Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 5: Harga Diri yang Digadaikan

Share

Bab 5: Harga Diri yang Digadaikan

Author: SolaceReina
last update Last Updated: 2025-09-11 14:55:28

Clara sampai di apartemennya dengan tubuh yang terasa berat. Map tebal di tangannya seperti membawa beban satu ton. Dia melempar tasnya ke sofa dan duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding dingin.

Matanya menatap map itu. Belum dibuka. Belum dibaca.

Tapi Clara sudah tahu isinya akan lebih buruk dari yang Alex jelaskan tadi.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Paman Robert lagi.

*"26 hari lagi, Clara. Tuan Hendra sudah tidak sabar."*

Clara melempar ponselnya ke sofa. Dia tidak sanggup membaca pesan-pesan itu lagi.

Dia menatap langit-langit apartemennya yang retak. Ada noda air di sudut kiri atas, bekas bocor dari apartemen tetangga di atas. Clara sudah lapor ke pengelola gedung berkali-kali, tapi tidak pernah diperbaiki.

Ini hidupnya sekarang. Apartemen yang bocor. Gajih yang telat. Hutang yang menumpuk.

Dan sekarang, kontrak yang mungkin akan menghancurkan sisa harga dirinya.

Clara mengambil map itu dengan tangan yang gemetar. Dia membukanya pelan.

Halaman pertama sudah membuat perutnya mual.

**KONTRAK PERNIKAHAN BISNIS**

**Antara Alex Anggara dan Clara Wijaya**

Di bawahnya ada daftar isi. Puluhan poin. Clara mulai membaca satu per satu.

Pasal 1: Kerahasiaan Mutlak

Pihak Kedua (Clara Wijaya) dengan ini menyatakan akan menjaga kerahasiaan mutlak mengenai:

a. Orientasi seksual Pihak Pertama

b. Sifat kontraktual dari pernikahan ini

c. Segala informasi pribadi dan bisnis Pihak Pertama yang didapat selama masa kontrak

Pelanggaran terhadap pasal ini akan berakibat denda sebesar 100 juta dolar Amerika Serikat dan tuntutan hukum pidana.

Clara berhenti membaca. Seratus juta dolar. Angka yang bahkan tidak bisa dia bayangkan. Seluruh Arta Group tidak akan sampai separuh dari jumlah itu.

Ini bukan kontrak. Ini jerat.

Tapi Clara melanjutkan membaca.

Pasal 2: Larangan Kontak Fisik

*Pihak Kedua dilarang keras melakukan kontak fisik dengan Pihak Pertama tanpa persetujuan verbal tertulis, termasuk namun tidak terbatas pada:*

a. Ciuman

b. Pelukan

c. Sentuhan tangan

d. Kedekatan fisik dalam jarak kurang dari 50 cm

*Pengecualian hanya berlaku saat berada di depan publik atau keluarga untuk keperluan akting.

Clara merasakan wajahnya memanas. Lima puluh sentimeter. Alex bahkan mengukur jarak yang dia anggap aman dari Clara.

Seolah Clara adalah penyakit yang menular.

Pasal 3: Tempat Tinggal

Pihak Kedua akan tinggal di apartemen Pihak Pertama dengan ketentuan:

a. Kamar tidur terpisah di lantai berbeda

b. Tidak ada makan bersama kecuali di depan publik

c. Tidak ada interaksi sosial di dalam rumah*

d. Pihak Kedua tidak diizinkan memasuki kamar Pihak Pertama tanpa izin tertulis*

Clara hampir tertawa. Ini bukan pernikahan. Ini seperti tinggal dengan orang asing yang sangat membencimu.

Dia terus membaca. Halaman demi halaman. Semakin dia baca, semakin dia merasa tenggelam.

Pasal 7: Larangan Mengembangkan Perasaan Romantis

Pihak Kedua dengan ini menyatakan tidak akan mengembangkan perasaan romantis, cinta, atau ketertarikan emosional terhadap Pihak Pertama. Jika Pihak Pertama mendeteksi adanya perasaan tersebut, kontrak dapat dibatalkan secara sepihak tanpa kompensasi.

Clara berhenti di pasal ini. Dia menatap kalimat itu dengan perasaan aneh.

Bagaimana cara mendeteksi perasaan seseorang? Bagaimana Alex bisa tahu kalau Clara mulai—

Tapi Clara menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia akan jatuh cinta pada pria yang memperlakukannya seperti sampah. Tidak mungkin.

Dia melanjutkan membaca sampai halaman terakhir.

Total ada lima puluh tiga halaman. Lima puluh tiga halaman aturan yang dirancang untuk memastikan Clara tetap berada di tempatnya. Di bawah. Terkontrol. Tidak berarti.

Clara menutup map itu. Tangannya gemetar. Matanya memanas.

Ini terlalu banyak. Terlalu merendahkan.

Tapi apa pilihan lainnya?

Clara mengambil ponselnya. Membuka galeri foto. Mencari satu foto lama.

Foto ayahnya di depan gedung kantor Arta Group. Tersenyum lebar. Bangga.

Clara menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf, Yah," bisiknya pelan. "Maaf aku harus melakukan ini."

Dia menutup ponselnya dan menatap map itu lagi.

Tiga hari. Dia punya tiga hari untuk memutuskan.

Tapi sebenarnya, keputusannya sudah jelas sejak awal.

---

Keesokan harinya, Clara pergi ke rumah sakit swasta yang ditunjuk Alex. Gedung megah dengan lobi yang lebih bersih dari apartemennya. Perawat-perawat berseragam putih rapi hilir mudik.

Clara menunjukkan surat rujukan dari Alex pada resepsionis. Wanita itu langsung mengantar Clara ke ruang pemeriksaan khusus di lantai tiga.

"Silakan tunggu di sini, Nona Wijaya. Dokter akan segera datang."

Clara duduk di ruang tunggu yang dingin. Ada majalah-majalah di meja kecil, tapi Clara tidak menyentuhnya. Tangannya dingin. Perutnya mual.

Ini memalukan. Sangat memalukan.

Pintu terbuka. Seorang dokter wanita paruh baya masuk dengan senyum ramah.

"Nona Clara Wijaya?" dokter itu mengulurkan tangan. "Saya Dokter Ratna. Saya akan menangani pemeriksaan Anda hari ini."

Clara menjabat tangannya dengan lemah. "Selamat pagi, Dokter."

"Silakan ikut saya."

Clara mengikuti Dokter Ratna ke ruang pemeriksaan. Ruangan putih bersih dengan berbagai alat medis yang Clara tidak kenali.

"Anda akan menjalani beberapa tes," kata Dokter Ratna sambil menyiapkan peralatan. "Tes darah lengkap, tes penyakit menular, tes kehamilan, dan evaluasi psikologis dasar. Semua ini untuk memastikan kondisi kesehatan Anda baik."

Clara hanya mengangguk. Tidak tahu harus berkata apa.

Pemeriksaan dimulai. Jarum suntik menusuk lengannya, mengambil darah. Clara menatap cairan merah itu mengalir ke tabung dengan perasaan kosong.

Ini semua terasa seperti mimpi buruk.

Setelah tes darah selesai, Clara harus menjalani wawancara dengan psikolog. Pria muda berkacamata yang mengajukan berbagai pertanyaan aneh.

"Apakah Anda pernah mengalami depresi berat?"

"Tidak."

"Apakah Anda punya riwayat penyakit mental dalam keluarga?"

"Tidak."

"Apakah Anda cenderung mengembangkan ketergantungan emosional pada pasangan?"

Clara terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti jebakan. "Saya... tidak tahu."

Psikolog itu menuliskan sesuatu di catatannya. Clara tidak bisa melihat apa yang dia tulis.

Pemeriksaan selesai setelah hampir tiga jam. Clara keluar dari rumah sakit dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau.

Dia berjalan ke halte bus dengan langkah gontai. Langit mendung. Sepertinya akan hujan.

Clara duduk di bangku halte yang kotor, menatap jalanan yang ramai. Mobil-mobil lewat dengan cepat. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri.

Dan Clara duduk di sini, menunggu bus, setelah menjalani serangkaian tes yang memalukan hanya untuk membuktikan dia layak menikahi pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia.

Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal.

Clara mengangkatnya dengan ragu. "Halo?"

"Nona Wijaya." Suara dingin yang familiar. Alex. "Tes sudah selesai?"

"Ya," jawab Clara pelan.

"Bagus. Hasilnya akan keluar dalam tiga hari. Saya akan mengirim driver untuk menjemput Anda akhir minggu ini. Makan malam dengan kakek saya. Jangan lupa."

"Tunggu—" tapi Alex sudah menutup telepon.

Clara menatap ponselnya. Tidak ada kata terima kasih. Tidak ada basa-basi. Hanya perintah.

Hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil yang perlahan menjadi deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

Tapi Clara tetap duduk di bangku halte itu, membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

Dingin. Basah. Sendirian.

Seperti hidupnya sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status