S
Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.
Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l
Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan
"Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19
Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.







