Clara tidak tidur sepanjang malam. Dia duduk di sofa apartemennya yang sudah amblas, menatap kartu nama Alex yang diletakkan di meja kecil di depannya. Lampu ruang tamu redup, hanya satu bohlam yang masih menyala. Yang lain sudah putus sejak dua minggu lalu dan Clara belum sempat menggantinya.
Atau lebih tepatnya, tidak punya uang untuk menggantinya.
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Clara mengambil kartu nama itu lagi, menatap nama yang tercetak rapi.
Alex Anggara
Kenapa pria itu berubah pikiran? Dua hari lalu dia mengusirnya dengan tatapan penuh penghinaan. Dan sekarang tiba-tiba datang ke apartemennya, mengajaknya bicara.
Clara tidak mengerti. Tapi dia juga tidak punya pilihan selain menerima kesempatan ini, apa pun syaratnya.
Pukul lima pagi, Clara akhirnya bangkit dari sofa. Tubuhnya pegal. Matanya perih. Tapi dia harus bersiap. Dia tidak boleh terlambat.
Clara mandi dengan air dingin. Pemanas airnya rusak sejak bulan lalu. Dinginnya membuat tubuhnya menggigil, tapi setidaknya membuatnya lebih terjaga.
Dia berdiri di depan lemari kecilnya, memilih pakaian. Tidak banyak pilihan. Kebanyakan pakaiannya sudah lama dan mulai lusuh. Akhirnya dia memilih blazer abu-abu yang masih terlihat rapi dan celana hitam. Sederhana. Profesional. Dia bukan wanita yang datang memohon.
Meski sebenarnya, dia memang sedang memohon.
Clara menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat. Mata bengkak. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan dengan concealer tipis yang dia punya.
Dia terlihat seperti orang yang kalah. Orang yang putus asa.
Tapi Clara memaksa dirinya berdiri tegak. Mengangkat dagu. Dia tidak akan membiarkan Alex melihat kelemahannya.
Pukul delapan pagi, Clara sudah berangkat. Dia naik bus menuju kawasan Sudirman, tempat kantor A&A Group berada. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam karena jalanan macet.
Clara duduk di kursi bus yang sempit, dikelilingi oleh orang-orang yang berdesakan. Bau keringat bercampur dengan parfum murah. Suara mesin bus yang berisik. Tapi Clara tidak peduli. Pikirannya penuh dengan skenario apa yang akan terjadi di kantor Alex nanti.
Apa syarat yang akan dia ajukan? Seberapa buruk?
Dan yang paling penting, apa Clara bisa menerimanya?
Pukul sembilan tiga puluh, Clara tiba di depan gedung pencakar langit tempat kantor A&A Group berada. Gedung kaca yang menjulang tinggi, berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Orang-orang berpakaian rapi keluar masuk dengan wajah sibuk.
Clara berdiri di trotoar, menatap gedung itu. Merasa sangat kecil. Sangat tidak pada tempatnya.
Tapi dia sudah sampai sejauh ini. Tidak ada jalan untuk mundur.
Clara menarik napas dalam dan melangkah masuk.
Lobi gedung itu luas dan dingin. Marmer putih berkilau di lantai. Lampu-lampu modern tergantung di langit-langit tinggi. Di tengah ruangan ada meja resepsionis dengan dua wanita berseragam rapi.
Clara mendekati meja itu dengan langkah yang dipaksakan percaya diri.
"Selamat pagi," sapa salah satu resepsionis dengan senyum profesional. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ada janji dengan Tuan Alex Anggara. Jam sepuluh."
Resepsionis itu mengetik sesuatu di komputernya. "Nama Anda?"
"Clara Wijaya."
Resepsionis itu mengerutkan dahi sedikit, masih menatap layar komputernya. "Maaf, Nona. Saya tidak melihat nama Anda di daftar tamu hari ini."
Clara merasakan perutnya melilit. "Tapi saya sudah diundang langsung oleh Tuan Alex—"
"Mohon tunggu sebentar." Resepsionis itu mengangkat telepon, menelepon seseorang. Berbicara dengan suara rendah yang tidak Clara dengar dengan jelas.
Setelah beberapa saat, resepsionis itu menutup telepon dan tersenyum pada Clara. Tapi senyumnya terasa dingin. "Mohon maaf, Nona Wijaya. Tuan Alex tidak bisa ditemui pagi ini. Anda bisa membuat janji terlebih dahulu melalui sekretaris beliau."
Clara terdiam. Tidak bisa ditemui? Tapi kemarin Alex yang menyuruhnya datang. Alex yang memberikan kartu nama. Alex yang bilang jam sepuluh pagi.
"Tapi... dia yang menyuruh saya datang," kata Clara, suaranya mulai gemetar. "Kemarin dia datang ke apartemen saya dan—"
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda naik tanpa konfirmasi dari sekretaris Tuan Alex." Resepsionis itu masih tersenyum, tapi matanya dingin. Menghakimi. "Silakan hubungi sekretaris beliau untuk membuat janji."
Clara merasakan wajahnya memanas. Malu. Marah. Dia tahu resepsionis itu melihatnya sebagai wanita putus asa yang berbohong demi bisa bertemu dengan CEO kaya.
Clara membuka tasnya, mengambil kartu nama Alex. "Ini kartu namanya. Dia yang memberikannya pada saya kemarin—"
"Kartu nama bisa didapat dari mana saja, Nona." Resepsionis itu memotong dengan nada yang sedikit tajam. "Kalau Anda tidak ada janji resmi, saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk. Mohon jangan mempersulit pekerjaan kami."
Clara terdiam. Tangannya gemetar memegang kartu nama itu.
Ini jebakan. Alex sengaja menyuruhnya datang tapi tidak memberitahu resepsionis. Sengaja membuatnya malu. Membuktikan bahwa Clara bukan siapa-siapa. Tidak penting. Tidak pantas berurusan dengannya.
Clara merasakan matanya memanas. Dia tidak akan menangis. Tidak di sini.
Dia berbalik, hendak pergi.
"Nona Wijaya."
Suara rendah itu membuat Clara berhenti. Dia menoleh.
Seorang pria berjas hitam berdiri di dekat lift. Tinggi, tegap, dengan wajah datar yang familiar.
Alex Anggara.
Alex berjalan mendekati meja resepsionis dengan langkah santai. Tangannya di saku celana. Ekspresinya tidak berubah.
"Dia tamu saya," kata Alex pada resepsionis tanpa menatap Clara. "Silakan berikan akses ke lantai empat puluh."
Resepsionis itu terdiam sebentar, lalu cepat-cepat mengangguk. "Baik, Tuan Alex. Mohon maaf atas kesalahpahaman tadi."
Alex tidak merespons. Dia berbalik dan berjalan ke lift. Clara terdiam sebentar sebelum mengikutinya dengan langkah cepat.
Mereka masuk ke lift bersama. Pintu tertutup. Musik instrumental yang lembut mengalun di dalam lift. Tapi keheningan di antara mereka terasa berat.
Clara menatap punggung Alex yang tegap. Pria itu bahkan tidak menoleh padanya. Seolah Clara tidak ada.
"Anda sengaja tidak memberitahu resepsionis saya akan datang," kata Clara pelan.
Alex tidak menjawab. Hanya menatap angka-angka yang naik di layar lift.
"Anda sengaja membuat saya malu."
"Saya ingin melihat seberapa putus asa Anda," kata Alex akhirnya, suaranya datar. "Wanita yang tidak putus asa akan langsung pulang setelah ditolak resepsionis. Tapi Anda masih berdiri di sana. Masih berusaha meyakinkan. Itu artinya Anda benar-benar tidak punya pilihan lain."
Clara merasakan amarahnya naik. "Jadi ini semacam tes?"
"Ya." Alex menoleh, menatap Clara dengan tatapan dingin. "Dan Anda lulus. Atau lebih tepatnya, Anda terlalu putus asa untuk gagal."
Pintu lift terbuka di lantai empat puluh. Alex keluar tanpa menunggu Clara.
Clara mengikutinya dengan tangan terkepal. Dia ingin berteriak. Ingin menampar wajah dingin pria itu. Tapi dia menahan diri.
Koridor di lantai empat puluh luas dan sunyi. Karpet tebal meredam suara langkah kaki. Dinding-dindingnya putih bersih dengan beberapa lukisan abstrak mahal tergantung rapi.
Alex membuka pintu besar di ujung koridor. Ruangannya.
Ruangan itu luas. Dinding kaca besar menghadap ke pemandangan kota Jakarta. Meja kerja hitam mengilap di tengah ruangan. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada dekorasi personal. Hanya efisiensi dan kedinginan.
Alex duduk di kursi kerjanya, menatap Clara yang masih berdiri di dekat pintu.
"Duduk," katanya, bukan permintaan. Perintah.
Clara duduk di sofa kulit hitam yang terasa dingin di kulitnya. Tangannya dia lipat di pangkuan, berusaha terlihat tenang.
Alex mengambil sebuah map tebal dari laci mejanya dan meletakkannya di atas meja dengan bunyi keras.
"Ini kontrak," kata Alex. "Kontrak pernikahan bisnis antara saya dan Anda. Saya sudah menyiapkannya sejak kemarin malam."
Clara menatap map itu. Tebal. Mungkin puluhan halaman.
"Sebelum Anda membacanya, saya akan jelaskan beberapa poin utama." Alex bersandar di kursinya, menatap Clara dengan tatapan yang membuat Clara merasa telanjang. "Pertama, ini bukan pernikahan sungguhan. Ini hanya akting. Kita akan menikah di depan hukum untuk meyakinkan kakek saya dan membatalkan perjodohan Anda. Tapi di luar itu, kita tidak punya hubungan apa pun."
Clara mengangguk pelan. Itu sudah dia duga.
"Kedua," Alex melanjutkan, "Anda tidak akan mendapat akses ke keuangan saya. Tidak ada kartu kredit. Tidak ada uang bulanan. Tidak ada harta gono-gini. Kalau kita bercerai nanti, Anda pulang dengan tangan kosong."
Clara menelan ludah. Tapi dia mengangguk lagi. "Saya mengerti. Saya tidak mencari uang Anda."
"Ketiga," suara Alex menjadi lebih dingin, "Anda tidak boleh menyentuh saya tanpa izin saya. Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan apa pun kecuali di depan publik untuk akting. Kalau Anda melanggar aturan ini, kontrak langsung batal."
Clara merasakan wajahnya memanas. Cara Alex mengucapkan itu seolah Clara adalah wanita yang akan memaksanya untuk hal-hal seperti itu.
"Keempat, Anda akan tinggal di apartemen saya. Tapi di kamar terpisah. Kita tidak akan makan bersama. Tidak akan menghabiskan waktu bersama di rumah. Hidup kita tetap terpisah."
"Kelima," Alex berhenti sebentar, matanya menatap Clara dengan intensitas yang membuat Clara tidak nyaman, "Anda tidak boleh jatuh cinta pada saya. Ini aturan paling penting. Kalau saya melihat tanda-tanda Anda mulai mengembangkan perasaan, kontrak langsung batal dan Anda harus pergi."
Clara hampir tertawa mendengar aturan itu. Jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia? Mustahil.
"Saya mengerti," kata Clara. "Apa masih ada syarat lain?"
Alex menatapnya dalam diam. Lalu dia mengambil selembar kertas terpisah dari map dan memberikannya pada Clara.
Clara membaca kertas itu. Matanya melebar.
"Ini... tes kesehatan?"
"Ya," jawab Alex datar. "Anda harus menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap. Termasuk tes penyakit menular seksual, tes kehamilan, dan tes psikologis. Saya tidak akan menikahi wanita yang punya masalah kesehatan yang bisa merugikan saya."
Clara merasakan amarahnya naik lagi. "Anda pikir saya punya penyakit?"
"Saya tidak tahu. Makanya Anda harus dites." Alex menatapnya tanpa ekspresi. "Ini bukan negosiasi. Kalau Anda menolak, kontrak batal."
Clara meremas kertas itu di tangannya. Dia merasa dihina. Direndahkan. Diperlakukan seperti barang yang harus diperiksa kualitasnya sebelum dibeli.
Tapi dia tidak punya pilihan.
"Baiklah," kata Clara dengan suara gemetar menahan marah. "Saya akan menjalani tesnya."
Alex mengangguk. "Bagus. Tes akan dilakukan besok di rumah sakit swasta yang sudah saya tentukan. Semua biaya saya yang tanggung. Hasilnya akan keluar dalam tiga hari."
Alex mengambil map tebal itu dan mendorongnya ke arah Clara. "Ini kontrak lengkapnya. Puluhan halaman. Baca semuanya dengan teliti. Kalau Anda setuju, tanda tangani dan bawa kembali ke sini tiga hari lagi. Kalau tidak, jangan buang waktu saya lagi."
Clara mengambil map itu dengan tangan gemetar. Beratnya terasa seperti beban di tangannya.
"Satu hal lagi," kata Alex sebelum Clara berdiri. "Kakek saya akan mengadakan makan malam keluarga akhir minggu ini. Kalau Anda setuju dengan kontrak ini, Anda harus datang sebagai tunangan saya. Dan Anda harus meyakinkan kakek saya bahwa kita benar-benar saling mencintai."
Clara menatap Alex. "Bagaimana saya bisa meyakinkan orang lain kalau Anda sendiri memperlakukan saya seperti sampah?"
Untuk pertama kalinya, ekspresi Alex sedikit berubah. Matanya menyipit. "Anda yang datang pada saya, Nona Wijaya. Anda yang menawarkan diri. Jadi terima konsekuensinya atau pergi."
Clara berdiri, menggenggam map itu erat-erat. "Saya akan membaca kontraknya. Dan saya akan kembali tiga hari lagi."
Dia berbalik hendak pergi.
"Nona Wijaya."
Clara berhenti di dekat pintu. Tidak menoleh.
"Kalau Anda membocorkan isi kontrak ini pada siapa pun," suara Alex terdengar berbahaya, "saya akan menghancurkan sisa-sisa Arta Group sampai tidak ada apa pun yang tersisa. Bahkan namanya."
Clara tidak menjawab. Dia membuka pintu dan keluar, menutupnya dengan keras di belakangnya.
Begitu sampai di lift, Clara bersandar pada dinding dingin. Tangannya gemetar. Napasnya berat.
Apa yang baru saja dia setujui? Kontrak yang penuh penghinaan. Tes kesehatan yang merendahkan. Hidup bersama pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia.
Tapi dia tidak punya pilihan.
Ini satu-satunya jalan.
Dan Clara akan melewatinya, apa pun yang terjadi.