Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 4: Syarat yang Mencekik

Share

Bab 4: Syarat yang Mencekik

Author: SolaceReina
last update Huling Na-update: 2025-09-11 14:52:58

Clara tidak tidur sepanjang malam. Dia duduk di sofa apartemennya yang sudah amblas, menatap kartu nama Alex yang diletakkan di meja kecil di depannya. Lampu ruang tamu redup, hanya satu bohlam yang masih menyala. Yang lain sudah putus sejak dua minggu lalu dan Clara belum sempat menggantinya.

Atau lebih tepatnya, tidak punya uang untuk menggantinya.

Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Clara mengambil kartu nama itu lagi, menatap nama yang tercetak rapi.

Alex Anggara

Kenapa pria itu berubah pikiran? Dua hari lalu dia mengusirnya dengan tatapan penuh penghinaan. Dan sekarang tiba-tiba datang ke apartemennya, mengajaknya bicara.

Clara tidak mengerti. Tapi dia juga tidak punya pilihan selain menerima kesempatan ini, apa pun syaratnya.

Pukul lima pagi, Clara akhirnya bangkit dari sofa. Tubuhnya pegal. Matanya perih. Tapi dia harus bersiap. Dia tidak boleh terlambat.

Clara mandi dengan air dingin. Pemanas airnya rusak sejak bulan lalu. Dinginnya membuat tubuhnya menggigil, tapi setidaknya membuatnya lebih terjaga.

Dia berdiri di depan lemari kecilnya, memilih pakaian. Tidak banyak pilihan. Kebanyakan pakaiannya sudah lama dan mulai lusuh. Akhirnya dia memilih blazer abu-abu yang masih terlihat rapi dan celana hitam. Sederhana. Profesional. Dia bukan wanita yang datang memohon.

Meski sebenarnya, dia memang sedang memohon.

Clara menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat. Mata bengkak. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan dengan concealer tipis yang dia punya.

Dia terlihat seperti orang yang kalah. Orang yang putus asa.

Tapi Clara memaksa dirinya berdiri tegak. Mengangkat dagu. Dia tidak akan membiarkan Alex melihat kelemahannya.

Pukul delapan pagi, Clara sudah berangkat. Dia naik bus menuju kawasan Sudirman, tempat kantor A&A Group berada. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam karena jalanan macet.

Clara duduk di kursi bus yang sempit, dikelilingi oleh orang-orang yang berdesakan. Bau keringat bercampur dengan parfum murah. Suara mesin bus yang berisik. Tapi Clara tidak peduli. Pikirannya penuh dengan skenario apa yang akan terjadi di kantor Alex nanti.

Apa syarat yang akan dia ajukan? Seberapa buruk?

Dan yang paling penting, apa Clara bisa menerimanya?

Pukul sembilan tiga puluh, Clara tiba di depan gedung pencakar langit tempat kantor A&A Group berada. Gedung kaca yang menjulang tinggi, berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Orang-orang berpakaian rapi keluar masuk dengan wajah sibuk.

Clara berdiri di trotoar, menatap gedung itu. Merasa sangat kecil. Sangat tidak pada tempatnya.

Tapi dia sudah sampai sejauh ini. Tidak ada jalan untuk mundur.

Clara menarik napas dalam dan melangkah masuk.

Lobi gedung itu luas dan dingin. Marmer putih berkilau di lantai. Lampu-lampu modern tergantung di langit-langit tinggi. Di tengah ruangan ada meja resepsionis dengan dua wanita berseragam rapi.

Clara mendekati meja itu dengan langkah yang dipaksakan percaya diri.

"Selamat pagi," sapa salah satu resepsionis dengan senyum profesional. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ada janji dengan Tuan Alex Anggara. Jam sepuluh."

Resepsionis itu mengetik sesuatu di komputernya. "Nama Anda?"

"Clara Wijaya."

Resepsionis itu mengerutkan dahi sedikit, masih menatap layar komputernya. "Maaf, Nona. Saya tidak melihat nama Anda di daftar tamu hari ini."

Clara merasakan perutnya melilit. "Tapi saya sudah diundang langsung oleh Tuan Alex—"

"Mohon tunggu sebentar." Resepsionis itu mengangkat telepon, menelepon seseorang. Berbicara dengan suara rendah yang tidak Clara dengar dengan jelas.

Setelah beberapa saat, resepsionis itu menutup telepon dan tersenyum pada Clara. Tapi senyumnya terasa dingin. "Mohon maaf, Nona Wijaya. Tuan Alex tidak bisa ditemui pagi ini. Anda bisa membuat janji terlebih dahulu melalui sekretaris beliau."

Clara terdiam. Tidak bisa ditemui? Tapi kemarin Alex yang menyuruhnya datang. Alex yang memberikan kartu nama. Alex yang bilang jam sepuluh pagi.

"Tapi... dia yang menyuruh saya datang," kata Clara, suaranya mulai gemetar. "Kemarin dia datang ke apartemen saya dan—"

"Maaf, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda naik tanpa konfirmasi dari sekretaris Tuan Alex." Resepsionis itu masih tersenyum, tapi matanya dingin. Menghakimi. "Silakan hubungi sekretaris beliau untuk membuat janji."

Clara merasakan wajahnya memanas. Malu. Marah. Dia tahu resepsionis itu melihatnya sebagai wanita putus asa yang berbohong demi bisa bertemu dengan CEO kaya.

Clara membuka tasnya, mengambil kartu nama Alex. "Ini kartu namanya. Dia yang memberikannya pada saya kemarin—"

"Kartu nama bisa didapat dari mana saja, Nona." Resepsionis itu memotong dengan nada yang sedikit tajam. "Kalau Anda tidak ada janji resmi, saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk. Mohon jangan mempersulit pekerjaan kami."

Clara terdiam. Tangannya gemetar memegang kartu nama itu.

Ini jebakan. Alex sengaja menyuruhnya datang tapi tidak memberitahu resepsionis. Sengaja membuatnya malu. Membuktikan bahwa Clara bukan siapa-siapa. Tidak penting. Tidak pantas berurusan dengannya.

Clara merasakan matanya memanas. Dia tidak akan menangis. Tidak di sini.

Dia berbalik, hendak pergi.

"Nona Wijaya."

Suara rendah itu membuat Clara berhenti. Dia menoleh.

Seorang pria berjas hitam berdiri di dekat lift. Tinggi, tegap, dengan wajah datar yang familiar.

Alex Anggara.

Alex berjalan mendekati meja resepsionis dengan langkah santai. Tangannya di saku celana. Ekspresinya tidak berubah.

"Dia tamu saya," kata Alex pada resepsionis tanpa menatap Clara. "Silakan berikan akses ke lantai empat puluh."

Resepsionis itu terdiam sebentar, lalu cepat-cepat mengangguk. "Baik, Tuan Alex. Mohon maaf atas kesalahpahaman tadi."

Alex tidak merespons. Dia berbalik dan berjalan ke lift. Clara terdiam sebentar sebelum mengikutinya dengan langkah cepat.

Mereka masuk ke lift bersama. Pintu tertutup. Musik instrumental yang lembut mengalun di dalam lift. Tapi keheningan di antara mereka terasa berat.

Clara menatap punggung Alex yang tegap. Pria itu bahkan tidak menoleh padanya. Seolah Clara tidak ada.

"Anda sengaja tidak memberitahu resepsionis saya akan datang," kata Clara pelan.

Alex tidak menjawab. Hanya menatap angka-angka yang naik di layar lift.

"Anda sengaja membuat saya malu."

"Saya ingin melihat seberapa putus asa Anda," kata Alex akhirnya, suaranya datar. "Wanita yang tidak putus asa akan langsung pulang setelah ditolak resepsionis. Tapi Anda masih berdiri di sana. Masih berusaha meyakinkan. Itu artinya Anda benar-benar tidak punya pilihan lain."

Clara merasakan amarahnya naik. "Jadi ini semacam tes?"

"Ya." Alex menoleh, menatap Clara dengan tatapan dingin. "Dan Anda lulus. Atau lebih tepatnya, Anda terlalu putus asa untuk gagal."

Pintu lift terbuka di lantai empat puluh. Alex keluar tanpa menunggu Clara.

Clara mengikutinya dengan tangan terkepal. Dia ingin berteriak. Ingin menampar wajah dingin pria itu. Tapi dia menahan diri.

Koridor di lantai empat puluh luas dan sunyi. Karpet tebal meredam suara langkah kaki. Dinding-dindingnya putih bersih dengan beberapa lukisan abstrak mahal tergantung rapi.

Alex membuka pintu besar di ujung koridor. Ruangannya.

Ruangan itu luas. Dinding kaca besar menghadap ke pemandangan kota Jakarta. Meja kerja hitam mengilap di tengah ruangan. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada dekorasi personal. Hanya efisiensi dan kedinginan.

Alex duduk di kursi kerjanya, menatap Clara yang masih berdiri di dekat pintu.

"Duduk," katanya, bukan permintaan. Perintah.

Clara duduk di sofa kulit hitam yang terasa dingin di kulitnya. Tangannya dia lipat di pangkuan, berusaha terlihat tenang.

Alex mengambil sebuah map tebal dari laci mejanya dan meletakkannya di atas meja dengan bunyi keras.

"Ini kontrak," kata Alex. "Kontrak pernikahan bisnis antara saya dan Anda. Saya sudah menyiapkannya sejak kemarin malam."

Clara menatap map itu. Tebal. Mungkin puluhan halaman.

"Sebelum Anda membacanya, saya akan jelaskan beberapa poin utama." Alex bersandar di kursinya, menatap Clara dengan tatapan yang membuat Clara merasa telanjang. "Pertama, ini bukan pernikahan sungguhan. Ini hanya akting. Kita akan menikah di depan hukum untuk meyakinkan kakek saya dan membatalkan perjodohan Anda. Tapi di luar itu, kita tidak punya hubungan apa pun."

Clara mengangguk pelan. Itu sudah dia duga.

"Kedua," Alex melanjutkan, "Anda tidak akan mendapat akses ke keuangan saya. Tidak ada kartu kredit. Tidak ada uang bulanan. Tidak ada harta gono-gini. Kalau kita bercerai nanti, Anda pulang dengan tangan kosong."

Clara menelan ludah. Tapi dia mengangguk lagi. "Saya mengerti. Saya tidak mencari uang Anda."

"Ketiga," suara Alex menjadi lebih dingin, "Anda tidak boleh menyentuh saya tanpa izin saya. Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan apa pun kecuali di depan publik untuk akting. Kalau Anda melanggar aturan ini, kontrak langsung batal."

Clara merasakan wajahnya memanas. Cara Alex mengucapkan itu seolah Clara adalah wanita yang akan memaksanya untuk hal-hal seperti itu.

"Keempat, Anda akan tinggal di apartemen saya. Tapi di kamar terpisah. Kita tidak akan makan bersama. Tidak akan menghabiskan waktu bersama di rumah. Hidup kita tetap terpisah."

"Kelima," Alex berhenti sebentar, matanya menatap Clara dengan intensitas yang membuat Clara tidak nyaman, "Anda tidak boleh jatuh cinta pada saya. Ini aturan paling penting. Kalau saya melihat tanda-tanda Anda mulai mengembangkan perasaan, kontrak langsung batal dan Anda harus pergi."

Clara hampir tertawa mendengar aturan itu. Jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia? Mustahil.

"Saya mengerti," kata Clara. "Apa masih ada syarat lain?"

Alex menatapnya dalam diam. Lalu dia mengambil selembar kertas terpisah dari map dan memberikannya pada Clara.

Clara membaca kertas itu. Matanya melebar.

"Ini... tes kesehatan?"

"Ya," jawab Alex datar. "Anda harus menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap. Termasuk tes penyakit menular seksual, tes kehamilan, dan tes psikologis. Saya tidak akan menikahi wanita yang punya masalah kesehatan yang bisa merugikan saya."

Clara merasakan amarahnya naik lagi. "Anda pikir saya punya penyakit?"

"Saya tidak tahu. Makanya Anda harus dites." Alex menatapnya tanpa ekspresi. "Ini bukan negosiasi. Kalau Anda menolak, kontrak batal."

Clara meremas kertas itu di tangannya. Dia merasa dihina. Direndahkan. Diperlakukan seperti barang yang harus diperiksa kualitasnya sebelum dibeli.

Tapi dia tidak punya pilihan.

"Baiklah," kata Clara dengan suara gemetar menahan marah. "Saya akan menjalani tesnya."

Alex mengangguk. "Bagus. Tes akan dilakukan besok di rumah sakit swasta yang sudah saya tentukan. Semua biaya saya yang tanggung. Hasilnya akan keluar dalam tiga hari."

Alex mengambil map tebal itu dan mendorongnya ke arah Clara. "Ini kontrak lengkapnya. Puluhan halaman. Baca semuanya dengan teliti. Kalau Anda setuju, tanda tangani dan bawa kembali ke sini tiga hari lagi. Kalau tidak, jangan buang waktu saya lagi."

Clara mengambil map itu dengan tangan gemetar. Beratnya terasa seperti beban di tangannya.

"Satu hal lagi," kata Alex sebelum Clara berdiri. "Kakek saya akan mengadakan makan malam keluarga akhir minggu ini. Kalau Anda setuju dengan kontrak ini, Anda harus datang sebagai tunangan saya. Dan Anda harus meyakinkan kakek saya bahwa kita benar-benar saling mencintai."

Clara menatap Alex. "Bagaimana saya bisa meyakinkan orang lain kalau Anda sendiri memperlakukan saya seperti sampah?"

Untuk pertama kalinya, ekspresi Alex sedikit berubah. Matanya menyipit. "Anda yang datang pada saya, Nona Wijaya. Anda yang menawarkan diri. Jadi terima konsekuensinya atau pergi."

Clara berdiri, menggenggam map itu erat-erat. "Saya akan membaca kontraknya. Dan saya akan kembali tiga hari lagi."

Dia berbalik hendak pergi.

"Nona Wijaya."

Clara berhenti di dekat pintu. Tidak menoleh.

"Kalau Anda membocorkan isi kontrak ini pada siapa pun," suara Alex terdengar berbahaya, "saya akan menghancurkan sisa-sisa Arta Group sampai tidak ada apa pun yang tersisa. Bahkan namanya."

Clara tidak menjawab. Dia membuka pintu dan keluar, menutupnya dengan keras di belakangnya.

Begitu sampai di lift, Clara bersandar pada dinding dingin. Tangannya gemetar. Napasnya berat.

Apa yang baru saja dia setujui? Kontrak yang penuh penghinaan. Tes kesehatan yang merendahkan. Hidup bersama pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia.

Tapi dia tidak punya pilihan.

Ini satu-satunya jalan.

Dan Clara akan melewatinya, apa pun yang terjadi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status